Kamis, 29 Desember 2011

JEMPUTLAH RINDU TERSIA-SIA


Bersama-sama remuk melaju disimpang
selendang bergaris muram semudah gerimis
aku selaku mengetuk meluruh diri

Ku temui pula nafsu kehendak
kau perangai dibawah nyiur
Jemputlah rindu menempis pintu

Ah, kita berdua berpandang cahaya
aku dan engkau meresap terisi nikmat memadu
seperti kutilang menyanyi pagi dan menanak embun

Mari nona,
semalam saja berguling tamasya
lupakan dingin selembut angin
menjaga kaca diputih mata lampu

Kelak ketenangan melayang melepas kita
engkau perahu dari airmata melayar
ku izinkan kembali diseratus jarak meningkah pergi

Gemetar dadaku diperkosa anak-anak resah
engkau jadikan aku menghamba termangu
mengembara waktu lahir dikata
 
Antara tahun disambut kekasihku
dilambung dewasa kususul berjumpa
sedari kucari sebelum pergi

O, engkau pembawa hidup nyata
aku melampau kita bersua
berdua merasa diakhir bahagia

Sebab malam memancar terangmu
sampai datang berbatas rela
biarkan aku tersia-sia.


Aby Santika

Bandung,
29 Desember 2011.

DENDANGKAN SENJATA MENCARI DAMAI


Untuk melupakan kesadaran didadanya
tengadahlah ditengah senyum seluas semesta
sambil memeluk senjata oleh airmata

Dengan membawa sekumpul nyawa
dunia menangkap luka-luka yang nampak tua
seketika muda hilang tak kenal perang

Terhadap rompak yang kurus lincah
siapakah kau membelit waktu penuh api
lengannya menutup sebuah dendam yang mendidih

Kita adalah tanah pasir
Kita adalah air alam
Kita adalah hutan Tuhan

Ibu pertiwi membesarkan kita dengan girang
di bumi kosong dalam pangkuan tangan berdaki
menyandang matahari menghadap musim gugur

Simpanlah rintih diatas gemilang penuh cinta
karena yang sekarang bukan jalan-jalan berdendang mayat
menyelubungi bangkai tak bertuan

Kita sering mengutuki suara-suara yang mengepal dusta
meledak mesiu pada alam tempat berlindung
kemudian berkisah pada anak cucu sebelum mati

Untuk mendapatkan harapan sebelum malam
mengapa harus tumpah bertubi salah
biarkan dekap hati berdendang mesra.
 
Aby Santika
 
Bandung,
29 Desember 2011.

Selasa, 27 Desember 2011

DI TANAH INI MAYAT TERTIDUR


Bolehlah kita menyumpah tanah
bila pelor dibawanya berliku-liku
menambal nyawa pantang meradang

Dikerahkan mayat terangkut lagi
untuk sembunyi yang enggan mati
ancaman bertemu sepanjang waktu

Memaksa bangkai malam-malam tertidur
tanah gembur membelit gugur
sepi dikampung pahlawan mengungsi

Terbunuhlah perdamaian yang ditanamnya
mewaris nenek moyang dipasar lelang
jangan menolak,bedil bertindak

Merdeka yang nampak wajahnya asing
Enam puluh enam memeluk senjata
kesadaran melupakan peradaban zaman

Diluar ubun-ubun impian terekam berganti
tentang janji tangan mulia memberi teori
ditengah peluru menderu diatas tanah malang


Menegak berkhianat jadah meminta
pertumpahan terakhir adalah kubur
yang akan datang anak cucunya malam tertidur pulas.



Aby Santika

Bandung,
27 Desember 2011.


KUKIRA SESAL MENYUSUL DIRI


Aku menghentam segala hati
dari kepakkan tangan merasai
karena perempuanku melaut diri

Dihadapanku jaga berdiri tembok

siapa mengenal cinta membuat birahi
tiada kuruntuhkan jantungku memukul kesal

Ibumu menampung sedu
menyambut seribu bunyi dada berbelah
sebelum aku setubuh dagingmu terbuka satu

Lalu orang ini berbaris lupakan nona
sebab tidak mengenal laut siapa yang datang
dia yang nampak sendiri tidak terbaring

Dan betapa betina lari mengutuk benci
wangi bercinta aku berpangku tidur
di akhir kota aku jadikan melepas kembali

Sungguh telanjang tubuh menuju rela
lantaran penyiksa yang memang dikandung nyata
membawa perempuan berjumpa sengsara

Semua dilihat sesal menyusul
sahaja niat membusuk bangkai
biarkan hidup berpaling aku sepuluh kali.




Aby Santika

Bandung,
27 Desember 2011.

Minggu, 25 Desember 2011

TOBAT


Bilakah nasib bermandi bunga
dipetik bebas bercerai tubuh
aku menuju hidup bermohon utuh

Walau sering susah sesaat

sebab menurut napsu terkurang
bukan mendekat bijak mamang bisikan hati

Keluh kesah memeluk perlahan
tiada lepaskan menaruh jalan
tentulah kalau sangka meninggi kurungan

Bilakah hidup tumbuh mencium langit
sampaikan harap turut pula dibumi
menutup luka menjadi lupa

Bukan nasib habis merayu simpanan
setimbang tabah membawa penuh
menanti bahagia di dalam akhirat

Sampai kau tangisi menjadi embun
Bahagia bersama mematah senyum
luaskan kasih dipintu lahat menghilang

Ratapan kalbu bermuram durja
berkubur azab tinggalah doa
aku bertobat bukan sesaat sebelum berkurang usia.



Aby Santika

Bandung,
25 Desember 2011.



Jumat, 23 Desember 2011

SENJA DI CICALENGKA


Mengapa kita harus berlari, tuan
didengkul kaki masih bertolak daki
tidak terburu-buru,tidak juga berleha-leha

Tapi waspada Matahari,sepeka becak mencari rumah
Sehati-hati ontel menggayut malam
Menyongsong pulang dari jalan-jalan kosong melompong

Tuan-tuan datang mengupah hidup
menjanji pulang harap perut terangkut
dikotamu engkau hanyut membawa gelisah

Aku dengar jerit orang-orang mematung kaku
terdampar kekalahan sirna dalam trotoar
bangkai-bangkai hidup canang bertalu

Aku lihat musafir memadu senja
suara motor tukang ojek, dengung sumbang penjual asongan
dan bau keringatnya memecut harapan yang enggan mati

Malam lusuh tetap kumal berulang
pulanglah tuan, sesudah udara habis berumur
bagaimanapun cinta akhirnya adalah keberanian jujur

Seusai senja terbenam menampung merah
kaki berdaki menyusuri simpang terpisah keramaian
bukan beratap janji

Meski esok hidup kembali memaksa untuk mencari
diantara kota cinta berserakan untuk kau punguti.



Aby Santika

Bandung,
23 Desember 2011.

IKHLAS


Ku linang kasih tempat berlindung
wangi embun mengendor sepi
bulan meminang lagu langkah berbaris

Tempat harap menimbul percaya
saling menuang gelas demi gelas teh dari jemari setia
tertegun rambut terjalin satu muka coklat menari

Karena nadiku patung,
memegang salju tersedu-sedu
berbelah bunga merah terpecah

Pergi disimpang tak berpamit
keturunanmu rindu diteluk nanti
menunggu datang sampai hari kembali

Lalu badan memberi tantang
aku menderu kekesalan menjalang
untuk bercinta menghampar akhir

Sungguhpun nyeri berjumlah seribu api
nafsu penuh kupinta terhadapku
jikalah hendak bathin diserang lemah

Kau pergi kasih kencang dikata tiada tentu
menyebabkan panas sekujur badan
mulailah kesadaran nasib tiada terbeli

Disini sunyi ikhlas melayap
dihitung sendiri rindu simpanan
pulang tempat kebulan kosong.



Aby Santika

Bandung,
20 Desember 2011.

SEBELUM MAUT BERPAUT


Pernahkah kau hitung hidup ini ?
hanya melepas pulang perlahan
layangkan maut peminta daya lekas melindung

Dalam dunia tiada bersua

penuh sujud hati memangku seluruh
tulisan ikhlas luaskan tangis mengalir

Sampai terang hasrat berbatas
restu berdua ajal yang punya
lalu kau kemboja rangkai tersia-sia

O,Tuhanku
Kuingat padamu menjadi turut
lukisan suci ke urat kepala
tempat menampung tabah meminta

Sekali ini hidup sendiri
Ialah, hak langit mempertemu hayat
dengan mengadu sebutir harap kususul mendung dibibir

O, Tuhanku
Sebelum hidup
Sekedar tertawa
jika melihat tiada bersua
ijinkan menemui wajah didalam sujud

Begitu maut sahaja berpaut
kuharap engkau sembahyangkan badan
membilang rela putuskan diri

Sebelum airmata bergenang tiba
hanyalah harapan gundah memadam
memercik rindu diujung jalan.


Aby Santika

Bandung,
19 Desember 2011.

TELAH TIDUR PAHLAWAN BANGSA


Ia tidur
Pada satu kisah seumur bulan merah
karena yang dipegangnya kebulatan usia
menyala bagai mata harimau tua


Berangkat dimusim gugur
rebah tanah diantara kota serupa kubur
payah jerat maut mewaris anaknya

Sesudah bumi memangku moyangnya
hujan mulai menggenang dada berlubang peluru
wajahnya merangkai bunga senyum nampak basah

Bagai mesra memandang cinta
negeri ini perang telanjang darah yang sama
dimana-mana jasa Tuan ditelan perut Setan

Ia tidur
burung-burung liar derap makamnya
mengabar dosa anak cucunya
kelopak luka tersadap jilat bapaknya


Lihatlah langit rengat bermata air
buat selama dulu keringatnya dangkal kehormatan
sebab merangkak mengandung beban kematian

Usai pun juang berkobar api
tidurlah lelap di tanah bernyawa gusur
sesekali bangun dan tengok
anak cucumu asyik bermain bedil dalam tindak keranda.


Aby Santika

Bandung,
17 Desember 2011.

SAUADARA MATI DI TANAH CENDERAWASIH


Sebelum aku pergi menundung napsu
jika musim beramai-ramai menambal rindu
akhirnya tunggal wangi menunggumu saudara tua

Di tanggul kiri pantang dermakan lapar dan dingin
harapan malam sirnah berdandan lagi
kafilah berbangkai hujan pudar merayap

Lusuh kolewang tumpul enggan menggantung
tergayut-gayut dengkul pergi jembatan mayat
lengking harapan aus pucat jalannya

Bukan buat mati, juga sekarat cari
disatu tubuh mata menjanjikan matahari
lalu malam saudara gelisah terangkut

Menghadap hidup lemah terseret
namun engkau tetap asing bagiku
sepenuhnya memburu mimpi kemerdekaan

Serupa berkejaran mendapat umur
sementara kenikmatan seluruh jasad berlawan dilaras api
saat habis kebutaan cinta

Maka,
Sebelum aku pergi bertandang muram
kurus-kurus malam berteriak selangkah lagi
di tanah Cendrawasih tempat saudara tua mati.



Aby Santika

Bandung,
17 Desember 2011.

BERSAMA PULANG BERBENAH


Kerling gadis dibukit terberai
keturunanmu rahim seribu hati
kupinta dulu peluk berahi

Aku tutup segala ruangan lengkung berjaga

meningkah nanti sedari aku pergi
mengejar gadis musim berlonceng

Bersama-sama kita pulang berbenah
di kala senja pandangan berbelah
pegang erat kemalu hendak menumpah

Tetapi tidak tertidur,bunga
setengah telanjang bundar berbuah
nampak terbaring peluru berperang

Malam bagai kuda menungging muka
hanya gairah mendidih darah
jarimu jendela berpeluk meminta

Gadis senyum memutih duka
memandang basah bertanah kurus
di balik lincah mengungkung diri

Memandang waktu ibarat jalanan
selalu jauh sepi dikejar lari
tanggul dimata bedah sesal berulang.


Aby Santika

Bandung,
15 Desember 2011.

PADA SETIAMU AKU AKAN PULANG


Sering saya bingkaikan syair
digamat waktu hendak mendengar
singkiri cinta bijak dahulu

Bersendi lemah laun berbisik

terkurang sejarah cinta dibimbing
matanya lukisan sampaikan bijak

Disitulah baru bermohon nyawa
jika badanku sukar berkata
sebab susah menjemput angin tiada

Melayang entah sejurus tangis
rawan menghilang bahagia mengenang
perlahan kesah ia bermuram

Memberi hikmat selintas rancak
mengikat bahagia tidak selama-lamanya
bayang dimuka senantiasa bersuka

Kita bukan kandil dimalam gelap
wajah teduh meninggi awan
kembang cempaka cedera rupanya

Ini hati layangkan sangka
engkau melambai sungkemkan setia
tentulah pulang tempat padamu bersua


Aby Santika

Bandung,
14 Desember 2011.

HIDUP TUHAN YANG MENGATUR


Kepada kau melirik seribu kira
takkan kujalani sendiri pesta berhias diri
meningkah belantara kesana-kemari

Batu pasir teduh musim-musim kembali

dan tangismu melompat tersedu-sedu

Apakah mati,jika tiada kembali ?
dan jika Istana berlindung kita berguna
setiap napas kususun batu dengan rapi

Nisanmu hilang sisa kemarin
Kita berumah digetah khuldi
sebelum hilang akan kembali

Orang-orang berganti menandang tempat
wajah tangis pecah sebundar telur
nampak ditengah padang senja tengadah

Bekunya bukan tertidur
langkah rubuh nyawanya tafakur

Itu engkaukah bermata lilin ?
wemegang erat,kau bawa melompat
wanginya sorga menumpah ke arahku

Rangkai bunga mengandung doa
gubah semesta gemetar tubuh
Kepada rahim hendak bernaung
biarlah hidup Tuhan yang mengatur


Aby Santika

Bandung,
12 Desember 2011.

Minggu, 11 Desember 2011

PULANG


Pulanglah dibuaian tubuhku
kita berdua sepandang percaya
menunggu bulan dikaca piring
semalam saja,

Tiap langkah pertama luka bersorak
karena kukandung pedang disarung betina
selusin hari menutup mata

Pulanglah berdiri sunyi
kepada ruang-ruang yang lapar
sebab bahagia menghitung sisa
usia malam berwasiat sepi

Terlahir menjadi nyawa
sungguh pasi gubahan suara
disinilah aku bermohon badan

Semalam saja mengenang tangis dimuram rawan
pulanglah sejurus ikrar selintas
dimana cinta senantiasa duka

Tidak mengikat tilikan mata
sujud cedera berpaut maut
konon jauh nestapa sangka

Pulanglah tiada bersua
setia selalu peminta lindung
semalam saja lepaskan aku.
Aby Santika
Bandung,
10 Desember 2011.

Jumat, 09 Desember 2011

KUDENGAR SUARAMU SEBELUM MATI


Selagi bejana sambungkan nyawa
dimana malam sejakkan tanah
terkunang bisikan lagumu

Sering dengungan mendekat alun

berkurang seloka bingkaian syair
dipetik jari senar banyaknya
merdu

Disanalah kita berpijak suka
suara angin antara lawang
makin lama laksana firdaus

Seperti damai bergoncang sukma
selagi malam hantar berparas
layangkan windu waktu tak sampai

Kusangka kau turut selalu
luka jiwaku sampai pembaringan
nyawa sebelum mati bernada

Sebelum jasad menjadi bumi
tembangkan Asmaradana yang
sakti
diatas luka yang ku letak dulu

Meski tiada sembuh berkawan
lantunmu pengantar tidur abadi
dipangkuan tanah bangkai
mewangi

Hingga lupa bertempat pada diri
hidup tersisa irama dibelah
bibirmu
aku bersandar nyawa ditangan
Izrail.



Aby Santika

Bandung,
09 Desember 2011.

MAWAS RINDU


Adakah pagi sungkemkan sujud
meletak gelap pada subuh beribu
bahwa hatiku sayang rindu berjuntai

Kutangisi dikau mematah malam

ditengah masa mungkin bersua
luaskan mimpi dialam tipis melayap

Disini kelelawar buta berkibar
di kiri wangi pikiran sepi
ke kanan langit rona berkeluh basah

Segala tanda hujan berlindung
begitu pepatah ibu membendung murung
jika cerita tiada bersua
telanlah rindu dibibir saja

Kemudian rela-rela membilang
mawas diri dilembung alpa
antara shubuh Adzan tertambat

Kekasih datang tiada telanjang
betapa gerang menerima badan
sedia pagi putuskan diri
pulang kehati boleh berdoa.
Aby Santika
Bandung,
09 Desember 2011

Rabu, 07 Desember 2011

BALADA GADIS MALAM


Melambai gadis berpaut malam
selindung jauh sangka bercedera
kandil rupanya gemerlap cempaka

Kaulah konon memeluk perlahan

tumbuh benderang sebelah senja
dan harapan kian menjadi lupa

Di ikat daku selintas hikmat
menuntas musim pelik merindu
menumpu tangan gadis berduyun rayu

Mulai bersisir randu bertudung
daku malu bersua raga
bolehlah seberang waktu menentu

Jika malam merasa rela
bertambah kesal bergenang jiwa
lambai gadis memercik muka

Maka kalaulah boleh kupinta
sedalam hasil menembus perih
Tuhan tiada paras berpaling
daku bernyanyi sunyi sepagi.
Aby Santika II
Bandung,
07 Desember 2011

Selasa, 06 Desember 2011

SEBENTUK DILEMA CINTA


Kita bercerita ketika pertengah musim terbunuh
Disana kutemui cumbu yang melumut
 perut-perut malam

Dari sungging tipis senyum berhasrat rindu
Juga kutitipkan pancuran dari kolam-kolam halamanmu

diantara sepasang perahu yang kian oleng

Dilema menikmat kesadaran yang telah kususun seketika malam
Bersandar pula logika tentang rindu yang paling tulus

Padahal sebentuk doa adalah engkau yang mentasbih
Lalu kesabaran ketika berbicara apa merupa kesalahan ?

Jika Langit berbicara, disana ada sepenggal cerita
Yang kutitip tulusnya diujung dilema cinta.
Aby Santika
Cirebon
29 November 2011

AKU HANYA MENCINTAIMU


Kusimpan rajah kelam
diantara lantai yang nyaris tak bersuara
Juga sejumput gamang pada lisan rindu
yang hampir tersudut aksara

Setara ilalang mengibar duka
diperapian siang
Sementara durinya satu persatu
berbaris diatas alismu

Ini sebab tubuh memapah lunglai
seketika tarian malam
Yang termakan perut-perut
berbentuk keikhlasan

Barangkali binar menjemput di Ka'bahmu
Juga sujud puja-puji sebaris rindu kabur diawal Isya

Akh..
Sebelum bergetar kaki dipecah rembulan
Juga bibir melatah racau semabuk Khamer

Aku hanya mencintaimu,
Kembang pengabar Sorga.


Aby Santika

Cirebon
01 Desember 2011

DUKA PUAN MATAHARI


Melihat duka matahari pudar
disebelah bahumu muram
membentang setengah

Puan berkejar kegirangan
sebelum senja
sekali mendekap bumi asin
tersiram

Mengikuti deras yang beranjak gelap
Jasadnya terselubung sebaris bulan beranak

Lunas rindu memupuk dada berambut
Sehingga sepi sebelum mati
terlupa padanya

Puan memeluk sepenuh orang- orang tertidur
Aku ingin membuka sebagian
kepala didagumu

Wajah sunyi bilamana dia datang
Sebuah sandar berlubang rindu
dikedua pundaknya.
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon
02 Desember 2011

DOA LANGIT


Bukankah langit sudah terbeli,
disebelah barat sukar ditawar
disimbur darah tiada terikat

Menangis angin gaduh berderu
masuk menyapu nasib bersuka
jari lembut menjemput makam

Bukanlah badan menggadai
keluh,
gubahan nadaku bersuara bunga
bila bercerai langit berhutang

Disanalah ratapan bebas berkata
aku,
sebab saudara tua bermohon doa
apabila suara sebat namanya

Di sebelah mata air gelisah rindu
diserang,
antara arah memercik nyala
membeli tangis seringgit terang.
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon
02 Desember 2011

SENJA SEBELUM RINDU


Aku tak tahu ketika senja
berayun
menghitung kota berdiri seluruh
usia
berwasiat kepada seratus juta
burung-burung

Siapakah orang yang menunggu
rebah
dari langit ketika kecil semesta
beranjak menjadi putih

Ditenung larinya rindu engkau
kekasih
hanyut dihati sepenuhnya
bermukim dari bukit-bukit

Siapakah aku, memanggil duka
dibahu kurus
kembang didada sekira perak
bulan merambai

Hati tak berpelukan seperti
jendela
langkah undur menutup muka
mengembung napas tiada benci

Senja tiada kelakar kepada
pepohonan
ku kasihi engkau sebelum hilang
berganti
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon,
04 Desember 2011

JIKA PUAN BERDUKA


Di halaman puan menyandang duka
menahan pijar kian menghambur
lima musim berdaun bunga

Jika hanya pohon-pohon berhias diri
lengkung langit bercinta dipangkuan bukit
melepas jalang berdentangan

Di jalan jatuh kau ambil berlari
lalu puan hendak menumpah tubuh :
Rindu !

Aku melancar dihadap makian
sejak tenang mencari kita berdua
Ah, kegirangan serupa pohon di alam bebas

Terhadap gunung-gunungmu
apakah cinta, jika tiada perih ?

Buat puan menunggu bulan naik diatas dada
semalam berdansa diakar kayu,

Esok melangkah lagi
menurut Tuhan berpunya ingin.
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon
05 Desember 2011

NONA-NONA


Hai ! Mari berlagu nona,
sirih pinang melayang mesra
tetapi tidak berpandang padaku

Entak jempol memeluk riang
daun pasir mengangkat pucuk
telanjang
tetapi bukan kodok menggosok perut

Pesta malam menegak pandan
lahirlah gairah punah meminta
matanya menuju kota luka-luka kenang

Nona berbaris menyusui waktu
jangan dibenci antaranya anak
merangkak
nanti sekali hari jadah punya cinta

Tunjung napsu melepas seluruh
tiap musim serupa awak semata
wayang
sumbangan tulang damaikan rindu

Pulanglah, jika pagi memadu mimpi
untuk mencari, berdandan lagi

Nona-nona belukar suara
tergayut lagu sepanjang
pangkuan.
 
 
 
Aby Santika
 
Bandung
06 Desember 2011

Senin, 28 November 2011

BANJIR LIMA TAHUNAN

Siapa yang tak tahu janji hujan yang turun lima tahun sekali
Banjir Saweran receh berpesta kaum atas juga kasta prostitutes

Kami yang kerja upah berhitung nyawa-nyawa
Setidaknya tidak punah dibawah telapak kaki berhamba
Hujan menumbang pohon itu sudah biasa
Walau keramat sesaji tempat berteduh penghuni berilmu tinggi

Untuk rakyat banjir lima tahunan adalah tempat rekreasi
berenang keliling kota sebesar kali

Kami memilih teduh dengan senang hati
walau tangan-tangannya menunggu mati

Para elit gesit seketika berebut tawaran payung bercangkang lebar
Birokrat blingsatan karena celana mulai kedodoran

Setidaknya pilihan bukan hujan yang turun lima tahun sekali
Walau terasa dampak banjir seluruh janji
tapi kami belum mati

Aby Santika II

YOGYAKARTA
261111

Minggu, 20 November 2011

SETEDUH ADINDA

Seteduh kelopak,
Gerimis itu adalah kembang secantik sutera
Bening laut menitis airmata

Jemari manis adalah tangkai berkaca berkurun diri
Wanita mendatangkan bulan juga merangka bumi

Pada suara pelepas dahaga
Puitis asmaradana mendamai sebuah nama
yang hadir dalam tiada

Adinda
Kita bicara tentang sebuah jasad
 menghilang dipuncak damai

Menanti teduh dihujung buana
Tiada pamitan pepohonan rindu tumbuh
 membunuh sepi

Gerimis itu cantik berlari mengejar rerama
Hingga terjaga sebelum meledak krakatau
 menghujan teduh kembang ilalang

Lalu akupun terlepas diruang sepi
Rambutmu sebahu jatuh ke ulu rindu

Adinda
Jika mencipta kehampaan sia-sia
Tolong ambil inginku untuk mengisi ada
Sebelum kembali menutup mata
fikirku berkhayal ribuan tahun lagi

Dimana musim menghilang dalam teduh pelukan
menuju rindu serupa haruman Syurga



Aby Santika II

Yogyakarta
20 November 2011

Sabtu, 19 November 2011

KEMBANG MENALI RINDU

Masih berbaris buntu rindu kabur
Terjemah suara membuat janji

Diam-diam pula Puan berbagi
Lalu ajari perlahan puji mantera bersesaji

Duhai kembang yang tercuri
Ompong wangimu tiada bergigi

Esok tikung berdiri kaku
Aku berpuan derita berpunya

Seusai wudhu berairmata
Sujudmu juga tiada berdua

Sementara pagi-pagi aku menarik bisu
Dalam jelma abu telanjang berbidang dada

Duhai kembang bernama dua
Sembunyikah ketiak kasturi ?

Sedang kaki berbadai api
Namun rindu kabur terikat tali mati



Aby Santika II

Bandung
30 September 2011

SAJAK PAGI BUTA

Sampai pagi ini,aku membuta waktu
Berembun paras berganjil cacat

Sejak burit merangkak perlahan
Menandu waktu dengkur membagi

Dilengkung belah kumal rambutmu berkaca
Setangkai dada berlaut bunting membocah

Tidurlah dalam mimpi yang terjaga
Juga malam meronda rindu

Sampai selaut tumpahkah terkepung?
Buta merayap hasrat-hasrat

Ketika pagi menyuapi perut busungnya
Setitik lampion perlahan berjerawat redup

Sepagi limbung berkuda perawan
Pun akar berbaju lipat melurus kaku



Aby Santika II

Bandung
03 Oktober 2011

BALADA MALAM BERPUISI

Berdaun pintu telinga ilalang
Juga kumur kemboja semalam tawa
Sunyi jendela berkabung renda
Dalam kabutkah sajak tertawan

Ketika patahan bait terselip lelap
Roboh pula topangan airmata bertopan
Menyisir tegak rambut-rambut malam

Padahal semenjak Isya tubuhku lelah berpuisi
Tentang bunting rindu, juga pancuran yang sekolam
tangis dihalaman kepalamu

Lantunku memerdu kelana lampu-lampu kota
Yang mulai kuhitung nyawanya sesenja tadi
Diatas cumbu trotoar berpunggung renta
Juga besi-besi bising bermukim

Malamku ,masih berkalimat :
Dada berbadai kembung, untuk kau suapi busung
rindu yang memasung tulang-tulang rusuk
untuk kelak ku sematkan padamu



Aby Santika II

Bandung
05 Oktober 2011

RINDU TERSEKAT GEDUNG BERTINGKAT

Dik,
Jejakaku bertanggung di aspal-aspal utara lingkar lima
bersama mungil letih tangan mengapit tembakau sisa
menyaksikan senyum semu,penawar dahaga rindu

Dik,
Seribu laut jua airmata tertahan disela gedung bertingkat
yang juga lima
membelakangi sampah-sampah mengotori trotoar Bapak
Jendral Gatot Soebroto

Aku terjenguk rindu yang terkatup dinding pembelah suara
menggema sunyi bersampan oleng

Perawankah kau diranjang waktu ?

Dik,
Diam-diam tanganku melingkar pepohon rimbun
latah jua ukiran sungai membatang tandu
Diam berpikir mata air dikau meronce ujung minggu

Dik,
Ku benamkan mabuk senja sesaat hilang gila
Kembang aroma bulan bermadu tuba
tetap tuturku mengigau gelap dibatas payung
Lingkar lima cerita terpisah angin



Aby Santika II

Bandung
05 Oktober 2011

DUDUKLAH DIANTARA PAHA, DIK

Duduk dipangkuanku malam lincah berjilbab
ketika ku sampaikan kabar senja sebutir pasir
suci bertaruh telanjang

Bukankah pernah kuluruhkan wanginya diantara
urat-urat penangkal raut
hingga merah berwarna sembunyi

Sampai Isya berbaring dipundak,
tak kutemui salammu yang sempat bersuara
itu

Dik,
Dengarkah ruah bisik yang melirih rembulan?
Bahkan gemetar tungkai mengetuk ronda
yang mengepung tidurmu

Duduklah diantara dua paha berbangku
tak berpunggung,
Sesampai Shubuh menepi sauhnya kedermaga
sunyi fajar



Aby Santika II

Surabaya
13 Oktober 2011

KANVAS BERJARAK RINDU

Masih segaris tumbuh rindu yang tertahan
dalam biduk karam diselat mata antara ada

Sempat hilang kemarin yang mati suri
juga ucap latah mimpi dipembaringan usang

Ku tuliskan Qalam diatas kanvas-kanvas berjarak
pesan kata dari rangkaian Mozaik kenangan seruas telapak kaki

Duhai,
perempuan sayang selayang pandang
Nelayan pantai menggunduli lautmu yang berkisah asin airmata

Sebab,
Rindu berjembatan benua-benua kayu
sebagai jejak matahari yang kupanah panasnya sebara kasihku



Aby Santika II

Bandung
21 Oktober 2011

SAJAK BERONANI BASAH

Beramai-ramai bersajak basah
ketika bahasa terikat jeda perut buncit

Sedang kekasih menahan bencana
antara kata mengambang airmata

Seusai senja berumah beton
ku ceritakan riwayat sepenggal tuan-tuan

Lantas
puisi berwajah garis bengkok
meraut tubuh dekil bait merambut kusut

Telah selesai beronanikah abjad-abjad perindu semu ?

Ketika kukejar syurga meninggi dari mulutmu
sajakku setonggak telapak sketsa kaki telanjang




Aby Santika II

Bandung
23 Oktober 2011

MAAF,AKU SEMPAT LUPA

Aku berteduh diatap kembar
seingat hujan menanam benih badai

Ketika kemarin lupaku sempat mengentah
padahal setengah abad lebih serupa sama juangmu dimata

Maaf
aku menali tanggungan takdir
yang berwujud rindu selepas pagi

Sementara padamu kubaringkan mimpi
bermasturbasi diatas ranjang-ranjang tanpa punggung

Kelak
padamu jua malam membunting badai-badai yang kucipta
sampai uban berkarib diputaran kepala




Aby Santika II

Bandung
24 Oktober 2011

SEMENJAK MALAM

Sejak bulan menterjemah bahasamu,
aku tahu kepingan mozaik tersusun di nasib kesemutan arah

Sedang,
Pergumulanmu nampak meruncing malam
meninggalkan dada usang seteduh sandarmu

Anak-anak tiri melangit janji
serupa rahim ibu membumi kata

Sebatang terikkah ?
Kira airmata mengguyur setumpuk gurun perawan silam

Maaf, setiba rapat sauhmu tak nampak tepi
Sementara pesisir sunyi berangin janggal

Semenjak malam mendendam arak limbung
Aku sadar gontaiku melayar menuju bahasa-bahasa
yang sering kau isyaratkan
dalam diammu




Aby Santika II

Bandung
28 Oktober 2011

DILEMA WAKTU

Waktu yang akan mengadiliku ?
entahlah,,
nampak sesak menunggu bebasmu
disangkar ilmu

Setidaknya ramah kabar menuai
ejekan angin kembara
beradu dadu di meja mahsyar
bertemu muka teduh sekasih lalu

Entahlah
sewaktu lagu berayat rancu
dadaku berburu rambut lurusmu
menghiba robek purnama angkuh

Dalam belai puisi-puisi syahwat
bertebing curam
Lalu, waktu yang akan mengadiliku?
Kamu?

Akh .. entahlah
Biar ragamu dinanti singgasana
pangeran waktumu
dua hitungan memadu manis

Namun aku
mengadili waktu
Untukmu




Aby Santika II

Bandung
28 Oktober 2011

PEREMPUAN KUTANG BERAKAR

Untuk engkau perempuan
berkutang akar
setumpuk mabuk membelai
kemalu rindu

Sepi membukam malam
serambut bahu
Beranak utuh ditugu seribu
lantai berbaju

Seterang remangkah laron
memaruh waktu?
meski telanjang dada
memacu nafsu sehulu

Menancap madu perjaka
murung
Aku terdiam layu segelas
kopi mengguyur

Untuk engkau perempuan
diam membiru
anganmu meng_aku akan
bisu menandu waktu




Aby Santika II

Yogyakarta
30 Oktober 2011

SENIN

Senin,
Menjalin kelamin secermin angin
Seperti rupa tumpukan kaku rindu menjiarahi

Ku cumbuikah sebaris tarian gubuk berkayu
Menyaring merdu ejakulasi pagi riuh menderu

Dua fosil berhari sewindu purba
Juga arah Tuhan melangkah sama

Senin
Akh.. Serupa tulang-tulang mengabu
Dalam dahulu merecah padamu



Aby Santika II

Bandung
31 Oktober 2011

KISAH SEWINDU RINDU

Kita berkisah, meriwayat musim yang berkemas air hujan
Diantara badai menggelandang ingin yang merapat

Sehitung jeda prosa umpama ribu kata
Juga setuak lingkar cengkrama senja

Tidak !!
Kisah asin telah kusepuh dilangit yang gila
Sementara sisa-sisa hujan terdengar memelas iba

Aku sewindu tunggu

Sebab
Doa-doa tak sedengar awan-awan menguning
Tersaji kisah menzaman abad, di setangkai purba kembangmu



Aby Santika II

Bandung
01 November 2011

KEKASIH SETUBUH RINDU

Kesumat tawa menggelitik malam
Duhai kekasih bertungku setegak koma

Pada setiap lingkup melintas bara kecilmu membuah diri
Tatkala janin langit merindu tumbuh

Bertebing kembar pula jalan separuh buta
Membuncit setengah tua

Biarkan aku pulas merangkul kasur-kasur berdaun bolong
Sampai purnama setengah berdialek kata

Menyeru koma-koma
atas nama aku majnun setubuh rindu



Aby Santika II

Bandung
02 November 2011

DINDA

Dinda,
Tubuh itu melempar tuah tersampul
hati tuan sejengkal riwayat biru bersurat

Tuntaskanlah buncit-buncit mengiba
Sejengkal mata cinta bermata rimbun

Tertidurkah pulau-pulau lapuk membujuk
Sebaris usai berkarat sketsa pena

Mungkin,
Kesadaran ibarat bunyi air
Menuntun biduk yang tertahan goyah

Dinda,
Layang-layang mengukir rahim
langit tiri
Selepas kenang, hati kembali

Walau berkas titik mengkerut
cerita singgah Sang perjaka
Kelak, nirwana memangku
dibulatan buah dadamu



Aby Santika II

Bandung
03 November 2011

PRAHARA NISAN AIRMATA

Melipat jemari langit seusai telapak menjinak
Secangkir kayuh bertenun robek laut rindu

Karena ketika harap bergembala sahara
Wajah serupa menyapa irama bertangan halus

Kemarin angin-angin sempat kugiring membadai ragu
Sebab aku perantara birahi hati

Namun,
menggenggam pula pesona Tuhan
Sedangkan dinding Ka'bah menguras doa-doa

Tak ada sebab ?

Rusuk-rusukku hampir tercuri airmata
Dalam sesal tiada hilang berguna

Sementara penopang kabut bertulang kau semat
Atas Nisan yang kau jelma semegah Bahtera kita bersama



Aby Santika II

Bandung
04 November 2011

MATILAH KAU JALANGKU

Sedekat matakah kita
meninggalkan kepala yang berambut tua ?

Sementara kaki belum beranjak
dari bentang tanggalannya

Engkau
Lambai jalang pemutar pikir
Telah kau asinkan mata air yang
ditimba dari sumur tanpa hak

Sebelum ku tembak mati jantungmu menggantung ditapal
kuda telanjang

Akulah Tuan fakir penggugat
kursi bercelana dua

Untukmu
Ku tanam diam dari peluru
berbenih kata

Juga sorot berlaras tanpa kaca
mata

Engkau...
MATILAH ....



Aby Santika II

Bandung
05 November 2011

DIK, RINDU UNTUK BAHAGIAMU


Ini sebab pagi limbung melucut kerut
Rindu biru dalam mantera tak bersyarat haru

Dik,
serupa layang alamat airmata hinggap bergaris
Aku mengalun bait-bait seirama doa

Jika mendung memanah matahari
pasti dengkur setengah basah bunga sesaji

Dik,
hilang sekutu kawan kala beradu
Aku petunjuk harimu untuk bertemu bahagia
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
07 November 2011

UNTUK PEREMPUAN


Diamlah kelu meluruh ludah
Dibaris-baris cabang alkisah
Juga mata hati menyungging resah

Kepada perempuan
...
Bukankah jaga tak bermalam penuh ?
Semasa waktu buntu mengelabui takdir

Aku bertandu di tanya membatu
Tanggung diri sepantas bait runtuh

Diamlah tarian canggung berdialek
Aksaraku menuntun tangan Tuhan berkata
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
07 November 2011

KEPADA DEWI


Ketika ufuk menutup, disini malam-malam yang keras
Bersenjata engkau manusia menunggang kerbau

Sebisa tangguh meronda bilik semuda dahulu
Gembala pesona bermuka janggal
...
Telah kupegang pagi,
diseperempat tersisa
Syiar berpondasi teladan sebagai penjejak

Terbunuhkah riwayat semasa malam
Gigil sedanau dalam meriak ?

Kepada dewi

Takdir merantau diam,
Ikat berbantal rindu tak sempat mimpi bermadu janji

Ibarat kisah musafir, menggembala kaki
Sesampai hati meminang esok yang mulai berkeringat
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
08 November 2011

LEBURLAH BINASAKU


Ketika tebal sekilat jangkau
Bernyanyilah dalam alur sumbang

Seikat hati bersapa wajah
Lalu tembang Asmaradana melembah tebing retak cermin

Ini bukan amnesia kilas warta bahasa
Aku berbangga setara kata jatuh setubuh

Masih menangis topeng pembangkang takdir
Aku lacur malam dipaha basahnya

Seketika
Elok berparas dengki
Leburlah binasaku


Aby Santika II

Bandung
09 November 2011

BAPAK, BINTANGMU MIRING TERGUSUR


Bapak...
Sejajar miring bintangmu dipundak tua
Wibawa semata dahaga, lepas senjata masa menzaman

Setengah jidat tangan bersambut santun
...
Kepada siapakah ?

Besi modernitas tuntas membaca
aspal-aspal keringat darahmu mengukir

Engkaukah yang menyembah ?

Bapak...
Sempat lupa cucumu membingkai
Tegar pelor membebas negeri

Dijalanan hirau tegakmu pincang berdiri
Sementara lahan sempit tergusur iri

Maaf,
aku sempat lupa Bapak.
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
10 November 2011

SASTRA WIBAWA DININGRAT


Tajamnya sebaris bara memukim
Kata berbait tertinggal lama

Setelah ku huni gudang-gudang bermulut gelap
Juga tiang-tiang tertidur menali tingkah

Engkau Rajawali bersayap puisi
Telah kukabarkan mati
kepada pulau-pulau berkanvas sunyi

Bahwa aku jelma Sastra wibawa diningrat
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
10 November 2011

WANITA BERALIS BULUDRU

 
Masih harus kusaksikan ceruk bening yang mengalir dimatamu
Sebab itulah purnama berjelaga pada kepulan asap malam yang sering kau hidangkan

Untuk kali ini tetap kusebut kau wanita beralis buludru
Hingga tiap helai rambutmu adalah doa yang menjaga
...
Terlalu rawat sakitku memilah puting senyummu
Antara lisan yang kelu terselip nama disaku hijaumu abjad awalanku

Bertulang rapuh patahan kabut wajahmu
Menafsir airmata berbutir telaga
Seketika ku layarkan kapalku dipesisir cintamu
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
10 November 2011

CAMAR SENJA MELAYANG JANJI


Senja memagut camar bertandang rindu
Melukis daun berurat kemalu tubuhmu

Hilang sepanjang terang sayap berisyarat
Antara kasih berjarak hati sedanau tuba
...
Kesederhanaan jatuh mematuh
Sebandang harap sempat karam direngkuh waktu

Duhai
Kemuning berparuh tajam
Menarilah diatas ubun-ubun langitku

Ukir prasasti purba kalahari sahaja
Sejak persandingan memadu biduk berbadai

Untuk camar melayang semata wayang
Menuju pintu seribu janji tentangmu
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
11 November 2011

SAJAK FIGURAN


sajak dangkal tak bermuara
dingin tanpa angin
diam tanpa langkah

Tanpa gerak bukan berarti sembunyi
... Peduli lantang, aku yang berjalan

Maka,
biarkan aku tertawa
melihat figuran turut peran

Apa mungkin kiblat ingin kau pangku ditangan pula

Singgasana opera umpama cicak bertelinga lebar

Akh..
Miris bahakku tak tertahan
lugumu berlagak pengadil dunia
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
11 November 2011 

TENTANG NAMA


Tentang nama sekail embun
Tersimpan sesak memarau dada

Teriak lelaki berkabung pasung
Aku menjala ranum pagi merindu
...
Sewaktu paling bicara menahan
Bait menjeda harum tertulis rahasiamu

Solek cermin wajah turut menggambar
Hati membola hitam mata berjendela

Sebaris musim janggal bergerimis
Tentang nama langit memahat takdir
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
12 November 2011

SEBELUM MATI


Sebelum nanti tenggelam hilang
kenang aku berupa mayat berbaring tanah

Menghamba laut dulu kapal-kapal
Menggarami meditasi pesisir terkepal
...
Uratmu jalang menembus kulit
Cukup halus bernada sanggah menjepit

Aku berbicara dasar kasta
Otakmu berjaga mata iri berani

Beronanikah pemikiran tua segaris dahi
Sampai mati tulang berulang berserak retak
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
12 N0vember 2011

DOA KEMBANG TIDUR


Ini hari kita
Yang membagi pagi dalam bilah-bilah partiture mimpi

Bernada malam ibarat kembung membusung kosong
Sedang doa meluncur mengisi perut berurat rindu
...
Engkau kembang rayap melata
Meng_ingin genggam mekar sehabis senja

Sementara tidur dada adalah ranjang berpunggung
Ketika hari melipat windu memusim

Aku lelaki kah dengkur merayu tulus
Sebab tombakmu membidik hati
yang memahat pusaran asma-asma mu
 
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
14 November 2011
 

AKSARA TUHAN MEMBERKAT


Bersolek genit aksara tampan dimuka kembar
Koloni puan puteri bergaun remang mengantri cemas

Tajuk lihai ramuan abjad tersaji
Keramat faham duga purbasangka sebatas kira
...
Menggernyit dahi wajah berkerut heran
Menghitung sisa amunisi lepas kiri sasaran

Jika puan mencium tanah
Wangi pula bait sedari dulu ku tanam

Sambil berkhayalkah jua cukong juling mengintip
Gundukan pasir kilau keringat aksara menjalin

Terlalu tampan, bukan Tuhan salah menggurat
Sejak bidadari mengakar turut, hanya Tuhan memberkat
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
14 november 2011

BINAR REDUP MATAMU


Kemarin, lembaran langit seperti bangkai yang bisu dalam tanya hidup
Aku tahu tak sebagian sakit bersampan diujung jari

Kita pernah belajar mengecap asin laut

... : Setidaknya sunyi berkunjung sewaktu bulat purnama merecah
Juga secercah tapak nafas memfosil karat wajahmu

Aku menyulam cahaya lampu-lampu yang meredup lesu kemarin

Sebelum menepi jawab, kita serupa diam dalam sejumput ruang berdinding sakit

; Kita simpan tanya tentang membelah sayap angin yang hendak merangkul aku dan kamu
pun laron-laron yang menjemput binar diantara bola matamu

Kita menunggang sekat kelamin diantara celana matahari
sebelum Isya pamit mendengkur
Tubuhku mendekap disamping patahan doa latah
Antara kemarin merunduk tiba, sebelum mati
 
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
15 November 2011

TENTANG LANGIT


Aku menyaksikan langit melatah ucap
Dalam nafasnya menghela keringat semenjak terik

Bukan pula malam karib menyembunyi paras
Pun gamelan sayub dengan mata paling sayu, diammu seumpama nyanyian sunyi

Kita terjebak di dalam pertanyaan sama

:Kembung rembulan bersanding perut malam yang lapar ?

Jika sudah sampai doa terkabul kelak
Langit menjelma Musyafir yang mencari sinar rembulan
Sejak kau sembunyi dikedua bulat matamu
 
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
17 November 2011

RINDU DI ATAS TROTOAR


Mencumbu kulit trotoar sekitar
Jalan pentas megah pengamen jalanan
Sehabis shubuh irama memanja telinga

Berjalan diatas khayal wanita malam yang tertinggal
Seumpama mutiara kenang dibalik perjuang

Sabarlah dik,
Lelakimu bersenandung kepung telinga
Juga tali pengikat antara kota tua erat rapat

Jika tiba ujungnya,
kelak pinang bukan kenang yang lekang
trotoar lusuh berhias kembang

Orkes jalanan mengiring setiba buta
juga gelap puisi adalah mantera bersesaji nyata



Aby Santika II

Jogjakarta
18 November 2011

Jumat, 18 November 2011

SAJAK RINDU

Rindu bersayap kelelawar
liar dan tajam ketika memangsa
Dibunting malam tanpa rekayasa
serta balada laron hinggap memanja

O, Tuhan
Akulah pemuda berpacar remang
hingga rindu memadu ubun-ubun langit
tanpa kelelawar
karena rindu adalah kelelawar

Cakar-cakar kesakitan menahan
berontak pisau kata berupa jelma
umpama senjata
dalam rindu tersembunyi cabik
didalam diri

O, Tuhan
Belum berparas nasib buta
karena wanita terpejam wajah gembira
Sedang, dalam mimpi tidurku
adalah sorga
sebab kelelawar bersangkar rindu
terbang diujung jari

Lelaki garang bertekuk lutut
meletak hormat
diatas tanah berkafan abu
Tangan-tangan tengadah harap
rindu berarwah
datang seribu kembar tak sama

O, Tuhan
Pengantinku bergaun biru
kelelawar tewas rindu berpadu
Diatas kota beribu tugu emas
rindu menjelma sabar menunggu




Aby Santika II

Yogyakarta
18 November 2011

Kamis, 17 November 2011

SUMPAHKU DAHULU

Sumpahku tersimpan bahasa melayu
Berbangsa serumpun kembang-kembang layu

Terpisah bangga atas Tanah Air dahulu
Menjelma gagah Jendral berpeluru

Udzur waktu menimpa hulu
Atau Orok-orok baru terlahir tanpa kemalu?

Banggaku tertumpuk sumpah
Seisi sampah bangkai manusia dimanis bibir sang Tuan tanah

Wahai pemuda yang terlunta masa
Juga pemudi yang terbeli mimpi

Telah sampai timurkah matahari tenggelam ?
Sehingga sumpah hilang janji dahulu




Aby Santika II

YOGYAKARTA,
28 OKTOBER 2011

BIJI MATAMU BERJALAN BUNTU

Ketika langkah mesra menjerit antara mata,
bahasa meludah tuak atas lidah kesemutan
menjengkal pundak-pundak malam tuba
membisikkah kretek pada telinga tuli ?

Sebab ujung memabukan pelipis matamu
serta nyanyian orasi berkaca diri
renta merawan hisap candu kaki besi berlari
bertepi tiada, garis sebidang rata angin

Gembala tak beradu tuah hasrat
yang mati terbunuh daki musafir ketika menyusuri
parit-parit seterang purnama melingkar

Jari matamu sebundar labirin jarum waktu
berbisik rindu
juga debu menyesat gontai malamku sebuta
dermaga tanpa bahasa
aku masih berjarak limbung, menemu sosok
matahari dikedua biji matamu



Aby Santika II
YOGYAKARTA-SURABAYA
15 OKTOBER 2011

SERIBU HARI

Seribu riak tawa gedung berlantai kembar
serupa berhala sembah lalu lalang bergilir
Ketika seribu mata beradu pandang jalang
berpura-pura surga berdiri menantang dada

Aku diam membuta kata
Sedahaga seribu matahari keringat tajam
Seribu langkah kaki menapak kepala
Tetap,
Seribu detik tak terlihat seribu senyummu
yang mengguyur terik bernada sumbang

Di seribu nafas sembunyimu menganak tiri
tatkala berpunggung patah arang
Aku tuli mengunci dengar
Pada Tuhan seribu doa bermantera
menafsir langit dan pohon yang tertidur

Terselip di sakumu kah ayat yang tak sempat
ku eja terabasnya ?
Sedekat jelagamu terjaga kapal tiba

Seribu hari, diantara gedung renta
Aku memaku kaki


Aby Santika II

07 OKTOBER 2011

Kamis, 15 September 2011

WAJAH TUA, BINTANG BERKELAMIN BETINA

Perempuan langsing
mengipas
pesona gemulai tari kunang- kunang
Kau hadir memendam seribu umpat yang menggemuruh luka

Aku melihat keriput
menghitung usia
pada muka sebendang rindu

Padamu terlakar sekolam airmata
persis bintang bertandang segaris keluhan

Wajah itu...
mulai menggerimis basah coretan rindu
selaut resah berkunjung dibatas usia

dibalik senyum mulus
menakar luka
kau sembunyi pandang terpalit di dada

Aku mencoba melihat bintang berkelamin
betina
Menjadi nenek yang gemar bercerita kepada anak cucunya
Merajut jubah rembulan dikursi goyang berkacamata

Wajah itu...
Perempuan langsing diantara kunang-kunang
mengipas berkulit tua

Wajah itu...
Bintang yang melipat usia disenja hari berdada
tanpa rindu luka yang
merumpun kepala




Aby Santika II

BANDUNG,
12 SEPTEMBER 2011

SABDA PAGI

Inikah tempat sabda sewaktu kita
Pagi alang-alang dibalik risau gunung menjulang

Dalam hulu bertalu ditandang matahari
Padahal rindu masih belum tertidur dibantal mimpi

Wahai wanita pagi berjubah putih
Gigil embun meretas bulat dimatamu

Ketika malam gerhana meretak dada
Bayangmu menggelayut rimbun
membunting pagi

Diamlah tatkala rapuh pagi bertulang tua
Dan patahan airmata bersabda rindu yang cedera

Aku mengenalmu, sebanyak jumlah kerutan di dahimu
Dilengkung cinta kau tatap rabun hadirku



Aby Santika II

BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011

11 SEPTEMBER

Kesedihanmu sedekat mukim neraka
Satu dasawarsa tewas aqidah terbakar fitnah

Adidaya mengabar perang ditelinga dunia
Seperti menepuk lalat diujung tahi

Oh tuhan
Istana Sulaiman semegah maksiat
Anak-anak kelaparan dari perut
yang terisi geranat

Lalu beling-beling menancap
liar dijidat renta
Serdadu berlaras pelor tembaga
mengatasnama kemanusiaan

Kemanusiaan milik siapa ?

Pertanyaan tersamar dentum
ledak dikepala

Oh tuhan
Nerakakah dunia membabibuta ?
Sementara jerit iba menjangkau langit



Aby Santika II

BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011

DERMAGA AIRMATA

Masih terdengar cerita riak buih yang melayar
Pada asin kisah rindu kita menjamu dahaga

Engkaukah yang melambai elok
dirimbun pohon kelapa
Lalu bermesra belai sejuk angin
pantai selatan ?

Ombak berkejaran badai
Bersama luluh istana pasir cinta kita

Di tepi pantai sepi biru merayu
Dermaga menjaga hati dibelah
laut tercumbu perahu kayu

Sementara episode berjalan terjal
Karang bertunas gagal diatas tugu yang terkikis gagah

Untukmu kugenggam lautan
lalu
kusimpan asin airnya kedalam airmataku


Aby Santika II

PANGANDARAN,
10 SEPTEMBER 2011

ROMANSA RINDU

Diamlah antara kaki-kaki telanjang
Maka elegi tak seucap buntu teka- teki silang

Sebelum selesai menyisir kusut bulu-bulu anu
Ada rindu diantara temali rajut kusamnya

Dikiblat tak seputar mata sujud berdahaga
Juga perahu Nuh kembali meraja derita

Penantian sebatang kisah romansa pecah
Titisan bait Shakespeare meruah
linang serpih rindu

Terkadang sepi mataku kau tepuk
Lalu nampak garis sendu
memeluk bulat rindu



Aby Santika II

BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011

UNTUK ENGKAU

Telah ku tinggalkan engkau langit yang murung
Serta kejaran awan ria menunjuk lipatan khatulistiwa

Untuk engkau , aku tiada
Mati diujung tiba segaris mata kaki

Lihatlah berontak angin tak bercelana
Dikolong langit yang mulai berkerut tua

Sewaktu kupeluk matahari
Senyum liarmu menjelma kawan
dipulau berambut ikal

Diantar lengkung kembu pipi langit
Bumi berputar terbalik arah

Juga redup matahari sebaris
lampion tanpa warna
Untuk engkau , Aku tiada tiba sejengkal dada



Aby Santika II

BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011

JUARA LOMBA

Negeri kita penyandang gelar
Juara lomba lupa nomor satu

Dari juara renang dikolam lumpur lafindo
Hingga Opera teater dalam lakon
"Gayus menonton tenis"

Memang hebat Birokrat
pemerkosa
Menjadi penonton lomba di gedung DPR umpama ditiket VIP

Ongkang kaki berlagak Amnesia
Dengan mulut bau comberan tertawa-tawa

Mereka mengakak hingga membenturkan jidat
Berharap hilang ingatan ketika
ditanya pura-pura gila

Negeri kita memang pengagu lagu Band Kuburan
Hingga senang bernyanyi degan judul " lupa- lupa ingat"



Aby Santika II

JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011

MENGEJA KUSAM AIRMATA

Kali pagi airmata bertulang patah
Sebatang tangis menceruk dahaga

Ketika menyarapani perut rindu yang kembung
Diantara tikung ludah menelan sesak

Paras pagi memulas bedak
Memikat rindu yang terbuang waktu

Sementara tetesan airmata berpola garis
Memenjara harap semalam limbung

Bukankah alunan suara bermata
tiga?

Dengung rindu tak samar
bersuara?

Namun mengeja kusam airmata
Serupa hilang tumpah pagi merindu buta

Duhai
Cemara jalanan rantingmu penunjuk
Ketika airmata bersendawa sumbang



Aby Santika II

JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011

IBA BUMI PERTIWI

Langit adalah puja-puji
dalam doa ibu pertiwi
meneduh bumi dinegeri tua

Aku menatap pada batas ujung jari
Nampak tangis langit meruas jatuh

Demi ibu pertiwi beruban salju
Keriputmu melipat kening

Kian undak beban dipundak
Masih linangkah pertiwi hati ?

Aku dengar hilang langit bermantera
Kosong negeri bertulang renta
Semasa muda tinggal cerita

Langitku
Bumiku
Negeriku

Ditelan bulat polusi merecah
Langit hitam, Ibu pertiwi berparas dekil

Langit adalah puja-puji
dalam Iba Pertiwi mati



Aby Santika II

YOGYAKARTA,
06 SEPTEMBER 2011

MENANGISLAH TUHAN, DIUJUNG TANGAN BESI

Menangislah Tuhan dalam airmata pasi
Ketika lapar bertangan besi dari
buyung pengais mimpi

Malam campakan sengat
Keringat tenggelam samudera sampah

Tangan besi harap teliti
sebab Tuhan tidak mati
Mencari beras menambal hari

Menangislah Tuhan jatuh deras kebumi
Perut buyung melangit mendung
hingga larut malam tersulam

Kejaran nyawa memancuh waktu
Busung menggunung dakian sampah

Tangan besi memilah sebutir nasi diatas tanah

Menangislah buyung dalam
wujud tangis Tuhan
sebab Tuhan tidak mati



Aby Santika II

YOGYAKARTA,
05 SEPTEMBER 2011

PERAWAN RINDU DIUJUNG ABU

Kuperawani pagi tusuk sebatang rokok
Mengendus telanjang abu merecah

Gigil sempat meniduri mimpi
dalam rindu sekuntum kembang
seroja

Duhai pagi berbadan dua
betapa lincah asap beterbangan

Hingga seroja berbuah rindu
Lalu bening menyiram mimpi

Merindangkah dalam ingatan ?
Gerhana bermukim disebulat mataku ?

Semata batang lenyap
bersetubuh
Sebab ingat tumpul terlewat abad

Perawan pagi terbaring lesu
membunting mimpi di ujung waktu



Aby Santika II

BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011

SESAL MENJALANG

Duhai perempuan jalang
akulah tanduk pengadu senggal
Di kaki-kaki asing bertapak gelang menusuk hitam ilalang nikmat

Masihkah tercekal melekat
melucut sebab liar beranak
Dari bawah terasah jasa mengabul birahi memuntah larva

Kerdip menggelitik bahak yang bungkam
sebatang kara jalang terpajang
Hilang jua pandang bercadar
tertatah sadar setengah sama

Duhai perempuan jalang yang juling
sebelah tangkup basah meletih
Akulah zaman pengadu nasib
dalam sesalmu ikut terjaga



Aby Santika II

BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011

KOTA BERDEBU RINDU

Aku terjilat debu antara aspal berbuah dungu
Kotamu memahat bodoh rindu dalam rimbun merahim pilu

Setara sunyi entah berbunyi
Di ujung kembali mendung kian nyeri

Sesadar samar pula rajam terlewati
Semacam duka bersuka rasa

Aku berdebu latah sebab dungu menjatah
Sebaris rindu menggerhana kuncup seperempat malam

Engkau meng_ibu timang harap
Setangkap jatuh injak menjungkir

Sembah titah lentang asmara
Kau samarata kota cacatku dalam sempurna



Aby Santika II

BANDUNG,
03 SEPTEMBER 2011

Jumat, 02 September 2011

KEMBANG LILI PENGABAR RINDU

Retak senja terbaring pada rindu licin
sejak kemarau bermukim didahaga punggungmu

Mengingat musim-musim perawan
kusenggamai seusai hijab fajar terdengar

Lalu
tak terlihat lagi pangkalan lenganmu
yang menari luka sebab rindu itu

Tercurikah kembang lili yang
menggantung
ketika jujur menjelma malam

Tanggalkan cacat juling pandangmu
pada larik-larik mengkitab pujimu

Pada retak senja terhukum waktu
pada sayub pengabar hadirmu



Aby Santika II

BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011

BERSETUBUH PESONA (NYAI)

Kali lentik sebentuk matahari
hijrah ribuan Mil membentur siang

Tetap sama , dalam bundar birahi
Selubang malu anjing bernaluri

Pesonamu Nyi
Meniduri terik di kolam ranjang berakar

Aku gali kedalamanmu
menempuh batas dinding
pemecah langit

Kali ini , aroma pemikat melucut
getar

Pesonamu Nyi
bundar merayap hasrat-hasrat

Perhelatan bertapal curam
Nafas liar berkuda cepat

Akh...
Anjing-anjingmu Nyi,
Menunggang utuh ditikam lidah

Kendati tergerai ikal tawamu
menali sejuk sperma wangi



Aby Santika II

BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011

UNTUK GERIMIS, DIK !

Aku nampak sejengkal gerimis
sembunyi tubuh berteduh badai

Untukmu,dik !
Ada sepenggal doa yang sempat
ku titipkan
pada ceruk airmata yang berpuisi

Kemudian nafas tertanam di
kedalamannya
antara harap tertidur pulas

Sepagi bercerita,dik !
Tentang riuh berkawan kuyup
juga gerimis bernyanyi manis

Dalam puja-puji yang membahana
serta merta doa berwujud anak badai

Ku giring ekor riuh
untuk kau tangkap ikhlas yang
seruas jemari

Antara tengadah doa harapan pagi
untukmu gerimis yang bersembunyi



Aby Santika II

BANDUNG,
1 SEPTEMBER 2011

UJUNG TAKBIR

Sepi takbir , meraja semalam
kepada hari nakal membuang maaf

tiada
tiada

Usailah airmata ?
Sebelas tetap mendosa bangga

Suara-suara itu terkepung lelah
Meraja semalam , bertahta semata

tiada
tiada

Untuk takbir simpanlah suaranya
atau parau pesta penyembah Syetan

Sepi memunguti ikhlas tersisa di
hidang Opor habis
dan habis Ikhlas pula
mengunyah rata

Sebelas
Sepuluh
dan mundur

Kepada hari menanti yang tak
sama tiba takbir suara itu
Menanti di ujung Sujudmu



Aby Santika II

BANDUNG,
31 AGUSTUS 2011

GEMA TAKBIR

Pada Gema yang meletak
sunyi bergumam sempurna
Masihkah ?

Gelombang semacam penegas lantang diri
Juga jarak hitung dalam tepi genap

Lalu,
Masih Kau selipkan dilipatan
sakumu Takbir dulu ?

Barangkali tertinggal di meja akadmu ?

Pada Gema yang menanjak
nafas terbunuh seperempat
dengarkah ?

Sayub adalah bentuk hilang
perlahan :

Memutar,
Membalik
lalu memutar
dan membalik lagi

Tak henti otakku menceramahi hati
Antara logika dikepala Imajisme

Pada Gema yang merombak
Hati menata Ikhlas
Maaf,



Aby Santika II

BANDUNG,
30 AGUSTUS 2011

MALAM GERIMIS

Dan malam kuhabiskan sebagian
merajut gerimis
Lalu kau adalah bening yang
terlukis tipis dibaris lengkung antaranya

Duhai sabit bergaun lilit duri melati
cahayamu tersisa semenjak
purnama kemarin

Meski gulat gerimis masih ku
pintal , namun remangmu adalah
wajah sempurna ditikam hujan

Telah ku ikat pula liar bocah langit
dengan ampas kopi dan pecahan asap menawan

Masih untukmu



Aby Santika II

BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011

KISAH DERMAGA PILU

Aku lihat tangis menggantung
dimatamu
Secepat aku layar diantara
airmata hangatmu

Karena perahu tertidur, kayuh
mengantri jenuh

Ketika ku ukur luas isakmu
menyamudera dalam palung

Masihkah ku benturkan simpatik
pada dinding telaga ?

Sedang diperjumpaan lampau
Riak Amuba berteriak iba

Pada burit akanku, kau diam
menahan deru
Sebab solekmu tenggelam
dijangkar rindu

Telah lama ku sebut kau Tugu berkarang
Semacam Tangis terkikis habis
diam-diam



Aby Santika II

BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011

MATA-MATA

Di mata-mata, tatap malu bertalu- talu
aku dan rindu beradu Dadu

Mengundi hati setinggi candi
waktu berpacu mencari satu

Detik jam semakin malas berlari
bersandar punggung didinding tua

Berat ,
Suara lonceng pengingat separuh baya

Sementara Mata-mata menjangkau ingin
mengendap harap

Aku kendali bercermin diri
Mata menjuling menggiring diri

Tatap-tatap sebelah mata
pacu melamban beruban putih

Tatap mata-mata di ratap rintih
Dan aku hilang dicuri rindu



Aby Santika II

BANDUNG,
28 AGUSTUS 2011

SENJA DIATAS KACA

Entah itu engkau yang berjalan
diantara tikung tajam, juga
gedung berkaki lima

Jendela kaca bercerita dari atas,
pesona belah rambut
yang tertangkap mata

Ini sebab tiada diri berpagut
meski gerimis mulai
menyelundup

Lalu juga
sepasang Merpati berlari-lari
mengabar janji engkau sekilas mati

Dan kemudian senja seperti diam
menahan laju, atau engkau yang
menghenti kaki

Entah muram menyinggung
langkahmu
Disebelah tikung berdiri bisu

Juga janji sepasang merpati
tak tepat hati



Aby Santika II

BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011

DILEMA SEBATANG TIANG

Malam telah meninggalkan engkau
duhai sebatang tiang lampu redup

Ketika matahari menggosok gigi
bersalin dari kamar
bergaun putih garis renda terang

Tiangmu sebatang kara diantara
lalu lalang pejalan kaki

Padahal
malam menumpu pada engkau

Malam telah berlalu jauh
duhai sahabat gelap
tiang penunjuk terang

Diantara bola-bola lampu
bergumul ngengat penyembah cahaya

Namun pagi melemah tubuhmu
yang tinggal sekarat dilahap bundar matahari

Malam telah meninggalkan
engkau tiang bertubuh kurus



Aby Santika II

BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011

MEMBISIK LUKA

Engkau membisik angin dimuka
berabad-abad meninjau luka
melanda

Jauh berkaki cepat selangkah
Aku memandang waktu tak berpawang

Hilanglah pesona yang berkawan
pada rajutan menali pangkal sejak inginku

Tak lama nyanyian angin
mengalun limbung
terbunuh penghulu di sumpah janji semati

Berkali menemu ikatmu
membelakang
menyungging sinis bertajuk manis

Engkau penawar kemegahan
bertatap sebelah dunia sebentuk juling

Bisikmu keramat bersesaji
kemilau tahta bumi syurgawi



Aby Santika II

BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011

PERJUMPAAN

Diantara lengkung perjumpaan dahulu
terdapat senyum yang
menghutan

Sisa-sisa cemara dan belukar

Dia hujan
yang menyusup diantara ranjang
juga tiang-tiang cacat bertubuh beku

Sementara tawa adalah anak kecil
mengeja afjad rindu yang mulai alpa

Senyum itu berwujud tegas
melarang Merpati menyerbu
rindu mendendam

Perjumpaan ranum setangkai
Mawar berduri racun

Dibawah cekung perpisahan airmata
tersimpan pesona membekas dada

Antara bocah sungai meluap ruah
rindu mimpi untukmu



Aby Santika II

BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011

SIMPONI RINDU

Aku dengar bunyi-bunyi itu ,
Randu tertidur di kabut tepi tebing

Bermimpi rindu-rindu yang cedera
berbunyi gema pulas di atas kapas

Kau demikian tidur dihelai tipis
Hembus menebus janji membatu
kerikil

Aku lihat puja-puji itu
Anggrek mengembang layang-
layang

Andai menyerupa rindu yang terbang
menangkap bulan berseteru pilu

Semacam nyeri menyesak
ku saji kau rindu setugu bisu

Adalah kenang rapat terkunci
menggenang gerimis airmata membumi



Aby Santika II

BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011