Sabtu, 18 Februari 2012

MENEDUH RINDU RINDU DI BAWAH BULAN SEPARUH BAYA


Aku tak tahu di liku mana rindu teduh menunggu
sedang di saat-saat menghadapi waktu serupa liat tanah kapur
selalu jauh jalanan lengang seperti menyandang bulan separuh baya
meneduh rindu di bawah rindangnya purnama
 

Bila melihat malam bebas di udara,
tulang airmata mengering penuh pudar
dari jendela, hati menunggu bulan tua bermain
semalam saja bergembira menyanyikan tembang cinta

 

Namun, musik-musik sumbang menyusuri putih mukaku
dari rambut terjalin tangis menyambut angin
sebab, aku tak tahu di liku mana rindu teduh menepi
sampai ketika bulan separuh baya bersuka duka limbung tertegun

Yang bukan rindu menggeleng kepala,
ku rindu padamu tumbuh harum bunga purnama
sampai melampaui fajar berdua tersenyum
biarkan liku berjuntai sabar menaruh bulan separuh baya

Luaskan aku dalam sabar tak berbatas
sampai kita berpandang segala rupa pertengahan masa
dan di atas ragam aneka bunga-bunga meresap rona
kita meneduh rindu di bawah bulan separuh baya

Angin lembut serentak berkibar merayu selalu
terhitung tiap laku mengerti rindu di gerak malam
sedari wajahmu menemui aku malu bersua
bolehlah tiba ketika malam di lepas duha

Bila sedang meradang resah merajarela
rindu bertiup kosong tiada kupinta begitu saja,
sebab di tengah malam tubuhku menyambut hangat,
meneduh rindu di bawah bulan separuh baya.

 


Aby Santika

Bandung,
14 Februari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar