Kamis, 29 Desember 2011

JEMPUTLAH RINDU TERSIA-SIA


Bersama-sama remuk melaju disimpang
selendang bergaris muram semudah gerimis
aku selaku mengetuk meluruh diri

Ku temui pula nafsu kehendak
kau perangai dibawah nyiur
Jemputlah rindu menempis pintu

Ah, kita berdua berpandang cahaya
aku dan engkau meresap terisi nikmat memadu
seperti kutilang menyanyi pagi dan menanak embun

Mari nona,
semalam saja berguling tamasya
lupakan dingin selembut angin
menjaga kaca diputih mata lampu

Kelak ketenangan melayang melepas kita
engkau perahu dari airmata melayar
ku izinkan kembali diseratus jarak meningkah pergi

Gemetar dadaku diperkosa anak-anak resah
engkau jadikan aku menghamba termangu
mengembara waktu lahir dikata
 
Antara tahun disambut kekasihku
dilambung dewasa kususul berjumpa
sedari kucari sebelum pergi

O, engkau pembawa hidup nyata
aku melampau kita bersua
berdua merasa diakhir bahagia

Sebab malam memancar terangmu
sampai datang berbatas rela
biarkan aku tersia-sia.


Aby Santika

Bandung,
29 Desember 2011.

DENDANGKAN SENJATA MENCARI DAMAI


Untuk melupakan kesadaran didadanya
tengadahlah ditengah senyum seluas semesta
sambil memeluk senjata oleh airmata

Dengan membawa sekumpul nyawa
dunia menangkap luka-luka yang nampak tua
seketika muda hilang tak kenal perang

Terhadap rompak yang kurus lincah
siapakah kau membelit waktu penuh api
lengannya menutup sebuah dendam yang mendidih

Kita adalah tanah pasir
Kita adalah air alam
Kita adalah hutan Tuhan

Ibu pertiwi membesarkan kita dengan girang
di bumi kosong dalam pangkuan tangan berdaki
menyandang matahari menghadap musim gugur

Simpanlah rintih diatas gemilang penuh cinta
karena yang sekarang bukan jalan-jalan berdendang mayat
menyelubungi bangkai tak bertuan

Kita sering mengutuki suara-suara yang mengepal dusta
meledak mesiu pada alam tempat berlindung
kemudian berkisah pada anak cucu sebelum mati

Untuk mendapatkan harapan sebelum malam
mengapa harus tumpah bertubi salah
biarkan dekap hati berdendang mesra.
 
Aby Santika
 
Bandung,
29 Desember 2011.

Selasa, 27 Desember 2011

DI TANAH INI MAYAT TERTIDUR


Bolehlah kita menyumpah tanah
bila pelor dibawanya berliku-liku
menambal nyawa pantang meradang

Dikerahkan mayat terangkut lagi
untuk sembunyi yang enggan mati
ancaman bertemu sepanjang waktu

Memaksa bangkai malam-malam tertidur
tanah gembur membelit gugur
sepi dikampung pahlawan mengungsi

Terbunuhlah perdamaian yang ditanamnya
mewaris nenek moyang dipasar lelang
jangan menolak,bedil bertindak

Merdeka yang nampak wajahnya asing
Enam puluh enam memeluk senjata
kesadaran melupakan peradaban zaman

Diluar ubun-ubun impian terekam berganti
tentang janji tangan mulia memberi teori
ditengah peluru menderu diatas tanah malang


Menegak berkhianat jadah meminta
pertumpahan terakhir adalah kubur
yang akan datang anak cucunya malam tertidur pulas.



Aby Santika

Bandung,
27 Desember 2011.


KUKIRA SESAL MENYUSUL DIRI


Aku menghentam segala hati
dari kepakkan tangan merasai
karena perempuanku melaut diri

Dihadapanku jaga berdiri tembok

siapa mengenal cinta membuat birahi
tiada kuruntuhkan jantungku memukul kesal

Ibumu menampung sedu
menyambut seribu bunyi dada berbelah
sebelum aku setubuh dagingmu terbuka satu

Lalu orang ini berbaris lupakan nona
sebab tidak mengenal laut siapa yang datang
dia yang nampak sendiri tidak terbaring

Dan betapa betina lari mengutuk benci
wangi bercinta aku berpangku tidur
di akhir kota aku jadikan melepas kembali

Sungguh telanjang tubuh menuju rela
lantaran penyiksa yang memang dikandung nyata
membawa perempuan berjumpa sengsara

Semua dilihat sesal menyusul
sahaja niat membusuk bangkai
biarkan hidup berpaling aku sepuluh kali.




Aby Santika

Bandung,
27 Desember 2011.

Minggu, 25 Desember 2011

TOBAT


Bilakah nasib bermandi bunga
dipetik bebas bercerai tubuh
aku menuju hidup bermohon utuh

Walau sering susah sesaat

sebab menurut napsu terkurang
bukan mendekat bijak mamang bisikan hati

Keluh kesah memeluk perlahan
tiada lepaskan menaruh jalan
tentulah kalau sangka meninggi kurungan

Bilakah hidup tumbuh mencium langit
sampaikan harap turut pula dibumi
menutup luka menjadi lupa

Bukan nasib habis merayu simpanan
setimbang tabah membawa penuh
menanti bahagia di dalam akhirat

Sampai kau tangisi menjadi embun
Bahagia bersama mematah senyum
luaskan kasih dipintu lahat menghilang

Ratapan kalbu bermuram durja
berkubur azab tinggalah doa
aku bertobat bukan sesaat sebelum berkurang usia.



Aby Santika

Bandung,
25 Desember 2011.



Jumat, 23 Desember 2011

SENJA DI CICALENGKA


Mengapa kita harus berlari, tuan
didengkul kaki masih bertolak daki
tidak terburu-buru,tidak juga berleha-leha

Tapi waspada Matahari,sepeka becak mencari rumah
Sehati-hati ontel menggayut malam
Menyongsong pulang dari jalan-jalan kosong melompong

Tuan-tuan datang mengupah hidup
menjanji pulang harap perut terangkut
dikotamu engkau hanyut membawa gelisah

Aku dengar jerit orang-orang mematung kaku
terdampar kekalahan sirna dalam trotoar
bangkai-bangkai hidup canang bertalu

Aku lihat musafir memadu senja
suara motor tukang ojek, dengung sumbang penjual asongan
dan bau keringatnya memecut harapan yang enggan mati

Malam lusuh tetap kumal berulang
pulanglah tuan, sesudah udara habis berumur
bagaimanapun cinta akhirnya adalah keberanian jujur

Seusai senja terbenam menampung merah
kaki berdaki menyusuri simpang terpisah keramaian
bukan beratap janji

Meski esok hidup kembali memaksa untuk mencari
diantara kota cinta berserakan untuk kau punguti.



Aby Santika

Bandung,
23 Desember 2011.

IKHLAS


Ku linang kasih tempat berlindung
wangi embun mengendor sepi
bulan meminang lagu langkah berbaris

Tempat harap menimbul percaya
saling menuang gelas demi gelas teh dari jemari setia
tertegun rambut terjalin satu muka coklat menari

Karena nadiku patung,
memegang salju tersedu-sedu
berbelah bunga merah terpecah

Pergi disimpang tak berpamit
keturunanmu rindu diteluk nanti
menunggu datang sampai hari kembali

Lalu badan memberi tantang
aku menderu kekesalan menjalang
untuk bercinta menghampar akhir

Sungguhpun nyeri berjumlah seribu api
nafsu penuh kupinta terhadapku
jikalah hendak bathin diserang lemah

Kau pergi kasih kencang dikata tiada tentu
menyebabkan panas sekujur badan
mulailah kesadaran nasib tiada terbeli

Disini sunyi ikhlas melayap
dihitung sendiri rindu simpanan
pulang tempat kebulan kosong.



Aby Santika

Bandung,
20 Desember 2011.

SEBELUM MAUT BERPAUT


Pernahkah kau hitung hidup ini ?
hanya melepas pulang perlahan
layangkan maut peminta daya lekas melindung

Dalam dunia tiada bersua

penuh sujud hati memangku seluruh
tulisan ikhlas luaskan tangis mengalir

Sampai terang hasrat berbatas
restu berdua ajal yang punya
lalu kau kemboja rangkai tersia-sia

O,Tuhanku
Kuingat padamu menjadi turut
lukisan suci ke urat kepala
tempat menampung tabah meminta

Sekali ini hidup sendiri
Ialah, hak langit mempertemu hayat
dengan mengadu sebutir harap kususul mendung dibibir

O, Tuhanku
Sebelum hidup
Sekedar tertawa
jika melihat tiada bersua
ijinkan menemui wajah didalam sujud

Begitu maut sahaja berpaut
kuharap engkau sembahyangkan badan
membilang rela putuskan diri

Sebelum airmata bergenang tiba
hanyalah harapan gundah memadam
memercik rindu diujung jalan.


Aby Santika

Bandung,
19 Desember 2011.

TELAH TIDUR PAHLAWAN BANGSA


Ia tidur
Pada satu kisah seumur bulan merah
karena yang dipegangnya kebulatan usia
menyala bagai mata harimau tua


Berangkat dimusim gugur
rebah tanah diantara kota serupa kubur
payah jerat maut mewaris anaknya

Sesudah bumi memangku moyangnya
hujan mulai menggenang dada berlubang peluru
wajahnya merangkai bunga senyum nampak basah

Bagai mesra memandang cinta
negeri ini perang telanjang darah yang sama
dimana-mana jasa Tuan ditelan perut Setan

Ia tidur
burung-burung liar derap makamnya
mengabar dosa anak cucunya
kelopak luka tersadap jilat bapaknya


Lihatlah langit rengat bermata air
buat selama dulu keringatnya dangkal kehormatan
sebab merangkak mengandung beban kematian

Usai pun juang berkobar api
tidurlah lelap di tanah bernyawa gusur
sesekali bangun dan tengok
anak cucumu asyik bermain bedil dalam tindak keranda.


Aby Santika

Bandung,
17 Desember 2011.

SAUADARA MATI DI TANAH CENDERAWASIH


Sebelum aku pergi menundung napsu
jika musim beramai-ramai menambal rindu
akhirnya tunggal wangi menunggumu saudara tua

Di tanggul kiri pantang dermakan lapar dan dingin
harapan malam sirnah berdandan lagi
kafilah berbangkai hujan pudar merayap

Lusuh kolewang tumpul enggan menggantung
tergayut-gayut dengkul pergi jembatan mayat
lengking harapan aus pucat jalannya

Bukan buat mati, juga sekarat cari
disatu tubuh mata menjanjikan matahari
lalu malam saudara gelisah terangkut

Menghadap hidup lemah terseret
namun engkau tetap asing bagiku
sepenuhnya memburu mimpi kemerdekaan

Serupa berkejaran mendapat umur
sementara kenikmatan seluruh jasad berlawan dilaras api
saat habis kebutaan cinta

Maka,
Sebelum aku pergi bertandang muram
kurus-kurus malam berteriak selangkah lagi
di tanah Cendrawasih tempat saudara tua mati.



Aby Santika

Bandung,
17 Desember 2011.

BERSAMA PULANG BERBENAH


Kerling gadis dibukit terberai
keturunanmu rahim seribu hati
kupinta dulu peluk berahi

Aku tutup segala ruangan lengkung berjaga

meningkah nanti sedari aku pergi
mengejar gadis musim berlonceng

Bersama-sama kita pulang berbenah
di kala senja pandangan berbelah
pegang erat kemalu hendak menumpah

Tetapi tidak tertidur,bunga
setengah telanjang bundar berbuah
nampak terbaring peluru berperang

Malam bagai kuda menungging muka
hanya gairah mendidih darah
jarimu jendela berpeluk meminta

Gadis senyum memutih duka
memandang basah bertanah kurus
di balik lincah mengungkung diri

Memandang waktu ibarat jalanan
selalu jauh sepi dikejar lari
tanggul dimata bedah sesal berulang.


Aby Santika

Bandung,
15 Desember 2011.

PADA SETIAMU AKU AKAN PULANG


Sering saya bingkaikan syair
digamat waktu hendak mendengar
singkiri cinta bijak dahulu

Bersendi lemah laun berbisik

terkurang sejarah cinta dibimbing
matanya lukisan sampaikan bijak

Disitulah baru bermohon nyawa
jika badanku sukar berkata
sebab susah menjemput angin tiada

Melayang entah sejurus tangis
rawan menghilang bahagia mengenang
perlahan kesah ia bermuram

Memberi hikmat selintas rancak
mengikat bahagia tidak selama-lamanya
bayang dimuka senantiasa bersuka

Kita bukan kandil dimalam gelap
wajah teduh meninggi awan
kembang cempaka cedera rupanya

Ini hati layangkan sangka
engkau melambai sungkemkan setia
tentulah pulang tempat padamu bersua


Aby Santika

Bandung,
14 Desember 2011.

HIDUP TUHAN YANG MENGATUR


Kepada kau melirik seribu kira
takkan kujalani sendiri pesta berhias diri
meningkah belantara kesana-kemari

Batu pasir teduh musim-musim kembali

dan tangismu melompat tersedu-sedu

Apakah mati,jika tiada kembali ?
dan jika Istana berlindung kita berguna
setiap napas kususun batu dengan rapi

Nisanmu hilang sisa kemarin
Kita berumah digetah khuldi
sebelum hilang akan kembali

Orang-orang berganti menandang tempat
wajah tangis pecah sebundar telur
nampak ditengah padang senja tengadah

Bekunya bukan tertidur
langkah rubuh nyawanya tafakur

Itu engkaukah bermata lilin ?
wemegang erat,kau bawa melompat
wanginya sorga menumpah ke arahku

Rangkai bunga mengandung doa
gubah semesta gemetar tubuh
Kepada rahim hendak bernaung
biarlah hidup Tuhan yang mengatur


Aby Santika

Bandung,
12 Desember 2011.

Minggu, 11 Desember 2011

PULANG


Pulanglah dibuaian tubuhku
kita berdua sepandang percaya
menunggu bulan dikaca piring
semalam saja,

Tiap langkah pertama luka bersorak
karena kukandung pedang disarung betina
selusin hari menutup mata

Pulanglah berdiri sunyi
kepada ruang-ruang yang lapar
sebab bahagia menghitung sisa
usia malam berwasiat sepi

Terlahir menjadi nyawa
sungguh pasi gubahan suara
disinilah aku bermohon badan

Semalam saja mengenang tangis dimuram rawan
pulanglah sejurus ikrar selintas
dimana cinta senantiasa duka

Tidak mengikat tilikan mata
sujud cedera berpaut maut
konon jauh nestapa sangka

Pulanglah tiada bersua
setia selalu peminta lindung
semalam saja lepaskan aku.
Aby Santika
Bandung,
10 Desember 2011.

Jumat, 09 Desember 2011

KUDENGAR SUARAMU SEBELUM MATI


Selagi bejana sambungkan nyawa
dimana malam sejakkan tanah
terkunang bisikan lagumu

Sering dengungan mendekat alun

berkurang seloka bingkaian syair
dipetik jari senar banyaknya
merdu

Disanalah kita berpijak suka
suara angin antara lawang
makin lama laksana firdaus

Seperti damai bergoncang sukma
selagi malam hantar berparas
layangkan windu waktu tak sampai

Kusangka kau turut selalu
luka jiwaku sampai pembaringan
nyawa sebelum mati bernada

Sebelum jasad menjadi bumi
tembangkan Asmaradana yang
sakti
diatas luka yang ku letak dulu

Meski tiada sembuh berkawan
lantunmu pengantar tidur abadi
dipangkuan tanah bangkai
mewangi

Hingga lupa bertempat pada diri
hidup tersisa irama dibelah
bibirmu
aku bersandar nyawa ditangan
Izrail.



Aby Santika

Bandung,
09 Desember 2011.

MAWAS RINDU


Adakah pagi sungkemkan sujud
meletak gelap pada subuh beribu
bahwa hatiku sayang rindu berjuntai

Kutangisi dikau mematah malam

ditengah masa mungkin bersua
luaskan mimpi dialam tipis melayap

Disini kelelawar buta berkibar
di kiri wangi pikiran sepi
ke kanan langit rona berkeluh basah

Segala tanda hujan berlindung
begitu pepatah ibu membendung murung
jika cerita tiada bersua
telanlah rindu dibibir saja

Kemudian rela-rela membilang
mawas diri dilembung alpa
antara shubuh Adzan tertambat

Kekasih datang tiada telanjang
betapa gerang menerima badan
sedia pagi putuskan diri
pulang kehati boleh berdoa.
Aby Santika
Bandung,
09 Desember 2011

Rabu, 07 Desember 2011

BALADA GADIS MALAM


Melambai gadis berpaut malam
selindung jauh sangka bercedera
kandil rupanya gemerlap cempaka

Kaulah konon memeluk perlahan

tumbuh benderang sebelah senja
dan harapan kian menjadi lupa

Di ikat daku selintas hikmat
menuntas musim pelik merindu
menumpu tangan gadis berduyun rayu

Mulai bersisir randu bertudung
daku malu bersua raga
bolehlah seberang waktu menentu

Jika malam merasa rela
bertambah kesal bergenang jiwa
lambai gadis memercik muka

Maka kalaulah boleh kupinta
sedalam hasil menembus perih
Tuhan tiada paras berpaling
daku bernyanyi sunyi sepagi.
Aby Santika II
Bandung,
07 Desember 2011

Selasa, 06 Desember 2011

SEBENTUK DILEMA CINTA


Kita bercerita ketika pertengah musim terbunuh
Disana kutemui cumbu yang melumut
 perut-perut malam

Dari sungging tipis senyum berhasrat rindu
Juga kutitipkan pancuran dari kolam-kolam halamanmu

diantara sepasang perahu yang kian oleng

Dilema menikmat kesadaran yang telah kususun seketika malam
Bersandar pula logika tentang rindu yang paling tulus

Padahal sebentuk doa adalah engkau yang mentasbih
Lalu kesabaran ketika berbicara apa merupa kesalahan ?

Jika Langit berbicara, disana ada sepenggal cerita
Yang kutitip tulusnya diujung dilema cinta.
Aby Santika
Cirebon
29 November 2011

AKU HANYA MENCINTAIMU


Kusimpan rajah kelam
diantara lantai yang nyaris tak bersuara
Juga sejumput gamang pada lisan rindu
yang hampir tersudut aksara

Setara ilalang mengibar duka
diperapian siang
Sementara durinya satu persatu
berbaris diatas alismu

Ini sebab tubuh memapah lunglai
seketika tarian malam
Yang termakan perut-perut
berbentuk keikhlasan

Barangkali binar menjemput di Ka'bahmu
Juga sujud puja-puji sebaris rindu kabur diawal Isya

Akh..
Sebelum bergetar kaki dipecah rembulan
Juga bibir melatah racau semabuk Khamer

Aku hanya mencintaimu,
Kembang pengabar Sorga.


Aby Santika

Cirebon
01 Desember 2011

DUKA PUAN MATAHARI


Melihat duka matahari pudar
disebelah bahumu muram
membentang setengah

Puan berkejar kegirangan
sebelum senja
sekali mendekap bumi asin
tersiram

Mengikuti deras yang beranjak gelap
Jasadnya terselubung sebaris bulan beranak

Lunas rindu memupuk dada berambut
Sehingga sepi sebelum mati
terlupa padanya

Puan memeluk sepenuh orang- orang tertidur
Aku ingin membuka sebagian
kepala didagumu

Wajah sunyi bilamana dia datang
Sebuah sandar berlubang rindu
dikedua pundaknya.
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon
02 Desember 2011

DOA LANGIT


Bukankah langit sudah terbeli,
disebelah barat sukar ditawar
disimbur darah tiada terikat

Menangis angin gaduh berderu
masuk menyapu nasib bersuka
jari lembut menjemput makam

Bukanlah badan menggadai
keluh,
gubahan nadaku bersuara bunga
bila bercerai langit berhutang

Disanalah ratapan bebas berkata
aku,
sebab saudara tua bermohon doa
apabila suara sebat namanya

Di sebelah mata air gelisah rindu
diserang,
antara arah memercik nyala
membeli tangis seringgit terang.
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon
02 Desember 2011

SENJA SEBELUM RINDU


Aku tak tahu ketika senja
berayun
menghitung kota berdiri seluruh
usia
berwasiat kepada seratus juta
burung-burung

Siapakah orang yang menunggu
rebah
dari langit ketika kecil semesta
beranjak menjadi putih

Ditenung larinya rindu engkau
kekasih
hanyut dihati sepenuhnya
bermukim dari bukit-bukit

Siapakah aku, memanggil duka
dibahu kurus
kembang didada sekira perak
bulan merambai

Hati tak berpelukan seperti
jendela
langkah undur menutup muka
mengembung napas tiada benci

Senja tiada kelakar kepada
pepohonan
ku kasihi engkau sebelum hilang
berganti
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon,
04 Desember 2011

JIKA PUAN BERDUKA


Di halaman puan menyandang duka
menahan pijar kian menghambur
lima musim berdaun bunga

Jika hanya pohon-pohon berhias diri
lengkung langit bercinta dipangkuan bukit
melepas jalang berdentangan

Di jalan jatuh kau ambil berlari
lalu puan hendak menumpah tubuh :
Rindu !

Aku melancar dihadap makian
sejak tenang mencari kita berdua
Ah, kegirangan serupa pohon di alam bebas

Terhadap gunung-gunungmu
apakah cinta, jika tiada perih ?

Buat puan menunggu bulan naik diatas dada
semalam berdansa diakar kayu,

Esok melangkah lagi
menurut Tuhan berpunya ingin.
 
 
 
Aby Santika
 
Cirebon
05 Desember 2011

NONA-NONA


Hai ! Mari berlagu nona,
sirih pinang melayang mesra
tetapi tidak berpandang padaku

Entak jempol memeluk riang
daun pasir mengangkat pucuk
telanjang
tetapi bukan kodok menggosok perut

Pesta malam menegak pandan
lahirlah gairah punah meminta
matanya menuju kota luka-luka kenang

Nona berbaris menyusui waktu
jangan dibenci antaranya anak
merangkak
nanti sekali hari jadah punya cinta

Tunjung napsu melepas seluruh
tiap musim serupa awak semata
wayang
sumbangan tulang damaikan rindu

Pulanglah, jika pagi memadu mimpi
untuk mencari, berdandan lagi

Nona-nona belukar suara
tergayut lagu sepanjang
pangkuan.
 
 
 
Aby Santika
 
Bandung
06 Desember 2011