Rupanya kekasih berasal, tumbuh di padang sepi sendiri
memutihkan bulan perak pada fijar tanah pasir
pelita mewangi jalanan waktu dibadannya bagai angin sejuk setangkai lili temali, jari menari pada gairah semesta
Senyum sepi terbaring memeluk bakung-bakung liar
karangan suka dan duka melupakan rindu sesaat
antara wajah kekasih, kuusap setangkai warna tanpa bahasa
kadang-kadang sendiri di sepanjang jalan bernyanyi dengan belukar
Menangis tersedu
melihat tanah di sekitar terkalahkan
bunga lili di dahan benalu dengan akrab menempuh kekosongan
burung-burung menjinakkan daun tentang harapan kasih sayang
karna terharu semata oleh wangi
Jika mungkinkah matahari menunggu di hawa dingin,
akankah waktu rebah di taman yang terjalin usia?
berayun menebar wasiat keyakinan begitu jujur
pada tangkai yang sering hilang menghindari kelam
Ialah lili, meneladan hidup sepenuh cinta
mempertahankan hak setangkai menurut bisikkan mendekat
lemah laun bermohon suara syair berpijak erat
Bilakah engkau lepaskan sangka dari rupanya
angan layangkan bahagia melambai perlahan
kelak, bingkai hati pada setangkai lili mengikat hidup
atas rangkaian alam yang tak terbatas menuju hidup abadi
Aby Santika
Bandung,
16 April 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar