dipersimpangan, ketika berjalan lewat kota
melempar langit dengan pucuk mata atau menggulung remang
tanpa api
dalam ingatan di taman, pikiranku ibarat mati suri di sepanjang aspal
waktu-waktu demikian di angkut ke pembaringan
menitipkan firman dari ayat-ayat Tuhan
Orang-orang mencuci kelamin di sudut jalan, yang terus mengerang
suatu malam mencatat waktu lain antara kembang sepatu dan dinding mengatup diam-diam
dan suara menjauh untuk ditidurkan, berbahagialah !
Ah, karnaval kelelawar menyisakan pertemuan
tentang jalan lengang mengalir di botol-botol sekarat
:Ajal
atau berduka ke urat leher yang tiba-tiba gelap
kudengar Adzan bergema tuk dini hari
tentang kesaksian, lalu kusebut tuhan di batas persimpangan
- Assolatu Khoirumminannaum !
halimun menelanjangi lebihi pandang, nur cahya lepaskan syahwat dari batu
di persimpangan, satu malam mewahyukan tubuh tanpa rangkuman
Aby Santika
Bandung,
25 Juli 2012
Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Rabu, 25 Juli 2012
Kamis, 12 Juli 2012
KIDUNG BULAN DI PESISIR RANJANG
Mampirlah ke ranjangku bulan di seberang, tempat muara segala tubuh membenih patah
ketika nafas mendengus malam pun hangus, sepanjang peta asmara langit bersujud menjaga rindu
dendang janji di temali
bersua mata pisau meminang, pelunasan malam berarus gelombang ke hatimu
Kau pun naik, mendesau di udara;
"Kakanda !" Di ujung lidah kau bangun kota-kota sorga
"Marilah adinda, curilah persinggahanku yang sempat kau hitung !"
Kini jangkar malam serupa pejalan merajut puja, dan cahaya yang kemilau seperti setapak rumus memutar ubun-ubun
ranjang demikian tegap tak bisa bicara, kerinduan kini sudah berjaga dengan degup melagu dipersunting langit
O bulan kian berhumbalang di pesisir ranjang !
kisah yang tertuang adalah selambang tatapan di ujung zaman
dengan sabda menancap di tubuhmu, menyepuh serak kasidah sumbang !
Lalu, kusebut namamu mengemas waktu, dengan berlepasan cuaca gigil
-kau tubuhku dalam kubah telanjang, aku hatimu berpelepah lobang goa !
Dan kita tetap memaknai akan selembar angin ke sahwat suci
meski ada gerak liar mengakrabi malam
seperti nyanyian pengantin atau igauan mimpi bebal dengan rayuan yang landai
sejauh menafsir bahasa diseberang, nun jauh bergerak terbata-bata
"adinda, suaraku sirna di keningmu !"
Aby Santika
BANDUNG,
12 Juli 2012.
Senin, 09 Juli 2012
SAJAK UNTUK YANG TERBARING
Suaramu sudah tidak berpawang
melintas-lintas mengambang
menulisi angka untuk di bawa pulang menuju gerbang
sebelum hari bermula segala dosa di simpang
Engkau betapa gemuruh retak berlubang
dari senyum merangkum khayal sendiri
daun-daun meloncat bertukar tiada di ratap
sebab derajatmu terbilang membumbung matahari
"Kita hanya seamsal kesunyian
berterbangan meneriakan segala air mata"
Mengeja sekat-sekat serupa ayat yang memercik
membagi duka yang sudah kau hafal
sepanjang rambut yang terurai lampau
berpendaran mengejar jarum jam melingkar
satu pertaruhan
Suaramu lengang di remang lepas
kecuali kesunyian mendengar lafalan doa
dan rindu segaris dari bulu mata
bergerak, dengan kepala tertidur di bawah
: Adakah kau kemilau terang di mata Tuhan?
Dan, bila dikau masih nur terbaring disucikan malam
sebuah makna mencatatnya pada kumandang kelahiran
sebab bukan pembaptisan di wajah semesta
untuk berhenti di batas ini karena usia
Aby Santika
BANDUNG,
09 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)