Kamis, 25 Agustus 2011

RINDU DI DUSUN KUMAL

Detak telah meninggalkan jarum,
waktu yang malang,
kampung seribu penggal, naung
gaduh rindu rekayasa muasal

Berjanji sebatang kara
tanpa ibu merahim ingkar, juga
bapak menimang jawab

Serupa busung kumal
Didusun limbung berucap kekal
masihkah bertapak ?

Nyonya
Aku Lunta setimpal ada
Penghuni gubuk hati di kampung
yang pernah huni rindu

Aku diam
tampar senyum cekung merayu
pada hasrat cemara yang ku sepuh wanginya

Masih ku jaga puing sisa roboh
halaman tahta,
untuk berdawai harum
senandung




Aby Santika II

BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011

KOMA-KOMA

Pada koma-koma terus usia
Pada koma-koma tegak bicara
Pada koma-koma ku kutip makna

Hariku adalah koma-koma
meronce jejal seterjal sesal

Lalu bara lah membakar kekal
sebab koma-koma jua bertitik

Seperti jumawa terbawa-bawa
atau wibawa tertawa-tawa

Koma-koma dipandang mata
Koma-koma semanis kurma

Nyata sebab nampak samar
Alam maya diumbar-umbar

Koma-koma terjemah resah
Koma-koma bersalin hingar
Koma-koma tatap tiada
Koma-koma terpenggal titik.



Aby Santika II

BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011

PESAN UNTUKMU

Sebab sepi malam terlalu jangkau
pada kertas penulis pesan

Berdansa
aksara laten menunggang rindu
ketika kendara pacu pena setiba mata

Datanglah
Duhai cemara jalanan
yang ku petik liar di dinding hati

Aku latah dalam berucap
puja-puji hadirat purnama ruah seperempat

Malam genap bilang tapakmu
Janji menghitung sisa rendam sunyi meniada

Hentak ujung sepatu mendegup- degup
recah hadir sejumpa engkau

Aku kendali rindu yang sempat berkarat
diantara kalendar yang melaju lambat




Aby Santika II

BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011

DOA DITAMAN KAMBOJA

Setaman senja semai bunga kamboja
Merunduk kaku dalam doa-doa

Menyiram tanggul mati dengan airmata
Terkubur cinta disana

Zasad nisan bisikan lampau
Aku pulang,
Jika Ajal terkira waktu,
Inginku tukar saja dengan rindu
dendam diantara kita

Senja itu
Masihkah hidup menelungkup sujud ?
Pada jiwa laknat yang ku rawat ketika membocah tiri ?

Mereka antar keranda
terkapar sisa-sisa
mimpi kita,
yang sempat membenih rahim
sedari pagi

Setaman senja semai bunga kamboja
Disana Aku,Kamu dan Mereka ada



Aby Santika II

BANDUNG,
22 AGUSTUS 2011

MELAYAR BADAI

Dimana harus ku letak sembunyi badai,dik !

Jikalau giring terlalu tumpah
dalam genggam

Meski layar searah oleng
Namun sepi dermaga masih merunut labuh

Kita dicipta seriak gelombang
yang berteriak diam menahan curang

Dimana harus ku simpan utuhnya,dik !

Sementara rompak menawan tenangnya gemercik

Juga lonceng-lonceng pengingat
mematah tulang sunyi
mengusik bisu sembunyi

Andai
sauh meneduh lindung
dalam robekan tambal
sisa celoteh kita

Tapi
Samudera ini terlalu liar untuk
kuteruskan layar



Aby Santika II

BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011

MERANGKUL TANGISMU

Pada alamat airmata
lekuk bening mencari
sebilah sujud dikaki
berurat tua

Letakkanlah pematikmu
sebab teduh telah kusiram di tangisnya

Sebulat renyah matamu
menindih pikul sketsa
buram ilustrasi rindu

Aku tau
Hari ini berubah serupa
bentuk bunga Melati
memusar wangi hingga pilu
memecah senja

Telah sering kau ceritakan
tentang perahu pengangkut airmata
yang berlabuh di alamat hatimu

Namun ,
Tetap aku yang kau jinahi
perjakaku
hingga rayap inginku
merangkul bening
kristal airmatamu



Aby Santika II

BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011

AKU MENGENAL

Aku mengenal "kapan"
dalam pembelajaran sabar,
Diantara pola pikir lentur yang ku
ukur pijahnya

Aku mengenal " iya " ketika keyakinan
sebara terik , sebab bakar angkuh
melahap utuh

Aku mengenal " apa "
tatkala bimbang menimang akal,
karena kelak jawab
ku temukan di dirimu

Aku mulai bersahabat
dalam resah
juga Arti kesederhanaan rindu

Aku mengenal " kamu "
dalam ketidaktahuanku
secangkir harap ku kayuh
ikhlasmu
dalam mencintaiku



Aby Santika II

BAMDUNG,
22 AGUSTUS 2011

BIDADARI PEMBANGKANG JANJI

Jangan ambil perihku
biarlah ia mati sendiri
di bakar matahari
bersama puan pembangkang janji

Sepagi ini
degup limbung memahat hati
Taman-taman melati
memutih uban

Puan bidadari

Ikal senyum kian mengulum
sepintas macam kembang kertas
mencoret wangi
hirup tak tuntas

Bidadari pagi
Selendangmu menggantung letih
Janji menjarak sepagi senja

Jangan ambil sedihku
tetaplah mengkoma dikutipan baitku

Lalu ku gubah dalam bentuk
bidang jajar genjang pesona
ramah tak sejarak



Aby Santika II

BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011

SENYUM ISAK SENJA

Belum selesaikah kita
menelanjangi senja
pada kulit langit bersama
patahan tulang angin?

Sedang
Serupa kupu-kupu bercermin
pada retak mata air,
disini kita menali

waktu-waktu gusar
diantara malam
Penopangmu
roboh , dalam setia
menjubahi sesal

padahal celah telah
menjenguk sepi kita
di tiap waktunya

Akh..
Entahlah..
Terlanjur ku lacuri ingkarnya
pada jarak
setubuh waktu purba

Lalu,
Akankah kita melepas
senyum-senyum itu ,
di penghujung isak tangis kita ?



Aby Santika II

BANDUNG,
20 AGUSTUS 2011

SENANDUNG TIBA MERAGU

Telah sampaikah bisikku
di ujung dengarmu ?

Ketika senggal malam
bersenggama parau

Aku takut
Jika setiba nanti,
matahari tak bujuk
lagi terhadap gigil
Hingga
Kebujanganku beku
memaku

Kau musafir
ronce-ronce waktu
mengutip senyum
di intip ragu

Genap bilang kalendar
mencuaca robek
Hari dalam timangan
cemas,

Ketika ku jemput kau
di antara terik
Sampaikah
Yakinku sebagai pegangan ?

ketika sesat tibamu
menelan sejajar
wajah kita

Biarlah
harap mengandung
benih
untuk kau lahirkan



Aby Santika II

BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011

Jumat, 19 Agustus 2011

LELAKI SEPI

Lelaki sepi,
turut gaduh sembunyi
matamu
binar menyudut redup
sederhana berkaki pincang

Sesekali rebah gerobak tua
bersandar di dinding
kota
dibawah Purnama mulai
merambat
satu persatu membilang keringat
tumpah di dahimu

Malammu mulai berkisah
Cerita kelakar kelelawar
dan sayub orkes melambai di
antara remang

Masihkah kau
Lelaki sepi mengayuh
malam berkawan cemas
Selimut angin mencakar peluh

Lelaki sepi,
Pengais rizki ditumpuk limbah
Rumah kardus istana indah

Untukmu..

Pemulung Ridho
Tuhan



Aby Santika II

BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011

RINDU PAGIKU

Duhai
Pagi bertubuh puisi
tangguhkan kata-kata
pada rindu sekilat waktu

Masih aku
teriksa pesonamu
mengecap sabda
di telapak gigil

Untukmu senja
antara pagi kau pulas
tertidur
Menggunduli hari terkayuh sisir

Duhai
Pagi berwajah rindu
betinaku malu meng-aku rasa
untuk membaptis cinta dipusara

Tetap aku
pekik teka-tekimu
memecah pembuluh otak
memetak sekat rumus
menjarak

Untukmu penggali
hatiku

Adakah kasih dikedalamannya ?

Yang ku pajang diserambi pagi
semenjak senja kemarin



Aby Santika II

BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011

AYAH

Ayah
Masih lentang pundak bertingkat
ikat beban berurat darah

Semasa hadap timur matahari
berlari tepat ditengah
hitam dahi terik

Kau masih sebanding
Panglima gagah
berpedang perang
mencari nafkah

Ayah
Meski remuk meredam lelah
Namun Ikhlas masih
berhias diwajahmu

Untuk kami
kau
menumbal diri
demi
menyumpal perut
agar tetap terisi

Ayah
Baktiku masih jauh
membelakangi
dalam harap dan banggamu

Barangkali
keikhlasanmu itulah
yang membuatku
semakin kagum akan
sosokmu Ayah



Aby Santika II

BANDUNG,
18 AGUSTUS 2011

TANYA ITU MILIK SIAPA ?

Bu,
Tanya itu milik siapa ?

Hingga kali ucap,
jawab masih sembunyi

Apa Ekploitasi dari
orang-orang yang mengaku
cerdas ?

Atau
Otakku yang
terlalu dangkal ,
hingga menerka isyaratpun
masih latah

Apa harus aku cari jawabnya
dibawah injak kaki mereka bu ?

Lontaran serbu hujam
ketidak tahuan
masih tak kau gubris

Bu,
Apa sebab terlalu aib
untuk kau paparkan
satu persatu di sepanjang musim
beludru yang telah hampir pecah

Apa jawab masih
tersimpan rapih
atau hendak tak tau
lagi dimana letak
adanya




Aby Santika II

BANDUNG,
18 AGUSTUS 2011

MERDEKA ITU ?

Merdeka itu
terselip didompet
para penjambret
uang rakyat yang
kepepet

Merdeka itu
tersimpan rapih
di meja birokrat
perampas nikmat
kaum melarat

Merdeka itu
Ada di hati ikhlas
ketika himpit nurani
mencaci-caci

Merdeka itu
Keimanan dalam
mensyukuri,
meski ter dzalimmi
sebagian wakil
negeri

Merdeka itu
masih titik-titik




Aby Santika II

BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011

MERDEKA ?

Mari kawan kita cari
diantara laci didalam
almari
kata "MERDEKA" yang
telah lama tak ku lihat

Adakah dia bersembunyi ?
Atau mungkin kabur
berlari ?

Atau
mungkin dia hilang dicuri
pencari untung dikaki negeri

Seteru kata
tak melekat tepat
pada nyata yang terlihat

Apa hendak kita menjambak
kepala-kepala berpeci
yang terbahak ?

Atau mungkin
kita tak cukup berotak
hingga berontak
tak cukup nampak

MERDEKA
tidakkah aku terlalu
asing dengan maknanya
yang ternyata
kian tak bermakna
"katanya"



Aby Santika II

BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011

Rabu, 17 Agustus 2011

PAGI SEPOI-SEPOI

 
Sepertinya angin sepoi
berselonjor menonjok
mukamu hingga benjol

Ini hari kali kau nungging
Mengejek matahari
berhidung pesek

Ini hari kali kau ngiler
Iri menjilat bumi memelet lidah

Amboi...
Akupun melongok nongol
Dari sembunyi tolol
mencium mulutmu
yang bau jengkol

Sungging sinis
berguling-guling
melihat Kerbau
memacari kambing

Amboi...
Tawaku memborgol
sepi
yang nyantol diantara
paha yang bentol-bentol
 
 
Aby SAntika II
BANDUNG,
!^ AGUSTUS 2011

Selasa, 16 Agustus 2011

RINGKIH SANG GARUDA

Dengarlah ringkih cekung
Awang-awang murung berkabung

Apa yang membuatmu memasung duka ?

Bukankah Lantik Kata "MERDEKA" telah lama
berpesta pora ?

Atau mungkin wibawamu
sudah terlalu tua ?
Setengah Abad lebih
sayapmu mengembang
dada ?

Hingga gembira itu
terselip
diantara bulu-bulumu
yang kian memutih
Juga
senyum bangga itu luntur diantara paruhmu
yang kian ompong

Ringkihmu adalah ratap Pertiwi
yang telah lama menjadi ibu tiri
bagi anak-anaknya sendiri

Awang-awang tempat kau bercengkrama
tak lagi jernih,
hitam pekat bercampur aroma asap limbah arogan

Ranting-ranting pijak
gagahmu tak seumpama elok,
Habis dilindas gergaji-gergaji Tuan Pembajak

Duhai Garudaku Kemarilah ..

Akan ku anyam sedihmu dengan
merah benangnya
Lalu
ku pintal lusuh bulu-bulu mu
dengan putih benangnya

Agar Layar sayap kembali mengembang
Berkumandang gema
membawa kabar pada dunia

Tentang Negeri kita yang masih dilanda lara



Aby santika II

BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011

Senin, 15 Agustus 2011

INI NYANYIAN KITA, NAK !

Jika sampai nafas meninggalkan
dada
Melihat bayang penuh seluruh

Tanah berlumpur dilempar ludah

Sekutu bocah meremuk pelik

Ini nyanyian kita,nak !
Semasa irama nada berdebu

Kisah dongeng pendengkur
mimpi,
atau realita tak tuntas
di ujung matahari ?

Siang ini,
Kembali tanya mengunyah

Kemerdekaan terjatuh
dipeluru mati bedil si kerdil
Penindas halus berjubah politik

Ini nyanyian kita,nak !

Yang pernah mengakrabi
telinga kita

Indonesi raya
merdeka..merdeka !!

Hiduplah Indonesia raya ?



Aby Santika II

BANDUNG,
15 AGUSTUS 2011

SEPAGI LIMBUNG,DIK !

Sepagi limbung,Dik !
Pikirku menyederhana
ketika ku coret malam
yang tidak sempat bercerita

Atau tentang sandaran
regas tatkala elastis hati lusuh
memecah

Sepagi limbung,Dik !
Perjudian rindu
dalam putaran mata dadu
di lapang ubun-ubun purnama

Tatkala barisan lampu kota
mulai meredup bias

Sepagi limbung,Dik !

Meski terlalu larang
aku menyudut tentang
apa sebab, atau mengapa
sunyi menggelitik malam lalu

Namun,
Sepagi limbung,Dik !



Aby Santika II

BANDUNG,
15 AGUSTUS 2011

AKU BERPUISI

Aku berpuisi
pembicaraan debu
menguntai jalanan
diatas jidat-jidat
penjiarah upeti telanjang kaki

Dialog
rasa dada-dada trotoar
pejalan lenggang
raja penguasa

Aku berpuisi
Orasi kejujuran hati
meski nampak sinis
setajam mata cerulit

Penghujat
Buruh-buruh telungkup,
Petani renta menua
menyembelih lelah
demi tawa sang Tuan tanah

Telah selesai
kita garami tubuh dengan keringat percuma
Memanggang kepala kita
dengan Jilatan terik
demi upeti yang kesana kemari



Aby Santika II

BANDUNG,
14 AGUSTUS 2011

KEPULANGANKU

Coba perhatikan
Sebundar matahari tampan
bentuk kornea jelalatmu

Lihai meliuk-liuk
cerdik menangkap
arah kedatanganku

Untuk kali pertama
rambutmu menggulung hitam
ranting airmata mengkonde ikal
senyumnya

Kepulanganku
bukan sekira kau duga
hingga cemas tersungging
senyum
sembunyi

Jika ini takdirku
maka dekatkanlah
pada jangkau yang hampir
terbuang

Duhai kekasih
Tiang hariku terlalu
rapuh untuk kau panjat
Harapmu tak sekarib
praduga hati

Lalu
Biarlah kusimpan sendiri
sebab tuju datangku
pada diam matahari


Aby Santika II

BANDUNG,
12 AGUSTUS 2011

KEBENARAN

Kulihat rembulan bercermin
diantara malam
bersua andai-andai
kebenaran atau kebohongan

Parit-parit kecil melarikan
air mata yang hendak
menunda perantauan nya

Pada sebuah gelisah
pertanyaanku mengongkang
kaki
mencibir dengki

Adakah malam
memuntahkan bualnya
ketika rembulan mengintograsi
jujur

Kulihat
kaca-kaca menyepi malu
ketika paras rembulan
adalah pesona
tentang idealisme
memarkir rantau airmata

Sementara,
candu kian meneror sebab
kebenarankah atau
bualan semata ?



Aby Santika II

BANDUNG,
11 AGUSTUS 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

AKU UNTUKMU

Satu Dua hilang terbelah
Merembes ditepi hati
bersilsilah

Aku untukmu
Aku untuknya
Aku untuk mereka

Dan hari lusa
bergerak gempita sorai
lalu
kembali diam dengan
bisu masing-masing
Kembali tuli dengan
sunyi masing-masing

Aku untukmu
lalu
Aku untukmu
dan
masih untukmu

Kejaran lahap hati cekung
purbasangka risih
kepada ratusan tanya
Kamu mematah resah
dalam hardik
yang pulas ke alpaan sapa

Aku sadar memudar
pendar cahaya rembulan
memandikan inginku

Kadang pagi
juga malam
Aku untukmu




Aby Santika II

BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011

SJAK CICAK PEMBIJAK

Dari pagi-pagi ribuan
jejak merendam hari,
akhir seteru hutan menghuni tanah pijak
lalu ,
Cicak-cicak menjadi bangkai ditepukan tangan-tangan pembijak

Lihatlah,
Pada masa sekarat ini
rambu berhala disembah-sembah
kasta aturan didakwa salah

Awam tatapan tak ikut pandang
melongok , terkadang
angguk-angguk mentaat pembijak meski nasib dapur semakin buruk

Kita bertuan,

Sementara tuan-tuan safari tidak merakyat,
Kita menginjak
negeri berkail jala
yang katanya dapat
menghidupi perut

Kemana ?
Cicak-cicak penjilat
mati dijentik jari pembijak

Lantas
Kentut-kentut
beraroma harum di istana indah
yang dibangun dari
bangkai kaum sengsara

Ribuan hari,
Ratusan tahun
pandangan tetap berseteru sama
Hutan menghukum rimba cicak-cicak
pembijak

Sedang Esok
jejak-jejak lengang
tanpa pijak
Mati sekarat ,
di berhala bijak tanpa hak
Antara kecil sama besar
dan besar sama kecil

Samarata
terkubur bersama
airmata tersayat
jerat




Aby Santika II

BANDUNG,
12 AGUSTUS 2011

Kamis, 11 Agustus 2011

JIKA AJALKU SETIBA DEKAT

Jangan gusar sendirimu
biarkan lekat
di jatuhnya waktu

Memisahkan getar
mengepung kengerian

Kerana gagahmu ibarat
Serigala perkasa
meronda malam ,
menjaga searah tiba

Wahai kabar kelelawar liar
betapa sekaratnya ajal

Anjing waktu menyerbu
dekat kematianku

Selebihnya yang kuingini
adalah :

Penopang mutlak ranjang
berminyak wangi
tanpa wajah menggerombol
abadi

Langit terkelupas membelah
ditengah bumi menghunus
bilah belati melilit leher duka

Garis-garis lenggang membunuh
denyut jantungku
demi anak darah melukai
zasad ku

Jika ajalku mewangi
Jangan gusar sendirimu

Lutut-lutut mencium remuk
pasir-pasir merah
menelan air seteguk sesal

Gagahmu turut berlalu
Keganasannya membeku
ratap

Jika ajalku setiba dekat
kegembiraan mereka
menunggu pula
Bagaikan kita




Aby Santika II

BANDUNG,
11 AGUSTUS 2011

DUKA TERTINGGAL DI MAHAKAM

Duka itu memanjat remuk bulan
terbelah ingatan di sungai
Mahakam

Lajur malam sekilat angin
seketika tangan-tangan mungil
melepas jabat

Duka itu melahir di tanggalan tua
Mahakam hanyut di genang
airmata

Ada fajar mengejar ucap :

Dik,
Tubuh gemuruh rindu
berkisah
Sementara renta sesak malam
sebuah pengingat
Hantamlah karang membatu di
alir air anak sungai mahakam

Tiada duka rebah
dipelipis matahari

Duka Rindu melepas
di pulau bersuka ria



Aby Santika II

BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011

Rabu, 10 Agustus 2011

SI KERDIL YANG CURANG

Kerdil membidik hak
tanpa aturan
selingkar tempurung kura-kura

Pengecualian ?
Kesumat lampah
apa sampah

Kencing merangkak
Anjing menjilat
semacam perumpamaan
lalu laku tanpa balas

Kerdil tambun
bundar menggelinding
ditendang- tendang
Secacing nyali .

Tak berkemaluan !!

Akh..
Nikmati minum kopi
dan sebatang Dji sam soe saja

sambil menonton
ketololan pembodoh
diri ..




Aby Santika II

BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011

ELEGI MELATI

Melati tak menjaga hati
dia setia memeluk batang
inginnya

Kadang kengerian
gugur kering adalah kiamat,
ruang kosong
juga kecapi sepi

Tapi pepohon adalah
kebijakan
membajak ajak-ajakan yang tak
berpihak

Gemetar dedaunan ibarat anjing
melengking sayat
memerih
perkasa direkayasa

Sepanjang hari mencari
dari dahan-dahan pojok sampai
mati letih

Melati sebatang perih
aku mati untuknya
dalam harum bius memabuk arak

Batang ingin tanggalan dipelepah
tunas gagal mengenaskan



Aby Santika II

BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011

Selasa, 09 Agustus 2011

PESONA NYI RANDA

Nyi Randa
Kesumat lara memaku dada
penjiarah goda molek pesona
Utara tengadah tajam
tujukan cerna memutar arah

Aku tak ingin datang padamu
dalam pergumulan purna sesajen birahi
juga sembah ulung
menggulung tukung

Nyi Randa
Dawai gamelan jawa bertautan
sayub jernih seruling bambu

Aku tetap terpaku diam

Sedemikian elok purnama memapah paras
Manis kecup memusar
antara urat-urat

Nyi Randa
pernah seketika mandi bermadu denganmu
hangat pancuran hasrat
mengalir deras tak terbendung

Aku tetap Diam

Jamuan pelepas lelah
disinggasana tak bertuan
Kau malu merayu kemaluan

Nyi Randa
Untuk segenap tuah pendosa
kesakitan datang memberang
pajangkan kisah adab
menzaman

Aku masih diam



Aby Santika II

BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011

AKU SEMBELIH FEBRUARI SILAM

Aku sembelih jalanan
dan belukar semak menghutan
Demikian aku terlentang
kuda-kuda perawan berlarian

Kendati pagi mengejar hujan
februari silam menyiram
Sebaris jelajah putaran zaman

Aku melahap bundar
matahari dengki

Aku sembelih gemuruh pasir sahara
gundukan bukit kilat
licin berminyak

Seperti jenazah menjasad bulan
dan Februari mati berkafan duka

Selebihnya perjumpaan dibelukar
menyimpan ribuan ranjang yang tak kutiduri utuh

Karena telah ku sembelih muka cacat menggumpal tawa
Juga
Februari sekarat mengukir darah



Aby Santika II

BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011

SENANDUNG LIRIH TAK BERDAWAI



Kepada pengusung renta

Aku bicara perihal sebatang waktu
merangkum utuh sebuah rindu
misteri kejiwaan kasih nampak
utuh

Kejantanan sekedar diam
dirahimmu tangis saling
memandang,
Bernyanyi lirih dalam tirani

Aku terbengkalai,
terendam diujung pilu
Sedang,
Kau adalah seekor angsa
menatap lepas kepakkan irama

Aku ingin kembali pada janji
menikam dalam lorong-lorong
mencerna asmara
melayat rasa
membuang lacur jiwa

Kehidupan laksana layar kaca
menabur kilau resah berwarna
bersenandung lirih
derai sunyi

Bintang berbisik keteguhan hati
meraih kesembuhan
pada rindu

Menjantankan kelamin 
kelelakianku 
hingga sebatang waktu bersendawa
dalam senandung lirih
tak berdawai




Aby Santika II

BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011

Senin, 08 Agustus 2011

AIRMATA LELAKI

Semacam sesak
dada berkabut linang
reguk setengah airmata
lelaki bujang

Duhai
perantau layar alamat
bisik terlalu peka
sayub bernada
tersesat arah bersekat

Kulihat bentuk rindu
tak sebulat bola mata
kira bergaris tangis membuang
pada cermin hati berkaca diri
kepantasan dalam memecah
mencari hati sesunyi

Dada bidang berserambi intai
juga bilik-bilik
mata-mata menawan
diam bisu

Semacam sesak
dengar umpat
melompat-lompat
dari lelaki bujang berkata pasrah

Tentang sesak
yang kian terbahak



Aby Santika II

BANDUNG,
08 AGUSTUS 2011

MERABA MAKNA SEPI

Ku sengsarakan huruf
agar tak menyiakan diri 
dimana harus kuhadapkan
hidup ?

Seimbang diam,
menghantam kantuk
Pohon mendengkur
meliang kubur

Tetapi didalam kosong
tertulis ucap tangis
Ambruk !!
mengelupas badan

Tak tahu jalan langit
Dusta,
Dosa mengandung rahim 

Selayaknyalah sakit kuminta
sampah menyimpul
pikiran hidup

Apabila kalap terbuka,
masihkah akan menipu diri ?

Seandainya murung
melacur hati,
teka-teki menikmati ironi

Lantas,
Wajah berbaris
sembunyikan pisau

Maka,
Kutungkukan hidup
pada bara kesepian
diri



Aby Santika II

BANDUNG,
07 AGUSTUS 2011

Minggu, 07 Agustus 2011

CENGKRAMA MALAM

(I).
Sepertinya aku masih harus
mengatakan
tersimpan sebentuk telaga di
bawah alismu,

Sebab,
ketika kusinggahi ceruk
dan palung nafasmu
kudapati percikan angin lirih

kehangatan mengepul dari gelas
demi gelas
yang senantiasa kau sajikan pada
tiap beranda malam,

Ada bayangan purnama
menggaris derai tawa
ketika dingin kian merawankan
sepi.

Puntung-puntung galau berbaris
rapi dan sebentuk abu
tanpa terbengkalai di asbak
berjelaga

Barangkali,
keikhlasan itulah yang
selalu membimbing
kekagumanku pada sosokmu.



(II).
Untuk kali ini binar malam
merapuh di tonggak sadar

Sedang,
titipan musimmu ku
tanggal ibarat renda
penghias di sebaris untaian
angin,
hingga kebanggaanku
terselesaikan padamu
yang mampu memajang canda

Ketika lusuh melepuh
dalam lipatan saku dan kerah
bajumu,

Sementara yang aku tahu,
kasatku tak berdiri nyata untuk
menemuimu sosokmu,

Namun tak seperti puntung rokok
yang terkuliti
ketika hembus gigil,
Karena bagiku kau adalah alasan
dimana aku masih
terus merangkai bait-bait yang
berkeringat



(III).
Satu lagi kau hujamkan pada
sadarku, atas satu rendah pesona
yang kian mendayuh
langkakahku dikala bimbang

Mengawali
paragraf indah tentangmu,
hingga jeda adalah sebuah sesal
ketika selusur prosa
tentang hadiratmu melantun lirih
di baris setengah malam

Maka,
tolong Kutipkanlah sepasi
dalam puisimu ,
agar kelak ku terabas detailnya,
hingga arahku sempurna

Tepat sejengkal sahajamu !!



Aby Santika II

BANDUNG,
05 MEI 2011

SENJA MENADAH MUAK

Ini senja mengaduk bentuk
tiba merana keranjang lajang

Hasil senyum menadah kuncup
bersama abai jawab
inginnya

Permainan kebenaran
murni berkata
kesadaran terjaga iba
kegilaanku

Bangunlah !

Remuk memanjat utuh

Adalah seikat tabiat
mengkuntum mawar
bersama samar

Sebab,
Mimpi masih tegeletak
dipinggir-pinggir
di arsir garis dahi

Ini senja cerita manja
membunuh ahlak
sekira muak mengarak

Dia tinggal di matahari
bersama mati sesadar ingat



Aby Santika II

BANDUNG,
06 AGUSTUS 2011

Sabtu, 06 Agustus 2011

BERTAMU,BERTEMU TUHAN

Kita bertamu dengan Tuhan
dengan layar secangkir rapat

Bicara berjasad tiba
bujang amalan
berduka mata

Melepas tuli
membungkam bisu
kaki terkunci
mengikat tangan

Lantang membenam
semacam gusar

Aku bertemu Tuhan

Perjamuan sejati di tuah bisik pincang
melenggang-lenggang

Barangkali
kecap jemari melidah api
tersentak raga

Dalam Engkau
aku terdaya arah
Dalam sebab dakwah
bumi tenggelam

Bertemu dengan Tuhan
dahagakan kasih
laparkan rinduNya

Bertamu pada Tuhan
pertemuan diam
sebab Rahmat-Nya



Aby Santika II

BANDUNG,
O6 JULI 2011

SI CICAK MALANG

Cicak berdendang
didinding lenggang
pantat bergoyang
selidik mangsa menghadang

Cicak
menjiplak gaya
serdadu gerilya
merayap-rayap
dan Tangkap !!

Lidah menjulur
lawan tersungkur
gerak maju mundur
irama tak beratur

Cicak membentak
lawan menjebak
bau berak-berak
cicak tersentak

Cicak terjatuh
lawan tawa angkuh

Cicak merangkak
terinjak- injak
dimangsa katak



Aby Santika II

BANDUNG,
30 JULI 2011

SYAIR BUMI

Bumi itu bersyair :

Bersetubuh seteru kasta

Rantai rohani mencakar pijak
perjalanan tanpa sebab

Dikaki landai
hakiki manusia pada agitasi
pesakit jiwa
...

Aku , Kamu , Dia dan Mereka
Adalah KITA

Menggantung
Egoisme

Atas maha cipta semesta

Kita ,
atas nama Hidup-Nya
Tafakur pijak diputar
bumi



Aby Santika

BANDUNG,
25 JUNI 2011

TERSESAT ANTARA DAMAI-TAKDIR

Lalu,
Semenjak rindu bersenyawa
ditelunjuk takdir

Sebaris itu pula kegilaanku mengamnesia kan nikmat
akan halusinasi gambar sosokmu

Sedang,
Sadar segaris centi mistar dengan
airmata

Wajah waktu kian keriput
mengakar tanya pada lipatannya

Sempatkah kau titipkan
senyummu diujung
jalan pulangku ?

Dan esok,
Aku masih tersesat
diantara tiga persimpangan
arah
menuju kedamaian lelap



Aby Santika II

BANDUNG,

30 MEI 2011

PAGI ADALAH RAJAWALI

Pagi adalah Rajawali
berkaki duri hinggap ditangkai matahari

Mencuri sepi
Menantang petang,
menjadikan hilang,

Pagi aksara mengantri berdiri
dihalaman kertas berisi

Kabar menari
mata menganga

Rajawali mencaci
cakar merobek duka

kabar pagi esok
mentari hanguskan malam

Pendosa berkuasa
penjinah bertitah

Pagi adalah rajawali
berkaki luka

Terbakar Matahari
berarak mati

Di sangkar jeruji hari
tanpa nurani



Aby Santika II

BANDUNG,
22 JULI 2011

AKU TERIKSA SENJA

Hatiku sejurus kelana senja
renggang memangku sekar tertutup
dalam rupa
menepuk bumi
lari pulang senyap merayap

Dikipasi angin mabuk terberai
berbuni
undur awan berpamit
sebatang diri bertemu mata

Puan melingkar dibundar dada

Tinggalah hati memungut senja
melepas rindu sebelum maut

Birahi segera berduka
mengapa tak kujadikan sebagai
tujuanku

Seluruh aku teriksa senja

Kudengar cermin berkaca buta
telinga berpaling,wajah melepas
semacam ajal
pincang menimpa

Aku teriksa senja seluruh

Membenam gelas sepenuh
kosong
tinggalkan ampun
memberi sepi




Aby Santika II

BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011

Jumat, 05 Agustus 2011

APA KABARMU KAWAN KARIB ?

Ku mengabar segenggam berita
pada gusar angin ditepi hari

Untukmu kawan
Yang berperang dirantau musim

Seketika samarmu
merindu derai tawa
lalu

Tentang perahu kertas
yang hanyut disungai bukit bertanah landai

Juga tentang layang-layang
membentang bebas irama karib

Potretmu meraja dibingkai hati
setia berbagi diantara
bahagia dan perih

Apa kabar kawan bersajak aku ?

Semoga kemenangan pertemukan kita
dikemudian hari



Aby Santika II

BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011

LELAKI DUSUN

Lelaki dusun
menimbun rindu
daun berjatuh terkumpul rimbun

Ketika sunyi bernyanyi
digembala liar

Bercerita serunai
ternak berpadu
rindu melambung
jauh di gunung

Rindumu rindu buta
kawan !!
Sahabat karib menasehat iba

Permaisuri disunting
saudagar muda

Dahi menggaris
kerut cemberut
tatap sayu berjatuh
pilu

Lelaki dusun
tertegun lesu
daun mengering
terbawa angin

Harap dilahap
mati merindu




Aby Santika II

BANDUNG,
30 JULI 2011

DUHAI PAGI YANG TAMBUN

Selamat datang duhai
pagi bertubuh tambun

Langkah mengayun di
alang-alang

Mengandung embun dari rahim tua

Tambunmu Bukan obesitas rakus
melahap malam

Juga bukan busung rindu yang
lapar manja matahari

Gigil wajah berkantung kemih
perih

Anak-anak gelisah terlahir tiba
kapannya
...
Duhai pagi yang membilang kaki

Akankah tebar aroma kaos kaki
membunuh wangi melati

Bersama hati diantara hari



Aby Santika II

BANDUNG,
01 AGUSTUS 2011

RAPAT

Rapat !

umbar sana-sini
bijaksana
bajik tiada

Telinga berkantung kebal

Rencana !
Olah rasa
tak meraba

Asyik berceloteh
palu diketuk
jidat bersolek

Kawan mendengkur
Nurani tercebur

Dewan perwakilan
siapa ?

Mewakili birahi
bokep dievaluasi

Rapat !
Organisasi
berdiri arogansi

Katup pembual
berjubal-jubal



Aby Santika II

BANDUNG,
28 JULI 2011

WAKTU MERINDU

Untukmu kasih
membungkam tanya antara ada
dan ketiadaan

Ku hukum waktu
dalam rengkuh busur rindu
memburu pemikiran kerdil

Berkelana di entah gelisah
Menari riang dibusur panah yang
siap membunuhku

Betapa nikmatnya telunjuk takdir
menempatkan Aku diujung pilu

Ingin ku hukum waktu
merindumu kasih dalam hentak
airmata yang meng_ibu

Jika dendam tak lagi bungkam
maka,
ijinkan ku hukum waktu



Aby Santika II

BANDUNG,
03 JULI 2011

Kamis, 04 Agustus 2011

ANJING GILA MENGGILAIKU

Anjing-anjing itu kembali
menjulur lidahnya di muka ku !!

Anjing kudisan !!
Anjing sialan !!
Anjing jalang !!

Melintas di kegilaanku yang
semakin gila
meludahi bangkai cintaku yang
telah lama mati !!

Anjing itu
telah lama ku bunuh dari
ingatanku !!

Anjing itu telah melacuri
birahiku !!

Jalang anjing
laknat anjing ,

Kenapa kau kembali datang
menjilati cintaku yang masih
milikmu , Anjing !!




Aby Santika II

BANDUNG,
23 JULI 2011

SETIAKU UNTUKMU,BU

Bu,
lantikkan namamu masih
menyemat dipundakku
pada saat lahap undak rindu
mengkluminasi
sosokmu menafsir terik menjadi
teduh

Bu,
ketahuilah tiangku belum
menjengkal mili dari pancagnya
angka-angka tak ubahnya
bilangan yang masih kau eja
lafalannya

Bu,
masih berjelaga rindu
berairmata
yang mengisi kolam penampung
luka untukku

Bu,
sandarkan rindumu di serambi
harap
kelak aku jumpai kau disana




Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011

WANITA PAGI

Wanita pagi mengembang
layang
selendang wangi
terbayang-bayang

Amboi !
Ronanya memerah jambu
membumbui angin
berdendang riang

Bibir senyum tertinggal
distasiun senja menghilang

Wanita pagi
jalang membilang
upah ketuban terbuang

Siapa dia menghamba malam
menggarami laut
berair bening
bak rayu sayang

Wanita pagi
berdandan pucat
parfum barus
gaun kafan berhias

Mati dipeluk tuan
berkumis




Aby Santika II

BANDUNG,
24 JULI 2011

TAHI JELATA TAK BERKASTA

Tahukah
tahiku lebih manis ?

Cicipi muslihat berak dimeja
birokrat

Tutupi bangkai penciuman
anjing-anjing bermercy

Ku jilati saja tahi mereka
biar menjerit kehilangan tahi
yang dibingkis safari

Tahi
bercecer digedung berlantai
puluhan

Aku malu
karna tahiku lebih harum dari
tahi mereka,

Biar kuhormati
karena tahi kita sama bernama Tahi

Dan
aku bersukur
sebab tahiku tak berkasta rendah




Aby Santika II

BANDUNG,
25 JULI 2011

RINDU TUAN BERWAJAH GARANG

Ribuan lalu Tuan datang
berbicara lantang tanpa kepalang
menantang Abang membawa
parang

Uang siapa yang Abang bawa ?

Si Malang jalang penjiarah Hutang

Tiba kepala darah bernyawa
jelata kelayap mencari pasang

Di masa ini
fasih berbusa-busa

Tuan Lantang tak jua Ada
berkelumit mulut mengemis
apa ?

Parang bengkok digondol Maling

Uang melintas tanpa
ferboden

Malang jelalat
Mati sekarat




Aby Santika II

BANDUNG,
27 JULI 2011

BULAN MENGARAK AHLAK

Pada bulan ke enam di masa silam
ahlak di arak bersuka ria
berak menambal lapar memelas

Dengarlah
riuh sisa pesta pora masih
bergemuruh

Dua empat lompatan bulan
terlewat
membekas noda tak jua reda

Menyadap getah lengket di paha
layak madu berkelimis isap
tak tersisa

Pada bulan ke enam di hitungan lalu

Malu di elu-elu tak tau malu

Rasai lumut menghumus
terjerumus rakus




Aby Santika II

BANDUNG,
22 JUNI 2011

PINGGIR UTARA CICALENGKA

Mengeja paras yang kumal
pinggir utara Cicalengka

Cengkrama bocah berseling senda
mengiba mata

Kaki-kaki kecil telanjang riang
mengukir jalanan

Tanpa hirau jerat takdir menjarak
dekat

Kau lahir dari rahim langit
dan besar di pangkuan bumi

Bocah penghias kota kita ,
atau Benalu pengerat dompet Si
kaya ?

Pinggir utara kota Cicalengka

Tubuhmu masih terbaring di
pesakitan yang sama




Aby Santika II

BANDUNG,
19 JULI 2011

HORMATKU BAPAK BERSERAGAM

Pelor-pelor meneror molor
Gencat menggencat angkat senjata

Serdadu berkapak tiga
Atau Preman penjambret harta

Rendahmu sama tinggi, Bung !!

Seragam negara tak sama beda
Kuli dipasar ,calo terminal

Mengayomi atau mengganjangi ?

Mengabdi atau mengada-ngada ?

Bintang jendralmu jatuh derajat

Turun kejalan
kerja sampingan

Uang tak dikeranjang
Tilang menelanjang

Nyata ada bukan cerita



Aby Santika II

BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011

TUAN BER"ANU" BESAR

Tuan maha Anu
besarmu tak sama rata
perhelat dakwa mengadil Anu tak
setara rasa

Kanan melamban ketuban
pecah terkira punggawa layu

Kiri mencaci takdir
tabiat Anu Tuanku
bersendawa merdu

Anu ,
serupa itu ?

Pada janji bisu
berkaki pincang

Aku prosakan perkosaan
karakter mati
dalam diksi ilusi pada ingin-ingin
yang seriuh angin

Agar ejakulasi puisi
membunuh Anu-Anu
yang berkeliar tak bertuan




Aby Santika II

BANDUNG,
30 JULI 2011

KEBENARAN YANG SETIA

Kebenaran berkawan tajam lidah kelu

Mendarat layang buai
sekira camar berkepala rusa

Lantas berontak kata
tak semesti diam tanpa gerak

Candu !

Alur cerita nampak berbumbu pedas
hingga hidup enggan
meneruskan geliat

Dimana kebenaran yang setia ?

Serupa kekasih menunggangi
tenggelam matahari
menuju belahan hati

Dimana camar tak lagi kiasan
bermoncong Rusa

Sebab
kebenaran adalah niat hati




Aby Santika II

BANDUNG,
02 AGUSTUS 2011

DAWAI BINTANG FAJAR

Dawai bintang fajar
sesunyi itu sahut damai tanpa nada

Membunuh pembuluh
dengar hingar bisu menggerutu

Pendewasaan pagi beramuba
bintang pengembara
di negeri Asing

Sementara rindu menali jangkau
tentang nama yang tertidur pulas

Aku kah matahari ?

Bertanya pada gerimis
yang sesekali deras memburu

Lalu kau adalah siang
yang melahir rahim bintang tumbuh

Hingga kurecah tangis
diantara dawai




Aby Santika II

BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011

DONGENG KEMENANGAN KETIKA SENJA

Maknai dongeng mimpi terbeli
senja
Sebatu diam lajur menyusul

Masih tentang undak kepala
tunduk lusuh menelan terik

Dongeng nungging
berak di bumi
Sedang kemenangan
penghujung senja

Kemenangan siapa ?

Dongeng masih berupa episode

Kita menengadah hidang

Mereka puasa petang
Berputar pagi siang

Ke petang

Maknai makna
sebagian tak bermakna

Dan esok
Cerita ini masih tetap tertawa



Aby Santika II

BANDUNG ,
04 AGUSTUS 2011

KEKASIH TERLAKNAT

Ada rekah merekat ingat
merah gerah senyum keringat

Antara kau jalan kota-kota
bernoda lunta
kutitip rindu semata wayang

Oh terkasih
bukankah telah kau jual mimpi-mimpi kita ?

Pada wajah beratap bakung
juga tubuh berdada cekung

Oh terlaknat
Khianat lupa dibarisan alpamu ?

Atau sekedar radar membidik
sasar meroboh pertahananku

Kita wariskan saja teka-tekimu
pada ingat-ingat yang merayap




Aby Santika II
BANDUNG ,
05 AGUSTUS 2011

SUMPAL AKU

Sumpal lah kau setenang diam
Mulut umpat berkata caci

"Aku sajak sejalan nyata"

Suka aku sesukamu
Benci aku banci aksara

Pandangi kau tak bercelana
Malu tahu pura-pura bisu

"Aku kata pembual jadah"

Matilah kau semati kutu
Lubang digali dosa tak muat

Setenang kau lampah berhias
Serapah cermin membusuk diri

"Aku dan Kau berpandang
lenggang"

Sumpal lah Aku setenang diam
Berkata kepada Tuhan




Aby Santika II
BANDUNG,
05 AGUSTUS 2011

SAJAK GAYA PEMIKIR

Pemikir kencing di meja Birokrat
menciun Bau pesing penghianat

Kaki bumi menjalar menghukum
awam embel-embel Suap
Sana..
Sini.. Sama saja

Jidat-jidat Licin bergaya Einstein
padahal mirip Yngwie Malmsteen

lalu ia menjadi saksi kalian
para pendosa Dunia
di meja pandakwaan

Kita bertanya :

Kenapa Niat baik dianggap hina
Kenapa niat baik berjaga jarak

Niat siapa ?

Pemikir Jujur terkubur
ada yang terhina..

Diperkosa penguasa Tahta
Terluka..

Ditodong senjata,,
Argumantasi di duduki
Pantat-pantat Oknum pejabat
Suap

Terhimpit dalam Pertanyaan :

Maksud baik , untuk diinjak ?

Kita di didik berdasarkan apa ?
Iman ?

Atau mengamini Mereka
pecundang ?

Tokek-tokek nyaring bersendawa
ibarat Orator mahasiswa
memprotes
kebijakan yang tiada kebajikan

Tetapi pertanyaan kita mereda
tentang pemikir-pemikir yang
katanya
mampu membalikan fakta

Dimana ?

Dan esok
Kencing membentuk soda
pesing diteguk kata-kata Janji
Serapah

Sementara pemikir
menjelma siswa TK

Habis,
Terkikis,,
berdiri didepan jerit teraniaya,,




Aby Santika II
BANDUNG,12 JULI 2011

OPERA CINTA DUNIA MAYA

Menyaksikan pentas kilas tak
senampak
beribu mata sinis curiga bertatap
aktor-aktor amatir berteriak :

"Atas nama Cinta Aku rela Mati"

Sementara Yang lain berak
Diantara kata-katanya
mengangkang tawa

"Akulah
pemenang"

Aku bertanya,
tetapi Rayu bimbang
menenggelam

Susunannya jatuh dibawah
panggung-panggung
berhias Kemunafikan
yang terlepas dari drama
kehidupan yang nyata

Ribuan nafas buntu
menghadapi kisah tanpa pilihan,
tanpa ujung menemu bayang
nyata

Solek peserta berdandan Parfum
wangi-wangi membius,
tanpa sadar lawan dialog
bau apek Karena air kering
Musim kemarau "katanya"

Berpeluh Di tuth-tuth komputer
berburu rindu,

Syahwat ?

Akh.. perlombaan Cinta tak Sejajar
sosok Si Tuan adanya

Aku melihat wanita-wanita Tua,
laki-laki renta,
Bocah-bocah kencur,
mengantri dapat giliran rindu
tersalur

Dan Disamping,
para Bijak berkata :

Bermalas-malaslah
ketika wajah bercumbu Monitor
tak sesuai kurikulum kehidupan
yang semestinya

Jidat-jidat memelas memikir kata
Puisi-puisi andalan jurus
ampuh untuk menaklukan

Sementara tagihan-tagihan
biaya listrik,
TELKOM,
atau pulsa-pulsa semakin
menghimpit
ketidakadilan disamping hasil
semai Cinta
yang didapat

Dan
Ribuan kepala-kepala
termangu
Di Kuasa dunia Modernisasi yang
melilit
leher akal Logika

Opera cinta Didunia maya
pamplet-pamplet terpajang
berharap satu dua mangsa
terpikat

Inilah sajak Cermin kisah
Aku, Kamu, dan Mereka

Terpisah dari derita nyata
terlupa sesaat,
Tanpa terpikir
Tentang masalah kehidupan yang
siap menjelajah di alam nyata




Aby Santika II
BANDUNG,11 JULI 2011

SEPUNTUNG ROKOK

Maaf...

Hanya sepuntung rokok
hari ini...
sebaris hologram menari
tembakau
...di belantara lebatnya..

menyundut aksara bermerk
terkenal..

Abu melepuh hangus di
asbak berisi luka berdebu,
hingga sisa sebatang..
dan itu pun sisa setengah
puntung

Adalah :
pengobat gigil sepi...

Bibir semu mengisap,
asap-asap airmata keriput
Nikotin umpama madu nikmat
meski maut menguntil sisa
waktu...

Maaf...
rokokku sisa sebatang..
jangan kau ambil puntungnya..
karena..
kepulan mensketsa rindu
yang terlahir dari sela jari jemari
lusuh
mengapit ujung batang nikmat..
menjelma prasasti kumuh...

tersimpan utuh di tiap jejeran
nikotin

Asap di daulat kata menjadi
rasa
dalam bundaran meja
bermetamorfora,
sebentuk raut di ujung
kepulan
kemudian,
memecah...
hilang..

Rokokku menghitung waktu
seiring detik Dji sam soe
mengeja angka

2..3..4..

Sepuntung rokok adalah dirimu
kemudian perlahan lenyap
di belai angin...
sisa terbuang di asbak yang
retak..

Lihatlah..
hari semakin meninggi..
rindu semakin angkuh,
Tumpukan Abu kian berduka..
menjelma gundukan pasir,
mengubur rindu dalam peti
bermerk Dji sam soe..

Tambah lagi lah..
sebatang saja..
tak usah sebungkus
cukup sebagai penyambung
rindu yang hangus..

Semacam imajisme hidup,
meneror candu, lalu..
Asapnya berbaris membentuk
Jemaat
mengantri di loket duka,
menanti Bis pengangkut
kematian
tiba..





Aby Santika II
BANDUNG, 18 MEI 2011

PARODI KALIMAT "CINTAKU DI TOLAK"

Hadiahkan sebaris kalimat padaku

Kau berujar " Aku tidak mau"

maka ku eja:
" Mau tidak kau dengan aku ?"

jidatku berisi "tanda tanya"

maka kau ganti : "tanda seru"

persilangan abjad dan penegasan
melengkapi bidikan kata-kata
sungsang

ketika pertemuan di pojok
angkringan

aku.. kamu..

Sebentuk itu
kalut hati jika dideskripsi seuntai
kalimat

"Mau tidak kau dengan aku ?"

kamu berkata :
" Tidak mau "

Tanda tanyaku :
" Mau tidak kau dengan
aku "

Tanda serumu :
" Aku tidak mau"

Tersimpan penderitaan diantara
kegagahan yang hadir di warung
pojok angkringan Mbok Minah

Kegagahanmu :
" aku tidak mau"

Penderitaanku :
" Mau tidak kau dengan aku "




Aby Santika II
BANDUNG, 16 JUNI 2011

MEZZALUNA

( puisi bahasa Italia )


Half Moon e nato dal
grembo
del che si e,
Shaping mezzaluna..

Rompedo la rete
che tu sei presente..

Affascinante dubbio
Fin dal rilascio di che ..

La tua aspressione e la
fantasia..
anche se isolato in

viaggio tra il cielo..
mesi fissato le mie rime sedare
belle arteriosa
pensare pelle secca, tu seil mio
cuore..

Grazie mezzaluna
ombra ..
Lasciate che il vostro sorriso
ancora arrotolata tra il desiderio
proiboto..


-TERJEMAH

BULAN SABIT

Rembulan belah terlahir dari
rahim matahari
itu kau,
membetuk sabit ..

Memecah jaring yang
menawan ragu..

Hadirmu adalah pembebasan
semenjak itu..

Rautmu adalah khayalku..
meski tersekat buana antara
langit..

Bulanku tetap primadona
membius rima pikir arteri kulit
kering,

kaulah peneduh hati..

Terimakasih bulan sabit..

Biarlah senyummu tetap
melingkar diantara
rindu yang terlarang..




Aby Santika II
BANDUNG , 13 JUNI 2011.

WAJAH ITU

Masih ku kenali ilustrasi kornea
tajam itu
recahan umpama sabit
menyepuh dalam
kulit Ari yang melekat ingatan
yang hampir
berkarat tergerus musim
berterbangan

Ketika lafalan menyulam kata
yang robek

Ketika Navigasi rindu tak searah
semesta nyata

Ketika itu paradigma
menyimpang dari pola pikir
Pun sedarku hanya tinggal semili
dari ubun-ubun

Masih kukenali sketsa simpul
yang telah kusam
dari jilid pustaka hati yang
hampir terbuang
serta meditasi buyar dalam
kontemplasi hidup

Ada yang menjelma diantara
rahasianya
ranting-ranting mencoret sajak
pesonamu
langit bertasbih memuji hadirmu
dalam
Mujizat Tuhan melalui Asma
namamu

Masih kukenali wajah itu...




Aby Santika II
BANDUNG, 08 JUNI 2011

MILAD DI SURGAMU

Genap angkamu tepat diujung
jarum

Empat.. Enam.. sebelas..

Tersekat ganjil melengkapi
pertaruhan
impas diantara pergadaian waktu

Maaf.. !!
Tak ada kue TAR atau lilin tersaji
hanya coretan kumuh
pemenggal
sesal takdir yang tak permisi
menghampiri

Abad meloncat dalam kalendar
Tuhan
hanya sebatas nadi kau
denyutkan
senyum diujung tatapan terakhir

Empat.. Enam.. Sebelas..

Biarlah Surga yang menghitung
sisa usiamu

Perayaan suci di singgasana
firdaus

Khuldi ranum barganti silau
parmata

Milad menggema semesta raya

Mungkin..
hanya keikhlasan dariku sebagai
Kado
persembahan tanpa juntaian air
mata

Empat.. Enam.. Sebelas..

Ragamu mewangi seumpama
Kasturi
membangunkan amnesia yang
sempat
mati suri ..

Majas-majas berjubah pernyataan
sesal
terbalut rapih dalam sehelai
kafan sutra

Semoga jasadmu tetap sempurna
disisi-Nya


( menjengkal kenangan diantara
pertemuan Tahun )

" MEMORY DINDA "




Aby Santika II
BANDUNG, 04 JUNI 2011

SONATA TANPA CINTA

Kesepian tampaknya seperti
realitas mimpi buruk tetapi
adalah hidup dan kehidupan di
sini

Begitu hatiku
diperintah oleh kekosongan
dirugikan karena terlalu tulus

Tapi sekarang bahwa kamu
telah menyeberangi cara aku
Mungkinkah ditemukan lagi ?

Jika aku tahu bahwa aku satu-
satunya kamu,
aku bisa hidup
dan membuatnya melalui waktu,

Namun
jika suatu hari
kamu baru saja pergi, aku
tidak akan tahu bagaimana
untuk pernah mendapatkan

...

Bagaimana aku bisa
membuatmu merasa aman

Kita berdua sama, aku Raja
dan kamu Ratu

Pahami mu
Membuat aku bernapas lagi

Ceritakan semua pikiran mu
dan aku akan melihat

Pegang
tanganku dan kita akan ada di
sana Bersama , suatu hari
nanti, di suatu tempat

Jika
aku tahu bahwa aku satu-
satunya, kamu, aku bisa hidup
dan membuatnya melalui waktu

Tapi
jika suatu saat
kamu baru saja pergi, aku
tidak akan tahu bagaimana
untuk pernah mendapatkan

....

Aku hanya akan memecah dan
menangis



Aby Santika II
LUBUK LINGGAU, 27 JUNI 2011

CIUMAN TERAKHIR DAN SETEGUK KOPI

 ( the last kiss with coffe )

Sekiranya malam itu khayalku
membentuk cafein
pada nadi-nadi yang kau kecup
diantara gigilnya rangkul angin
pun sayatan ucap tajam
...membelah rambat tiang lampu
meredup

Aku menerjemah isyarat diantara
tubi bibir tipis menyerbu
tiap kata yang
hendak menawan pola
senyummu yang sederhana
tersaji riwayat penaskahan enam
purnama dalam seteguk kopi
paling manis

Antrian tanya berjemaah
dikertas-kertas pikirku :
tentang kecupan lembut melipat
hasrat
diserambi istana tempat rindu
menganak tiri

Sesekali pada tegukan nya kita
bersilang kata dalam cumbuan
umpama digurun sahara terasing
raga melayang nikmat sajian
terakhirnya

Belaian sansekerta
menelanjang candi pendewaan
cinta tentang Stupa-stupa yang
ku curi suci nya
lalu
ku retak arteri pembungkus
pusaka dengan
seteguk kopi bertubuh amunisi
kata

Ada air mata di ceruk retinamu
mengalir menyambangi parit-
parit sesal
mengalir menuju payau rindu lalu
bermuara pada gamang yang
membentuk Samudera cinta
menjelma diseteguk cangkir kopi
pelepas dahaga
salam terakhir kita

Sekali ku jemput titik gairahnya
dimalam yang sama
tak ada perjumpaan de javu
di beranda serambi yang kosong
itu

Kemudian ku tengok
kembali sapu tangan yang
terselip didompetku
baunya tetap sama
: aroma cafein beradu
bercampur sisa kecup wangimu
yang masih membekas utuh

Dan
tak pernah ku singgah
kembali malamnya yang
mengasing ditrotoar depan
rumahmu

Sebab,
manjanya telah kau Akad dibalik
sumpah tangan pangeran
penikmat sisa rinduku

Kemudian
Kini aku berujar :

Telah kau terima nikahnya Dia
dengan Mas kawin
seteguk kopi sisa Kecupan
hangatku
dibayar Tunai .. !!




Aby Santika II
BANDUNG,04 JULI 2011

RINDU DI KAKI MANDALAWANGI

Mandalawangi,
Angkuh membujuk diantara tiang
penyangga langit

seketika lirih memelas pada sapa
raut pucat
selayak Elang menukik diantara
gagah bebatuan

jejak halaman pertama terkucil
diselusur dakian goyah

cerita berawal pada kisah yang
telah punah

bukan prosa yang bersetubuh
dengan imaji

namun,
sekedar mengeja celah rindu
yang terselip di kaki
Mandalawangi

Ada airmata iba pada tulang-
tulang ranting cemara patah

membentuk tinta dari pena alam
yang menggores naskah
tanpa jeda,

ketika paragraf terhenti dalam
bait mati
cengkrama bayu senyap

disaat
penopang rotan
ketika lelahmu bersandar roboh
di sekejap hela
rindu tertinggal

ketika pinus menghunus janji
tercatat di kain langit
Giri Mandalawangi

Adalah
bersaksi
tentang asmara yang terhakimi
takdir




Aby Santika II
BANDUNG, 11 JUNI 2011

SEPULUH PURNAMA KURANG SETENGAH

Kemarin kita masih mengasing di
peradaban hati
mengais serpihan mimpi, lalu kita
bentuk mozaik
untuk ditafsirkan dalam kitab-
kitab tak ber ayat

Matanya terombang-ambing
melawan di kegelapan

Tertawa-tawa :
mendengkur sepi
hingga bising tak asing, larut di
pesona
malam , mencumbu resah

Sepuluh purnama kurang
setengah

kisah terlampaui ,
hingga waktu melesat ,
menyesat di tengah sadarku
yang kaku

Jantung berdegup lamban ..

Sepuluh purnama kurang
setengah
ku pintal musim-musim dalam
lembaran tangis
lalu rindu-rindu melompat tak
beraturan

....

Hilang raut mu hilang,
membayang sebentuk siluet yang
lenyap
di pertukaran zaman

Kotaku sunyi,,

Dawai-dawai
menggema
letih yang tak menemu lampu
kota redup

Sepuluh purnama kurang
setengah
ku maknai hadirmu yang sekejap
mata mengedip

Lalu..
hilang..



Aby Santika II
BANDUNG,
14 MEI 2011

AKU GILA

Terbangkanlah kewarasanku
dipermukaan kegilaan
kuderngar tawa keras tanpa
tanda jiwa

Aku berlari
diantara orang-orang waras
bicara tentang kewarasan

Ku rayap ingin-ingin
selangkang warisan
kewarasan

Berkata jujur dibilang normal
onkang-ongkang kaki
dikepala
orang gila

Ini duniaku sendiri
telanjang tiada yang
melarang

Anugerahmu kesadaran
adakah yang salah ?

jawabanmu terlalu munafik
berdusta disangka gila

Sering tak kusadar
Aku yang gila
atau kamu yang gila ?

Seperti halnya kalian
Menutupi kesalahan dengan
kepandaian

Jadi siapa yang gila ?

Sebab Tuhan Menyayangi
Bukan karena kewarasan
atau kegilaan



Aby Santika II
BANDUNG,
31 JULI 2011

RENUNGAN UNTUKMU (KEKASIH)

Kita dicipta diantara gejolak
ketika api memecah beling
menusuk bara setajam fitnah
saat logika berjauhan
memunggungi
sugesti menjelma belati
menghujam bidang dadaku

Menusuk aku,kamu dan mereka

Dalam sekam tetesan gairah
Idealisme meratap di telapak kaki

Aku masih tegar
tatkala dadu berputar diatas
kepala
Domino meramal hasrat ambisi
para punggawa gagah

Engkau berkata "Tidak"
ketika Aku berjibaku di teror laras
berorasi renyah

Nyayian Antagonis
berkumandang riang
makna menari di pentas anarkis
Setidaknya pandangan kita
selaras
berdialog tentang hidup

Saat ku tangkap keganjilan
di artikulasi kalimatmu :

Cengkramamu tercetus sudut
berlain arah
yang merumus kerangka-
kerangka meja
arogansi misi berlawanan

Beruntunglah Ambisi terkikis
Badai
tersisa butiran darah ditubuhmu

Setidaknya aku masih setia
selayak kekasih
membalut nyeri dengan telapak
tangan tanpa
kau pinta

Karna aku begitu mencintaimu
sebagai penunjuk arah ketika kita
tersamar nista

Kita cipta sebentuk resah
karena realitas mengetuk engkau
dalam menghantam rupiah

Sesungguhnya kita tak perlu
kejayaan
atau pengakuan " Bahwa Aku
ada"

Melainkan keinginan mengumpul
Mozaik
kenangan
Untuk kita susun sebagai
pangingat
di masa Tua



Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011

JANJI BINTANG

Aku bicara padamu gerimis
yang memburu waktu
juga kelepak elang menyisir
muram
aku sekarang siang
dan terkadang malam

Tujukan kapalmu ke pangkalan
Dan ombak tertidur sendiri

Akan ku ukir kisah baru
antara kita cinta membelah
binasa
Udara bertuba di sudut
semenanjung
negeri Asing

Kepadamu Bintang
Matamu bagiku menengadah
Harum rambutmu bergulat rasa
mendarah luka mengalir nyawa

Jika kau sampai diburitan
rangkaklah Doa yang kutitipkan
Untukmu Bintang

Ini kali kau berkerudung sutra
aku terlalu jawab yang inginmu
mempercaya hari, mengingat
namamu

Tanpamu Bintang..

Pundak menampik sepi yang ada
Cerita menali menyinggung
kelam

Tujukan perahu dipunggungku
Sedang cahayamu jauh dipulau
mengumpul peluru rindu
berlari hilang

Jalan hidup baru merasai
kepastian bintang-bintang
menemu malam
berwangi mimpi
Jangan meratap
membagi rindu bercermin deru
sebab,
kepastian bintang
berupa janji menanti

Di pulau bertugu karang


Aby Santika II

BANDUNG,
26 JULI 2011