Detak telah meninggalkan jarum,
waktu yang malang,
kampung seribu penggal, naung
gaduh rindu rekayasa muasal
Berjanji sebatang kara
tanpa ibu merahim ingkar, juga
bapak menimang jawab
Serupa busung kumal
Didusun limbung berucap kekal
masihkah bertapak ?
Nyonya
Aku Lunta setimpal ada
Penghuni gubuk hati di kampung
yang pernah huni rindu
Aku diam
tampar senyum cekung merayu
pada hasrat cemara yang ku sepuh wanginya
Masih ku jaga puing sisa roboh
halaman tahta,
untuk berdawai harum
senandung
Aby Santika II
BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011
Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Kamis, 25 Agustus 2011
KOMA-KOMA
Pada koma-koma terus usia
Pada koma-koma tegak bicara
Pada koma-koma ku kutip makna
Hariku adalah koma-koma
meronce jejal seterjal sesal
Lalu bara lah membakar kekal
sebab koma-koma jua bertitik
Seperti jumawa terbawa-bawa
atau wibawa tertawa-tawa
Koma-koma dipandang mata
Koma-koma semanis kurma
Nyata sebab nampak samar
Alam maya diumbar-umbar
Koma-koma terjemah resah
Koma-koma bersalin hingar
Koma-koma tatap tiada
Koma-koma terpenggal titik.
Aby Santika II
BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011
Pada koma-koma tegak bicara
Pada koma-koma ku kutip makna
Hariku adalah koma-koma
meronce jejal seterjal sesal
Lalu bara lah membakar kekal
sebab koma-koma jua bertitik
Seperti jumawa terbawa-bawa
atau wibawa tertawa-tawa
Koma-koma dipandang mata
Koma-koma semanis kurma
Nyata sebab nampak samar
Alam maya diumbar-umbar
Koma-koma terjemah resah
Koma-koma bersalin hingar
Koma-koma tatap tiada
Koma-koma terpenggal titik.
Aby Santika II
BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011
PESAN UNTUKMU
Sebab sepi malam terlalu jangkau
pada kertas penulis pesan
Berdansa
aksara laten menunggang rindu
ketika kendara pacu pena setiba mata
Datanglah
Duhai cemara jalanan
yang ku petik liar di dinding hati
Aku latah dalam berucap
puja-puji hadirat purnama ruah seperempat
Malam genap bilang tapakmu
Janji menghitung sisa rendam sunyi meniada
Hentak ujung sepatu mendegup- degup
recah hadir sejumpa engkau
Aku kendali rindu yang sempat berkarat
diantara kalendar yang melaju lambat
Aby Santika II
BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011
pada kertas penulis pesan
Berdansa
aksara laten menunggang rindu
ketika kendara pacu pena setiba mata
Datanglah
Duhai cemara jalanan
yang ku petik liar di dinding hati
Aku latah dalam berucap
puja-puji hadirat purnama ruah seperempat
Malam genap bilang tapakmu
Janji menghitung sisa rendam sunyi meniada
Hentak ujung sepatu mendegup- degup
recah hadir sejumpa engkau
Aku kendali rindu yang sempat berkarat
diantara kalendar yang melaju lambat
Aby Santika II
BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011
DOA DITAMAN KAMBOJA
Setaman senja semai bunga kamboja
Merunduk kaku dalam doa-doa
Menyiram tanggul mati dengan airmata
Terkubur cinta disana
Zasad nisan bisikan lampau
Aku pulang,
Jika Ajal terkira waktu,
Inginku tukar saja dengan rindu
dendam diantara kita
Senja itu
Masihkah hidup menelungkup sujud ?
Pada jiwa laknat yang ku rawat ketika membocah tiri ?
Mereka antar keranda
terkapar sisa-sisa
mimpi kita,
yang sempat membenih rahim
sedari pagi
Setaman senja semai bunga kamboja
Disana Aku,Kamu dan Mereka ada
Aby Santika II
BANDUNG,
22 AGUSTUS 2011
Merunduk kaku dalam doa-doa
Menyiram tanggul mati dengan airmata
Terkubur cinta disana
Zasad nisan bisikan lampau
Aku pulang,
Jika Ajal terkira waktu,
Inginku tukar saja dengan rindu
dendam diantara kita
Senja itu
Masihkah hidup menelungkup sujud ?
Pada jiwa laknat yang ku rawat ketika membocah tiri ?
Mereka antar keranda
terkapar sisa-sisa
mimpi kita,
yang sempat membenih rahim
sedari pagi
Setaman senja semai bunga kamboja
Disana Aku,Kamu dan Mereka ada
Aby Santika II
BANDUNG,
22 AGUSTUS 2011
MELAYAR BADAI
Dimana harus ku letak sembunyi badai,dik !
Jikalau giring terlalu tumpah
dalam genggam
Meski layar searah oleng
Namun sepi dermaga masih merunut labuh
Kita dicipta seriak gelombang
yang berteriak diam menahan curang
Dimana harus ku simpan utuhnya,dik !
Sementara rompak menawan tenangnya gemercik
Juga lonceng-lonceng pengingat
mematah tulang sunyi
mengusik bisu sembunyi
Andai
sauh meneduh lindung
dalam robekan tambal
sisa celoteh kita
Tapi
Samudera ini terlalu liar untuk
kuteruskan layar
Aby Santika II
BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011
Jikalau giring terlalu tumpah
dalam genggam
Meski layar searah oleng
Namun sepi dermaga masih merunut labuh
Kita dicipta seriak gelombang
yang berteriak diam menahan curang
Dimana harus ku simpan utuhnya,dik !
Sementara rompak menawan tenangnya gemercik
Juga lonceng-lonceng pengingat
mematah tulang sunyi
mengusik bisu sembunyi
Andai
sauh meneduh lindung
dalam robekan tambal
sisa celoteh kita
Tapi
Samudera ini terlalu liar untuk
kuteruskan layar
Aby Santika II
BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011
MERANGKUL TANGISMU
Pada alamat airmata
lekuk bening mencari
sebilah sujud dikaki
berurat tua
Letakkanlah pematikmu
sebab teduh telah kusiram di tangisnya
Sebulat renyah matamu
menindih pikul sketsa
buram ilustrasi rindu
Aku tau
Hari ini berubah serupa
bentuk bunga Melati
memusar wangi hingga pilu
memecah senja
Telah sering kau ceritakan
tentang perahu pengangkut airmata
yang berlabuh di alamat hatimu
Namun ,
Tetap aku yang kau jinahi
perjakaku
hingga rayap inginku
merangkul bening
kristal airmatamu
Aby Santika II
BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011
lekuk bening mencari
sebilah sujud dikaki
berurat tua
Letakkanlah pematikmu
sebab teduh telah kusiram di tangisnya
Sebulat renyah matamu
menindih pikul sketsa
buram ilustrasi rindu
Aku tau
Hari ini berubah serupa
bentuk bunga Melati
memusar wangi hingga pilu
memecah senja
Telah sering kau ceritakan
tentang perahu pengangkut airmata
yang berlabuh di alamat hatimu
Namun ,
Tetap aku yang kau jinahi
perjakaku
hingga rayap inginku
merangkul bening
kristal airmatamu
Aby Santika II
BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011
AKU MENGENAL
Aku mengenal "kapan"
dalam pembelajaran sabar,
Diantara pola pikir lentur yang ku
ukur pijahnya
Aku mengenal " iya " ketika keyakinan
sebara terik , sebab bakar angkuh
melahap utuh
Aku mengenal " apa "
tatkala bimbang menimang akal,
karena kelak jawab
ku temukan di dirimu
Aku mulai bersahabat
dalam resah
juga Arti kesederhanaan rindu
Aku mengenal " kamu "
dalam ketidaktahuanku
secangkir harap ku kayuh
ikhlasmu
dalam mencintaiku
Aby Santika II
BAMDUNG,
22 AGUSTUS 2011
dalam pembelajaran sabar,
Diantara pola pikir lentur yang ku
ukur pijahnya
Aku mengenal " iya " ketika keyakinan
sebara terik , sebab bakar angkuh
melahap utuh
Aku mengenal " apa "
tatkala bimbang menimang akal,
karena kelak jawab
ku temukan di dirimu
Aku mulai bersahabat
dalam resah
juga Arti kesederhanaan rindu
Aku mengenal " kamu "
dalam ketidaktahuanku
secangkir harap ku kayuh
ikhlasmu
dalam mencintaiku
Aby Santika II
BAMDUNG,
22 AGUSTUS 2011
BIDADARI PEMBANGKANG JANJI
Jangan ambil perihku
biarlah ia mati sendiri
di bakar matahari
bersama puan pembangkang janji
Sepagi ini
degup limbung memahat hati
Taman-taman melati
memutih uban
Puan bidadari
Ikal senyum kian mengulum
sepintas macam kembang kertas
mencoret wangi
hirup tak tuntas
Bidadari pagi
Selendangmu menggantung letih
Janji menjarak sepagi senja
Jangan ambil sedihku
tetaplah mengkoma dikutipan baitku
Lalu ku gubah dalam bentuk
bidang jajar genjang pesona
ramah tak sejarak
Aby Santika II
BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011
biarlah ia mati sendiri
di bakar matahari
bersama puan pembangkang janji
Sepagi ini
degup limbung memahat hati
Taman-taman melati
memutih uban
Puan bidadari
Ikal senyum kian mengulum
sepintas macam kembang kertas
mencoret wangi
hirup tak tuntas
Bidadari pagi
Selendangmu menggantung letih
Janji menjarak sepagi senja
Jangan ambil sedihku
tetaplah mengkoma dikutipan baitku
Lalu ku gubah dalam bentuk
bidang jajar genjang pesona
ramah tak sejarak
Aby Santika II
BANDUNG,
21 AGUSTUS 2011
SENYUM ISAK SENJA
Belum selesaikah kita
menelanjangi senja
pada kulit langit bersama
patahan tulang angin?
Sedang
Serupa kupu-kupu bercermin
pada retak mata air,
disini kita menali
waktu-waktu gusar
diantara malam
Penopangmu
roboh , dalam setia
menjubahi sesal
padahal celah telah
menjenguk sepi kita
di tiap waktunya
Akh..
Entahlah..
Terlanjur ku lacuri ingkarnya
pada jarak
setubuh waktu purba
Lalu,
Akankah kita melepas
senyum-senyum itu ,
di penghujung isak tangis kita ?
Aby Santika II
BANDUNG,
20 AGUSTUS 2011
menelanjangi senja
pada kulit langit bersama
patahan tulang angin?
Sedang
Serupa kupu-kupu bercermin
pada retak mata air,
disini kita menali
waktu-waktu gusar
diantara malam
Penopangmu
roboh , dalam setia
menjubahi sesal
padahal celah telah
menjenguk sepi kita
di tiap waktunya
Akh..
Entahlah..
Terlanjur ku lacuri ingkarnya
pada jarak
setubuh waktu purba
Lalu,
Akankah kita melepas
senyum-senyum itu ,
di penghujung isak tangis kita ?
Aby Santika II
BANDUNG,
20 AGUSTUS 2011
SENANDUNG TIBA MERAGU
Telah sampaikah bisikku
di ujung dengarmu ?
Ketika senggal malam
bersenggama parau
Aku takut
Jika setiba nanti,
matahari tak bujuk
lagi terhadap gigil
Hingga
Kebujanganku beku
memaku
Kau musafir
ronce-ronce waktu
mengutip senyum
di intip ragu
Genap bilang kalendar
mencuaca robek
Hari dalam timangan
cemas,
Ketika ku jemput kau
di antara terik
Sampaikah
Yakinku sebagai pegangan ?
ketika sesat tibamu
menelan sejajar
wajah kita
Biarlah
harap mengandung
benih
untuk kau lahirkan
Aby Santika II
BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011
di ujung dengarmu ?
Ketika senggal malam
bersenggama parau
Aku takut
Jika setiba nanti,
matahari tak bujuk
lagi terhadap gigil
Hingga
Kebujanganku beku
memaku
Kau musafir
ronce-ronce waktu
mengutip senyum
di intip ragu
Genap bilang kalendar
mencuaca robek
Hari dalam timangan
cemas,
Ketika ku jemput kau
di antara terik
Sampaikah
Yakinku sebagai pegangan ?
ketika sesat tibamu
menelan sejajar
wajah kita
Biarlah
harap mengandung
benih
untuk kau lahirkan
Aby Santika II
BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011
Jumat, 19 Agustus 2011
LELAKI SEPI
Lelaki sepi,
turut gaduh sembunyi
matamu
binar menyudut redup
sederhana berkaki pincang
Sesekali rebah gerobak tua
bersandar di dinding
kota
dibawah Purnama mulai
merambat
satu persatu membilang keringat
tumpah di dahimu
Malammu mulai berkisah
Cerita kelakar kelelawar
dan sayub orkes melambai di
antara remang
Masihkah kau
Lelaki sepi mengayuh
malam berkawan cemas
Selimut angin mencakar peluh
Lelaki sepi,
Pengais rizki ditumpuk limbah
Rumah kardus istana indah
Untukmu..
Pemulung Ridho
Tuhan
Aby Santika II
BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011
turut gaduh sembunyi
matamu
binar menyudut redup
sederhana berkaki pincang
Sesekali rebah gerobak tua
bersandar di dinding
kota
dibawah Purnama mulai
merambat
satu persatu membilang keringat
tumpah di dahimu
Malammu mulai berkisah
Cerita kelakar kelelawar
dan sayub orkes melambai di
antara remang
Masihkah kau
Lelaki sepi mengayuh
malam berkawan cemas
Selimut angin mencakar peluh
Lelaki sepi,
Pengais rizki ditumpuk limbah
Rumah kardus istana indah
Untukmu..
Pemulung Ridho
Tuhan
Aby Santika II
BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011
RINDU PAGIKU
Duhai
Pagi bertubuh puisi
tangguhkan kata-kata
pada rindu sekilat waktu
Masih aku
teriksa pesonamu
mengecap sabda
di telapak gigil
Untukmu senja
antara pagi kau pulas
tertidur
Menggunduli hari terkayuh sisir
Duhai
Pagi berwajah rindu
betinaku malu meng-aku rasa
untuk membaptis cinta dipusara
Tetap aku
pekik teka-tekimu
memecah pembuluh otak
memetak sekat rumus
menjarak
Untukmu penggali
hatiku
Adakah kasih dikedalamannya ?
Yang ku pajang diserambi pagi
semenjak senja kemarin
Aby Santika II
BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011
Pagi bertubuh puisi
tangguhkan kata-kata
pada rindu sekilat waktu
Masih aku
teriksa pesonamu
mengecap sabda
di telapak gigil
Untukmu senja
antara pagi kau pulas
tertidur
Menggunduli hari terkayuh sisir
Duhai
Pagi berwajah rindu
betinaku malu meng-aku rasa
untuk membaptis cinta dipusara
Tetap aku
pekik teka-tekimu
memecah pembuluh otak
memetak sekat rumus
menjarak
Untukmu penggali
hatiku
Adakah kasih dikedalamannya ?
Yang ku pajang diserambi pagi
semenjak senja kemarin
Aby Santika II
BANDUNG,
19 AGUSTUS 2011
AYAH
Ayah
Masih lentang pundak bertingkat
ikat beban berurat darah
Semasa hadap timur matahari
berlari tepat ditengah
hitam dahi terik
Kau masih sebanding
Panglima gagah
berpedang perang
mencari nafkah
Ayah
Meski remuk meredam lelah
Namun Ikhlas masih
berhias diwajahmu
Untuk kami
kau
menumbal diri
demi
menyumpal perut
agar tetap terisi
Ayah
Baktiku masih jauh
membelakangi
dalam harap dan banggamu
Barangkali
keikhlasanmu itulah
yang membuatku
semakin kagum akan
sosokmu Ayah
Aby Santika II
BANDUNG,
18 AGUSTUS 2011
Masih lentang pundak bertingkat
ikat beban berurat darah
Semasa hadap timur matahari
berlari tepat ditengah
hitam dahi terik
Kau masih sebanding
Panglima gagah
berpedang perang
mencari nafkah
Ayah
Meski remuk meredam lelah
Namun Ikhlas masih
berhias diwajahmu
Untuk kami
kau
menumbal diri
demi
menyumpal perut
agar tetap terisi
Ayah
Baktiku masih jauh
membelakangi
dalam harap dan banggamu
Barangkali
keikhlasanmu itulah
yang membuatku
semakin kagum akan
sosokmu Ayah
Aby Santika II
BANDUNG,
18 AGUSTUS 2011
TANYA ITU MILIK SIAPA ?
Bu,
Tanya itu milik siapa ?
Hingga kali ucap,
jawab masih sembunyi
Apa Ekploitasi dari
orang-orang yang mengaku
cerdas ?
Atau
Otakku yang
terlalu dangkal ,
hingga menerka isyaratpun
masih latah
Apa harus aku cari jawabnya
dibawah injak kaki mereka bu ?
Lontaran serbu hujam
ketidak tahuan
masih tak kau gubris
Bu,
Apa sebab terlalu aib
untuk kau paparkan
satu persatu di sepanjang musim
beludru yang telah hampir pecah
Apa jawab masih
tersimpan rapih
atau hendak tak tau
lagi dimana letak
adanya
Aby Santika II
BANDUNG,
18 AGUSTUS 2011
Tanya itu milik siapa ?
Hingga kali ucap,
jawab masih sembunyi
Apa Ekploitasi dari
orang-orang yang mengaku
cerdas ?
Atau
Otakku yang
terlalu dangkal ,
hingga menerka isyaratpun
masih latah
Apa harus aku cari jawabnya
dibawah injak kaki mereka bu ?
Lontaran serbu hujam
ketidak tahuan
masih tak kau gubris
Bu,
Apa sebab terlalu aib
untuk kau paparkan
satu persatu di sepanjang musim
beludru yang telah hampir pecah
Apa jawab masih
tersimpan rapih
atau hendak tak tau
lagi dimana letak
adanya
Aby Santika II
BANDUNG,
18 AGUSTUS 2011
MERDEKA ITU ?
Merdeka itu
terselip didompet
para penjambret
uang rakyat yang
kepepet
Merdeka itu
tersimpan rapih
di meja birokrat
perampas nikmat
kaum melarat
Merdeka itu
Ada di hati ikhlas
ketika himpit nurani
mencaci-caci
Merdeka itu
Keimanan dalam
mensyukuri,
meski ter dzalimmi
sebagian wakil
negeri
Merdeka itu
masih titik-titik
Aby Santika II
BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011
terselip didompet
para penjambret
uang rakyat yang
kepepet
Merdeka itu
tersimpan rapih
di meja birokrat
perampas nikmat
kaum melarat
Merdeka itu
Ada di hati ikhlas
ketika himpit nurani
mencaci-caci
Merdeka itu
Keimanan dalam
mensyukuri,
meski ter dzalimmi
sebagian wakil
negeri
Merdeka itu
masih titik-titik
Aby Santika II
BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011
MERDEKA ?
Mari kawan kita cari
diantara laci didalam
almari
kata "MERDEKA" yang
telah lama tak ku lihat
Adakah dia bersembunyi ?
Atau mungkin kabur
berlari ?
Atau
mungkin dia hilang dicuri
pencari untung dikaki negeri
Seteru kata
tak melekat tepat
pada nyata yang terlihat
Apa hendak kita menjambak
kepala-kepala berpeci
yang terbahak ?
Atau mungkin
kita tak cukup berotak
hingga berontak
tak cukup nampak
MERDEKA
tidakkah aku terlalu
asing dengan maknanya
yang ternyata
kian tak bermakna
"katanya"
Aby Santika II
BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011
diantara laci didalam
almari
kata "MERDEKA" yang
telah lama tak ku lihat
Adakah dia bersembunyi ?
Atau mungkin kabur
berlari ?
Atau
mungkin dia hilang dicuri
pencari untung dikaki negeri
Seteru kata
tak melekat tepat
pada nyata yang terlihat
Apa hendak kita menjambak
kepala-kepala berpeci
yang terbahak ?
Atau mungkin
kita tak cukup berotak
hingga berontak
tak cukup nampak
MERDEKA
tidakkah aku terlalu
asing dengan maknanya
yang ternyata
kian tak bermakna
"katanya"
Aby Santika II
BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011
Rabu, 17 Agustus 2011
PAGI SEPOI-SEPOI
Sepertinya angin sepoi
berselonjor menonjok
mukamu hingga benjol
Ini hari kali kau nungging
Mengejek matahari
berhidung pesek
Ini hari kali kau ngiler
Iri menjilat bumi memelet lidah
Amboi...
Akupun melongok nongol
Dari sembunyi tolol
mencium mulutmu
yang bau jengkol
Sungging sinis
berguling-guling
melihat Kerbau
memacari kambing
Amboi...
Tawaku memborgol
sepi
yang nyantol diantara
paha yang bentol-bentol
Aby SAntika II
BANDUNG,
!^ AGUSTUS 2011
Selasa, 16 Agustus 2011
RINGKIH SANG GARUDA
Dengarlah ringkih cekung
Awang-awang murung berkabung
Apa yang membuatmu memasung duka ?
Bukankah Lantik Kata "MERDEKA" telah lama
berpesta pora ?
Atau mungkin wibawamu
sudah terlalu tua ?
Setengah Abad lebih
sayapmu mengembang
dada ?
Hingga gembira itu
terselip
diantara bulu-bulumu
yang kian memutih
Juga
senyum bangga itu luntur diantara paruhmu
yang kian ompong
Ringkihmu adalah ratap Pertiwi
yang telah lama menjadi ibu tiri
bagi anak-anaknya sendiri
Awang-awang tempat kau bercengkrama
tak lagi jernih,
hitam pekat bercampur aroma asap limbah arogan
Ranting-ranting pijak
gagahmu tak seumpama elok,
Habis dilindas gergaji-gergaji Tuan Pembajak
Duhai Garudaku Kemarilah ..
Akan ku anyam sedihmu dengan
merah benangnya
Lalu
ku pintal lusuh bulu-bulu mu
dengan putih benangnya
Agar Layar sayap kembali mengembang
Berkumandang gema
membawa kabar pada dunia
Tentang Negeri kita yang masih dilanda lara
Aby santika II
BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011
Awang-awang murung berkabung
Apa yang membuatmu memasung duka ?
Bukankah Lantik Kata "MERDEKA" telah lama
berpesta pora ?
Atau mungkin wibawamu
sudah terlalu tua ?
Setengah Abad lebih
sayapmu mengembang
dada ?
Hingga gembira itu
terselip
diantara bulu-bulumu
yang kian memutih
Juga
senyum bangga itu luntur diantara paruhmu
yang kian ompong
Ringkihmu adalah ratap Pertiwi
yang telah lama menjadi ibu tiri
bagi anak-anaknya sendiri
Awang-awang tempat kau bercengkrama
tak lagi jernih,
hitam pekat bercampur aroma asap limbah arogan
Ranting-ranting pijak
gagahmu tak seumpama elok,
Habis dilindas gergaji-gergaji Tuan Pembajak
Duhai Garudaku Kemarilah ..
Akan ku anyam sedihmu dengan
merah benangnya
Lalu
ku pintal lusuh bulu-bulu mu
dengan putih benangnya
Agar Layar sayap kembali mengembang
Berkumandang gema
membawa kabar pada dunia
Tentang Negeri kita yang masih dilanda lara
Aby santika II
BANDUNG,
17 AGUSTUS 2011
Senin, 15 Agustus 2011
INI NYANYIAN KITA, NAK !
Jika sampai nafas meninggalkan
dada
Melihat bayang penuh seluruh
Tanah berlumpur dilempar ludah
Sekutu bocah meremuk pelik
Ini nyanyian kita,nak !
Semasa irama nada berdebu
Kisah dongeng pendengkur
mimpi,
atau realita tak tuntas
di ujung matahari ?
Siang ini,
Kembali tanya mengunyah
Kemerdekaan terjatuh
dipeluru mati bedil si kerdil
Penindas halus berjubah politik
Ini nyanyian kita,nak !
Yang pernah mengakrabi
telinga kita
Indonesi raya
merdeka..merdeka !!
Hiduplah Indonesia raya ?
Aby Santika II
BANDUNG,
15 AGUSTUS 2011
dada
Melihat bayang penuh seluruh
Tanah berlumpur dilempar ludah
Sekutu bocah meremuk pelik
Ini nyanyian kita,nak !
Semasa irama nada berdebu
Kisah dongeng pendengkur
mimpi,
atau realita tak tuntas
di ujung matahari ?
Siang ini,
Kembali tanya mengunyah
Kemerdekaan terjatuh
dipeluru mati bedil si kerdil
Penindas halus berjubah politik
Ini nyanyian kita,nak !
Yang pernah mengakrabi
telinga kita
Indonesi raya
merdeka..merdeka !!
Hiduplah Indonesia raya ?
Aby Santika II
BANDUNG,
15 AGUSTUS 2011
SEPAGI LIMBUNG,DIK !
Sepagi limbung,Dik !
Pikirku menyederhana
ketika ku coret malam
yang tidak sempat bercerita
Atau tentang sandaran
regas tatkala elastis hati lusuh
memecah
Sepagi limbung,Dik !
Perjudian rindu
dalam putaran mata dadu
di lapang ubun-ubun purnama
Tatkala barisan lampu kota
mulai meredup bias
Sepagi limbung,Dik !
Meski terlalu larang
aku menyudut tentang
apa sebab, atau mengapa
sunyi menggelitik malam lalu
Namun,
Sepagi limbung,Dik !
Aby Santika II
BANDUNG,
15 AGUSTUS 2011
Pikirku menyederhana
ketika ku coret malam
yang tidak sempat bercerita
Atau tentang sandaran
regas tatkala elastis hati lusuh
memecah
Sepagi limbung,Dik !
Perjudian rindu
dalam putaran mata dadu
di lapang ubun-ubun purnama
Tatkala barisan lampu kota
mulai meredup bias
Sepagi limbung,Dik !
Meski terlalu larang
aku menyudut tentang
apa sebab, atau mengapa
sunyi menggelitik malam lalu
Namun,
Sepagi limbung,Dik !
Aby Santika II
BANDUNG,
15 AGUSTUS 2011
AKU BERPUISI
Aku berpuisi
pembicaraan debu
menguntai jalanan
diatas jidat-jidat
penjiarah upeti telanjang kaki
Dialog
rasa dada-dada trotoar
pejalan lenggang
raja penguasa
Aku berpuisi
Orasi kejujuran hati
meski nampak sinis
setajam mata cerulit
Penghujat
Buruh-buruh telungkup,
Petani renta menua
menyembelih lelah
demi tawa sang Tuan tanah
Telah selesai
kita garami tubuh dengan keringat percuma
Memanggang kepala kita
dengan Jilatan terik
demi upeti yang kesana kemari
Aby Santika II
BANDUNG,
14 AGUSTUS 2011
pembicaraan debu
menguntai jalanan
diatas jidat-jidat
penjiarah upeti telanjang kaki
Dialog
rasa dada-dada trotoar
pejalan lenggang
raja penguasa
Aku berpuisi
Orasi kejujuran hati
meski nampak sinis
setajam mata cerulit
Penghujat
Buruh-buruh telungkup,
Petani renta menua
menyembelih lelah
demi tawa sang Tuan tanah
Telah selesai
kita garami tubuh dengan keringat percuma
Memanggang kepala kita
dengan Jilatan terik
demi upeti yang kesana kemari
Aby Santika II
BANDUNG,
14 AGUSTUS 2011
KEPULANGANKU
Coba perhatikan
Sebundar matahari tampan
bentuk kornea jelalatmu
Lihai meliuk-liuk
cerdik menangkap
arah kedatanganku
Untuk kali pertama
rambutmu menggulung hitam
ranting airmata mengkonde ikal
senyumnya
Kepulanganku
bukan sekira kau duga
hingga cemas tersungging
senyum
sembunyi
Jika ini takdirku
maka dekatkanlah
pada jangkau yang hampir
terbuang
Duhai kekasih
Tiang hariku terlalu
rapuh untuk kau panjat
Harapmu tak sekarib
praduga hati
Lalu
Biarlah kusimpan sendiri
sebab tuju datangku
pada diam matahari
Aby Santika II
BANDUNG,
12 AGUSTUS 2011
Sebundar matahari tampan
bentuk kornea jelalatmu
Lihai meliuk-liuk
cerdik menangkap
arah kedatanganku
Untuk kali pertama
rambutmu menggulung hitam
ranting airmata mengkonde ikal
senyumnya
Kepulanganku
bukan sekira kau duga
hingga cemas tersungging
senyum
sembunyi
Jika ini takdirku
maka dekatkanlah
pada jangkau yang hampir
terbuang
Duhai kekasih
Tiang hariku terlalu
rapuh untuk kau panjat
Harapmu tak sekarib
praduga hati
Lalu
Biarlah kusimpan sendiri
sebab tuju datangku
pada diam matahari
Aby Santika II
BANDUNG,
12 AGUSTUS 2011
KEBENARAN
Kulihat rembulan bercermin
diantara malam
bersua andai-andai
kebenaran atau kebohongan
Parit-parit kecil melarikan
air mata yang hendak
menunda perantauan nya
Pada sebuah gelisah
pertanyaanku mengongkang
kaki
mencibir dengki
Adakah malam
memuntahkan bualnya
ketika rembulan mengintograsi
jujur
Kulihat
kaca-kaca menyepi malu
ketika paras rembulan
adalah pesona
tentang idealisme
memarkir rantau airmata
Sementara,
candu kian meneror sebab
kebenarankah atau
bualan semata ?
Aby Santika II
BANDUNG,
11 AGUSTUS 2011
diantara malam
bersua andai-andai
kebenaran atau kebohongan
Parit-parit kecil melarikan
air mata yang hendak
menunda perantauan nya
Pada sebuah gelisah
pertanyaanku mengongkang
kaki
mencibir dengki
Adakah malam
memuntahkan bualnya
ketika rembulan mengintograsi
jujur
Kulihat
kaca-kaca menyepi malu
ketika paras rembulan
adalah pesona
tentang idealisme
memarkir rantau airmata
Sementara,
candu kian meneror sebab
kebenarankah atau
bualan semata ?
Aby Santika II
BANDUNG,
11 AGUSTUS 2011
Jumat, 12 Agustus 2011
AKU UNTUKMU
Satu Dua hilang terbelah
Merembes ditepi hati
bersilsilah
Aku untukmu
Aku untuknya
Aku untuk mereka
Dan hari lusa
bergerak gempita sorai
lalu
kembali diam dengan
bisu masing-masing
Kembali tuli dengan
sunyi masing-masing
Aku untukmu
lalu
Aku untukmu
dan
masih untukmu
Kejaran lahap hati cekung
purbasangka risih
kepada ratusan tanya
Kamu mematah resah
dalam hardik
yang pulas ke alpaan sapa
Aku sadar memudar
pendar cahaya rembulan
memandikan inginku
Kadang pagi
juga malam
Aku untukmu
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
Merembes ditepi hati
bersilsilah
Aku untukmu
Aku untuknya
Aku untuk mereka
Dan hari lusa
bergerak gempita sorai
lalu
kembali diam dengan
bisu masing-masing
Kembali tuli dengan
sunyi masing-masing
Aku untukmu
lalu
Aku untukmu
dan
masih untukmu
Kejaran lahap hati cekung
purbasangka risih
kepada ratusan tanya
Kamu mematah resah
dalam hardik
yang pulas ke alpaan sapa
Aku sadar memudar
pendar cahaya rembulan
memandikan inginku
Kadang pagi
juga malam
Aku untukmu
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
SJAK CICAK PEMBIJAK
Dari pagi-pagi ribuan
jejak merendam hari,
akhir seteru hutan menghuni tanah pijak
lalu ,
Cicak-cicak menjadi bangkai ditepukan tangan-tangan pembijak
Lihatlah,
Pada masa sekarat ini
rambu berhala disembah-sembah
kasta aturan didakwa salah
Awam tatapan tak ikut pandang
melongok , terkadang
angguk-angguk mentaat pembijak meski nasib dapur semakin buruk
Kita bertuan,
Sementara tuan-tuan safari tidak merakyat,
Kita menginjak
negeri berkail jala
yang katanya dapat
menghidupi perut
Kemana ?
Cicak-cicak penjilat
mati dijentik jari pembijak
Lantas
Kentut-kentut
beraroma harum di istana indah
yang dibangun dari
bangkai kaum sengsara
Ribuan hari,
Ratusan tahun
pandangan tetap berseteru sama
Hutan menghukum rimba cicak-cicak
pembijak
Sedang Esok
jejak-jejak lengang
tanpa pijak
Mati sekarat ,
di berhala bijak tanpa hak
Antara kecil sama besar
dan besar sama kecil
Samarata
terkubur bersama
airmata tersayat
jerat
Aby Santika II
BANDUNG,
12 AGUSTUS 2011
jejak merendam hari,
akhir seteru hutan menghuni tanah pijak
lalu ,
Cicak-cicak menjadi bangkai ditepukan tangan-tangan pembijak
Lihatlah,
Pada masa sekarat ini
rambu berhala disembah-sembah
kasta aturan didakwa salah
Awam tatapan tak ikut pandang
melongok , terkadang
angguk-angguk mentaat pembijak meski nasib dapur semakin buruk
Kita bertuan,
Sementara tuan-tuan safari tidak merakyat,
Kita menginjak
negeri berkail jala
yang katanya dapat
menghidupi perut
Kemana ?
Cicak-cicak penjilat
mati dijentik jari pembijak
Lantas
Kentut-kentut
beraroma harum di istana indah
yang dibangun dari
bangkai kaum sengsara
Ribuan hari,
Ratusan tahun
pandangan tetap berseteru sama
Hutan menghukum rimba cicak-cicak
pembijak
Sedang Esok
jejak-jejak lengang
tanpa pijak
Mati sekarat ,
di berhala bijak tanpa hak
Antara kecil sama besar
dan besar sama kecil
Samarata
terkubur bersama
airmata tersayat
jerat
Aby Santika II
BANDUNG,
12 AGUSTUS 2011
Kamis, 11 Agustus 2011
JIKA AJALKU SETIBA DEKAT
Jangan gusar sendirimu
biarkan lekat
di jatuhnya waktu
Memisahkan getar
mengepung kengerian
Kerana gagahmu ibarat
Serigala perkasa
meronda malam ,
menjaga searah tiba
Wahai kabar kelelawar liar
betapa sekaratnya ajal
Anjing waktu menyerbu
dekat kematianku
Selebihnya yang kuingini
adalah :
Penopang mutlak ranjang
berminyak wangi
tanpa wajah menggerombol
abadi
Langit terkelupas membelah
ditengah bumi menghunus
bilah belati melilit leher duka
Garis-garis lenggang membunuh
denyut jantungku
demi anak darah melukai
zasad ku
Jika ajalku mewangi
Jangan gusar sendirimu
Lutut-lutut mencium remuk
pasir-pasir merah
menelan air seteguk sesal
Gagahmu turut berlalu
Keganasannya membeku
ratap
Jika ajalku setiba dekat
kegembiraan mereka
menunggu pula
Bagaikan kita
Aby Santika II
BANDUNG,
11 AGUSTUS 2011
biarkan lekat
di jatuhnya waktu
Memisahkan getar
mengepung kengerian
Kerana gagahmu ibarat
Serigala perkasa
meronda malam ,
menjaga searah tiba
Wahai kabar kelelawar liar
betapa sekaratnya ajal
Anjing waktu menyerbu
dekat kematianku
Selebihnya yang kuingini
adalah :
Penopang mutlak ranjang
berminyak wangi
tanpa wajah menggerombol
abadi
Langit terkelupas membelah
ditengah bumi menghunus
bilah belati melilit leher duka
Garis-garis lenggang membunuh
denyut jantungku
demi anak darah melukai
zasad ku
Jika ajalku mewangi
Jangan gusar sendirimu
Lutut-lutut mencium remuk
pasir-pasir merah
menelan air seteguk sesal
Gagahmu turut berlalu
Keganasannya membeku
ratap
Jika ajalku setiba dekat
kegembiraan mereka
menunggu pula
Bagaikan kita
Aby Santika II
BANDUNG,
11 AGUSTUS 2011
DUKA TERTINGGAL DI MAHAKAM
Duka itu memanjat remuk bulan
terbelah ingatan di sungai
Mahakam
Lajur malam sekilat angin
seketika tangan-tangan mungil
melepas jabat
Duka itu melahir di tanggalan tua
Mahakam hanyut di genang
airmata
Ada fajar mengejar ucap :
Dik,
Tubuh gemuruh rindu
berkisah
Sementara renta sesak malam
sebuah pengingat
Hantamlah karang membatu di
alir air anak sungai mahakam
Tiada duka rebah
dipelipis matahari
Duka Rindu melepas
di pulau bersuka ria
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
terbelah ingatan di sungai
Mahakam
Lajur malam sekilat angin
seketika tangan-tangan mungil
melepas jabat
Duka itu melahir di tanggalan tua
Mahakam hanyut di genang
airmata
Ada fajar mengejar ucap :
Dik,
Tubuh gemuruh rindu
berkisah
Sementara renta sesak malam
sebuah pengingat
Hantamlah karang membatu di
alir air anak sungai mahakam
Tiada duka rebah
dipelipis matahari
Duka Rindu melepas
di pulau bersuka ria
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
Rabu, 10 Agustus 2011
SI KERDIL YANG CURANG
Kerdil membidik hak
tanpa aturan
selingkar tempurung kura-kura
Pengecualian ?
Kesumat lampah
apa sampah
Kencing merangkak
Anjing menjilat
semacam perumpamaan
lalu laku tanpa balas
Kerdil tambun
bundar menggelinding
ditendang- tendang
Secacing nyali .
Tak berkemaluan !!
Akh..
Nikmati minum kopi
dan sebatang Dji sam soe saja
sambil menonton
ketololan pembodoh
diri ..
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
tanpa aturan
selingkar tempurung kura-kura
Pengecualian ?
Kesumat lampah
apa sampah
Kencing merangkak
Anjing menjilat
semacam perumpamaan
lalu laku tanpa balas
Kerdil tambun
bundar menggelinding
ditendang- tendang
Secacing nyali .
Tak berkemaluan !!
Akh..
Nikmati minum kopi
dan sebatang Dji sam soe saja
sambil menonton
ketololan pembodoh
diri ..
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
ELEGI MELATI
Melati tak menjaga hati
dia setia memeluk batang
inginnya
Kadang kengerian
gugur kering adalah kiamat,
ruang kosong
juga kecapi sepi
Tapi pepohon adalah
kebijakan
membajak ajak-ajakan yang tak
berpihak
Gemetar dedaunan ibarat anjing
melengking sayat
memerih
perkasa direkayasa
Sepanjang hari mencari
dari dahan-dahan pojok sampai
mati letih
Melati sebatang perih
aku mati untuknya
dalam harum bius memabuk arak
Batang ingin tanggalan dipelepah
tunas gagal mengenaskan
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
dia setia memeluk batang
inginnya
Kadang kengerian
gugur kering adalah kiamat,
ruang kosong
juga kecapi sepi
Tapi pepohon adalah
kebijakan
membajak ajak-ajakan yang tak
berpihak
Gemetar dedaunan ibarat anjing
melengking sayat
memerih
perkasa direkayasa
Sepanjang hari mencari
dari dahan-dahan pojok sampai
mati letih
Melati sebatang perih
aku mati untuknya
dalam harum bius memabuk arak
Batang ingin tanggalan dipelepah
tunas gagal mengenaskan
Aby Santika II
BANDUNG,
10 AGUSTUS 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
PESONA NYI RANDA
Nyi Randa
Kesumat lara memaku dada
penjiarah goda molek pesona
Utara tengadah tajam
tujukan cerna memutar arah
Aku tak ingin datang padamu
dalam pergumulan purna sesajen birahi
juga sembah ulung
menggulung tukung
Nyi Randa
Dawai gamelan jawa bertautan
sayub jernih seruling bambu
Aku tetap terpaku diam
Sedemikian elok purnama memapah paras
Manis kecup memusar
antara urat-urat
Nyi Randa
pernah seketika mandi bermadu denganmu
hangat pancuran hasrat
mengalir deras tak terbendung
Aku tetap Diam
Jamuan pelepas lelah
disinggasana tak bertuan
Kau malu merayu kemaluan
Nyi Randa
Untuk segenap tuah pendosa
kesakitan datang memberang
pajangkan kisah adab
menzaman
Aku masih diam
Aby Santika II
BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011
Kesumat lara memaku dada
penjiarah goda molek pesona
Utara tengadah tajam
tujukan cerna memutar arah
Aku tak ingin datang padamu
dalam pergumulan purna sesajen birahi
juga sembah ulung
menggulung tukung
Nyi Randa
Dawai gamelan jawa bertautan
sayub jernih seruling bambu
Aku tetap terpaku diam
Sedemikian elok purnama memapah paras
Manis kecup memusar
antara urat-urat
Nyi Randa
pernah seketika mandi bermadu denganmu
hangat pancuran hasrat
mengalir deras tak terbendung
Aku tetap Diam
Jamuan pelepas lelah
disinggasana tak bertuan
Kau malu merayu kemaluan
Nyi Randa
Untuk segenap tuah pendosa
kesakitan datang memberang
pajangkan kisah adab
menzaman
Aku masih diam
Aby Santika II
BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011
AKU SEMBELIH FEBRUARI SILAM
Aku sembelih jalanan
dan belukar semak menghutan
Demikian aku terlentang
kuda-kuda perawan berlarian
Kendati pagi mengejar hujan
februari silam menyiram
Sebaris jelajah putaran zaman
Aku melahap bundar
matahari dengki
Aku sembelih gemuruh pasir sahara
gundukan bukit kilat
licin berminyak
Seperti jenazah menjasad bulan
dan Februari mati berkafan duka
Selebihnya perjumpaan dibelukar
menyimpan ribuan ranjang yang tak kutiduri utuh
Karena telah ku sembelih muka cacat menggumpal tawa
Juga
Februari sekarat mengukir darah
Aby Santika II
BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011
dan belukar semak menghutan
Demikian aku terlentang
kuda-kuda perawan berlarian
Kendati pagi mengejar hujan
februari silam menyiram
Sebaris jelajah putaran zaman
Aku melahap bundar
matahari dengki
Aku sembelih gemuruh pasir sahara
gundukan bukit kilat
licin berminyak
Seperti jenazah menjasad bulan
dan Februari mati berkafan duka
Selebihnya perjumpaan dibelukar
menyimpan ribuan ranjang yang tak kutiduri utuh
Karena telah ku sembelih muka cacat menggumpal tawa
Juga
Februari sekarat mengukir darah
Aby Santika II
BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011
SENANDUNG LIRIH TAK BERDAWAI
Kepada pengusung renta
Aku bicara perihal sebatang waktu
merangkum utuh sebuah rindu
misteri kejiwaan kasih nampak
utuh
Kejantanan sekedar diam
dirahimmu tangis saling
memandang,
Bernyanyi lirih dalam tirani
Aku terbengkalai,
terendam diujung pilu
Sedang,
Kau adalah seekor angsa
menatap lepas kepakkan irama
Aku ingin kembali pada janji
menikam dalam lorong-lorong
mencerna asmara
melayat rasa
membuang lacur jiwa
Kehidupan laksana layar kaca
menabur kilau resah berwarna
bersenandung lirih
derai sunyi
Bintang berbisik keteguhan hati
meraih kesembuhan
pada rindu
Menjantankan kelamin
kelelakianku
hingga sebatang waktu bersendawa
dalam senandung lirih
tak berdawai
Aby Santika II
BANDUNG,
09 AGUSTUS 2011
Senin, 08 Agustus 2011
AIRMATA LELAKI
Semacam sesak
dada berkabut linang
reguk setengah airmata
lelaki bujang
Duhai
perantau layar alamat
bisik terlalu peka
sayub bernada
tersesat arah bersekat
Kulihat bentuk rindu
tak sebulat bola mata
kira bergaris tangis membuang
pada cermin hati berkaca diri
kepantasan dalam memecah
mencari hati sesunyi
Dada bidang berserambi intai
juga bilik-bilik
mata-mata menawan
diam bisu
Semacam sesak
dengar umpat
melompat-lompat
dari lelaki bujang berkata pasrah
Tentang sesak
yang kian terbahak
Aby Santika II
BANDUNG,
08 AGUSTUS 2011
dada berkabut linang
reguk setengah airmata
lelaki bujang
Duhai
perantau layar alamat
bisik terlalu peka
sayub bernada
tersesat arah bersekat
Kulihat bentuk rindu
tak sebulat bola mata
kira bergaris tangis membuang
pada cermin hati berkaca diri
kepantasan dalam memecah
mencari hati sesunyi
Dada bidang berserambi intai
juga bilik-bilik
mata-mata menawan
diam bisu
Semacam sesak
dengar umpat
melompat-lompat
dari lelaki bujang berkata pasrah
Tentang sesak
yang kian terbahak
Aby Santika II
BANDUNG,
08 AGUSTUS 2011
MERABA MAKNA SEPI
Ku sengsarakan huruf
agar tak menyiakan diri
dimana harus kuhadapkan
hidup ?
Seimbang diam,
menghantam kantuk
Pohon mendengkur
meliang kubur
Tetapi didalam kosong
tertulis ucap tangis
Ambruk !!
mengelupas badan
Tak tahu jalan langit
Dusta,
Dosa mengandung rahim
Selayaknyalah sakit kuminta
sampah menyimpul
pikiran hidup
Apabila kalap terbuka,
masihkah akan menipu diri ?
Seandainya murung
melacur hati,
teka-teki menikmati ironi
Lantas,
Wajah berbaris
sembunyikan pisau
Maka,
Kutungkukan hidup
pada bara kesepian
diri
Aby Santika II
BANDUNG,
07 AGUSTUS 2011
Minggu, 07 Agustus 2011
CENGKRAMA MALAM
(I).
Sepertinya aku masih harus
mengatakan
tersimpan sebentuk telaga di
bawah alismu,
Sebab,
ketika kusinggahi ceruk
dan palung nafasmu
kudapati percikan angin lirih
kehangatan mengepul dari gelas
demi gelas
yang senantiasa kau sajikan pada
tiap beranda malam,
Ada bayangan purnama
menggaris derai tawa
ketika dingin kian merawankan
sepi.
Puntung-puntung galau berbaris
rapi dan sebentuk abu
tanpa terbengkalai di asbak
berjelaga
Barangkali,
keikhlasan itulah yang
selalu membimbing
kekagumanku pada sosokmu.
(II).
Untuk kali ini binar malam
merapuh di tonggak sadar
Sedang,
titipan musimmu ku
tanggal ibarat renda
penghias di sebaris untaian
angin,
hingga kebanggaanku
terselesaikan padamu
yang mampu memajang canda
Ketika lusuh melepuh
dalam lipatan saku dan kerah
bajumu,
Sementara yang aku tahu,
kasatku tak berdiri nyata untuk
menemuimu sosokmu,
Namun tak seperti puntung rokok
yang terkuliti
ketika hembus gigil,
Karena bagiku kau adalah alasan
dimana aku masih
terus merangkai bait-bait yang
berkeringat
(III).
Satu lagi kau hujamkan pada
sadarku, atas satu rendah pesona
yang kian mendayuh
langkakahku dikala bimbang
Mengawali
paragraf indah tentangmu,
hingga jeda adalah sebuah sesal
ketika selusur prosa
tentang hadiratmu melantun lirih
di baris setengah malam
Maka,
tolong Kutipkanlah sepasi
dalam puisimu ,
agar kelak ku terabas detailnya,
hingga arahku sempurna
Tepat sejengkal sahajamu !!
Aby Santika II
BANDUNG,
05 MEI 2011
Sepertinya aku masih harus
mengatakan
tersimpan sebentuk telaga di
bawah alismu,
Sebab,
ketika kusinggahi ceruk
dan palung nafasmu
kudapati percikan angin lirih
kehangatan mengepul dari gelas
demi gelas
yang senantiasa kau sajikan pada
tiap beranda malam,
Ada bayangan purnama
menggaris derai tawa
ketika dingin kian merawankan
sepi.
Puntung-puntung galau berbaris
rapi dan sebentuk abu
tanpa terbengkalai di asbak
berjelaga
Barangkali,
keikhlasan itulah yang
selalu membimbing
kekagumanku pada sosokmu.
(II).
Untuk kali ini binar malam
merapuh di tonggak sadar
Sedang,
titipan musimmu ku
tanggal ibarat renda
penghias di sebaris untaian
angin,
hingga kebanggaanku
terselesaikan padamu
yang mampu memajang canda
Ketika lusuh melepuh
dalam lipatan saku dan kerah
bajumu,
Sementara yang aku tahu,
kasatku tak berdiri nyata untuk
menemuimu sosokmu,
Namun tak seperti puntung rokok
yang terkuliti
ketika hembus gigil,
Karena bagiku kau adalah alasan
dimana aku masih
terus merangkai bait-bait yang
berkeringat
(III).
Satu lagi kau hujamkan pada
sadarku, atas satu rendah pesona
yang kian mendayuh
langkakahku dikala bimbang
Mengawali
paragraf indah tentangmu,
hingga jeda adalah sebuah sesal
ketika selusur prosa
tentang hadiratmu melantun lirih
di baris setengah malam
Maka,
tolong Kutipkanlah sepasi
dalam puisimu ,
agar kelak ku terabas detailnya,
hingga arahku sempurna
Tepat sejengkal sahajamu !!
Aby Santika II
BANDUNG,
05 MEI 2011
SENJA MENADAH MUAK
Ini senja mengaduk bentuk
tiba merana keranjang lajang
Hasil senyum menadah kuncup
bersama abai jawab
inginnya
Permainan kebenaran
murni berkata
kesadaran terjaga iba
kegilaanku
Bangunlah !
Remuk memanjat utuh
Adalah seikat tabiat
mengkuntum mawar
bersama samar
Sebab,
Mimpi masih tegeletak
dipinggir-pinggir
di arsir garis dahi
Ini senja cerita manja
membunuh ahlak
sekira muak mengarak
Dia tinggal di matahari
bersama mati sesadar ingat
Aby Santika II
BANDUNG,
06 AGUSTUS 2011
tiba merana keranjang lajang
Hasil senyum menadah kuncup
bersama abai jawab
inginnya
Permainan kebenaran
murni berkata
kesadaran terjaga iba
kegilaanku
Bangunlah !
Remuk memanjat utuh
Adalah seikat tabiat
mengkuntum mawar
bersama samar
Sebab,
Mimpi masih tegeletak
dipinggir-pinggir
di arsir garis dahi
Ini senja cerita manja
membunuh ahlak
sekira muak mengarak
Dia tinggal di matahari
bersama mati sesadar ingat
Aby Santika II
BANDUNG,
06 AGUSTUS 2011
Sabtu, 06 Agustus 2011
BERTAMU,BERTEMU TUHAN
Kita bertamu dengan Tuhan
dengan layar secangkir rapat
Bicara berjasad tiba
bujang amalan
berduka mata
Melepas tuli
membungkam bisu
kaki terkunci
mengikat tangan
Lantang membenam
semacam gusar
Aku bertemu Tuhan
Perjamuan sejati di tuah bisik pincang
melenggang-lenggang
Barangkali
kecap jemari melidah api
tersentak raga
Dalam Engkau
aku terdaya arah
Dalam sebab dakwah
bumi tenggelam
Bertemu dengan Tuhan
dahagakan kasih
laparkan rinduNya
Bertamu pada Tuhan
pertemuan diam
sebab Rahmat-Nya
Aby Santika II
BANDUNG,
O6 JULI 2011
dengan layar secangkir rapat
Bicara berjasad tiba
bujang amalan
berduka mata
Melepas tuli
membungkam bisu
kaki terkunci
mengikat tangan
Lantang membenam
semacam gusar
Aku bertemu Tuhan
Perjamuan sejati di tuah bisik pincang
melenggang-lenggang
Barangkali
kecap jemari melidah api
tersentak raga
Dalam Engkau
aku terdaya arah
Dalam sebab dakwah
bumi tenggelam
Bertemu dengan Tuhan
dahagakan kasih
laparkan rinduNya
Bertamu pada Tuhan
pertemuan diam
sebab Rahmat-Nya
Aby Santika II
BANDUNG,
O6 JULI 2011
SI CICAK MALANG
Cicak berdendang
didinding lenggang
pantat bergoyang
selidik mangsa menghadang
Cicak
menjiplak gaya
serdadu gerilya
merayap-rayap
dan Tangkap !!
Lidah menjulur
lawan tersungkur
gerak maju mundur
irama tak beratur
Cicak membentak
lawan menjebak
bau berak-berak
cicak tersentak
Cicak terjatuh
lawan tawa angkuh
Cicak merangkak
terinjak- injak
dimangsa katak
Aby Santika II
BANDUNG,
30 JULI 2011
didinding lenggang
pantat bergoyang
selidik mangsa menghadang
Cicak
menjiplak gaya
serdadu gerilya
merayap-rayap
dan Tangkap !!
Lidah menjulur
lawan tersungkur
gerak maju mundur
irama tak beratur
Cicak membentak
lawan menjebak
bau berak-berak
cicak tersentak
Cicak terjatuh
lawan tawa angkuh
Cicak merangkak
terinjak- injak
dimangsa katak
Aby Santika II
BANDUNG,
30 JULI 2011
SYAIR BUMI
Bumi itu bersyair :
Bersetubuh seteru kasta
Rantai rohani mencakar pijak
perjalanan tanpa sebab
Dikaki landai
hakiki manusia pada agitasi
pesakit jiwa
...
Aku , Kamu , Dia dan Mereka
Adalah KITA
Menggantung
Egoisme
Atas maha cipta semesta
Kita ,
atas nama Hidup-Nya
Tafakur pijak diputar
bumi
Aby Santika
BANDUNG,
25 JUNI 2011
Bersetubuh seteru kasta
Rantai rohani mencakar pijak
perjalanan tanpa sebab
Dikaki landai
hakiki manusia pada agitasi
pesakit jiwa
...
Aku , Kamu , Dia dan Mereka
Adalah KITA
Menggantung
Egoisme
Atas maha cipta semesta
Kita ,
atas nama Hidup-Nya
Tafakur pijak diputar
bumi
Aby Santika
BANDUNG,
25 JUNI 2011
TERSESAT ANTARA DAMAI-TAKDIR
Lalu,
Semenjak rindu bersenyawa
ditelunjuk takdir
Sebaris itu pula kegilaanku mengamnesia kan nikmat
akan halusinasi gambar sosokmu
Sedang,
Sadar segaris centi mistar dengan
airmata
Wajah waktu kian keriput
mengakar tanya pada lipatannya
Sempatkah kau titipkan
senyummu diujung
jalan pulangku ?
Dan esok,
Aku masih tersesat
diantara tiga persimpangan
arah
menuju kedamaian lelap
Aby Santika II
BANDUNG,
30 MEI 2011
Semenjak rindu bersenyawa
ditelunjuk takdir
Sebaris itu pula kegilaanku mengamnesia kan nikmat
akan halusinasi gambar sosokmu
Sedang,
Sadar segaris centi mistar dengan
airmata
Wajah waktu kian keriput
mengakar tanya pada lipatannya
Sempatkah kau titipkan
senyummu diujung
jalan pulangku ?
Dan esok,
Aku masih tersesat
diantara tiga persimpangan
arah
menuju kedamaian lelap
Aby Santika II
BANDUNG,
30 MEI 2011
PAGI ADALAH RAJAWALI
Pagi adalah Rajawali
berkaki duri hinggap ditangkai matahari
Mencuri sepi
Menantang petang,
menjadikan hilang,
Pagi aksara mengantri berdiri
dihalaman kertas berisi
Kabar menari
mata menganga
Rajawali mencaci
cakar merobek duka
kabar pagi esok
mentari hanguskan malam
Pendosa berkuasa
penjinah bertitah
Pagi adalah rajawali
berkaki luka
Terbakar Matahari
berarak mati
Di sangkar jeruji hari
tanpa nurani
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011
berkaki duri hinggap ditangkai matahari
Mencuri sepi
Menantang petang,
menjadikan hilang,
Pagi aksara mengantri berdiri
dihalaman kertas berisi
Kabar menari
mata menganga
Rajawali mencaci
cakar merobek duka
kabar pagi esok
mentari hanguskan malam
Pendosa berkuasa
penjinah bertitah
Pagi adalah rajawali
berkaki luka
Terbakar Matahari
berarak mati
Di sangkar jeruji hari
tanpa nurani
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011
AKU TERIKSA SENJA
Hatiku sejurus kelana senja
renggang memangku sekar tertutup
dalam rupa
menepuk bumi
lari pulang senyap merayap
Dikipasi angin mabuk terberai
berbuni
undur awan berpamit
sebatang diri bertemu mata
Puan melingkar dibundar dada
Tinggalah hati memungut senja
melepas rindu sebelum maut
Birahi segera berduka
mengapa tak kujadikan sebagai
tujuanku
Seluruh aku teriksa senja
Kudengar cermin berkaca buta
telinga berpaling,wajah melepas
semacam ajal
pincang menimpa
Aku teriksa senja seluruh
Membenam gelas sepenuh
kosong
tinggalkan ampun
memberi sepi
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
renggang memangku sekar tertutup
dalam rupa
menepuk bumi
lari pulang senyap merayap
Dikipasi angin mabuk terberai
berbuni
undur awan berpamit
sebatang diri bertemu mata
Puan melingkar dibundar dada
Tinggalah hati memungut senja
melepas rindu sebelum maut
Birahi segera berduka
mengapa tak kujadikan sebagai
tujuanku
Seluruh aku teriksa senja
Kudengar cermin berkaca buta
telinga berpaling,wajah melepas
semacam ajal
pincang menimpa
Aku teriksa senja seluruh
Membenam gelas sepenuh
kosong
tinggalkan ampun
memberi sepi
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
Jumat, 05 Agustus 2011
APA KABARMU KAWAN KARIB ?
Ku mengabar segenggam berita
pada gusar angin ditepi hari
Untukmu kawan
Yang berperang dirantau musim
Seketika samarmu
merindu derai tawa
lalu
Tentang perahu kertas
yang hanyut disungai bukit bertanah landai
Juga tentang layang-layang
membentang bebas irama karib
Potretmu meraja dibingkai hati
setia berbagi diantara
bahagia dan perih
Apa kabar kawan bersajak aku ?
Semoga kemenangan pertemukan kita
dikemudian hari
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
pada gusar angin ditepi hari
Untukmu kawan
Yang berperang dirantau musim
Seketika samarmu
merindu derai tawa
lalu
Tentang perahu kertas
yang hanyut disungai bukit bertanah landai
Juga tentang layang-layang
membentang bebas irama karib
Potretmu meraja dibingkai hati
setia berbagi diantara
bahagia dan perih
Apa kabar kawan bersajak aku ?
Semoga kemenangan pertemukan kita
dikemudian hari
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
LELAKI DUSUN
Lelaki dusun
menimbun rindu
daun berjatuh terkumpul rimbun
Ketika sunyi bernyanyi
digembala liar
Bercerita serunai
ternak berpadu
rindu melambung
jauh di gunung
Rindumu rindu buta
kawan !!
Sahabat karib menasehat iba
Permaisuri disunting
saudagar muda
Dahi menggaris
kerut cemberut
tatap sayu berjatuh
pilu
Lelaki dusun
tertegun lesu
daun mengering
terbawa angin
Harap dilahap
mati merindu
Aby Santika II
BANDUNG,
30 JULI 2011
menimbun rindu
daun berjatuh terkumpul rimbun
Ketika sunyi bernyanyi
digembala liar
Bercerita serunai
ternak berpadu
rindu melambung
jauh di gunung
Rindumu rindu buta
kawan !!
Sahabat karib menasehat iba
Permaisuri disunting
saudagar muda
Dahi menggaris
kerut cemberut
tatap sayu berjatuh
pilu
Lelaki dusun
tertegun lesu
daun mengering
terbawa angin
Harap dilahap
mati merindu
Aby Santika II
BANDUNG,
30 JULI 2011
DUHAI PAGI YANG TAMBUN
Selamat datang duhai
pagi bertubuh tambun
Langkah mengayun di
alang-alang
Mengandung embun dari rahim tua
Tambunmu Bukan obesitas rakus
melahap malam
Juga bukan busung rindu yang
lapar manja matahari
Gigil wajah berkantung kemih
perih
Anak-anak gelisah terlahir tiba
kapannya
...
Duhai pagi yang membilang kaki
Akankah tebar aroma kaos kaki
membunuh wangi melati
Bersama hati diantara hari
Aby Santika II
BANDUNG,
01 AGUSTUS 2011
pagi bertubuh tambun
Langkah mengayun di
alang-alang
Mengandung embun dari rahim tua
Tambunmu Bukan obesitas rakus
melahap malam
Juga bukan busung rindu yang
lapar manja matahari
Gigil wajah berkantung kemih
perih
Anak-anak gelisah terlahir tiba
kapannya
...
Duhai pagi yang membilang kaki
Akankah tebar aroma kaos kaki
membunuh wangi melati
Bersama hati diantara hari
Aby Santika II
BANDUNG,
01 AGUSTUS 2011
RAPAT
Rapat !
umbar sana-sini
bijaksana
bajik tiada
Telinga berkantung kebal
Rencana !
Olah rasa
tak meraba
Asyik berceloteh
palu diketuk
jidat bersolek
Kawan mendengkur
Nurani tercebur
Dewan perwakilan
siapa ?
Mewakili birahi
bokep dievaluasi
Rapat !
Organisasi
berdiri arogansi
Katup pembual
berjubal-jubal
Aby Santika II
BANDUNG,
28 JULI 2011
umbar sana-sini
bijaksana
bajik tiada
Telinga berkantung kebal
Rencana !
Olah rasa
tak meraba
Asyik berceloteh
palu diketuk
jidat bersolek
Kawan mendengkur
Nurani tercebur
Dewan perwakilan
siapa ?
Mewakili birahi
bokep dievaluasi
Rapat !
Organisasi
berdiri arogansi
Katup pembual
berjubal-jubal
Aby Santika II
BANDUNG,
28 JULI 2011
WAKTU MERINDU
Untukmu kasih
membungkam tanya antara ada
dan ketiadaan
Ku hukum waktu
dalam rengkuh busur rindu
memburu pemikiran kerdil
Berkelana di entah gelisah
Menari riang dibusur panah yang
siap membunuhku
Betapa nikmatnya telunjuk takdir
menempatkan Aku diujung pilu
Ingin ku hukum waktu
merindumu kasih dalam hentak
airmata yang meng_ibu
Jika dendam tak lagi bungkam
maka,
ijinkan ku hukum waktu
Aby Santika II
BANDUNG,
03 JULI 2011
membungkam tanya antara ada
dan ketiadaan
Ku hukum waktu
dalam rengkuh busur rindu
memburu pemikiran kerdil
Berkelana di entah gelisah
Menari riang dibusur panah yang
siap membunuhku
Betapa nikmatnya telunjuk takdir
menempatkan Aku diujung pilu
Ingin ku hukum waktu
merindumu kasih dalam hentak
airmata yang meng_ibu
Jika dendam tak lagi bungkam
maka,
ijinkan ku hukum waktu
Aby Santika II
BANDUNG,
03 JULI 2011
Kamis, 04 Agustus 2011
ANJING GILA MENGGILAIKU
Anjing-anjing itu kembali
menjulur lidahnya di muka ku !!
Anjing kudisan !!
Anjing sialan !!
Anjing jalang !!
Melintas di kegilaanku yang
semakin gila
meludahi bangkai cintaku yang
telah lama mati !!
Anjing itu
telah lama ku bunuh dari
ingatanku !!
Anjing itu telah melacuri
birahiku !!
Jalang anjing
laknat anjing ,
Kenapa kau kembali datang
menjilati cintaku yang masih
milikmu , Anjing !!
Aby Santika II
BANDUNG,
23 JULI 2011
menjulur lidahnya di muka ku !!
Anjing kudisan !!
Anjing sialan !!
Anjing jalang !!
Melintas di kegilaanku yang
semakin gila
meludahi bangkai cintaku yang
telah lama mati !!
Anjing itu
telah lama ku bunuh dari
ingatanku !!
Anjing itu telah melacuri
birahiku !!
Jalang anjing
laknat anjing ,
Kenapa kau kembali datang
menjilati cintaku yang masih
milikmu , Anjing !!
Aby Santika II
BANDUNG,
23 JULI 2011
SETIAKU UNTUKMU,BU
Bu,
lantikkan namamu masih
menyemat dipundakku
pada saat lahap undak rindu
mengkluminasi
sosokmu menafsir terik menjadi
teduh
Bu,
ketahuilah tiangku belum
menjengkal mili dari pancagnya
angka-angka tak ubahnya
bilangan yang masih kau eja
lafalannya
Bu,
masih berjelaga rindu
berairmata
yang mengisi kolam penampung
luka untukku
Bu,
sandarkan rindumu di serambi
harap
kelak aku jumpai kau disana
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011
lantikkan namamu masih
menyemat dipundakku
pada saat lahap undak rindu
mengkluminasi
sosokmu menafsir terik menjadi
teduh
Bu,
ketahuilah tiangku belum
menjengkal mili dari pancagnya
angka-angka tak ubahnya
bilangan yang masih kau eja
lafalannya
Bu,
masih berjelaga rindu
berairmata
yang mengisi kolam penampung
luka untukku
Bu,
sandarkan rindumu di serambi
harap
kelak aku jumpai kau disana
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011
WANITA PAGI
Wanita pagi mengembang
layang
selendang wangi
terbayang-bayang
Amboi !
Ronanya memerah jambu
membumbui angin
berdendang riang
Bibir senyum tertinggal
distasiun senja menghilang
Wanita pagi
jalang membilang
upah ketuban terbuang
Siapa dia menghamba malam
menggarami laut
berair bening
bak rayu sayang
Wanita pagi
berdandan pucat
parfum barus
gaun kafan berhias
Mati dipeluk tuan
berkumis
Aby Santika II
BANDUNG,
24 JULI 2011
layang
selendang wangi
terbayang-bayang
Amboi !
Ronanya memerah jambu
membumbui angin
berdendang riang
Bibir senyum tertinggal
distasiun senja menghilang
Wanita pagi
jalang membilang
upah ketuban terbuang
Siapa dia menghamba malam
menggarami laut
berair bening
bak rayu sayang
Wanita pagi
berdandan pucat
parfum barus
gaun kafan berhias
Mati dipeluk tuan
berkumis
Aby Santika II
BANDUNG,
24 JULI 2011
TAHI JELATA TAK BERKASTA
Tahukah
tahiku lebih manis ?
Cicipi muslihat berak dimeja
birokrat
Tutupi bangkai penciuman
anjing-anjing bermercy
Ku jilati saja tahi mereka
biar menjerit kehilangan tahi
yang dibingkis safari
Tahi
bercecer digedung berlantai
puluhan
Aku malu
karna tahiku lebih harum dari
tahi mereka,
Biar kuhormati
karena tahi kita sama bernama Tahi
Dan
aku bersukur
sebab tahiku tak berkasta rendah
Aby Santika II
BANDUNG,
25 JULI 2011
tahiku lebih manis ?
Cicipi muslihat berak dimeja
birokrat
Tutupi bangkai penciuman
anjing-anjing bermercy
Ku jilati saja tahi mereka
biar menjerit kehilangan tahi
yang dibingkis safari
Tahi
bercecer digedung berlantai
puluhan
Aku malu
karna tahiku lebih harum dari
tahi mereka,
Biar kuhormati
karena tahi kita sama bernama Tahi
Dan
aku bersukur
sebab tahiku tak berkasta rendah
Aby Santika II
BANDUNG,
25 JULI 2011
RINDU TUAN BERWAJAH GARANG
Ribuan lalu Tuan datang
berbicara lantang tanpa kepalang
menantang Abang membawa
parang
Uang siapa yang Abang bawa ?
Si Malang jalang penjiarah Hutang
Tiba kepala darah bernyawa
jelata kelayap mencari pasang
Di masa ini
fasih berbusa-busa
Tuan Lantang tak jua Ada
berkelumit mulut mengemis
apa ?
Parang bengkok digondol Maling
Uang melintas tanpa
ferboden
Malang jelalat
Mati sekarat
Aby Santika II
BANDUNG,
27 JULI 2011
berbicara lantang tanpa kepalang
menantang Abang membawa
parang
Uang siapa yang Abang bawa ?
Si Malang jalang penjiarah Hutang
Tiba kepala darah bernyawa
jelata kelayap mencari pasang
Di masa ini
fasih berbusa-busa
Tuan Lantang tak jua Ada
berkelumit mulut mengemis
apa ?
Parang bengkok digondol Maling
Uang melintas tanpa
ferboden
Malang jelalat
Mati sekarat
Aby Santika II
BANDUNG,
27 JULI 2011
BULAN MENGARAK AHLAK
Pada bulan ke enam di masa silam
ahlak di arak bersuka ria
berak menambal lapar memelas
Dengarlah
riuh sisa pesta pora masih
bergemuruh
Dua empat lompatan bulan
terlewat
membekas noda tak jua reda
Menyadap getah lengket di paha
layak madu berkelimis isap
tak tersisa
Pada bulan ke enam di hitungan lalu
Malu di elu-elu tak tau malu
Rasai lumut menghumus
terjerumus rakus
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JUNI 2011
ahlak di arak bersuka ria
berak menambal lapar memelas
Dengarlah
riuh sisa pesta pora masih
bergemuruh
Dua empat lompatan bulan
terlewat
membekas noda tak jua reda
Menyadap getah lengket di paha
layak madu berkelimis isap
tak tersisa
Pada bulan ke enam di hitungan lalu
Malu di elu-elu tak tau malu
Rasai lumut menghumus
terjerumus rakus
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JUNI 2011
PINGGIR UTARA CICALENGKA
Mengeja paras yang kumal
pinggir utara Cicalengka
Cengkrama bocah berseling senda
mengiba mata
Kaki-kaki kecil telanjang riang
mengukir jalanan
Tanpa hirau jerat takdir menjarak
dekat
Kau lahir dari rahim langit
dan besar di pangkuan bumi
Bocah penghias kota kita ,
atau Benalu pengerat dompet Si
kaya ?
Pinggir utara kota Cicalengka
Tubuhmu masih terbaring di
pesakitan yang sama
Aby Santika II
BANDUNG,
19 JULI 2011
pinggir utara Cicalengka
Cengkrama bocah berseling senda
mengiba mata
Kaki-kaki kecil telanjang riang
mengukir jalanan
Tanpa hirau jerat takdir menjarak
dekat
Kau lahir dari rahim langit
dan besar di pangkuan bumi
Bocah penghias kota kita ,
atau Benalu pengerat dompet Si
kaya ?
Pinggir utara kota Cicalengka
Tubuhmu masih terbaring di
pesakitan yang sama
Aby Santika II
BANDUNG,
19 JULI 2011
HORMATKU BAPAK BERSERAGAM
Pelor-pelor meneror molor
Gencat menggencat angkat senjata
Serdadu berkapak tiga
Atau Preman penjambret harta
Rendahmu sama tinggi, Bung !!
Seragam negara tak sama beda
Kuli dipasar ,calo terminal
Mengayomi atau mengganjangi ?
Mengabdi atau mengada-ngada ?
Bintang jendralmu jatuh derajat
Turun kejalan
kerja sampingan
Uang tak dikeranjang
Tilang menelanjang
Nyata ada bukan cerita
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
Gencat menggencat angkat senjata
Serdadu berkapak tiga
Atau Preman penjambret harta
Rendahmu sama tinggi, Bung !!
Seragam negara tak sama beda
Kuli dipasar ,calo terminal
Mengayomi atau mengganjangi ?
Mengabdi atau mengada-ngada ?
Bintang jendralmu jatuh derajat
Turun kejalan
kerja sampingan
Uang tak dikeranjang
Tilang menelanjang
Nyata ada bukan cerita
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
TUAN BER"ANU" BESAR
Tuan maha Anu
besarmu tak sama rata
perhelat dakwa mengadil Anu tak
setara rasa
Kanan melamban ketuban
pecah terkira punggawa layu
Kiri mencaci takdir
tabiat Anu Tuanku
bersendawa merdu
Anu ,
serupa itu ?
Pada janji bisu
berkaki pincang
Aku prosakan perkosaan
karakter mati
dalam diksi ilusi pada ingin-ingin
yang seriuh angin
Agar ejakulasi puisi
membunuh Anu-Anu
yang berkeliar tak bertuan
Aby Santika II
BANDUNG,
30 JULI 2011
besarmu tak sama rata
perhelat dakwa mengadil Anu tak
setara rasa
Kanan melamban ketuban
pecah terkira punggawa layu
Kiri mencaci takdir
tabiat Anu Tuanku
bersendawa merdu
Anu ,
serupa itu ?
Pada janji bisu
berkaki pincang
Aku prosakan perkosaan
karakter mati
dalam diksi ilusi pada ingin-ingin
yang seriuh angin
Agar ejakulasi puisi
membunuh Anu-Anu
yang berkeliar tak bertuan
Aby Santika II
BANDUNG,
30 JULI 2011
KEBENARAN YANG SETIA
Kebenaran berkawan tajam lidah kelu
Mendarat layang buai
sekira camar berkepala rusa
Lantas berontak kata
tak semesti diam tanpa gerak
Candu !
Alur cerita nampak berbumbu pedas
hingga hidup enggan
meneruskan geliat
Dimana kebenaran yang setia ?
Serupa kekasih menunggangi
tenggelam matahari
menuju belahan hati
Dimana camar tak lagi kiasan
bermoncong Rusa
Sebab
kebenaran adalah niat hati
Aby Santika II
BANDUNG,
02 AGUSTUS 2011
Mendarat layang buai
sekira camar berkepala rusa
Lantas berontak kata
tak semesti diam tanpa gerak
Candu !
Alur cerita nampak berbumbu pedas
hingga hidup enggan
meneruskan geliat
Dimana kebenaran yang setia ?
Serupa kekasih menunggangi
tenggelam matahari
menuju belahan hati
Dimana camar tak lagi kiasan
bermoncong Rusa
Sebab
kebenaran adalah niat hati
Aby Santika II
BANDUNG,
02 AGUSTUS 2011
DAWAI BINTANG FAJAR
Dawai bintang fajar
sesunyi itu sahut damai tanpa nada
Membunuh pembuluh
dengar hingar bisu menggerutu
Pendewasaan pagi beramuba
bintang pengembara
di negeri Asing
Sementara rindu menali jangkau
tentang nama yang tertidur pulas
Aku kah matahari ?
Bertanya pada gerimis
yang sesekali deras memburu
Lalu kau adalah siang
yang melahir rahim bintang tumbuh
Hingga kurecah tangis
diantara dawai
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
sesunyi itu sahut damai tanpa nada
Membunuh pembuluh
dengar hingar bisu menggerutu
Pendewasaan pagi beramuba
bintang pengembara
di negeri Asing
Sementara rindu menali jangkau
tentang nama yang tertidur pulas
Aku kah matahari ?
Bertanya pada gerimis
yang sesekali deras memburu
Lalu kau adalah siang
yang melahir rahim bintang tumbuh
Hingga kurecah tangis
diantara dawai
Aby Santika II
BANDUNG,
04 AGUSTUS 2011
DONGENG KEMENANGAN KETIKA SENJA
Maknai dongeng mimpi terbeli
senja
Sebatu diam lajur menyusul
Masih tentang undak kepala
tunduk lusuh menelan terik
Dongeng nungging
berak di bumi
Sedang kemenangan
penghujung senja
Kemenangan siapa ?
Dongeng masih berupa episode
Kita menengadah hidang
Mereka puasa petang
Berputar pagi siang
Ke petang
Maknai makna
sebagian tak bermakna
Dan esok
Cerita ini masih tetap tertawa
Aby Santika II
BANDUNG ,
04 AGUSTUS 2011
senja
Sebatu diam lajur menyusul
Masih tentang undak kepala
tunduk lusuh menelan terik
Dongeng nungging
berak di bumi
Sedang kemenangan
penghujung senja
Kemenangan siapa ?
Dongeng masih berupa episode
Kita menengadah hidang
Mereka puasa petang
Berputar pagi siang
Ke petang
Maknai makna
sebagian tak bermakna
Dan esok
Cerita ini masih tetap tertawa
Aby Santika II
BANDUNG ,
04 AGUSTUS 2011
KEKASIH TERLAKNAT
Ada rekah merekat ingat
merah gerah senyum keringat
Antara kau jalan kota-kota
bernoda lunta
kutitip rindu semata wayang
Oh terkasih
bukankah telah kau jual mimpi-mimpi kita ?
Pada wajah beratap bakung
juga tubuh berdada cekung
Oh terlaknat
Khianat lupa dibarisan alpamu ?
Atau sekedar radar membidik
sasar meroboh pertahananku
Kita wariskan saja teka-tekimu
pada ingat-ingat yang merayap
Aby Santika II
BANDUNG ,
05 AGUSTUS 2011
merah gerah senyum keringat
Antara kau jalan kota-kota
bernoda lunta
kutitip rindu semata wayang
Oh terkasih
bukankah telah kau jual mimpi-mimpi kita ?
Pada wajah beratap bakung
juga tubuh berdada cekung
Oh terlaknat
Khianat lupa dibarisan alpamu ?
Atau sekedar radar membidik
sasar meroboh pertahananku
Kita wariskan saja teka-tekimu
pada ingat-ingat yang merayap
Aby Santika II
BANDUNG ,
05 AGUSTUS 2011
SUMPAL AKU
Sumpal lah kau setenang diam
Mulut umpat berkata caci
"Aku sajak sejalan nyata"
Suka aku sesukamu
Benci aku banci aksara
Pandangi kau tak bercelana
Malu tahu pura-pura bisu
"Aku kata pembual jadah"
Matilah kau semati kutu
Lubang digali dosa tak muat
Setenang kau lampah berhias
Serapah cermin membusuk diri
"Aku dan Kau berpandang
lenggang"
Sumpal lah Aku setenang diam
Berkata kepada Tuhan
Aby Santika II
BANDUNG,
05 AGUSTUS 2011
Mulut umpat berkata caci
"Aku sajak sejalan nyata"
Suka aku sesukamu
Benci aku banci aksara
Pandangi kau tak bercelana
Malu tahu pura-pura bisu
"Aku kata pembual jadah"
Matilah kau semati kutu
Lubang digali dosa tak muat
Setenang kau lampah berhias
Serapah cermin membusuk diri
"Aku dan Kau berpandang
lenggang"
Sumpal lah Aku setenang diam
Berkata kepada Tuhan
Aby Santika II
BANDUNG,
05 AGUSTUS 2011
SAJAK GAYA PEMIKIR
Pemikir kencing di meja Birokrat
menciun Bau pesing penghianat
Kaki bumi menjalar menghukum
awam embel-embel Suap
Sana..
Sini.. Sama saja
Jidat-jidat Licin bergaya Einstein
padahal mirip Yngwie Malmsteen
lalu ia menjadi saksi kalian
para pendosa Dunia
di meja pandakwaan
Kita bertanya :
Kenapa Niat baik dianggap hina
Kenapa niat baik berjaga jarak
Niat siapa ?
Pemikir Jujur terkubur
ada yang terhina..
Diperkosa penguasa Tahta
Terluka..
Ditodong senjata,,
Argumantasi di duduki
Pantat-pantat Oknum pejabat
Suap
Terhimpit dalam Pertanyaan :
Maksud baik , untuk diinjak ?
Kita di didik berdasarkan apa ?
Iman ?
Atau mengamini Mereka
pecundang ?
Tokek-tokek nyaring bersendawa
ibarat Orator mahasiswa
memprotes
kebijakan yang tiada kebajikan
Tetapi pertanyaan kita mereda
tentang pemikir-pemikir yang
katanya
mampu membalikan fakta
Dimana ?
Dan esok
Kencing membentuk soda
pesing diteguk kata-kata Janji
Serapah
Sementara pemikir
menjelma siswa TK
Habis,
Terkikis,,
berdiri didepan jerit teraniaya,,
Aby Santika II
BANDUNG,12 JULI 2011
menciun Bau pesing penghianat
Kaki bumi menjalar menghukum
awam embel-embel Suap
Sana..
Sini.. Sama saja
Jidat-jidat Licin bergaya Einstein
padahal mirip Yngwie Malmsteen
lalu ia menjadi saksi kalian
para pendosa Dunia
di meja pandakwaan
Kita bertanya :
Kenapa Niat baik dianggap hina
Kenapa niat baik berjaga jarak
Niat siapa ?
Pemikir Jujur terkubur
ada yang terhina..
Diperkosa penguasa Tahta
Terluka..
Ditodong senjata,,
Argumantasi di duduki
Pantat-pantat Oknum pejabat
Suap
Terhimpit dalam Pertanyaan :
Maksud baik , untuk diinjak ?
Kita di didik berdasarkan apa ?
Iman ?
Atau mengamini Mereka
pecundang ?
Tokek-tokek nyaring bersendawa
ibarat Orator mahasiswa
memprotes
kebijakan yang tiada kebajikan
Tetapi pertanyaan kita mereda
tentang pemikir-pemikir yang
katanya
mampu membalikan fakta
Dimana ?
Dan esok
Kencing membentuk soda
pesing diteguk kata-kata Janji
Serapah
Sementara pemikir
menjelma siswa TK
Habis,
Terkikis,,
berdiri didepan jerit teraniaya,,
Aby Santika II
BANDUNG,12 JULI 2011
OPERA CINTA DUNIA MAYA
Menyaksikan pentas kilas tak
senampak
beribu mata sinis curiga bertatap
aktor-aktor amatir berteriak :
"Atas nama Cinta Aku rela Mati"
Sementara Yang lain berak
Diantara kata-katanya
mengangkang tawa
"Akulah
pemenang"
Aku bertanya,
tetapi Rayu bimbang
menenggelam
Susunannya jatuh dibawah
panggung-panggung
berhias Kemunafikan
yang terlepas dari drama
kehidupan yang nyata
Ribuan nafas buntu
menghadapi kisah tanpa pilihan,
tanpa ujung menemu bayang
nyata
Solek peserta berdandan Parfum
wangi-wangi membius,
tanpa sadar lawan dialog
bau apek Karena air kering
Musim kemarau "katanya"
Berpeluh Di tuth-tuth komputer
berburu rindu,
Syahwat ?
Akh.. perlombaan Cinta tak Sejajar
sosok Si Tuan adanya
Aku melihat wanita-wanita Tua,
laki-laki renta,
Bocah-bocah kencur,
mengantri dapat giliran rindu
tersalur
Dan Disamping,
para Bijak berkata :
Bermalas-malaslah
ketika wajah bercumbu Monitor
tak sesuai kurikulum kehidupan
yang semestinya
Jidat-jidat memelas memikir kata
Puisi-puisi andalan jurus
ampuh untuk menaklukan
Sementara tagihan-tagihan
biaya listrik,
TELKOM,
atau pulsa-pulsa semakin
menghimpit
ketidakadilan disamping hasil
semai Cinta
yang didapat
Dan
Ribuan kepala-kepala
termangu
Di Kuasa dunia Modernisasi yang
melilit
leher akal Logika
Opera cinta Didunia maya
pamplet-pamplet terpajang
berharap satu dua mangsa
terpikat
Inilah sajak Cermin kisah
Aku, Kamu, dan Mereka
Terpisah dari derita nyata
terlupa sesaat,
Tanpa terpikir
Tentang masalah kehidupan yang
siap menjelajah di alam nyata
Aby Santika II
BANDUNG,11 JULI 2011
senampak
beribu mata sinis curiga bertatap
aktor-aktor amatir berteriak :
"Atas nama Cinta Aku rela Mati"
Sementara Yang lain berak
Diantara kata-katanya
mengangkang tawa
"Akulah
pemenang"
Aku bertanya,
tetapi Rayu bimbang
menenggelam
Susunannya jatuh dibawah
panggung-panggung
berhias Kemunafikan
yang terlepas dari drama
kehidupan yang nyata
Ribuan nafas buntu
menghadapi kisah tanpa pilihan,
tanpa ujung menemu bayang
nyata
Solek peserta berdandan Parfum
wangi-wangi membius,
tanpa sadar lawan dialog
bau apek Karena air kering
Musim kemarau "katanya"
Berpeluh Di tuth-tuth komputer
berburu rindu,
Syahwat ?
Akh.. perlombaan Cinta tak Sejajar
sosok Si Tuan adanya
Aku melihat wanita-wanita Tua,
laki-laki renta,
Bocah-bocah kencur,
mengantri dapat giliran rindu
tersalur
Dan Disamping,
para Bijak berkata :
Bermalas-malaslah
ketika wajah bercumbu Monitor
tak sesuai kurikulum kehidupan
yang semestinya
Jidat-jidat memelas memikir kata
Puisi-puisi andalan jurus
ampuh untuk menaklukan
Sementara tagihan-tagihan
biaya listrik,
TELKOM,
atau pulsa-pulsa semakin
menghimpit
ketidakadilan disamping hasil
semai Cinta
yang didapat
Dan
Ribuan kepala-kepala
termangu
Di Kuasa dunia Modernisasi yang
melilit
leher akal Logika
Opera cinta Didunia maya
pamplet-pamplet terpajang
berharap satu dua mangsa
terpikat
Inilah sajak Cermin kisah
Aku, Kamu, dan Mereka
Terpisah dari derita nyata
terlupa sesaat,
Tanpa terpikir
Tentang masalah kehidupan yang
siap menjelajah di alam nyata
Aby Santika II
BANDUNG,11 JULI 2011
SEPUNTUNG ROKOK
Maaf...
Hanya sepuntung rokok
hari ini...
sebaris hologram menari
tembakau
...di belantara lebatnya..
menyundut aksara bermerk
terkenal..
Abu melepuh hangus di
asbak berisi luka berdebu,
hingga sisa sebatang..
dan itu pun sisa setengah
puntung
Adalah :
pengobat gigil sepi...
Bibir semu mengisap,
asap-asap airmata keriput
Nikotin umpama madu nikmat
meski maut menguntil sisa
waktu...
Maaf...
rokokku sisa sebatang..
jangan kau ambil puntungnya..
karena..
kepulan mensketsa rindu
yang terlahir dari sela jari jemari
lusuh
mengapit ujung batang nikmat..
menjelma prasasti kumuh...
tersimpan utuh di tiap jejeran
nikotin
Asap di daulat kata menjadi
rasa
dalam bundaran meja
bermetamorfora,
sebentuk raut di ujung
kepulan
kemudian,
memecah...
hilang..
Rokokku menghitung waktu
seiring detik Dji sam soe
mengeja angka
2..3..4..
Sepuntung rokok adalah dirimu
kemudian perlahan lenyap
di belai angin...
sisa terbuang di asbak yang
retak..
Lihatlah..
hari semakin meninggi..
rindu semakin angkuh,
Tumpukan Abu kian berduka..
menjelma gundukan pasir,
mengubur rindu dalam peti
bermerk Dji sam soe..
Tambah lagi lah..
sebatang saja..
tak usah sebungkus
cukup sebagai penyambung
rindu yang hangus..
Semacam imajisme hidup,
meneror candu, lalu..
Asapnya berbaris membentuk
Jemaat
mengantri di loket duka,
menanti Bis pengangkut
kematian
tiba..
Aby Santika II
BANDUNG, 18 MEI 2011
Hanya sepuntung rokok
hari ini...
sebaris hologram menari
tembakau
...di belantara lebatnya..
menyundut aksara bermerk
terkenal..
Abu melepuh hangus di
asbak berisi luka berdebu,
hingga sisa sebatang..
dan itu pun sisa setengah
puntung
Adalah :
pengobat gigil sepi...
Bibir semu mengisap,
asap-asap airmata keriput
Nikotin umpama madu nikmat
meski maut menguntil sisa
waktu...
Maaf...
rokokku sisa sebatang..
jangan kau ambil puntungnya..
karena..
kepulan mensketsa rindu
yang terlahir dari sela jari jemari
lusuh
mengapit ujung batang nikmat..
menjelma prasasti kumuh...
tersimpan utuh di tiap jejeran
nikotin
Asap di daulat kata menjadi
rasa
dalam bundaran meja
bermetamorfora,
sebentuk raut di ujung
kepulan
kemudian,
memecah...
hilang..
Rokokku menghitung waktu
seiring detik Dji sam soe
mengeja angka
2..3..4..
Sepuntung rokok adalah dirimu
kemudian perlahan lenyap
di belai angin...
sisa terbuang di asbak yang
retak..
Lihatlah..
hari semakin meninggi..
rindu semakin angkuh,
Tumpukan Abu kian berduka..
menjelma gundukan pasir,
mengubur rindu dalam peti
bermerk Dji sam soe..
Tambah lagi lah..
sebatang saja..
tak usah sebungkus
cukup sebagai penyambung
rindu yang hangus..
Semacam imajisme hidup,
meneror candu, lalu..
Asapnya berbaris membentuk
Jemaat
mengantri di loket duka,
menanti Bis pengangkut
kematian
tiba..
Aby Santika II
BANDUNG, 18 MEI 2011
PARODI KALIMAT "CINTAKU DI TOLAK"
Hadiahkan sebaris kalimat padaku
Kau berujar " Aku tidak mau"
maka ku eja:
" Mau tidak kau dengan aku ?"
jidatku berisi "tanda tanya"
maka kau ganti : "tanda seru"
persilangan abjad dan penegasan
melengkapi bidikan kata-kata
sungsang
ketika pertemuan di pojok
angkringan
aku.. kamu..
Sebentuk itu
kalut hati jika dideskripsi seuntai
kalimat
"Mau tidak kau dengan aku ?"
kamu berkata :
" Tidak mau "
Tanda tanyaku :
" Mau tidak kau dengan
aku "
Tanda serumu :
" Aku tidak mau"
Tersimpan penderitaan diantara
kegagahan yang hadir di warung
pojok angkringan Mbok Minah
Kegagahanmu :
" aku tidak mau"
Penderitaanku :
" Mau tidak kau dengan aku "
Aby Santika II
BANDUNG, 16 JUNI 2011
Kau berujar " Aku tidak mau"
maka ku eja:
" Mau tidak kau dengan aku ?"
jidatku berisi "tanda tanya"
maka kau ganti : "tanda seru"
persilangan abjad dan penegasan
melengkapi bidikan kata-kata
sungsang
ketika pertemuan di pojok
angkringan
aku.. kamu..
Sebentuk itu
kalut hati jika dideskripsi seuntai
kalimat
"Mau tidak kau dengan aku ?"
kamu berkata :
" Tidak mau "
Tanda tanyaku :
" Mau tidak kau dengan
aku "
Tanda serumu :
" Aku tidak mau"
Tersimpan penderitaan diantara
kegagahan yang hadir di warung
pojok angkringan Mbok Minah
Kegagahanmu :
" aku tidak mau"
Penderitaanku :
" Mau tidak kau dengan aku "
Aby Santika II
BANDUNG, 16 JUNI 2011
MEZZALUNA
( puisi bahasa Italia )
Half Moon e nato dal
grembo
del che si e,
Shaping mezzaluna..
Rompedo la rete
che tu sei presente..
Affascinante dubbio
Fin dal rilascio di che ..
La tua aspressione e la
fantasia..
anche se isolato in
viaggio tra il cielo..
mesi fissato le mie rime sedare
belle arteriosa
pensare pelle secca, tu seil mio
cuore..
Grazie mezzaluna
ombra ..
Lasciate che il vostro sorriso
ancora arrotolata tra il desiderio
proiboto..
-TERJEMAH
BULAN SABIT
Rembulan belah terlahir dari
rahim matahari
itu kau,
membetuk sabit ..
Memecah jaring yang
menawan ragu..
Hadirmu adalah pembebasan
semenjak itu..
Rautmu adalah khayalku..
meski tersekat buana antara
langit..
Bulanku tetap primadona
membius rima pikir arteri kulit
kering,
kaulah peneduh hati..
Terimakasih bulan sabit..
Biarlah senyummu tetap
melingkar diantara
rindu yang terlarang..
Aby Santika II
BANDUNG , 13 JUNI 2011.
Half Moon e nato dal
grembo
del che si e,
Shaping mezzaluna..
Rompedo la rete
che tu sei presente..
Affascinante dubbio
Fin dal rilascio di che ..
La tua aspressione e la
fantasia..
anche se isolato in
viaggio tra il cielo..
mesi fissato le mie rime sedare
belle arteriosa
pensare pelle secca, tu seil mio
cuore..
Grazie mezzaluna
ombra ..
Lasciate che il vostro sorriso
ancora arrotolata tra il desiderio
proiboto..
-TERJEMAH
BULAN SABIT
Rembulan belah terlahir dari
rahim matahari
itu kau,
membetuk sabit ..
Memecah jaring yang
menawan ragu..
Hadirmu adalah pembebasan
semenjak itu..
Rautmu adalah khayalku..
meski tersekat buana antara
langit..
Bulanku tetap primadona
membius rima pikir arteri kulit
kering,
kaulah peneduh hati..
Terimakasih bulan sabit..
Biarlah senyummu tetap
melingkar diantara
rindu yang terlarang..
Aby Santika II
BANDUNG , 13 JUNI 2011.
WAJAH ITU
Masih ku kenali ilustrasi kornea
tajam itu
recahan umpama sabit
menyepuh dalam
kulit Ari yang melekat ingatan
yang hampir
berkarat tergerus musim
berterbangan
Ketika lafalan menyulam kata
yang robek
Ketika Navigasi rindu tak searah
semesta nyata
Ketika itu paradigma
menyimpang dari pola pikir
Pun sedarku hanya tinggal semili
dari ubun-ubun
Masih kukenali sketsa simpul
yang telah kusam
dari jilid pustaka hati yang
hampir terbuang
serta meditasi buyar dalam
kontemplasi hidup
Ada yang menjelma diantara
rahasianya
ranting-ranting mencoret sajak
pesonamu
langit bertasbih memuji hadirmu
dalam
Mujizat Tuhan melalui Asma
namamu
Masih kukenali wajah itu...
Aby Santika II
BANDUNG, 08 JUNI 2011
tajam itu
recahan umpama sabit
menyepuh dalam
kulit Ari yang melekat ingatan
yang hampir
berkarat tergerus musim
berterbangan
Ketika lafalan menyulam kata
yang robek
Ketika Navigasi rindu tak searah
semesta nyata
Ketika itu paradigma
menyimpang dari pola pikir
Pun sedarku hanya tinggal semili
dari ubun-ubun
Masih kukenali sketsa simpul
yang telah kusam
dari jilid pustaka hati yang
hampir terbuang
serta meditasi buyar dalam
kontemplasi hidup
Ada yang menjelma diantara
rahasianya
ranting-ranting mencoret sajak
pesonamu
langit bertasbih memuji hadirmu
dalam
Mujizat Tuhan melalui Asma
namamu
Masih kukenali wajah itu...
Aby Santika II
BANDUNG, 08 JUNI 2011
MILAD DI SURGAMU
Genap angkamu tepat diujung
jarum
Empat.. Enam.. sebelas..
Tersekat ganjil melengkapi
pertaruhan
impas diantara pergadaian waktu
Maaf.. !!
Tak ada kue TAR atau lilin tersaji
hanya coretan kumuh
pemenggal
sesal takdir yang tak permisi
menghampiri
Abad meloncat dalam kalendar
Tuhan
hanya sebatas nadi kau
denyutkan
senyum diujung tatapan terakhir
Empat.. Enam.. Sebelas..
Biarlah Surga yang menghitung
sisa usiamu
Perayaan suci di singgasana
firdaus
Khuldi ranum barganti silau
parmata
Milad menggema semesta raya
Mungkin..
hanya keikhlasan dariku sebagai
Kado
persembahan tanpa juntaian air
mata
Empat.. Enam.. Sebelas..
Ragamu mewangi seumpama
Kasturi
membangunkan amnesia yang
sempat
mati suri ..
Majas-majas berjubah pernyataan
sesal
terbalut rapih dalam sehelai
kafan sutra
Semoga jasadmu tetap sempurna
disisi-Nya
( menjengkal kenangan diantara
pertemuan Tahun )
" MEMORY DINDA "
Aby Santika II
BANDUNG, 04 JUNI 2011
jarum
Empat.. Enam.. sebelas..
Tersekat ganjil melengkapi
pertaruhan
impas diantara pergadaian waktu
Maaf.. !!
Tak ada kue TAR atau lilin tersaji
hanya coretan kumuh
pemenggal
sesal takdir yang tak permisi
menghampiri
Abad meloncat dalam kalendar
Tuhan
hanya sebatas nadi kau
denyutkan
senyum diujung tatapan terakhir
Empat.. Enam.. Sebelas..
Biarlah Surga yang menghitung
sisa usiamu
Perayaan suci di singgasana
firdaus
Khuldi ranum barganti silau
parmata
Milad menggema semesta raya
Mungkin..
hanya keikhlasan dariku sebagai
Kado
persembahan tanpa juntaian air
mata
Empat.. Enam.. Sebelas..
Ragamu mewangi seumpama
Kasturi
membangunkan amnesia yang
sempat
mati suri ..
Majas-majas berjubah pernyataan
sesal
terbalut rapih dalam sehelai
kafan sutra
Semoga jasadmu tetap sempurna
disisi-Nya
( menjengkal kenangan diantara
pertemuan Tahun )
" MEMORY DINDA "
Aby Santika II
BANDUNG, 04 JUNI 2011
SONATA TANPA CINTA
Kesepian tampaknya seperti
realitas mimpi buruk tetapi
adalah hidup dan kehidupan di
sini
Begitu hatiku
diperintah oleh kekosongan
dirugikan karena terlalu tulus
Tapi sekarang bahwa kamu
telah menyeberangi cara aku
Mungkinkah ditemukan lagi ?
Jika aku tahu bahwa aku satu-
satunya kamu,
aku bisa hidup
dan membuatnya melalui waktu,
Namun
jika suatu hari
kamu baru saja pergi, aku
tidak akan tahu bagaimana
untuk pernah mendapatkan
...
Bagaimana aku bisa
membuatmu merasa aman
Kita berdua sama, aku Raja
dan kamu Ratu
Pahami mu
Membuat aku bernapas lagi
Ceritakan semua pikiran mu
dan aku akan melihat
Pegang
tanganku dan kita akan ada di
sana Bersama , suatu hari
nanti, di suatu tempat
Jika
aku tahu bahwa aku satu-
satunya, kamu, aku bisa hidup
dan membuatnya melalui waktu
Tapi
jika suatu saat
kamu baru saja pergi, aku
tidak akan tahu bagaimana
untuk pernah mendapatkan
....
Aku hanya akan memecah dan
menangis
Aby Santika II
LUBUK LINGGAU, 27 JUNI 2011
realitas mimpi buruk tetapi
adalah hidup dan kehidupan di
sini
Begitu hatiku
diperintah oleh kekosongan
dirugikan karena terlalu tulus
Tapi sekarang bahwa kamu
telah menyeberangi cara aku
Mungkinkah ditemukan lagi ?
Jika aku tahu bahwa aku satu-
satunya kamu,
aku bisa hidup
dan membuatnya melalui waktu,
Namun
jika suatu hari
kamu baru saja pergi, aku
tidak akan tahu bagaimana
untuk pernah mendapatkan
...
Bagaimana aku bisa
membuatmu merasa aman
Kita berdua sama, aku Raja
dan kamu Ratu
Pahami mu
Membuat aku bernapas lagi
Ceritakan semua pikiran mu
dan aku akan melihat
Pegang
tanganku dan kita akan ada di
sana Bersama , suatu hari
nanti, di suatu tempat
Jika
aku tahu bahwa aku satu-
satunya, kamu, aku bisa hidup
dan membuatnya melalui waktu
Tapi
jika suatu saat
kamu baru saja pergi, aku
tidak akan tahu bagaimana
untuk pernah mendapatkan
....
Aku hanya akan memecah dan
menangis
Aby Santika II
LUBUK LINGGAU, 27 JUNI 2011
CIUMAN TERAKHIR DAN SETEGUK KOPI
( the last kiss with coffe )
Sekiranya malam itu khayalku
membentuk cafein
pada nadi-nadi yang kau kecup
diantara gigilnya rangkul angin
pun sayatan ucap tajam
...membelah rambat tiang lampu
meredup
Aku menerjemah isyarat diantara
tubi bibir tipis menyerbu
tiap kata yang
hendak menawan pola
senyummu yang sederhana
tersaji riwayat penaskahan enam
purnama dalam seteguk kopi
paling manis
Antrian tanya berjemaah
dikertas-kertas pikirku :
tentang kecupan lembut melipat
hasrat
diserambi istana tempat rindu
menganak tiri
Sesekali pada tegukan nya kita
bersilang kata dalam cumbuan
umpama digurun sahara terasing
raga melayang nikmat sajian
terakhirnya
Belaian sansekerta
menelanjang candi pendewaan
cinta tentang Stupa-stupa yang
ku curi suci nya
lalu
ku retak arteri pembungkus
pusaka dengan
seteguk kopi bertubuh amunisi
kata
Ada air mata di ceruk retinamu
mengalir menyambangi parit-
parit sesal
mengalir menuju payau rindu lalu
bermuara pada gamang yang
membentuk Samudera cinta
menjelma diseteguk cangkir kopi
pelepas dahaga
salam terakhir kita
Sekali ku jemput titik gairahnya
dimalam yang sama
tak ada perjumpaan de javu
di beranda serambi yang kosong
itu
Kemudian ku tengok
kembali sapu tangan yang
terselip didompetku
baunya tetap sama
: aroma cafein beradu
bercampur sisa kecup wangimu
yang masih membekas utuh
Dan
tak pernah ku singgah
kembali malamnya yang
mengasing ditrotoar depan
rumahmu
Sebab,
manjanya telah kau Akad dibalik
sumpah tangan pangeran
penikmat sisa rinduku
Kemudian
Kini aku berujar :
Telah kau terima nikahnya Dia
dengan Mas kawin
seteguk kopi sisa Kecupan
hangatku
dibayar Tunai .. !!
Aby Santika II
BANDUNG,04 JULI 2011
Sekiranya malam itu khayalku
membentuk cafein
pada nadi-nadi yang kau kecup
diantara gigilnya rangkul angin
pun sayatan ucap tajam
...membelah rambat tiang lampu
meredup
Aku menerjemah isyarat diantara
tubi bibir tipis menyerbu
tiap kata yang
hendak menawan pola
senyummu yang sederhana
tersaji riwayat penaskahan enam
purnama dalam seteguk kopi
paling manis
Antrian tanya berjemaah
dikertas-kertas pikirku :
tentang kecupan lembut melipat
hasrat
diserambi istana tempat rindu
menganak tiri
Sesekali pada tegukan nya kita
bersilang kata dalam cumbuan
umpama digurun sahara terasing
raga melayang nikmat sajian
terakhirnya
Belaian sansekerta
menelanjang candi pendewaan
cinta tentang Stupa-stupa yang
ku curi suci nya
lalu
ku retak arteri pembungkus
pusaka dengan
seteguk kopi bertubuh amunisi
kata
Ada air mata di ceruk retinamu
mengalir menyambangi parit-
parit sesal
mengalir menuju payau rindu lalu
bermuara pada gamang yang
membentuk Samudera cinta
menjelma diseteguk cangkir kopi
pelepas dahaga
salam terakhir kita
Sekali ku jemput titik gairahnya
dimalam yang sama
tak ada perjumpaan de javu
di beranda serambi yang kosong
itu
Kemudian ku tengok
kembali sapu tangan yang
terselip didompetku
baunya tetap sama
: aroma cafein beradu
bercampur sisa kecup wangimu
yang masih membekas utuh
Dan
tak pernah ku singgah
kembali malamnya yang
mengasing ditrotoar depan
rumahmu
Sebab,
manjanya telah kau Akad dibalik
sumpah tangan pangeran
penikmat sisa rinduku
Kemudian
Kini aku berujar :
Telah kau terima nikahnya Dia
dengan Mas kawin
seteguk kopi sisa Kecupan
hangatku
dibayar Tunai .. !!
Aby Santika II
BANDUNG,04 JULI 2011
RINDU DI KAKI MANDALAWANGI
Mandalawangi,
Angkuh membujuk diantara tiang
penyangga langit
seketika lirih memelas pada sapa
raut pucat
selayak Elang menukik diantara
gagah bebatuan
jejak halaman pertama terkucil
diselusur dakian goyah
cerita berawal pada kisah yang
telah punah
bukan prosa yang bersetubuh
dengan imaji
namun,
sekedar mengeja celah rindu
yang terselip di kaki
Mandalawangi
Ada airmata iba pada tulang-
tulang ranting cemara patah
membentuk tinta dari pena alam
yang menggores naskah
tanpa jeda,
ketika paragraf terhenti dalam
bait mati
cengkrama bayu senyap
disaat
penopang rotan
ketika lelahmu bersandar roboh
di sekejap hela
rindu tertinggal
ketika pinus menghunus janji
tercatat di kain langit
Giri Mandalawangi
Adalah
bersaksi
tentang asmara yang terhakimi
takdir
Aby Santika II
BANDUNG, 11 JUNI 2011
Angkuh membujuk diantara tiang
penyangga langit
seketika lirih memelas pada sapa
raut pucat
selayak Elang menukik diantara
gagah bebatuan
jejak halaman pertama terkucil
diselusur dakian goyah
cerita berawal pada kisah yang
telah punah
bukan prosa yang bersetubuh
dengan imaji
namun,
sekedar mengeja celah rindu
yang terselip di kaki
Mandalawangi
Ada airmata iba pada tulang-
tulang ranting cemara patah
membentuk tinta dari pena alam
yang menggores naskah
tanpa jeda,
ketika paragraf terhenti dalam
bait mati
cengkrama bayu senyap
disaat
penopang rotan
ketika lelahmu bersandar roboh
di sekejap hela
rindu tertinggal
ketika pinus menghunus janji
tercatat di kain langit
Giri Mandalawangi
Adalah
bersaksi
tentang asmara yang terhakimi
takdir
Aby Santika II
BANDUNG, 11 JUNI 2011
SEPULUH PURNAMA KURANG SETENGAH
Kemarin kita masih mengasing di
peradaban hati
mengais serpihan mimpi, lalu kita
bentuk mozaik
untuk ditafsirkan dalam kitab-
kitab tak ber ayat
Matanya terombang-ambing
melawan di kegelapan
Tertawa-tawa :
mendengkur sepi
hingga bising tak asing, larut di
pesona
malam , mencumbu resah
Sepuluh purnama kurang
setengah
kisah terlampaui ,
hingga waktu melesat ,
menyesat di tengah sadarku
yang kaku
Jantung berdegup lamban ..
Sepuluh purnama kurang
setengah
ku pintal musim-musim dalam
lembaran tangis
lalu rindu-rindu melompat tak
beraturan
....
Hilang raut mu hilang,
membayang sebentuk siluet yang
lenyap
di pertukaran zaman
Kotaku sunyi,,
Dawai-dawai
menggema
letih yang tak menemu lampu
kota redup
Sepuluh purnama kurang
setengah
ku maknai hadirmu yang sekejap
mata mengedip
Lalu..
hilang..
Aby Santika II
BANDUNG,
14 MEI 2011
peradaban hati
mengais serpihan mimpi, lalu kita
bentuk mozaik
untuk ditafsirkan dalam kitab-
kitab tak ber ayat
Matanya terombang-ambing
melawan di kegelapan
Tertawa-tawa :
mendengkur sepi
hingga bising tak asing, larut di
pesona
malam , mencumbu resah
Sepuluh purnama kurang
setengah
kisah terlampaui ,
hingga waktu melesat ,
menyesat di tengah sadarku
yang kaku
Jantung berdegup lamban ..
Sepuluh purnama kurang
setengah
ku pintal musim-musim dalam
lembaran tangis
lalu rindu-rindu melompat tak
beraturan
....
Hilang raut mu hilang,
membayang sebentuk siluet yang
lenyap
di pertukaran zaman
Kotaku sunyi,,
Dawai-dawai
menggema
letih yang tak menemu lampu
kota redup
Sepuluh purnama kurang
setengah
ku maknai hadirmu yang sekejap
mata mengedip
Lalu..
hilang..
Aby Santika II
BANDUNG,
14 MEI 2011
AKU GILA
Terbangkanlah kewarasanku
dipermukaan kegilaan
kuderngar tawa keras tanpa
tanda jiwa
Aku berlari
diantara orang-orang waras
bicara tentang kewarasan
Ku rayap ingin-ingin
selangkang warisan
kewarasan
Berkata jujur dibilang normal
onkang-ongkang kaki
dikepala
orang gila
Ini duniaku sendiri
telanjang tiada yang
melarang
Anugerahmu kesadaran
adakah yang salah ?
jawabanmu terlalu munafik
berdusta disangka gila
Sering tak kusadar
Aku yang gila
atau kamu yang gila ?
Seperti halnya kalian
Menutupi kesalahan dengan
kepandaian
Jadi siapa yang gila ?
Sebab Tuhan Menyayangi
Bukan karena kewarasan
atau kegilaan
Aby Santika II
BANDUNG,
31 JULI 2011
dipermukaan kegilaan
kuderngar tawa keras tanpa
tanda jiwa
Aku berlari
diantara orang-orang waras
bicara tentang kewarasan
Ku rayap ingin-ingin
selangkang warisan
kewarasan
Berkata jujur dibilang normal
onkang-ongkang kaki
dikepala
orang gila
Ini duniaku sendiri
telanjang tiada yang
melarang
Anugerahmu kesadaran
adakah yang salah ?
jawabanmu terlalu munafik
berdusta disangka gila
Sering tak kusadar
Aku yang gila
atau kamu yang gila ?
Seperti halnya kalian
Menutupi kesalahan dengan
kepandaian
Jadi siapa yang gila ?
Sebab Tuhan Menyayangi
Bukan karena kewarasan
atau kegilaan
Aby Santika II
BANDUNG,
31 JULI 2011
RENUNGAN UNTUKMU (KEKASIH)
Kita dicipta diantara gejolak
ketika api memecah beling
menusuk bara setajam fitnah
saat logika berjauhan
memunggungi
sugesti menjelma belati
menghujam bidang dadaku
Menusuk aku,kamu dan mereka
Dalam sekam tetesan gairah
Idealisme meratap di telapak kaki
Aku masih tegar
tatkala dadu berputar diatas
kepala
Domino meramal hasrat ambisi
para punggawa gagah
Engkau berkata "Tidak"
ketika Aku berjibaku di teror laras
berorasi renyah
Nyayian Antagonis
berkumandang riang
makna menari di pentas anarkis
Setidaknya pandangan kita
selaras
berdialog tentang hidup
Saat ku tangkap keganjilan
di artikulasi kalimatmu :
Cengkramamu tercetus sudut
berlain arah
yang merumus kerangka-
kerangka meja
arogansi misi berlawanan
Beruntunglah Ambisi terkikis
Badai
tersisa butiran darah ditubuhmu
Setidaknya aku masih setia
selayak kekasih
membalut nyeri dengan telapak
tangan tanpa
kau pinta
Karna aku begitu mencintaimu
sebagai penunjuk arah ketika kita
tersamar nista
Kita cipta sebentuk resah
karena realitas mengetuk engkau
dalam menghantam rupiah
Sesungguhnya kita tak perlu
kejayaan
atau pengakuan " Bahwa Aku
ada"
Melainkan keinginan mengumpul
Mozaik
kenangan
Untuk kita susun sebagai
pangingat
di masa Tua
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011
ketika api memecah beling
menusuk bara setajam fitnah
saat logika berjauhan
memunggungi
sugesti menjelma belati
menghujam bidang dadaku
Menusuk aku,kamu dan mereka
Dalam sekam tetesan gairah
Idealisme meratap di telapak kaki
Aku masih tegar
tatkala dadu berputar diatas
kepala
Domino meramal hasrat ambisi
para punggawa gagah
Engkau berkata "Tidak"
ketika Aku berjibaku di teror laras
berorasi renyah
Nyayian Antagonis
berkumandang riang
makna menari di pentas anarkis
Setidaknya pandangan kita
selaras
berdialog tentang hidup
Saat ku tangkap keganjilan
di artikulasi kalimatmu :
Cengkramamu tercetus sudut
berlain arah
yang merumus kerangka-
kerangka meja
arogansi misi berlawanan
Beruntunglah Ambisi terkikis
Badai
tersisa butiran darah ditubuhmu
Setidaknya aku masih setia
selayak kekasih
membalut nyeri dengan telapak
tangan tanpa
kau pinta
Karna aku begitu mencintaimu
sebagai penunjuk arah ketika kita
tersamar nista
Kita cipta sebentuk resah
karena realitas mengetuk engkau
dalam menghantam rupiah
Sesungguhnya kita tak perlu
kejayaan
atau pengakuan " Bahwa Aku
ada"
Melainkan keinginan mengumpul
Mozaik
kenangan
Untuk kita susun sebagai
pangingat
di masa Tua
Aby Santika II
BANDUNG,
22 JULI 2011
JANJI BINTANG
Aku bicara padamu gerimis
yang memburu waktu
juga kelepak elang menyisir
muram
aku sekarang siang
dan terkadang malam
Tujukan kapalmu ke pangkalan
Dan ombak tertidur sendiri
Akan ku ukir kisah baru
antara kita cinta membelah
binasa
Udara bertuba di sudut
semenanjung
negeri Asing
Kepadamu Bintang
Matamu bagiku menengadah
Harum rambutmu bergulat rasa
mendarah luka mengalir nyawa
Jika kau sampai diburitan
rangkaklah Doa yang kutitipkan
Untukmu Bintang
Ini kali kau berkerudung sutra
aku terlalu jawab yang inginmu
mempercaya hari, mengingat
namamu
Tanpamu Bintang..
Pundak menampik sepi yang ada
Cerita menali menyinggung
kelam
Tujukan perahu dipunggungku
Sedang cahayamu jauh dipulau
mengumpul peluru rindu
berlari hilang
Jalan hidup baru merasai
kepastian bintang-bintang
menemu malam
berwangi mimpi
Jangan meratap
membagi rindu bercermin deru
sebab,
kepastian bintang
berupa janji menanti
Di pulau bertugu karang
Aby Santika II
BANDUNG,
26 JULI 2011
yang memburu waktu
juga kelepak elang menyisir
muram
aku sekarang siang
dan terkadang malam
Tujukan kapalmu ke pangkalan
Dan ombak tertidur sendiri
Akan ku ukir kisah baru
antara kita cinta membelah
binasa
Udara bertuba di sudut
semenanjung
negeri Asing
Kepadamu Bintang
Matamu bagiku menengadah
Harum rambutmu bergulat rasa
mendarah luka mengalir nyawa
Jika kau sampai diburitan
rangkaklah Doa yang kutitipkan
Untukmu Bintang
Ini kali kau berkerudung sutra
aku terlalu jawab yang inginmu
mempercaya hari, mengingat
namamu
Tanpamu Bintang..
Pundak menampik sepi yang ada
Cerita menali menyinggung
kelam
Tujukan perahu dipunggungku
Sedang cahayamu jauh dipulau
mengumpul peluru rindu
berlari hilang
Jalan hidup baru merasai
kepastian bintang-bintang
menemu malam
berwangi mimpi
Jangan meratap
membagi rindu bercermin deru
sebab,
kepastian bintang
berupa janji menanti
Di pulau bertugu karang
Aby Santika II
BANDUNG,
26 JULI 2011
Langganan:
Postingan (Atom)