Senin, 15 Desember 2014

AWAL DAN AKHIR (MALIOBORO)


Aku masih di dalam peta yang sama Nur,
malam yang begitu ritmis, jalan-jalan
kesunyian semakin tumbuh di tempat yang
pernah kita naungi
peta disaat pertama kita bertukar sapa:
"apakah ini adalah pilihan yang entah"

Kita begitu ingat gerimis telah menumbuhkan
tugu-tugu yang menjadikan kiblat sepasang hati
yang dibahasakan dari ruang ke ruang

Nur,
hingga sampai Nooh dilahirkan, sebagaimana elang
yang mengepak di atas laut, sebagaimana buih yang
kembali terbang setelah tersungkur
suaranya adalah riuh dari ribuan igau yang sempat
kau kabarkan kepadaku

"Kelak, ketika pada waktu yang lain kita akan berlari
bersama menuju ujung malam yang bernama mimpi..."

Sebab bukan saat ini Nur,
ketika tubuhku disapih sepi dari ribuan penyesalan
kita bersua di sebuah akhir hingga jejakku menuju awal
dimana adalah akhir
aku sepi Nur...!
aku tenggelam...!



Aby Santika

Jogjakarta,
10 Desember 2014.

Jumat, 08 Agustus 2014

YA NOOH



Di rautmu yang jawa,
air yang diam telah menutup semua jeda
hingga embun yang paling ganas
ditenggelamkan ke dasar samudera
ingatan tak mungkin dijala kembali
ketika senyampang penyangkalan tergenang mengurung pikiran

Di atas air;
adakah gempa yang sealir dari mimikmu?
atau kealpaanmu kueja hingga malam ditidurkan
hujan
seperti ruh yang terkubur ratusan abad,
pada laut yang menangis, lenguhku disandarkan

Dan aku terus berpayung di rautmu
seperti anak hilang, ibu hilang, sejarah hilang
pada rautmu yang jawa
tak sepatah kata dari lisanku yang dibasahkan
ia hanya larut ke laut, kemudian hilang
secara diam-diam

 

Aby Santika

Blitar,
24 Juli 2014

Selasa, 22 Juli 2014

NAK, KUTEMUI ENGKAU KELAK




Nak, masihkah kau kenal apa yang tertinggal?
doa; yang kutitipkan dari denyar kerlingmu yang mungil
telah menjedai waktu dengan kerinduan yang menumpuk
bahkan ketika kujunjung wajahmu di dalam pigora
telah mengikiskan gerimisku yang terus tumbuh

Bibirku hampir retak oleh permohonan pada malam-malam
hingga yang tersisa hanya sebutir tasbih
yang tak benar-benar sepenuhnya
menutup gemuruh

Nak, tak ku tahu
disanakah kau simpan seluruh ruhku yang tak bersemai pada tubuh?
sungguh angin telah mengujiku tuk berpuing
hingga ia menyeretku ke hutan-hutan taksa yang gelap
mendedahkan kelelakianku sebagai seorang ayah

Tapi aku sadar, bukankah memang kita selalu butuh duri
untuk menguji setiap kesungguhan yang hadir?

Saat kutemui engkau kelak dari sebuah kekaburan
kuharap tiada duri yang bertahan dari nafasmu
hingga kelak pigora tak lagi sendiri berkawan sepi
nyanyian panjang di meja sarapan selau riuh memuja angin

Ya, akan kutemui engkau kelak nak!
karena detakmu mempunyai hak atas kehendakku
lalu akan kuwariskan hikmatku dengan sebentuk kesetiaan untuk menjagamu
hingga jasadku kembali menjadi tanah
aku sungguh merindukanmu

 
Aby Santika
 
Bandung
04 Februari 2014.

Kamis, 23 Januari 2014

PESAN UNTUK ANAKKU



Anakku,
hitunglah berapa rindu yang telah kita bunuh
seribu mimpi menjadikan kita gundah tiada bertemu
jangan kau bunuh hati seorang ayah dengan menebas jarak menjadi terjal
karena aku akan rebah di sisimu, meresapi belaian angin
atau bercerita tentang anak-anak kutilang kita yang mulai terbang

Namun apa yang dapat kukatakan?
aku sendiri dalam keadaan cemas
engkau anakku, namamu untukku, dan penyembuh untuk setiap kesakitanku
tapi kedekatan adalah malapetaka
dan kerinduanku semakin parah sakitnya

Mataku lebih pekat dari kegelapan
aku butuh cahaya yang bersuluh dari jiwamu

Anakku,
Engkau adalah penentu bagi takdirku
membakar air mataku dengan fajar yang terbit di kedua pipimu
sungguh, aku sangat merindukanmu

Salamku dari jauh tidak pernah kembali ke telingaku
orang-orang terlalu sibuk mengunci mulutnya sendiri
menarikku pada beliung sehingga aku terdampar di antara kerinduan yang tandus

jangan kau bunuh hati seorang ayah
meski tubuhku akan tetap menjadi sasaran cambukmu
aku kian renta, merangkak menyandingkan mimpi-mimpi kita

Aku tahu setiap yang ada pasti binasa
namun merupakan satu kegilaan bagiku jika aku tidak bertemu denganmu
meski yang tersisa adalah kenangan yang menyedihkan

anakku,
aku membayangkan bahwa aku telah melihatmu
melihatmu membangun makam kerinduan dengan penuh ketabahan



Aby Santika

Bandung,
23 Januari 2014

Minggu, 19 Januari 2014

SULUK



Aku ingin bertemu denganmu
memenggal kepalaku dan memberikannya padamu
membelah dadaku hingga sungai-sungai meluap membawa kitab ke alamatmu
namun hanyalah sekat yang membuatku ambruk dalam perburuanku
; ruang antara hati dan akal bersekutu menyangsikan kemursyidanku

Namun pesonamu kian udzur
hingga aku berhenti bermimpi tentang Firdaus nan kudus
kuerami langkah yang tertakik
dengan kaki kesemutan aku menyentuh nyawaku yang sampai kerongkongan

ya aku ingin bertemu denganmu
untuk menuangkan kemabukan tanpa pikiran
hingga aku harus hijrah dari laut dan peta
sehingga aku koma dalam pencarian


Aby Santika

Bandung
19 Januari 2014
00:45 WIB

SUNGKAWA; MEMBACA SEPI



/1/
Niscaya sebilah lembing yang patah
anganku pada mempelaiku nan jauh dirundung rindu tanah
ingatku membiakkan mimpi-mimpi
dimana kumenemu jantungku yang utuh?
; seperti sepi digelayuti gulma tak tentu

/2/
Langit sebentar lagi rekah, dan nafasku adalah fajar
memanggul Nooh memuja matahari
seperti Kan'an tersungkur bah yang sumir

Setiap sintuh dzikir di puncak-puncak malam
kuingin kau menjelma tasbih yang kulingkarkan pada batinmu

/3/
Kemudian kita akan bersenda dan membawanya di atas bara
sampai benar-benar kita menjadi nabi
melayari palung-palung yang bercucuran dari lubuk ratap
" Aku tahu, setiap kehendakku adalah air mata"

/4/
Ah, aku tercampak dalam kemungkinan-kemungkinan yang sungkawa
bahkan daun-daunpun tanggal tak terbilang disetubuhi angin
O, trah wujudmu hanya istirah dan melepuh diingatan
dari sebuah sepi jalan-jalan samun terlampui sirr
sebuah rahasia dari waktu



Aby Santika

Bandung
18 Januari 2014

SIHIR KIDUNG KINASIH



Aku menyalami beribu-ribu hati
dari berjuta fatihah yang di baca; selalu saja berkumpar pada alif, alif dan...
kau mengunci segenap salam yang terjatuh
tembangkanlah!! rafalmu dalam nada-nada asmarandana

Duh, kidung kinasih yang kau alunkan
ibarat rumeksa ing wengi syair para wali
aku ingat Kalijaga, lelaki itu bersila di alir
seperti halnya kau menembang dengan sihir

Di antara suaranya, aku menghikmati doa-doa yang mustajab
dengan sekerat pesan lisanmu merafal kidung yang mengalun

Ah, kenapa bibirku masih juga tergagap
haruskah aku menyulut kemenyan sebagai sesaji atas nyeri?
"teruslah bernyanyi" katamu
sebagai penebus salam dari ribuan hati!

Dan, dengan bersalam kepadamu, perlahan...
ku fatihahi lengkung alismu yang mengerling

Ya, fatihahilah tembang ini sebagai pertanda
dan sihir seperti menyengat menancapkan kinasih sebagai peringatan




Aby Santika

Bandung
14 Januari 2014
23:50 WIB

RAHASIA DI CELAH MATAMU



Seperti pengembara; aku berdiri menabur kasih
mata bundar hitam berpusar adalah sembahyang akbar
menggenangkan tafsir pada cinta atau kesangsian di sebuah pertemuan

Alangkah dingin, lembab dan rebat ketika kelopakmu mengatup diam- diam
O sirunnur, di matamu aku melebur di luar waktu
; dan kelopak-kelopak kinasih, membukakan rahasia cahaya
berbahagialah !!

Aby Santika

Bandung
14 Januari 2014
00:00 WIB

DOA DI HARI JUMAT



Di hari jumat
kita tak punya sarung yang mengikat
dengan corak kotak-kotak atau bunga yang membatik 
hanya pelekat yang kumal memudar 
terbiar melekat, karena aurat sewaktu- waktu bisa muncrat

Kopyah juga terompah 
hanya pembatas antara rambut dan panas
karena hujan juga sewaktu waktu bisa merubah
meriapkan makna, berlindung dari tanah dan sejengkal lahat

Ah Nooh engkau anakku
kita hanya memiliki kata-kata yang tak mampir di telinga; juga dada
sebab Sorga tetap terbuka di hari jumat
meski doa hanya separuh di ujung lidah

Mari berdoa dengan hikmat
untukmu dan untuk kita
di hari jumat sampai menuju alam makrifat



Aby Santika

Bandung,
20 Desember 2013.

KEPADA ANU



Hidup ini sederhana
disekelilingku orang-orang menjadi dewasa
lain waktu seketika tampak polos kekanak-kanakan
ku hampiri mereka
kenapa aku tidak bisa sepertimu?
segala yang diamati berubah menjadi satu kemungkinan

Sedari malam aku menghela nafas panjang
iman kita satu, keyakinan kita satu
kenapa ada seribu Tuhan yang menyamar?
dan shubuh mengantuk dari tanya dan pikiran

Ah, kukira salah mulanya bayi dilahirkan dengan posisi terbalik
dari air kelamin, yang kelak akan menciptakan lagi dunia baru
sebab siapa tahu dengan engkau tuli dan aku bisu
hiruk pikuk kesunyian menjadi sejarah yang samar-samar

"Ah selamat pagi!
Duhai engkau yang anu

" Selamat datang!
O diri yang juga anu

Maka terimalah matahari dengan salam
agar orang-orang bergerak dengan kekhusyukan!



Aby Santika

Bandung,
18 Desember 2013