Sejak bulan menterjemah bahasamu,
aku tahu kepingan mozaik tersusun di nasib kesemutan arah
Sedang,
Pergumulanmu nampak meruncing malam
meninggalkan dada usang seteduh sandarmu
Anak-anak tiri melangit janji
serupa rahim ibu membumi kata
Sebatang terikkah ?
Kira airmata mengguyur setumpuk gurun perawan silam
Maaf, setiba rapat sauhmu tak nampak tepi
Sementara pesisir sunyi berangin janggal
Semenjak malam mendendam arak limbung
Aku sadar gontaiku melayar menuju bahasa-bahasa
yang sering kau isyaratkan
dalam diammu
Aby Santika II
Bandung
28 Oktober 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar