Sabtu, 23 Juni 2012

SURAT UNTUK PUAN DI NEGERI SEBERANG



Apa kabar dari seberang?
Puan, gambar-gambar jauh memandang tersekat
ketakutan mengirimkan badai di dermaga dada tua
tempat kita menanam ingatan tentang kesabaran dan keikhlasan menghadang kayuhan doa
serupa lukisan masa kecil di dalam bingkai dan terus bertambah usianya

Aku kian tak sanggup membuat perahu seperti lesung pipimu
saat luput lambaian angin dan kau menangis ketika semua doa terpinggir

Dalam sedih kita berpisah
melepas tali kapal pada jarak yang kau tahu menapakinya
menyatu dengan kerinduan dan sepetak puisi dari batu karang

Puan, seperti gadis berambut kepang, memberiku sepasang kesepian di kota yang mulai hujan
kapan tiba dari seberang?

Gedung-gedung yang rebah dari seberang lautan bisu mengabarkan
kepada siapa duka tertahan
karena laut dan angin adalah janji yang akan terbangun ketika mercusuar terasa samar 

Apa kabar dari seberang?
dan gerimis yang pecah mencatatnya dengan polesan gincu dibibirmu
menutupi ceceran rindu hari-hari panjang bagi puan entah kapan,
semoga tak seorang mendengar suaranya sebelum datang.





Aby Santika


Bandung,
23 Juni 2012.

Kamis, 21 Juni 2012

SAJAK KUE LEMPER

Sri, tubuhmu berbalut sutera berkilau
hijau daun mengembang selepas tangan di kepal penuh
karena kenikmatan tiada kagumi terlepas satu persatu
seperti kulepas waktu, sejenak melekat tiap butirannya

Sri, hendaklah kunikmati kesadaran yang terendus
seperti birahi di denyut yang berdegup kencang
tampak kehidupan bukan semata mengikuti aroma angin yang membawamu
 sebab, kau begitu basah meresap di antara dua daging yang mengapit pasrah

Aduh, sorga seperti terlihat melambai Sri!
menambal hidup yang lapar, dipertengahan masa kesederhanaan.

 
Aby Santika
 
Bandung,
21 Juni 2012.

Rabu, 13 Juni 2012

DOA DAN SEPOTONG HUJAN



Gerimis yang rindu, sebelum restu berkabar menggenangi jalan
jamuan sore membentang meniupkan angin yang sudah kuhafal
apakah kau ingat?

Dongeng sepanjang aspal memanjang terus berjalan,
bagaimana hujan berkunjung datang pada udara yang bernapas sendirian
sementara dikotamu dipenuhi puisi kecemasan

Doa menghitung pesan, seperti sepotong hujan meninggalkan harapan dari setiap kehilangan
apakah kau ingat?

: sebelum kutulis risalah dalam guyuran basah
kau telah menguburkan ribuan airmata di halaman pertama

Nda,
Undanglah kehangatan di ujung-ujung tulang
sampai hujan menunda badai ketika doa tinggalah kita.

 


Aby Santika 


Bandung,
13 Juni 2012.

Minggu, 10 Juni 2012

MATA AIR TUMBUH DIKENINGMU



Bilakah musim berganti, matahari telah menitipkan jarak dimatamu
sebuah dongeng yang melulur awal dan akhir penciptaan muasal
tak ada isyarat dalam angan-angan, ketika keningmu menjelma permadani
menyerpih sebuah nasib, berterbangan mengembalikan lupa
: dan sebuah kerinduan berbantun, dari satu titik ke titik

Engkaukah mata air yang menjadi sungai dengan linang ruh?
lalu menuliskan kabar ke rumah-rumah tua,
seperti cintaku pada pemurnian tanpa keinginan

Sebuah wujud yang ambruk, hanya berpangkal pada cahaya siluet
merumuskan kerinduan kumal mengeja sajak-sajak langit
untuk saling menepi, mengaji takdir yang tercipta dari nyanyian
karna segala yang tumbuh berupa kepastian

Bak mata air dari muara tumbuh di keningmu
mengeluarkan alir dan melunas semua iklim pada gerai rambutmu
lalu kukecup seperti seorang kehausan
dan kerinduan disemaikan waktu, ditenunnya
dengan lengan yang patah

Aku ingin bercerita padamu tentang sebuah pandang yang lain
mempertemukan sunyi dengan kasih sayang
kemudian bersampan sesuai peta ditubuhmu
bertaruh kesementaraan sebagai kekekalan
di ambang waktu yang terpajang saksi terakhir

Tapi aku menjadi perantara akan seutas rahasia,
yang mengubur kerinduan tanpa berpaling
dengan gerak-gerak yang menyucikan seluruh wujudmu

Bilakah mata air tumbuh dikeningmu nda,
dengan rapal-rapal hujan yang turun kesekian kali
: adakah waktu lain yang perkasa, menghenti alirnya?
memberiku pilihan lalu bulirnya menitiskan doa
menarikku pada Tuhan, sebab sorga menjadi tumpuan kasih sayang kita






 




Aby Santika

Bandung,
04 Juni 2012.