Jumat, 30 November 2012

MENCINTAI SEPERTI KETIADAAN

Cinta merupakan purnama di atas langit cemerlang
Dikirim malam dan menjelma parasmu yang riang
Maka ketika malam telah berlalu adalah perhitungan yang hilang

Dalam dzikir shubuh kesadaran menggerakan kesedihan
Maka mencintai seperti ketiadaan -- hanya prasangka dari penglihatan

Cinta memiliki seratus dari keindahan fatamorgana
Lalu tambahkanlah seribu kegundahan hujan ketika turun
Maka cinta akan sampai pada jawaban ''iya'' bahwa pandangan tak sepenuhnya seperti nyata

Wahai majnun, lalu apa yang kau cari ketika mencintai?
Kesucian hati tidak bisa ditunjuk dengan melihat lumpur yang basah!
: hati adalah air yang bening, sementara cinta adalah debu yang beterbangan!

Cinta tidak dapat melihat apa yang memang terlihat
Pun tak mampu berbicara kebenaran meski yang tak tersembunyi
Seperti kau dan aku bersembunyi di antara kebenaran yang terlihat

Biarkanlah gelisah yang membakar seluruh rahasia cinta kita
Menuju kesempurnaan yang memang telah tiada
- dan kelak, kau akan memahaminya.

 
 
 
Aby Santika
 
Bandung,
29 November 2012.

MENCARI TUHAN DI MATAMU

Matamu dengan ronce setangkai lili adalah khuldi terjatuh dari batang doa
aku melihat Adam mencari kuntum rekah agar ia sampai padamu
Adinda: aku masih belasungkawa dari asali di keesaan mimpi
saat Firda'us diasingkan angin, kecuali ketelanjangan
- dari perjumpaan di balik bukit gerimis yang lebih magis

Saat air mata pertama kali mengukir suara hujan
adalah dzikir panjang

meski sangsai berebut kekosongan
: Adam-Hawa, juga Qais dan Laila
mendalihkan perbedaan sahwat di gunduk hikayat
dan tuhan begitu sederhana mengepul di untai tasbih

Meski tatapanmu masih wahyu tak dikenal atas doa yang nisbi
dan tak pernah bersua di perjamuan kudus yang tertirah
namun, apa kau tahu apa artinya berkehendak?
- kun faayakun! maka jadilah!
kecuali kesaksianmu kabur ke pembaringan

Tubuhku masih beterbangan di kedua matamu serupa buroq
menghardik oleh hembus dari kelebat yang disucikan
lalu aku bersyahadat menentramkan lumut yang bergelambir di matamu
-- seperti tongkat Musa yang memancarkan zam-zam
Adinda: aku masih mencari tuhan di kedua bola matamu.

 
 
 
Aby Santika
 
Bandung,
26 November 2012.

BERCINTA DI KAPAL NUH

/1/
Kau layarkan kapal saat Nuh menusukkan doa selekas kilat tanpa suara dan terpaan kita mencelat, meski denyut berkali-kali serupa api
ah, disebalik arus risau, meski kayuh begitu sungsang kapal menghujam pada laut dan denah
: sepanjang Nuh mengulir tasbih di bilik surga
duduklah di pangku buritan! kita asyik melubangi langit.

/2/
Aku ingin kau memandangku dengan gairah bak

seorang pelaut
bersekutu dengan ombak, untuk melarung benih kerinduan juga tarian-tarian camar
sungguh, kita umpama nabi sekaligus iblis di lebur gelombang, lalu menjelma sepasang kekasih
pejamkan matamu! kau pasti akan mendengar umpatan-umpatan yang membahana

Lalu tangis terkadang kita ikrarkan untuk mengerti rasa sakit
seperti kelezatan, kita butuh duri untuk menguji.

/3/
Nuh, serupa pencarian! karena kapal tak mungkin berhenti di titik ini
sampai cinta bertalkin: tentang onak yang terdampar dari abad-abad silam
dari taman-taman surga kecipaknya menuangkan kemabukan baka
-- kau bukan kiasan dari laut yang menekuri kesempurnaan, adinda!
meski mihrabku mencatat waktu yang lain, namun guratan di lengan pipihmu melahirkan kesucianku.

/4/
Kemudian aku lingkarkan jangkar di ujung tanjung, ku selami matamu yang disangga laut
dengan syair, pasir dan nyanyian sebagai awan yang jatuh dari kepalaku
dengan kapal yang kunjung mengangkat sauh, kau tahu? kaki ku pun harus antri mengendap untuk berlabuh

Aku pun bertanya: sungguhkah sabda yang dilontarkan Nuh abadi dalam dongeng?
Adinda, ketika kita terbangun dari telentang, kita akan bernyanyi bersama, melayari semesta hingga kiamat.

 
 
 
Aby Santika
 
Bandung,
14 November 2012

MALABAR SUDAH LEWAT


Kita bersua
Ketika air mataku mengembara dengan lesatan yang terselip
Di sebuah peron kau kirimkan hujan telanjang pada bangku porselin yang lesu
Aku membacamu mencipta riak, melewatkan detik-detik yang kosong
Berpuluh pasang kaki melewati rel-rel panjang bagai jarak yang mengukur bebayang mata

Dan di cakrawala hanya asap tipis seperti uap berlarian di dalam hujan
Gerbong put
ih menampakkan lamban di jalan resah
Pintunya terbuka lebar menawarkan sepi yang tak terkunci
Lonceng pun berbunyi seperti pembuka mimpi yang terpetakan
Tetapi tubuhku mempunyai kehidupannya sendiri, menjagal suara peluit yang memeka hati kita

-Malabar sudah lewat!
: Suaramu berpalung mendung angin yang lembut
Seperti memanjat ingatan yang nyata lewat pesan yang tertulis ramah

Aku hanya mampu menangkap sisa uap pada kaca
Sampai bunyi cericit roda perlahan mereda telinga
Seperti tak ada pilihan ketika kita bersua pada muasal hujan, mendung dan petir
Dan jika putusan waktu di peron terakhir adalah pilihan
Biarkan kereta singgah hanya sementara untuk mengangkut luka.

 
 
Aby Santika
 
Bandung,
11 November 2012.

Kamis, 08 November 2012

LELAKI DAN ARLOJI TUA


Semalam, jarum arloji itu masih berputar melingkari sunyi yang menyelinap
Lalu seorang lelaki memberi tangan pada porosnya dengan tafsir angka-angka bergerak seakan mati, berlepasan, merajah telapaknya
"Tidakkah kau lihat waktu yang menjelma batu" gumamnya sembari menangisi sudut-sudut malam yang kalah
Diambilnya arloji yang berumur tua itu ketika dunia digeser oleh kata-kata

Lalu dia mengejar kekosongan dalam kordinatnya, arloji bertali kulit seperti terompah yang dijepit
Sebelum kembali disematkan belati dipinggangnya, dengan kesakitan melubangi liang waktu
Seperti seorang bapak yang menggali huma dengan cangkul agar kian gembur ditanami kehidupan, disirami keringat dan ludah.
- di sebutnya waktu ketiadaan, yang tertinggal pada kenestapaan cinta.

Setelah berpulang dengan keperihan dosa, dan matahari membuktikan pajar
Ia lepas arloji dengan hambar yang tergelar, dilafalnya satu-satu, detik demi detiknya
Dalam sebuah semedi yang belum selesai, didapati waktu berhenti berputar melepas nyawa arlojinya.

 
Aby santika
 
Bandung,
19 Oktober 2012.

AMSAL DARI KESEDIHAN



Apabila pagi telah lenyap, tak bisa kuhitung akasia yang bertebaran di rambutmu
Segala kenangan telah tersenyum mengubah arah jarum arloji menjadi dingin
Simpanlah, aku mengejar waktu mencuri usia

Di pundakmu aku hanya mengintip jam yang kosong
Lalu menitipkan bayang-bayang yang tersedu kepada api

Adinda
Berpuluh senyap mencatat tak berkesudah
Meski lewat sepi, aku berkendara dengan angin menabrak perih yang landai
Rumah jati kusembunyikan dari pagar yang tua

Aku ingin tidur bersama ibu, sebab ia mengerti bahasa rindu
Terbaring telanjang di ranjang putih yang membuka dosa
Sejenak bisa bercakap ketika angin berhenti dinyanyikan pepohonan
; hablur di udara tanpa suara

Adinda
Ada yang jatuh dari daun jendela mata kita
Mungkin air atau sehelai pikiran yang gugur oleh penyesalan
Sungguhkah ia lewat tanpa permisi, agar wajah tak kehilangan sepi

Tak ada lagi pilihan kecuali kesedihan akan berpulang
Dan tentang dongeng yang pernah tergelar di antara kata-kata
Seringkali aku payah bersembunyi dari jalanan yang bengkalai
- itu tidak perlu, aku tahu betapa cinta untukmu terasa tentram.

 
Aby santika
 
BANDUNG,
17 Oktober 2012

SENGKARUT RINDU



Engkau belumlah selesai di gelambir waktu
Segalanya merapalkan di setapak shubuh serupa embun
Tentang rindu angin yang ditidurkan dari bebayang hujan yang gerimis
Memberi ritmis pada napasmu hingga aku tersedak melantakkan sulur-sulur tak bermula

Aku tuntas memakamkan takdir sesuai perhitungan sepanjang hayat
Meski rusuk kian rumpang berjatuhan, dan jiwa terbelah membuka sengkaru...
t rindu yang luka
Kau ilhamku disilamkan sunyi, demikian detak berpunya hak
- lalu maujudku berkiblat menujumu dalam keremangan

O engkau yang memahat dinding tanpa angin
Mungkin kepulanganmu dari gelombang, menderaskan takdir separuh nyawa
Pada selembar daun lontar sajak membungkus air mata
: hidup, nasib dan takdir meletakkan kegelisahan yang telah silam
Masihkah kau kenal apa yang tertinggal?

Sungguh, engkau masih desah yang setia mengaji rindu
Mungkin tak ada petunjuk dari berangkatmu, hanya jejak sengkarut rindu
Dan mimikmu masih tembang yang mengambang dalam derak ingatan
Sembari perlahan mengikat kesangsian yang tak kumengerti

O rindu yang luka oleh jejalan mimpi
Kueja seluruh arus yang tertahan retak antara kelengangan yang nisbi
Seperti tubir waktu, memberi jarak pal-pal senja yang melenting
Kelak kita digenapi melebihi rahasia kesementaraanku

 
 
Aby Santika
 
PURWAKARTA,
13 Oktober 2012.

DERMAGA BANGSRI, JEPARA



Di laut itu
Seperti musim yang memancag sauh-sauh
Aku mengguratkan wajah bapak menusukkan kaki sampai berpercikan
Menjelujurkan keringat yang masih kuminum di samping terali penghidupan

Napasnya begitu sumir, melingkar jala terpasang di paru
Kembali di belah laut, mendamba mantra-mantra yang beriak
Meski kulit kembali tergambar selusin harapan yang kian melepuh

Di laut itu
Dermaga menawarkan hingar hingga lenguh
Kapal pun perlahan merapat langsir kelewat batas
Ku lihat angin di ujung ombak bercakap kosong untuk di bawa pulang

Alangkah langut matahari dengan jarak kaki terhuyung
Dan pasir pantai memeluk serupa kutuk di rautmu yang tua
Meski kau masih laut dengan sejuta kerahasiaan tak terbilang

Di laut itu
Katup-katup waktu jelas membekas
Kecuali badai sekedar singgah mengirim doa yang terdampar

 
 
Aby Santika
 
JEPARA,
03 November 2011.

UNTUK SEORANG LELAKI TUA



Suaramu mengingatkan aku pada kepulan cerutu daun nipah
Hingga berisik di dahan-dahan sejalur belibis yang berenang dimatamu

Hisapan yang mengandung segalah harapan dan doa leluhur
Pada mata yang akan ditiduri sebelum ajalnya

Berpuluh burung mengelu-elukan pandangan kita
Tak ada pemberontakan dari belakang
Tak ada wajah-wajah yang luka
Tak ada pohon yang kabur dari akarnya

Diam diam aku mulai memperhatikan wajahnya yang absurd
Yang mulai ramah bercakap pada keheningan
dan suara yang menguap menuntut keadilan di bawah napasku

Perlahan mereda cerita yang rengkah
Kau rapuh meremas jengkal demi jengkal tanah, yang lumutnya pernah menjadi kepedihanmu
di antara gelaran tikar dan secangkir kopi pahit, serta serakan kretek-kretek yang belum terhabiskan
Kita berhadapan dengan waktu dan dada sedikit terguncang

Pada musim gugur yang pernah beku,
serta angin tua renta yang memantulkan kaca-kaca di bola matamu

Hingga waktu sore yang makin lenyap bersama rambut rambut pun kian kusut
Ku mengingat kau di tiap cerutu yang mengabu,
di sana aku lihat kau masih tertidur nyenyak di kasur beludru

Kau masih terkacau dalam wangi kemboja,
bahkan setelah dentuman perang kembali menggoncang bumi tercinta
kau masih betah bercakap di dalam ingatanku?

 
Aby Santika
 
Bandung,
02 Oktober 2012.

CUNGKUP AIRMATA

Tanah basah dengan ruwatan antah-berantah disepuh air mata
lelembar daun telah patah di hamparan seprei yang telah kekal
tak ada yang bersulang, pun nasib ditelanjangi beramai-ramai
langit begitu gerimis, hanya tetes yang terdengar menuruni cungkup tersalibkan
aku tak mungkin berhenti di alur pelacuran serupa meratapi karib yang tenggelam

Dan tentang belasungkawa, kecuali firdaus
dipenuhi pengungsian bugil "ketelanjangan"
sejumput ingatan disandingkan meski hanya nir air mata diasingkan
masih kurasakan keremangan keruh membungkus ruh keluasan sunyi
cungkup: isyarat berangkatmu di simpang dan aku masih bergegas

:ya gusti pemilik segala jasad yang rubuh, bukanlah kematian yang kembali dibangkitkan air mata
sebab telah kubangun rumah-rumah seperti ketika Isa dilangitkan
segalanya dihitung waktu sebelum menjemput
saat gerimis menggenapkan titik-titik sunyi, air mata memencilkan bias di tepi cungkup

 
 
Aby Santika
 
Bandung,
30 September 2012.

Jumat, 21 September 2012

TARIAN KABUT

Ihwal perjamuan hanyalah sekat kepercayaan embun pada timba usia
aku berharap matamu mendekap sekujur kabut yang menggurat menemukan riak
seperti kelepak camar tak henti saling mengerling mengatupkan pagi yang terjaga

Lalu pada cawan yang kesekian, kita memanjat berahi yang mengutip satu awalan
- beterbangan ritmis sendawa angin ketika gemulai tarian sorongkan mimpi
dingin kembali t...
umpah saling berganti, dari dedaun yang mulai mengering
meski sebuah kisah berkelit tak kunjung kekal

Tarian dipinggulmu terus bergerak melampaui pukau kabut di gantungan musim
di tumpuk penantian serupa menghidupi masa lalu dalam pelukan embun
:tandus
seiring takdir berdegup riuh menentang gamelan tak bertuah

Ikutlah lebur melepas tawa yang terpahat sebelum maghrib
agar kian mengerti tentang kesakitan dan khianat matahari mengenang pagi
serta setiap dahagamu melingkarkan karma semua indera yang mulai lelah
kemudian kita terus melangkah dan bernyanyi bersama

Berabad, aku masih mengenalmu menyebutku kekasih
karena kabut yang terjelma, tidak menjadi raksa
erotis yang kita ikrarkan menyembul menzinahi semesta
lalu gairah mengguyur memberi kehidupan pada setiap pagi
: tarian kabut, ingatkah?

Bandung,
21 September 2012.

PERTANYAAN



1/
Di penghujung telapak, isyarat awamku melabuh di bibir yang terperanai
menderas tuah bagai buliran gerimis ketika aku meletakkan wajah penuh onak serta berjuta sujud yang di catat dengan lesatan udara
: tidakkah hening yang kita sembah, tak pernah kehilangan?
sebagaimana nafas mengatupkan mantra yang dilisankan ke dalam liang batu dari ruang ke ruang

2/
Aku lihat seluruh hidup dice...
drai pertanyaan, kecuali lahir selain dikiblatkan suarasuara sungsang
sekantung kekariban terpasang sebagai madah mendahului fajar kembali mendambai malam
sebentuk jarak yang menyuguhkan sesaji:
perihal matahari meski ia susut dan menjadi bayi yang dihumbalangkan makna sebagai manusia
: aku berjingkat-jingkat setelah mengecup bumi

3/
Kemana bapakku yang sedari pagi turun ke huma? di tanahnya aku membaca namamu
sekerat pesan yang tumbuh dari dunia yang renta, tempat aku selalu pulang dari pelancongan
aku memeluk kakinya, kaki yang berdaki
mencatat di antara riak yang membuat aku terjatuh, dulu...
"berbaliklah lurus keriuhmu" ucapmu,
"aku ingin melihat ka'bah yang kau pahat dari keyakinanmu"

4/
Aku masih bermimpi, kita bercakap menggenapi pertanyaan di satu arah
Ah, terlalu gelap! Meski pengakuan berkalikali menebal kepala dan berhenti di pengap kematian
bukan untuk mati di gelap dampar dengan mimpi tercela di ujung sekarat
-suaranya yang memagut seperti sebuah kesetiaan mencabuli sosokku
aku masih bermimpi!

5/
Siapapun bisa melihat kebisuan di dasar sepi, ia tertata seperti titiktitik menimbun waktu
akupun tetap sabar merasakan fijar dari sabda yang jatuh pada janji
apalagi lembarlembar jejak seperti aliran yang muncrat oleh hentakkan tongkat Musa: sebuah harapan
: ah pertanyaanku hanya bunyi oleh sebab tak tersentuh ajakan kudus

6/
O bebayang yang menyembunyikan rahasia!
Aku hanya terdakwa yang menebak segala nasib
O kubah yang membuat awamku kian tergeletar!
seberapakah pertanyaanku yang kau ulir menjadi tasbih?

Aby Santika
Bandung,
19 September 2012.

Jumat, 07 September 2012

RITMIS GELAS YANG BERADU



Di gigir, pagi tak pernah mereguk sebulir kabut yang masygul 
meski dingin diam-diam memberi pesan di sela lidah, mulut dan hasrat yang utuh
sembari membidik kelelakianku, aku mencatat sepasang lingkar berceruk dari arus gelas yang beradu
sebuah lagu mendedah ingatan-ingatan keperawanan yang berlintasan membisikkan kesangsian

"Di serambi melekat sebagai saksi"

Entah, saat segala aliran dinistakan ritmis yang berbaris
: O aku koma! tak kenal bunyi yang terwarta serupa gerimis
wangi kopi, pucuk daun hijau terkungkung luruh dibutakan gemuruh
kita diam tercampak sebagai muasal pada buhul yang mati

Duh, kuingat ibu berbicara dalam tatap melebihi mata; 
-saat kau dihantarkan timang, pada tembang terpahat napas
umpama gelas-gelas yang beradu, hanya kilasan sampai suara pecah!
dan tak ada doa menawarkan dahaga dengan bercakap hingga embun berloncatan menuju jaman yang hampir padam



Aby santika

Bandung,
05 September 2012.

CORETAN DI TEMBOK BELAKANG



1/
Ada yang menggodai tempat aku bersender menunggu kau berpulang,
dindingdinding panjang di sekujur pundak tertulis pesan paling jalang dari buah dadamu 
mengendap seluruh subuh, sedang para lelakon hidup menghanyutkan kecupan sampai matahari tenggelam
ah, seperti sungai nuh berdarah-darah di atas kanvas buta,
-mengabadikan duka!

2/
Bergegas coretan perlahan memelan jantungjantung di balik ruang kosong dan reot
kaki bertemu kaki, lalu kisah porak poranda dengan pecahan mata batu begitu saja
" anginangin menuliskan ode yang melambai tanpa pesan"

3/
:hei, hunuskan aku sebilah jenawi berayun kepala! "teriakku di arah belakang"
kemudian tertegun pohonpohon yang kauagungkan seperti rebah di jalan Ilahi
: akupun kembali beralih mencari batas hitam-putih yang berterbangan

4/
Belukar juga mulai terbakar meski ada api yang membahasakan gigil ke ruas napas
kita berhayat dengan penuh gairah, sebab rindu begitu sengak menjadi rumus yang berputar 180 derajat
di sini, coretan berganti-ganti dengan angka, berabad-abad dan jelma doa dengan sujud mendengus 
mata bersua menghitung keropok takdir nun jauh dan terbata-bata.

5/
Jika kau akan sampai sebelum keesaan menjebol tembok berlubang; menghambur sajak dirambati mimpi sengau
- kita tak ada janji tuk berlama-lama, di pangkuan selangkang
dan tak ada jejak coretan pada tanah yang masih terpeta dengan gemuruh
: hati, alangkah kita tak berjarak dari tubuh kita

 


Aby Santika

Bandung, 
28 Agustus 2012.

PERJALANAN SEMENTARA



Ibu dan bapak; sejak bersua nanda malu bicara, tak ada bakti sedari kandung
di dalam menuju hidup segala bahagia meneladan wujudmu
- menjalani gemetar dalam angin terberai pecah, duapuluh empat tahun !

Siapa menundung jika lapar begitu jujur terlampau ?
nyiur doa dan panggul di jadikan permai merdu siang dan malam
memperpanjang nyawa sejakkan kecil lagu di dendang tanda nan terang

Bersalin usia kuminta restu meninggalkan rahimmu, ibu !
Menjejakkan kesehajaan dari panggulmu, bapak !
menjadi musafir lagi, memerah nasib sebentar saja

Lepaskan tangan meninggi rupa, menaruh doa
lambai baktiku kelak perlahan mematah iba menjadi bahagia;
- sungkumkan sujud ikhlas memeluk hati
Ibu dan bapak, ananda minta gemerlap sebelum pintu tertutup rapat.



Aby santika

Bandung,
25 Agustus 2012

SELENGGANG GURAT ANGSOKA



Ada berapa angin yang menerpa jarak?
jemputlah seutas dingin, sebelum denyutnya melompat di jalan simpang tersedu
mengalun tembangtembang kesuburan dari pagarnya angsoka yang telah lalu
dan bahkan sepasang kursikursi bagai kotak kebimbangan menggemakan gurat gemetar

Kepada esok, segala letak begitu rompak
- berapakah jarak mulut dan napas dari titian akar?

Aku masih menghitung selenggang demi selenggang hikayat sembarang waktu
lalu menjaganya seperti anakanak yang meniupkan doa pada wajah ibu
lemah laun bingkaian bunga bersisir rindu

Sebab engkaulah jari seamsal lilin menyusuri hembusan angin
jika berkisah terjulur semusim saja
biar dunia kita kelak berpinang yang selenggang gurat angsoka.


Aby Santika

Bandung,
11 Agustus 2012.

Minggu, 05 Agustus 2012

RITUS SEBATANG LISUNG


Aku mencatat sebatang resah yang tumbang dari pelupuk
dan bayangbayang percakapan yang berjela muasalmu
dari seribu batu berbelah dengan sekali tepuk
ketika ritus gemeretak menyentuh langitlangit bersemak belukar
hingga mimpi kelahiran ditarik kembali, ibarat melisankan kutukan
dari bibir bawahmu

Senyampang debu dari selangkangan memukul kayu tanpa ukiran
kecuali sepetak dada kusebut lambang dari jazirah
karena kenikmatan menusuk lubang lisung pertanda waktu
ditabuhnya riwayat kehidupan
-menawarkan dahaga dalam kecipaknya mata air
yang muncrat menghardikkan serabutku

" Tuhan masih mengintip, di antara urat kemaluan "

O, aku tercerabut dari kuntum yang rekah katakata dusta
semisal adam ditundukkan khuldi: mencedrai dari dosa muasal manusia
membelah tanah dengan tongkat kemaluan
Duk !
Duk !
Duk !
bebunyi lisung bermata segitiga !

Sungguhkah telah tergelar pertempuran yang agung?
di kedalaman dunia sendiri, burung hudhud menggambarkan petapeta yang basah
dengan butir bulir putih yang asin, melata di kedua lembah dan tebing
hingga napasku tandus di gigir doadoa malam dari denting daun

Masihkah kau, mengapung mencari batas persujudan musim
atau berbagi segala rahasia yang tersampir dibibirku
O, saat gairah berjamaat dikiblatkan di lorong tubuhmu
aku perlahan sampai pada kabut yang dikacaukan suara kayu yang beralunan
: lisung !

Aby Santika
Bandung,
06 Agustus 2012

Rabu, 01 Agustus 2012

MASMUR DUA BELAS BULAN

Lonceng di tangan bergetar meningkah sonnet
matanya menyusuri hembusan angin selembut sutera
mempermainkan seluruh kelengangan yang bernyanyi sejenak
sejak dua belas bulan diadatkan semakin nyata rinai bergenang

Masmur ruhmu seperti batin meradang gundah
kemudian ada igauan memberi nalar seperti mendekat
dan aku menghentam dada, lalu kulepas doa pada dua belas tepat
siapa hendak bercinta, beriaklah suarasuara membawa pulang

" di dalam sajaksajakku bersuara pula firman Tuhan,
juga segenap usia yang tampak telanjang "

Aku dan engkau telah mengutuki bulan yang bersorak sorai oleh luka
hingga punah gairah memandangi jalanan waktu serupa bayi asyik menyusu
seluruh jasadnya berkilau dari malam ke malam dengan lembut
: jangan lagi kau ceritakan satu kisah
tentang keledaikeledai yang jatuh berjumpalitan

Karena segala impian telah tidur dimatamu sebagai teguran di tengah malam
selain dosa, lain waktu suarasuara berterbangan membuat nasib
dan dua belas bulan: gemetarlah seluruh jantungku
ketika masmur bersuara di atas langit, ku tiup rambutmu !

Aby Santika

Bandung,
01 Agustus 2012.

HIJRAH MENUJU WAKTU

Berawal dari sini,
kesetiaan bermalam beribu windu di garis alismu
menitipkan hidup dalam jarak dan kata
mungkin angin bisa menjauh di luar sangka
namun pinangku diamdiam menumpulkan jarak
meski kau gemetar terperangkap perburuan

Ku cintai kau, meski lenguhku lebih nisbi dari gerak waktu
hingga hijrah menuju sengau rembang usia
kejelitaanmu mengapung amsal buluh perindu bersulur di tubuhku

- dalam hitungan kala, kuhijrahkan waktu bersamamu
dan kurapatkan telunjukku menggambar rautmu

Kurasai gelapku menuruni seluruh cerlang aortamu
mi'rahku tidak seperti kepondang tanpa dedaunan
berkicauan dalam orkestrasi suara awal masehi usia kita
dipenuhi janji, melesungkan heningku
; di jalan ini
kemudian berdiam dipenuhi nasibmu

Ah, bukan kesementaraan saat tubuh rubuh ke muara
bila kita berkisah penziarah yang berjalan serupa melafal alif ba’ ta’
rautmu pernah di utus ke sepotong pencerahan takdir
sampai mengingatkan kerinduan itu menuju satu, atau ketiadaan
lalu hijrahlah pilihan yang melampaui masa
menuju waktumu, masihkah?

Aby Santika

Bandung,

01 Agustus 201
2

CATUR KOTAK

Kuda jalan
Pion jalan

Hitam kotak
Putih kotak

Skak matt !



Aby Santika

Bandung,
31 Juli 2012

Rabu, 25 Juli 2012

SIMPANG LIMA, SATU MALAM

dipersimpangan, ketika berjalan lewat kota
melempar langit dengan pucuk mata atau menggulung remang
tanpa api
dalam ingatan di taman, pikiranku ibarat mati suri di sepanjang aspal
waktu-waktu demikian di angkut ke pembaringan
menitipkan firman dari ayat-ayat Tuhan

Orang-orang mencuci kelamin di sudut jalan, yang terus mengerang
suatu malam mencatat waktu lain antara kembang sepatu dan dinding mengatup diam-diam
dan suara menjauh untuk ditidurkan, berbahagialah !

Ah, karnaval kelelawar menyisakan pertemuan
tentang jalan lengang mengalir di botol-botol sekarat
:Ajal
atau berduka ke urat leher yang tiba-tiba gelap

kudengar Adzan bergema tuk dini hari
tentang kesaksian, lalu kusebut tuhan di batas persimpangan
- Assolatu Khoirumminannaum !

halimun menelanjangi lebihi pandang, nur cahya lepaskan syahwat dari batu
di persimpangan, satu malam mewahyukan tubuh tanpa rangkuman

 


Aby Santika

Bandung,
25 Juli 2012

Kamis, 12 Juli 2012

KIDUNG BULAN DI PESISIR RANJANG



Mampirlah ke ranjangku bulan di seberang, tempat muara segala tubuh membenih patah
ketika nafas mendengus malam pun hangus, sepanjang peta asmara langit bersujud menjaga rindu
dendang janji di temali
bersua mata pisau meminang, pelunasan malam berarus gelombang ke hatimu

Kau pun naik, mendesau di udara;
"Kakanda !" Di ujung lidah kau bangun kota-kota sorga
"Marilah adinda, curilah persinggahanku yang sempat kau hitung !"

Kini jangkar malam serupa pejalan merajut puja, dan cahaya yang kemilau seperti setapak rumus memutar ubun-ubun
ranjang demikian tegap tak bisa bicara, kerinduan kini sudah berjaga dengan degup melagu dipersunting langit

O bulan kian berhumbalang di pesisir ranjang !
kisah yang tertuang adalah selambang tatapan di ujung zaman
dengan sabda menancap di tubuhmu, menyepuh serak kasidah sumbang !

Lalu, kusebut namamu mengemas waktu, dengan berlepasan cuaca gigil
-kau tubuhku dalam kubah telanjang, aku hatimu berpelepah lobang goa !
Dan kita tetap memaknai akan selembar angin ke sahwat suci
meski ada gerak liar mengakrabi malam
seperti nyanyian pengantin atau igauan mimpi bebal dengan rayuan yang landai
sejauh menafsir bahasa diseberang, nun jauh bergerak terbata-bata
"adinda, suaraku sirna di keningmu !"





Aby Santika

BANDUNG,

12 Juli 2012
.

Senin, 09 Juli 2012

SAJAK UNTUK YANG TERBARING



Suaramu sudah tidak berpawang
melintas-lintas mengambang
menulisi angka untuk di bawa pulang menuju gerbang
sebelum hari bermula segala dosa di simpang

Engkau betapa gemuruh retak berlubang
dari senyum merangkum khayal sendiri
daun-daun meloncat bertukar tiada di ratap
sebab derajatmu terbilang membumbung matahari

"Kita hanya seamsal kesunyian
berterbangan meneriakan segala air mata"

Mengeja sekat-sekat serupa ayat yang memercik
membagi duka yang sudah kau hafal
sepanjang rambut yang terurai lampau
berpendaran mengejar jarum jam melingkar
satu pertaruhan

Suaramu lengang di remang lepas
kecuali kesunyian mendengar lafalan doa
dan rindu segaris dari bulu mata
bergerak, dengan kepala tertidur di bawah
: Adakah kau kemilau terang di mata Tuhan?

Dan, bila dikau masih nur terbaring disucikan malam
sebuah makna mencatatnya pada kumandang kelahiran
sebab bukan pembaptisan di wajah semesta
untuk berhenti di batas ini karena usia






 




Aby Santika

BANDUNG,

09 Juli 2012

Sabtu, 23 Juni 2012

SURAT UNTUK PUAN DI NEGERI SEBERANG



Apa kabar dari seberang?
Puan, gambar-gambar jauh memandang tersekat
ketakutan mengirimkan badai di dermaga dada tua
tempat kita menanam ingatan tentang kesabaran dan keikhlasan menghadang kayuhan doa
serupa lukisan masa kecil di dalam bingkai dan terus bertambah usianya

Aku kian tak sanggup membuat perahu seperti lesung pipimu
saat luput lambaian angin dan kau menangis ketika semua doa terpinggir

Dalam sedih kita berpisah
melepas tali kapal pada jarak yang kau tahu menapakinya
menyatu dengan kerinduan dan sepetak puisi dari batu karang

Puan, seperti gadis berambut kepang, memberiku sepasang kesepian di kota yang mulai hujan
kapan tiba dari seberang?

Gedung-gedung yang rebah dari seberang lautan bisu mengabarkan
kepada siapa duka tertahan
karena laut dan angin adalah janji yang akan terbangun ketika mercusuar terasa samar 

Apa kabar dari seberang?
dan gerimis yang pecah mencatatnya dengan polesan gincu dibibirmu
menutupi ceceran rindu hari-hari panjang bagi puan entah kapan,
semoga tak seorang mendengar suaranya sebelum datang.





Aby Santika


Bandung,
23 Juni 2012.

Kamis, 21 Juni 2012

SAJAK KUE LEMPER

Sri, tubuhmu berbalut sutera berkilau
hijau daun mengembang selepas tangan di kepal penuh
karena kenikmatan tiada kagumi terlepas satu persatu
seperti kulepas waktu, sejenak melekat tiap butirannya

Sri, hendaklah kunikmati kesadaran yang terendus
seperti birahi di denyut yang berdegup kencang
tampak kehidupan bukan semata mengikuti aroma angin yang membawamu
 sebab, kau begitu basah meresap di antara dua daging yang mengapit pasrah

Aduh, sorga seperti terlihat melambai Sri!
menambal hidup yang lapar, dipertengahan masa kesederhanaan.

 
Aby Santika
 
Bandung,
21 Juni 2012.

Rabu, 13 Juni 2012

DOA DAN SEPOTONG HUJAN



Gerimis yang rindu, sebelum restu berkabar menggenangi jalan
jamuan sore membentang meniupkan angin yang sudah kuhafal
apakah kau ingat?

Dongeng sepanjang aspal memanjang terus berjalan,
bagaimana hujan berkunjung datang pada udara yang bernapas sendirian
sementara dikotamu dipenuhi puisi kecemasan

Doa menghitung pesan, seperti sepotong hujan meninggalkan harapan dari setiap kehilangan
apakah kau ingat?

: sebelum kutulis risalah dalam guyuran basah
kau telah menguburkan ribuan airmata di halaman pertama

Nda,
Undanglah kehangatan di ujung-ujung tulang
sampai hujan menunda badai ketika doa tinggalah kita.

 


Aby Santika 


Bandung,
13 Juni 2012.