Kamis, 04 Agustus 2011

SEPUNTUNG ROKOK

Maaf...

Hanya sepuntung rokok
hari ini...
sebaris hologram menari
tembakau
...di belantara lebatnya..

menyundut aksara bermerk
terkenal..

Abu melepuh hangus di
asbak berisi luka berdebu,
hingga sisa sebatang..
dan itu pun sisa setengah
puntung

Adalah :
pengobat gigil sepi...

Bibir semu mengisap,
asap-asap airmata keriput
Nikotin umpama madu nikmat
meski maut menguntil sisa
waktu...

Maaf...
rokokku sisa sebatang..
jangan kau ambil puntungnya..
karena..
kepulan mensketsa rindu
yang terlahir dari sela jari jemari
lusuh
mengapit ujung batang nikmat..
menjelma prasasti kumuh...

tersimpan utuh di tiap jejeran
nikotin

Asap di daulat kata menjadi
rasa
dalam bundaran meja
bermetamorfora,
sebentuk raut di ujung
kepulan
kemudian,
memecah...
hilang..

Rokokku menghitung waktu
seiring detik Dji sam soe
mengeja angka

2..3..4..

Sepuntung rokok adalah dirimu
kemudian perlahan lenyap
di belai angin...
sisa terbuang di asbak yang
retak..

Lihatlah..
hari semakin meninggi..
rindu semakin angkuh,
Tumpukan Abu kian berduka..
menjelma gundukan pasir,
mengubur rindu dalam peti
bermerk Dji sam soe..

Tambah lagi lah..
sebatang saja..
tak usah sebungkus
cukup sebagai penyambung
rindu yang hangus..

Semacam imajisme hidup,
meneror candu, lalu..
Asapnya berbaris membentuk
Jemaat
mengantri di loket duka,
menanti Bis pengangkut
kematian
tiba..





Aby Santika II
BANDUNG, 18 MEI 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar