Sebelum aku pergi menundung napsu
jika musim beramai-ramai menambal rindu
akhirnya tunggal wangi menunggumu saudara tua
Di tanggul kiri pantang dermakan lapar dan dingin
jika musim beramai-ramai menambal rindu
akhirnya tunggal wangi menunggumu saudara tua
Di tanggul kiri pantang dermakan lapar dan dingin
harapan malam sirnah berdandan lagi
kafilah berbangkai hujan pudar merayap
Lusuh kolewang tumpul enggan menggantung
tergayut-gayut dengkul pergi jembatan mayat
lengking harapan aus pucat jalannya
Bukan buat mati, juga sekarat cari
disatu tubuh mata menjanjikan matahari
lalu malam saudara gelisah terangkut
Menghadap hidup lemah terseret
namun engkau tetap asing bagiku
sepenuhnya memburu mimpi kemerdekaan
Serupa berkejaran mendapat umur
sementara kenikmatan seluruh jasad berlawan dilaras api
saat habis kebutaan cinta
Maka,
Sebelum aku pergi bertandang muram
kurus-kurus malam berteriak selangkah lagi
di tanah Cendrawasih tempat saudara tua mati.
Aby Santika
Bandung,
kafilah berbangkai hujan pudar merayap
Lusuh kolewang tumpul enggan menggantung
tergayut-gayut dengkul pergi jembatan mayat
lengking harapan aus pucat jalannya
Bukan buat mati, juga sekarat cari
disatu tubuh mata menjanjikan matahari
lalu malam saudara gelisah terangkut
Menghadap hidup lemah terseret
namun engkau tetap asing bagiku
sepenuhnya memburu mimpi kemerdekaan
Serupa berkejaran mendapat umur
sementara kenikmatan seluruh jasad berlawan dilaras api
saat habis kebutaan cinta
Maka,
Sebelum aku pergi bertandang muram
kurus-kurus malam berteriak selangkah lagi
di tanah Cendrawasih tempat saudara tua mati.
Aby Santika
Bandung,
17 Desember 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar