Nak, masihkah kau kenal apa yang tertinggal?
doa; yang kutitipkan dari denyar kerlingmu yang mungil
telah menjedai waktu dengan kerinduan yang menumpuk
bahkan ketika kujunjung wajahmu di dalam pigora
telah mengikiskan gerimisku yang terus tumbuh
Bibirku hampir retak oleh permohonan pada malam-malam
hingga yang tersisa hanya sebutir tasbih
yang tak benar-benar sepenuhnya
menutup gemuruh
Nak, tak ku tahu
disanakah kau simpan seluruh ruhku yang tak bersemai pada tubuh?
sungguh angin telah mengujiku tuk berpuing
hingga ia menyeretku ke hutan-hutan taksa yang gelap
mendedahkan kelelakianku sebagai seorang ayah
Tapi aku sadar, bukankah memang kita selalu butuh duri
untuk menguji setiap kesungguhan yang hadir?
Saat kutemui engkau kelak dari sebuah kekaburan
kuharap tiada duri yang bertahan dari nafasmu
hingga kelak pigora tak lagi sendiri berkawan sepi
nyanyian panjang di meja sarapan selau riuh memuja angin
Ya, akan kutemui engkau kelak nak!
karena detakmu mempunyai hak atas kehendakku
lalu akan kuwariskan hikmatku dengan sebentuk kesetiaan untuk menjagamu
hingga jasadku kembali menjadi tanah
aku sungguh merindukanmu
Aby Santika
Bandung
04 Februari 2014.
04 Februari 2014.