Kepada kau melirik seribu kira
takkan kujalani sendiri pesta berhias diri
meningkah belantara kesana-kemari
Batu pasir teduh musim-musim kembali
dan tangismu melompat tersedu-sedu
Apakah mati,jika tiada kembali ?
dan jika Istana berlindung kita berguna
setiap napas kususun batu dengan rapi
Nisanmu hilang sisa kemarin
Kita berumah digetah khuldi
sebelum hilang akan kembali
Orang-orang berganti menandang tempat
wajah tangis pecah sebundar telur
nampak ditengah padang senja tengadah
Bekunya bukan tertidur
langkah rubuh nyawanya tafakur
Itu engkaukah bermata lilin ?
wemegang erat,kau bawa melompat
wanginya sorga menumpah ke arahku
Rangkai bunga mengandung doa
takkan kujalani sendiri pesta berhias diri
meningkah belantara kesana-kemari
Batu pasir teduh musim-musim kembali
dan tangismu melompat tersedu-sedu
Apakah mati,jika tiada kembali ?
dan jika Istana berlindung kita berguna
setiap napas kususun batu dengan rapi
Nisanmu hilang sisa kemarin
Kita berumah digetah khuldi
sebelum hilang akan kembali
Orang-orang berganti menandang tempat
wajah tangis pecah sebundar telur
nampak ditengah padang senja tengadah
Bekunya bukan tertidur
langkah rubuh nyawanya tafakur
Itu engkaukah bermata lilin ?
wemegang erat,kau bawa melompat
wanginya sorga menumpah ke arahku
Rangkai bunga mengandung doa
gubah semesta gemetar tubuh
Kepada rahim hendak bernaung
biarlah hidup Tuhan yang mengatur
Aby Santika
Bandung,
12 Desember 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar