Ia tidur
Pada satu kisah seumur bulan merah
karena yang dipegangnya kebulatan usia
menyala bagai mata harimau tua
Berangkat dimusim gugur
rebah tanah diantara kota serupa kubur
payah jerat maut mewaris anaknya
Sesudah bumi memangku moyangnya
hujan mulai menggenang dada berlubang peluru
wajahnya merangkai bunga senyum nampak basah
Bagai mesra memandang cinta
negeri ini perang telanjang darah yang sama
dimana-mana jasa Tuan ditelan perut Setan
Ia tidur
burung-burung liar derap makamnya
mengabar dosa anak cucunya
kelopak luka tersadap jilat bapaknya
Lihatlah langit rengat bermata air
buat selama dulu keringatnya dangkal kehormatan
sebab merangkak mengandung beban kematian
Usai pun juang berkobar api
tidurlah lelap di tanah bernyawa gusur
sesekali bangun dan tengok
anak cucumu asyik bermain bedil dalam tindak keranda.
Pada satu kisah seumur bulan merah
karena yang dipegangnya kebulatan usia
menyala bagai mata harimau tua
Berangkat dimusim gugur
rebah tanah diantara kota serupa kubur
payah jerat maut mewaris anaknya
Sesudah bumi memangku moyangnya
hujan mulai menggenang dada berlubang peluru
wajahnya merangkai bunga senyum nampak basah
Bagai mesra memandang cinta
negeri ini perang telanjang darah yang sama
dimana-mana jasa Tuan ditelan perut Setan
Ia tidur
burung-burung liar derap makamnya
mengabar dosa anak cucunya
kelopak luka tersadap jilat bapaknya
Lihatlah langit rengat bermata air
buat selama dulu keringatnya dangkal kehormatan
sebab merangkak mengandung beban kematian
Usai pun juang berkobar api
tidurlah lelap di tanah bernyawa gusur
sesekali bangun dan tengok
anak cucumu asyik bermain bedil dalam tindak keranda.
Aby Santika
Bandung,
17 Desember 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar