Jumat, 30 November 2012

MENCINTAI SEPERTI KETIADAAN

Cinta merupakan purnama di atas langit cemerlang
Dikirim malam dan menjelma parasmu yang riang
Maka ketika malam telah berlalu adalah perhitungan yang hilang

Dalam dzikir shubuh kesadaran menggerakan kesedihan
Maka mencintai seperti ketiadaan -- hanya prasangka dari penglihatan

Cinta memiliki seratus dari keindahan fatamorgana
Lalu tambahkanlah seribu kegundahan hujan ketika turun
Maka cinta akan sampai pada jawaban ''iya'' bahwa pandangan tak sepenuhnya seperti nyata

Wahai majnun, lalu apa yang kau cari ketika mencintai?
Kesucian hati tidak bisa ditunjuk dengan melihat lumpur yang basah!
: hati adalah air yang bening, sementara cinta adalah debu yang beterbangan!

Cinta tidak dapat melihat apa yang memang terlihat
Pun tak mampu berbicara kebenaran meski yang tak tersembunyi
Seperti kau dan aku bersembunyi di antara kebenaran yang terlihat

Biarkanlah gelisah yang membakar seluruh rahasia cinta kita
Menuju kesempurnaan yang memang telah tiada
- dan kelak, kau akan memahaminya.

 
 
 
Aby Santika
 
Bandung,
29 November 2012.

MENCARI TUHAN DI MATAMU

Matamu dengan ronce setangkai lili adalah khuldi terjatuh dari batang doa
aku melihat Adam mencari kuntum rekah agar ia sampai padamu
Adinda: aku masih belasungkawa dari asali di keesaan mimpi
saat Firda'us diasingkan angin, kecuali ketelanjangan
- dari perjumpaan di balik bukit gerimis yang lebih magis

Saat air mata pertama kali mengukir suara hujan
adalah dzikir panjang

meski sangsai berebut kekosongan
: Adam-Hawa, juga Qais dan Laila
mendalihkan perbedaan sahwat di gunduk hikayat
dan tuhan begitu sederhana mengepul di untai tasbih

Meski tatapanmu masih wahyu tak dikenal atas doa yang nisbi
dan tak pernah bersua di perjamuan kudus yang tertirah
namun, apa kau tahu apa artinya berkehendak?
- kun faayakun! maka jadilah!
kecuali kesaksianmu kabur ke pembaringan

Tubuhku masih beterbangan di kedua matamu serupa buroq
menghardik oleh hembus dari kelebat yang disucikan
lalu aku bersyahadat menentramkan lumut yang bergelambir di matamu
-- seperti tongkat Musa yang memancarkan zam-zam
Adinda: aku masih mencari tuhan di kedua bola matamu.

 
 
 
Aby Santika
 
Bandung,
26 November 2012.

BERCINTA DI KAPAL NUH

/1/
Kau layarkan kapal saat Nuh menusukkan doa selekas kilat tanpa suara dan terpaan kita mencelat, meski denyut berkali-kali serupa api
ah, disebalik arus risau, meski kayuh begitu sungsang kapal menghujam pada laut dan denah
: sepanjang Nuh mengulir tasbih di bilik surga
duduklah di pangku buritan! kita asyik melubangi langit.

/2/
Aku ingin kau memandangku dengan gairah bak

seorang pelaut
bersekutu dengan ombak, untuk melarung benih kerinduan juga tarian-tarian camar
sungguh, kita umpama nabi sekaligus iblis di lebur gelombang, lalu menjelma sepasang kekasih
pejamkan matamu! kau pasti akan mendengar umpatan-umpatan yang membahana

Lalu tangis terkadang kita ikrarkan untuk mengerti rasa sakit
seperti kelezatan, kita butuh duri untuk menguji.

/3/
Nuh, serupa pencarian! karena kapal tak mungkin berhenti di titik ini
sampai cinta bertalkin: tentang onak yang terdampar dari abad-abad silam
dari taman-taman surga kecipaknya menuangkan kemabukan baka
-- kau bukan kiasan dari laut yang menekuri kesempurnaan, adinda!
meski mihrabku mencatat waktu yang lain, namun guratan di lengan pipihmu melahirkan kesucianku.

/4/
Kemudian aku lingkarkan jangkar di ujung tanjung, ku selami matamu yang disangga laut
dengan syair, pasir dan nyanyian sebagai awan yang jatuh dari kepalaku
dengan kapal yang kunjung mengangkat sauh, kau tahu? kaki ku pun harus antri mengendap untuk berlabuh

Aku pun bertanya: sungguhkah sabda yang dilontarkan Nuh abadi dalam dongeng?
Adinda, ketika kita terbangun dari telentang, kita akan bernyanyi bersama, melayari semesta hingga kiamat.

 
 
 
Aby Santika
 
Bandung,
14 November 2012

MALABAR SUDAH LEWAT


Kita bersua
Ketika air mataku mengembara dengan lesatan yang terselip
Di sebuah peron kau kirimkan hujan telanjang pada bangku porselin yang lesu
Aku membacamu mencipta riak, melewatkan detik-detik yang kosong
Berpuluh pasang kaki melewati rel-rel panjang bagai jarak yang mengukur bebayang mata

Dan di cakrawala hanya asap tipis seperti uap berlarian di dalam hujan
Gerbong put
ih menampakkan lamban di jalan resah
Pintunya terbuka lebar menawarkan sepi yang tak terkunci
Lonceng pun berbunyi seperti pembuka mimpi yang terpetakan
Tetapi tubuhku mempunyai kehidupannya sendiri, menjagal suara peluit yang memeka hati kita

-Malabar sudah lewat!
: Suaramu berpalung mendung angin yang lembut
Seperti memanjat ingatan yang nyata lewat pesan yang tertulis ramah

Aku hanya mampu menangkap sisa uap pada kaca
Sampai bunyi cericit roda perlahan mereda telinga
Seperti tak ada pilihan ketika kita bersua pada muasal hujan, mendung dan petir
Dan jika putusan waktu di peron terakhir adalah pilihan
Biarkan kereta singgah hanya sementara untuk mengangkut luka.

 
 
Aby Santika
 
Bandung,
11 November 2012.

Kamis, 08 November 2012

LELAKI DAN ARLOJI TUA


Semalam, jarum arloji itu masih berputar melingkari sunyi yang menyelinap
Lalu seorang lelaki memberi tangan pada porosnya dengan tafsir angka-angka bergerak seakan mati, berlepasan, merajah telapaknya
"Tidakkah kau lihat waktu yang menjelma batu" gumamnya sembari menangisi sudut-sudut malam yang kalah
Diambilnya arloji yang berumur tua itu ketika dunia digeser oleh kata-kata

Lalu dia mengejar kekosongan dalam kordinatnya, arloji bertali kulit seperti terompah yang dijepit
Sebelum kembali disematkan belati dipinggangnya, dengan kesakitan melubangi liang waktu
Seperti seorang bapak yang menggali huma dengan cangkul agar kian gembur ditanami kehidupan, disirami keringat dan ludah.
- di sebutnya waktu ketiadaan, yang tertinggal pada kenestapaan cinta.

Setelah berpulang dengan keperihan dosa, dan matahari membuktikan pajar
Ia lepas arloji dengan hambar yang tergelar, dilafalnya satu-satu, detik demi detiknya
Dalam sebuah semedi yang belum selesai, didapati waktu berhenti berputar melepas nyawa arlojinya.

 
Aby santika
 
Bandung,
19 Oktober 2012.

AMSAL DARI KESEDIHAN



Apabila pagi telah lenyap, tak bisa kuhitung akasia yang bertebaran di rambutmu
Segala kenangan telah tersenyum mengubah arah jarum arloji menjadi dingin
Simpanlah, aku mengejar waktu mencuri usia

Di pundakmu aku hanya mengintip jam yang kosong
Lalu menitipkan bayang-bayang yang tersedu kepada api

Adinda
Berpuluh senyap mencatat tak berkesudah
Meski lewat sepi, aku berkendara dengan angin menabrak perih yang landai
Rumah jati kusembunyikan dari pagar yang tua

Aku ingin tidur bersama ibu, sebab ia mengerti bahasa rindu
Terbaring telanjang di ranjang putih yang membuka dosa
Sejenak bisa bercakap ketika angin berhenti dinyanyikan pepohonan
; hablur di udara tanpa suara

Adinda
Ada yang jatuh dari daun jendela mata kita
Mungkin air atau sehelai pikiran yang gugur oleh penyesalan
Sungguhkah ia lewat tanpa permisi, agar wajah tak kehilangan sepi

Tak ada lagi pilihan kecuali kesedihan akan berpulang
Dan tentang dongeng yang pernah tergelar di antara kata-kata
Seringkali aku payah bersembunyi dari jalanan yang bengkalai
- itu tidak perlu, aku tahu betapa cinta untukmu terasa tentram.

 
Aby santika
 
BANDUNG,
17 Oktober 2012

SENGKARUT RINDU



Engkau belumlah selesai di gelambir waktu
Segalanya merapalkan di setapak shubuh serupa embun
Tentang rindu angin yang ditidurkan dari bebayang hujan yang gerimis
Memberi ritmis pada napasmu hingga aku tersedak melantakkan sulur-sulur tak bermula

Aku tuntas memakamkan takdir sesuai perhitungan sepanjang hayat
Meski rusuk kian rumpang berjatuhan, dan jiwa terbelah membuka sengkaru...
t rindu yang luka
Kau ilhamku disilamkan sunyi, demikian detak berpunya hak
- lalu maujudku berkiblat menujumu dalam keremangan

O engkau yang memahat dinding tanpa angin
Mungkin kepulanganmu dari gelombang, menderaskan takdir separuh nyawa
Pada selembar daun lontar sajak membungkus air mata
: hidup, nasib dan takdir meletakkan kegelisahan yang telah silam
Masihkah kau kenal apa yang tertinggal?

Sungguh, engkau masih desah yang setia mengaji rindu
Mungkin tak ada petunjuk dari berangkatmu, hanya jejak sengkarut rindu
Dan mimikmu masih tembang yang mengambang dalam derak ingatan
Sembari perlahan mengikat kesangsian yang tak kumengerti

O rindu yang luka oleh jejalan mimpi
Kueja seluruh arus yang tertahan retak antara kelengangan yang nisbi
Seperti tubir waktu, memberi jarak pal-pal senja yang melenting
Kelak kita digenapi melebihi rahasia kesementaraanku

 
 
Aby Santika
 
PURWAKARTA,
13 Oktober 2012.

DERMAGA BANGSRI, JEPARA



Di laut itu
Seperti musim yang memancag sauh-sauh
Aku mengguratkan wajah bapak menusukkan kaki sampai berpercikan
Menjelujurkan keringat yang masih kuminum di samping terali penghidupan

Napasnya begitu sumir, melingkar jala terpasang di paru
Kembali di belah laut, mendamba mantra-mantra yang beriak
Meski kulit kembali tergambar selusin harapan yang kian melepuh

Di laut itu
Dermaga menawarkan hingar hingga lenguh
Kapal pun perlahan merapat langsir kelewat batas
Ku lihat angin di ujung ombak bercakap kosong untuk di bawa pulang

Alangkah langut matahari dengan jarak kaki terhuyung
Dan pasir pantai memeluk serupa kutuk di rautmu yang tua
Meski kau masih laut dengan sejuta kerahasiaan tak terbilang

Di laut itu
Katup-katup waktu jelas membekas
Kecuali badai sekedar singgah mengirim doa yang terdampar

 
 
Aby Santika
 
JEPARA,
03 November 2011.

UNTUK SEORANG LELAKI TUA



Suaramu mengingatkan aku pada kepulan cerutu daun nipah
Hingga berisik di dahan-dahan sejalur belibis yang berenang dimatamu

Hisapan yang mengandung segalah harapan dan doa leluhur
Pada mata yang akan ditiduri sebelum ajalnya

Berpuluh burung mengelu-elukan pandangan kita
Tak ada pemberontakan dari belakang
Tak ada wajah-wajah yang luka
Tak ada pohon yang kabur dari akarnya

Diam diam aku mulai memperhatikan wajahnya yang absurd
Yang mulai ramah bercakap pada keheningan
dan suara yang menguap menuntut keadilan di bawah napasku

Perlahan mereda cerita yang rengkah
Kau rapuh meremas jengkal demi jengkal tanah, yang lumutnya pernah menjadi kepedihanmu
di antara gelaran tikar dan secangkir kopi pahit, serta serakan kretek-kretek yang belum terhabiskan
Kita berhadapan dengan waktu dan dada sedikit terguncang

Pada musim gugur yang pernah beku,
serta angin tua renta yang memantulkan kaca-kaca di bola matamu

Hingga waktu sore yang makin lenyap bersama rambut rambut pun kian kusut
Ku mengingat kau di tiap cerutu yang mengabu,
di sana aku lihat kau masih tertidur nyenyak di kasur beludru

Kau masih terkacau dalam wangi kemboja,
bahkan setelah dentuman perang kembali menggoncang bumi tercinta
kau masih betah bercakap di dalam ingatanku?

 
Aby Santika
 
Bandung,
02 Oktober 2012.

CUNGKUP AIRMATA

Tanah basah dengan ruwatan antah-berantah disepuh air mata
lelembar daun telah patah di hamparan seprei yang telah kekal
tak ada yang bersulang, pun nasib ditelanjangi beramai-ramai
langit begitu gerimis, hanya tetes yang terdengar menuruni cungkup tersalibkan
aku tak mungkin berhenti di alur pelacuran serupa meratapi karib yang tenggelam

Dan tentang belasungkawa, kecuali firdaus
dipenuhi pengungsian bugil "ketelanjangan"
sejumput ingatan disandingkan meski hanya nir air mata diasingkan
masih kurasakan keremangan keruh membungkus ruh keluasan sunyi
cungkup: isyarat berangkatmu di simpang dan aku masih bergegas

:ya gusti pemilik segala jasad yang rubuh, bukanlah kematian yang kembali dibangkitkan air mata
sebab telah kubangun rumah-rumah seperti ketika Isa dilangitkan
segalanya dihitung waktu sebelum menjemput
saat gerimis menggenapkan titik-titik sunyi, air mata memencilkan bias di tepi cungkup

 
 
Aby Santika
 
Bandung,
30 September 2012.