Sabtu, 14 Desember 2013

MENUJU TIMUR



Tidak ku tahu, bayang-bayang sepanjang garis jam telah menjelma tugu
langkah bertakik pada tanah ini, tak serupa penujum ketika memuja angin
nyanyian panjang, masihkah terlihat apa yang tertinggal?
waktu tak bisa direka dari perumpamaan pasti
: karena setiap yang bergerak mempunyai hak dalam perjalanannya

Kelak angin menuju timur akan mengarahkan hikmatku seperti amuk kalam
berharap tubuhku rubuh bukan karena sakit, namun ruh ambruk dari kepongahan jalan-jalan asing
mencampakan tubuh dan darah yang kekal

Karena di perjalanan ini, pohon-pohon tak kuasa bergerak oleh rahasiaku terpenjara angin
aku terhuyung sambil menangisi kemaluanku yang penuh darah, mungkin bangkai!!
masihkah ada suara gurauan dari keesaan?
- membaiat kematianku dengan syahadat kelak

O matahari jubahmu adalah wali!
dari cahaya Allah, tasbih menebas iman menuju pengampunan
bak biri-biri sendiri ku merangkak dari sepi melintas rangkaian alif
inikah rahmat yang terkirim dari setitik dzarrah yang tumpah?

Tidak ku tahu, nur turun didekapku membopong hingga pembaringan
menuju timur matahari bermula lahir dalam pencarianku
: Allah, Allah, Allah !!
 
 
 
 
Aby Santika
 
Miftahussalam,
14 Desember 2013.

SEKETIKA DZIKIR



Nafas kami masih tersenggal, dunia adalah jalan-jalan amnesia
perahu yang terkayuh seperti ritus-ritus hidup yang tenggelam
;Laailaahaillaa anta ya hayyu ya qayyum
-debu di kulit tak kuasa bergerak, bahkan dari abad-abad karma
derita masih terikat

Dini hari, dari tanah ini kami bertalkin
rahasia-rahasia tumpah menyentakan kesadaran:
" ya Robbi, seluruh tafsir dari langitMu mendera urat nadi"
sujud kami gelap !
mata air lembab dari batu-batu yang dilalui

Sunyi tak jua menjenguk, meski masih basah jerit dari mata air
; Laailaahailla anta ya hayyu ya qayyum

Selusin cahaya untuk menidurkan pertempuran
seketika dzikir terdampar di trotoar-trotoar
seketika dzikir terdampar sebagai saksi dari kitab yang di catat atas takdir
dalam malam kegilaan meraung
juga kesetiaan mewujud insomnia

Kami berjaga sekelam akal
dari firman dan tabu dengan seketika dzikir
: Laailaahailla anta subhaaanaka inni kuntum mindzaalimiin

 
 
Aby Santika
 
Bandung,
01 Desember 2013.

Rabu, 09 Oktober 2013

ANJING LIAR


Anjing!
Begitu katamu, kepada anjing-anjing liar itu,
aku yang di seberang menggigil
membawa cinta yang hampir mati

Teruslah menggonggong
sembari mengangkang dan menjulurkan lidah
sebab di tetesan liurnya, telah kutemukan
namamu mengalir bersama tanah.

 
Aby Santika
Bandung,
10 Oktober 2013.

SEBELUM MALAM TERTIDUR



Begitu juga aku
malam yang mengepung selalu bersuluh penuh luka
bagai waktu dan merangkulku tiba-tiba
yang dikabarkan oleh selembar angin
juga tilas yang mengukir sumir bagai arak murni
seperti rindu yang memekik-mekik

ya, malam belum juga tertidur sayang!

Nafas kian berat mendengus
ia menjemput tiap doa, agar malam tak sujud
ya sayang, mata ini pun kian berat
meski matahari nampak gelap
namun kita tidak pernah sungguh-sungguh
pulas menelan mimpi

Langit berubah lengkung dan dungu
sedang ingatan seperi ludah yang membusuk dan kering
aku tau sayang, rinduku adalah jalan
juga malam yang semakin tua dan penuh kesiaan

ya, malam masih enggan tertidur sayang!

Sepasang mataku masih sembahyang tenang
meski penuh pasir juga luka merah yang memucat
namun aku tak ingin meragukan adamu
sampai malam-malam berikutnya
aku akan tetap terjaga dan menjaga tiap lekuk indera
meski terkadang siang selalu lupa

sayang, tidurlah kau meninggalkan malam
begitu juga aku
yang esok akan terbangun persis di bawah kedua
lubang hidungmu dengan terengah-engah

 


Aby Santika

Bandung,
09 Oktober 2013.


Kamis, 26 September 2013

ODE BUAT NOOH



Kembali aku maknai diriku sebagai manusia
ketika kau ucapkan salam pertama, salam pada semesta
di taman perdu doaku tak lekang; berhikmat, mencatat pesan
yang tidak bisa dibahasakan dengan kasat mata
sebagaimana titik-titik mimpi diantara ribuan igau
aku merindukanmu,
rindu yang tumbuh seperti ibumu; ia menganyam manik-manik indah
di kedua lenganmu

Aku kembali mengaji dan mengkaji
kutemukan namamu, juga namaku; dalam ayat tak berwujud
dalam nama sebagaimana Adam adalah putera pertama
dari tangan-tangan sorga

Namun kita tak punya pilihan, nak!
meski tulang iga yang lepas tak bisa retas oleh api
kau masih terlalu muda untuk jadi seorang pemburu
atau aku harus sabar melihatmu melangkah menuju fajar
yang merekah
mata mungilmu menawarkan seribu sorga yang murni
dan bening
kecuali jika kesangsianku berkata bahwa tidak ada api
di antara kautsarnya yang bermuara

Adakah kau kelak akan menolak kehendakku?
sebab aku ayahmu, dan biarlah langit mengikrarkannya
di atas rasa sakit, di dalam rindu yang mengheningkan air mata
ihwal yang terbuang akan menemu tempat yang suci
kita tahu,
setiap bahasa yang dirahasiakan selalu ada yang lebih abadi
dari pembangkangan yang di cipta dari penghianatan

Berlarilah nak! bagai rusa di padang buruan
lalu kita akan bernyanyi bersama kelak,
pejamkan matamu
karena kerinduan kita tidak akan dilupakan waktu




 



Aby Santika

Bandung,
23 September 2013.

Minggu, 22 September 2013

SEAMSAL LILI


Karib yang terlepas; dari pal pal selalu berjanji
menunggu asal dari senja
tak ada halte di kota ini, dan daun-daunpun tak mengembalikan segalanya
tetapi disini ada rambut kita yang terpangkas
dari putik; seamsal lili,
hingga malam dapat di tebak dan aku masih mencintaimu
sampai terlelap

 

Aby Santika

Bandung,
18 September 2013.

DI DALAM PIGORA



Mendekati dinding-dinding
aku kikis kembali hati kita, yang luka dipenuhi
kenangan-kenangan kekal
-- kehilanganmu,
di dalam kejenuhan sayap-sayapnya adalah dupa
yang mengkhayalkan malam

Sambil menuliskan sajak-sajak
aku berjejak dalam alur tak pasti
sebuah potret masih berdep-depa tercampak
di antara ukiran, rautmu membentuk
keperawanan yang tua renta

Jika engkau bertanya:
"Dalam pergantian malam, Usaikah kau menganyam
tiap bilah rambutku yang kusutmasai?"
gurauanku di secangkir kopi menegurmu:
"engkau bak eva di dalam kaca, seperti resah
sukar dipahami dalam wujudnya!"
yang diandaikan abadi, perlahan hilang
dipenuhi dosa

Kemudian kusisipkan di pojok dinding
rautmu dipantulkan kaca jendela dan tembok porselin
bak penari dikuyupi birahi
Bibirmu berkibar rekah meski di pengap udara
di dalam pigora, luka adalah kesendirianku
sebab tiada pintu yang membuka
tempat menguburkan hati kita

 

Aby Santika

Bandung,
14 September 2013.

Rabu, 28 Agustus 2013

LANTAK



/1/
Pengembaraanku selalu batu, dari lontar yang pernah ku sajakkan " aku
terjungkal " -- turunlah O Muhammad, menggiring sorga
tapi di awal masehi angin memiuh bak siul burung-burung
tak terdengar suara tasbihmu; dari mata, tangan bahkan ujung kemaluan
ringkih hanya daun-daun yang gugur mengaji tanah

/2/
Kenapa bibirmu seperti retak?
sebuah sapa menjadi lantak dan papa oleh air mata, dari dangau di tepian rambutmu
ada jarak merembeskan gelisahku dengan jejak-jejak asing
yang sewaktu-waktu bisa cacat oleh kemarau

/3/
Firdaus juga Sa'ir masih terbenam dalam sihir-sihir penglihatan
ataukah telaga-telaga tempat mengintip sepetak dada
kecuali Tuhan selalu mengalirkan Kautsar hingga terpangkas seluruh dahaga
O Allah, bahkan jeritku masih merasuk ke dalam mimpi-mimpi birahinya
; berbahagialah sorga yang lantak, berbahagialah!

Bandung,
28 Agustus 2013.

Selasa, 06 Agustus 2013

LELAKI YANG BERMATA API



Seperti yang telah kau kenal diriku
lelaki yang berangkat dari penyangkalan agung
lelaki yang lupa kapan dan dimana waktu pulang
setiap langkah telah terlaknati sebagai kenabianku
; aku melilitkan pandangan seperti ular bermata api

Biar segala karma seperti kesucian yang lantak
sebab selalu ada luka untuk menguji
seribu mata akan menyaksikan jasadku ditepikan lahat
ketika segala kenyerian masih berkutat pada rimba kekosongan

Namun, aku telah bersekutu dengan tubuhku
kehendak terlalu lemah seperti biji pelir yang terkulai
memuncratkan birahi ke puncak api
hingga duri tak akan bersimbah darah
sebab diriku adalah api! pada setiap bola mataku adalah bara melebihi neraka!
" Aku akan tetap hidup dari setiap penyangkalan; jiancuk !!"

 


Aby Santika

Blitar,
07 Agustus 2013.

TITIK 24


Jika ada sembahyang yang mencahar di titik ini
hanya sundih saat kau undur dari pelupukku
sedang kesaksianku serupa jarum jam yang palung
dihantarkan timang, pada tembang di relung paling silam
hingga gelap dipahami bak resah yang paling ganas

Di titik ini, kuhitung segala dusta yang mengekal
seperti sapuan mata, kita akan melihatnya terapung
di ambang keesaan sepi

Mimikmu masih sealir air yang tak lagi memberi batas
untuk menunggu cipratan yang memberi dingin
ah, akupun diam-diam mendinginkan waktu
doa kurapatkan bagai kedap ketulusan hingga ada yang meledak;
di antara belikat malam

Mungkin di keesokan hari
garis-garis rahasia akan terpahami pada titik ini
hingga jibril menangis dalam setiap sujudku
saat mabuk suntuk karena persetubuhan dengan tuhan dijadikan umpan
- kita telah diasingkan, sebab kita bukan tuan atas hidup ini

Maka aku akan berjalan hingga putaran ke dua puluh empat
dan jangan pernah kau bertanya;
" sebab kita tidak akan pernah berhenti pada titik yang sama "
 


Aby Santika

Blitar,
03 Agustus 2013.

Jumat, 19 Juli 2013

YAA NOOH !!



Waktu dimulai dari sini
sebuah tafsir yang menekuri kesempurnaan
maujud yang berpinak dari rahim sorga
yang memercik; melebihi api
tangga-tangga kelahiran sebagai saksi
sebuah kala tentang penciptaan sejarah

Biji matamu sedingin muasalku
saat sabit pertama kali menggurat jerit
dari arahku adalah doa-doa khidmat sebagai jelaga
tidakkah ada yang tau di ubun selembar harap
mengalir dari lenguhmu?

Serupa anak-anak yang dikirimkan hujan
gerakmu perlahan mendaras melalui bulu alisku
kutaruhkan hidup diantara lengan pipihmu
sebentuk jabang; menyembur dari rusukku
hikmah melesungkan bebunga

" tapi di mata, kemudian seperti luka "

Anak hujan menghilang, hanya laut yang langut
dengan kesaksian tabu, ia larut bukan atas namaku
sungguh bukan juga atas namamu
sebentang peristiwa terlalu rumpang untuk diabadikan
aku hanya penjiarah, dan engkau yang berangin
tidak mungkin mengingat apa-apa
yang tiba-tiba diam, meski sempat kueja namamu
; yaa nooh !!

 


Aby Santika

Malang,
16 Juli 2013.

MEMBACA SEPI

Malam yang sundih
seperti sepi yang bersijuntai oleh angin
ia bergerak-gerak di tubuh; membuatku ingin terbaring
menjeritkan tangis lelawa yang membusuk di belik ingatan
sepi tercipta dari luka mengalun, juga marmar darah
-- di kematian embun

Hanya berbagi dengan rintih dalam kemabukan
menuju arah entah, meski aku tahu di sepanjang waktu
rindu selalu menolak untuk di tundukkan
: sampai terdengar ratap, dingin memunajatkan
doa kaum teraniaya

Ah ini sepi!
yang membahasakan malam menjadi ganjil
mampirlah mimpi melalui celah atap rumahku
kita bersorak menghitung kesunyian demi kesunyian
hingga segalanya menjadi hingar keikhlasan
kecuali birahi yang menjejak di selangkang sendiri

Sungguh aku telah dipersilah oleh sunyi
aku membacanya seperti tilas tinta di selembar rahasia
hanya tampak diriku sendiri, aku tak menemukan apapun
meski hati itu diam-diam kusimpan hingga rekah
namun seperti buai mimpi-mimpi; aku masih terdakwa membaca sepi.

 


Aby Santika

Surabaya
08 Juli 2013.

Minggu, 26 Mei 2013

RITMIS MALAM


Kau tahu ketika malam tercipta dari sebuah luka, sepasang rindu seperti kisah perulangan
sambil menanting angin ku baca kembali rasa sakit yang memagut mata
meski tak ada mimpi yang harus di temali; ah, tanpa mimpi kita tak berjarak dari celah

Di silam kita tercampak percuma, merangkum harapan yang hanya bunyi dari seribu batu
diam berarti kekosongan yang meritmis 
siapapun tahu malam itu aku selalu mengigau namamu
"karena di malam itu aku bisa bersembunyi dari sesatnya rindu"

Jika matamu menjelma sejuta panah, dengan busurnya kupersilahkan kau bidik rembulan
tersenyum begitu sinis menyaksikan adegan-adegan kejam yang menyiksa kita
dan jika bibirmu merafal mantra, undanglah aku yang fakir untuk bertamu di hatimu agar tuntas segala petaka

Meski ada yang terpenggal dari sepetak rahasia yang kita biarkan tilasnya menuliskan sunyi
aku pun tak henti menangkap sisa rindu menjadi uap-uap menuju embun
sebab kita adalah Nuh yang memanggul derita Kan'an dengan ikhlas
seperti keikhlasan kita memanggul beban rindu yang kian tenggelam menuju subuh.



Aby Santika

Bandung,
19 Mei 2013.

DI SELATAN KOTA



Sebuah rindu terseret ke linangmu, lalu sunyi tak berhenti di kedalaman kalam
Dan nganga bak muson berlalu lalang beterbangan di kotamu merampok sekuntum malam yang diam
Kau menjelma paceklik dengan ruap merih tak terandai, di selat
an kotamu
: aku menyembah rindu yang pernah kita jadikan tempat berhikmat, menghatam mimpi di lubuk hening

Dan malam kembara kau seakan berpindah dari ruang ke ruang
Aku menyaksikan dirimu membelah, melepas segala batas yang segera tumpas
Ketika air mataku menghajar sebuah kiblat kesedihan yang dalam
" aku merindukanmu di atas segala bahasa yang tak terpahami"

O adinda, kau adalah lesit yang menghisap darah dari nyawaku
Aku meregang saat cinta lebih mengekal dari keabadian fana;

tolong pilihlah kematianku di sebuah pertemuan kelak
Atau menunggu sekarat di sepertiga malam dalam kesia-siaan

Meski masih bisa kudengar sendawamu yang sundih melanggengkan kesetiaan Eva
Sungguh, kau akan tahu di balik isak yang menyesak kerinduan, bercucuran getir air harap di sebagian kota yang renta,

 --menanti kekosongan di simpang waktu.




Aby Santika

Jakarta,
22 April 2013.

SURAT PENUTUP

 
: Adinda, sebuah waktu

Parak ajal, kutemukan nyeri bersulih kata-kata
seperih sajakku diingatan, dikenangankan seperti Shinta juga Dedes

ia terlahir dari tangan-tangan trah kesucian, lalu waktu mencatatnya lewat taklimat yang terpinggirkan
meski dirahimmu kelak waktu lain tercipta
bahasa apa yang harus kuterjemahkan dari rahasiamu!
- dan segala tulisan mengekal menjelma batu

Mungkin rindu dengan mata pedangnya telah mencipta merih
mengundur arah jarum jam selama berabad-abad menitiskan paceklik
atau metamorfosa bunga dan mengundang burung-burung untuk mematuknya 
namun yang kuingat hanya lesungmu yang tersamar di renggang jemariku

Di penghujung, kita tak sempat menghitung seberapa cemas itu akan datang
semuanya membelah jiwaku melebihi batas-batas kata
; Jika pelarunganku selamat, 
-- kau akan tahu betapa telah kulaknati kelelakianku dengan kesedihan dan umpatan-umpatan

Aku tak akan berhenti di bait ini, meski kepastian bukanlah Isa yang diteteskan keperawanan

Adinda: kita bermimpi dilahirkan dan dibuang
mengaji rindu bersama, berdzikir pilu bersama, terlentang mengilhami sunyi
dan duka terpatri adalah bahasa sederhana yang pernah kita tulis di atas lontar

Karena harapan hanya lanun yang tertinggal dikerongkongan
akupun berdoa dengan tengadah dan menutup mata
lalu semuanya menjadi sebuah titik tersendiri yang kekal

Ah, semoga tulisan ini tidak akan pernah terselesaikan
- kau tidurlah dengan lelap!



Aby Santika

Bandung
03 Maret 2013.

Jumat, 01 Februari 2013

CATATAN NGANGKANG



/1/
Aku tak bisa memunguti lembar-lembar hasratku
kubayangkan niskala bugil masih meritus di rahim malam
menggambar liang goa: karena menara lebih magis menghunus
dari muasal linggar kering dengan ombak pertaruhan
saat pilihan melampau suara hujan yang lembab dan licin

Desirku yang berderit dari sela-sela dipan di peram gelap
kandil damar dimakamkan rindu tanpa karma
mengambang serupa senggama dicercapi sepi

/2/
Kueja suwung atas ritualku yang buta serupa tembang
karena dada dilapisi dengan gelar mimpi-mimpi susut yang beringsut
adakah kelamin berpelesir dari penjuru mata angin?

Seperti meriam: gairahku gemetar, menyambar di ubun-ubun
- atau lesatan anak panah membidik burung-burung hingga menggelepar

/3/
Aku terlelap hingga ikatan-ikatan rusukku lepas khianat
kecerlangan mentalkin mi'rahku hingga meledak; dari ketelanjangan jasad
di selangkang kukhayalkan padang sorga luas
atau neraka hanguskan batu syahwat dibebunyian doa
: busurku berdarah, terpanah muncrat melebihi nanah!

 
 
Aby Santika
 
Bandung,
1 Februari 2013.

DI TEPI TAKDIR

Ada kejenuhan dari layar-layar yang berkibar di garis rautmu
Di laut taksa: kesendirianku berupa kenangan dipagari riak-riak gelombang
Apa yang terjanji? Selain matahari yang bertasbih dikeremajaan waktu

Di seberang mata, masih bisa kudengar desir menjauh dikeremangan ruh
Payudaramu tak berkibar menitipkan keberadaanku yang koma
Kesia-siaan ini kian bersenggama tanpa peraduan
: adakah kau tau hikayat adam-eva, melenggam perumpamaan kita berdua?

Meski aku didera angin, mimpi akanmu terlalu mahal dirabai
Menisbatkanmu bak lara yang merangsumkan benih onani
Dari bebayang sangsai yang muncrat di urat-urat kayu
Sampai ketika sajakku yang mulai tumbuh dari rambutmu luruh
- ke tubuh, ke lenguh

Ah, mata mungilmu masih hingar utuh berlari dari nyeri ke nyeri
Mengundang para fakir mabuk kepayang dari perburuanya
Di bilik, di serambi kejenuhan bersandar pada air mataku

Aamiinilah rindumu, aamiinilah mimpiku, aamiinilah luka takdir kita pada satu kepercayaan
:"kita pasti bisa bersabar pada ingkar"




Aby Santika

Bandung,
26 Januari 2013
.

01 JANUARI



Jelas Januari tidak seperti nyeri yang membinasakan diri
Atau Desember yang hampir merampas tembang hujan digemuruh musim
Dimana nafas, merayap hingga ludah merah rengkah

Ia datang bersiul, membawa buluh perindu
Saat dahaga terlalu mahal dari batu yang mencair
Ia hadir merangsumkan kehendak mimpi azali

Januari: masihkah duri bersembunyi di perdu lili
Memberikan jemari yang bergetar hingga ujung bibir
Karena aku berdiam di sana, sebagai pesakitan

Aku tahu awal pengharapan selalu diratapkan oleh kata-kata
Tanpa jubah, hingga sajadah segala jalan tak pernah sangsai
Pada mimpi-mimpi yang telah luntur notasinya

Tapi, aku ingin berkisah padamu tentang awal januari
Untuk melesakkan saddhu jiwaku yang selalu basah oleh air mata
Bahwa: selalu ada rindu yang mengapung untukmu di muaranya.




Aby Santika

Bandung,
01 Januari 2013

TITIMANGSA; YA MARHABAN


 : menjelang hari kelahiran kekasih

Kemudian kepastian seperti amnesia dierami perhitungan
cermin diri, sebagai kelahiran yang paling sempurna diikatkan tubuh umpama Maryam menitahkan Al-masih membuhulkan persetubuhan alam

Separuh tahun meleburkan dunia, dari awal ke awal
nyanyian sunyi tak terpahami, pun tak ada keajaiban karena doa mengakrabi usia tak kenal angka, dan segala yang telah terpenggal tak bisa diretas kecuali takdir kepada sang kala ribuan lilin peringatan berpinak dari rahimnya

Titimangsa kelahiran tercipta dari kelesik kelembutan kasih
benih begitu sumir menyimpan putik janin suci di awal zaman
kembang api dan nyanyian-nyanyian kudus menempelkan pahala dan awal dosa di lembar dakwaan : kau berguling dengan beribu-ribu malaikat meniupkan riuh doa menuju hadirmu

Sementara kugelombangkan hijrah di lain waktu
berpelesir tanpa kata-kata api: seperti pembakaran Sinta atau Ibrahim barangkali, hanya peringatan paling keparat terlontar
sebab pula bukan pinangku ditasbihkan dengan air mata kesedihan
hanya melangkah, saat ingatan meliarkan pertaruhan
- untuk doa dan pujimu di titimangsa: ya marhaban!




Aby Santika

Bandung,
31 Desember 2012

SEKERAT SABDA



Silahkan pulang! O kekasih yang jatuh di awal zaman
kesangsianku mendurhakai sabda yang membuat dada tersalib
segala perburuan hanyalah perjamuan di alir jejakku ketika air mata menjadi pakir kita bersua; aku pun memeluk mimpi yang kau titipkan

Zaman yang pernah membuat juga kita terjerembab, lalu terasing
meski aku harus merunut bebayang lanun di antara orgasme harapan yang menujumu apa yang bisa aku timba dari sekerat sabdamu ketika kau berhenti mengaji hidup sebagai ilham?
- meski di sebuah pintu aku bersujud menyembah kikir yang bersalam kepadamu

"letakkan tangismu," katamu.
"sungai-sungai bebulir air mata memberi api terhadap arus yang kau kabarkan..."
: kita adalah Khidir penguasa lautan, menghunus umpatan dengan tombak!

O sang kekasih, aku membaca berjuta sabda yang tergurat di daun pelawa silahkan kau pulang menuju hal ihwal sebuah kiblat yang batunya kita pahat kita kembali mengembara rindu sebagai pelancongan pada satu takdir
dan menjadikan ritmis waktu sebagai tempat berkhidmat agar kita saling mengingat

Karena di seberang, kisah yang mengunci membuatku bagai tugu
tetali tubuhku berkumpar seperti ular yang paling berbisa
sungguhkah aku harus berdiam menyalibkan: alif dengan abjad?
kau tersenyum dalam kesedihan di sekerat sabda yang melayang
dan aku meski sang Khidir penguasa lautan
: aku terbakar!




Aby Santika

Bandung,
27 Desember 2012.