Daun jati luruh berebut keinginan hari-hari muda
di balik dinding kayu dalam doa wangi bunga-bungaan
memberi napas jadi keping pasir tempat berganti kehidupan
alam luas membawa sengat matahari di gantung tenang
"Adinda, aku tak punya apa-apa, selain cinta lapuk berumur"
Atap-atap akar rimbun menutupi lemah segala hari
lupakan dingin malam yang terasa tua tak bersarung
ketika kita, bercinta menghampar tirai sutra
aku ingin memperkosa sepi,
kuruntuhkan menghentam kenang melintang
Lalu dadaku meninggalkan napas di halaman belakang
jantung yang memberikan ruang jari-jari jati didegupkan
seperti semuanya masih berjalan tersedu
Nda, pagarnya berlumut bahasa rindu
tak ada yang membuka kaca di pintu
bagi mimpi, yang ramah berabad-abad silam
Jendela berpolitur memikul waktu yang kosong
dan bayangan impian beranjak pergi bersama duka
napas yang kuisap esok hari
: Adinda di rumah kayu kita beristirahat,
menghadapi hari panjang.
Aby Santika
Jogjakarta,
16 Mei 2012.
Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Sabtu, 19 Mei 2012
SURAT TERPENGGAL UNTUK TUHAN
Langit pagi dengan pucuknya, dan bunga bukan tempat matahari
untuk mendekap sejuta peleburan diri yang pecah lalu dosa di koyak memeta
seperti jibril tentang sayapnya terjatuh rapuh penuh ketidak berdayaan
Mungkin di atas kubah kita menenggak kepastian dengan kepala melayang
partitur mengeja nada-nada langit berterbangan
semacam gemerincing doa dengan pusaran sekeras gita seorang perindu menuntaskan gelisah
: dan pagi telah kembali diam
di belenggu sebuah angan, riuh angin menggugur daun-daun yang di tabur didadaku
tapi keresahanku menjelma sayap malaikat, dan sekendi udara, atau harus kutuntaskan kemabukan?
Ataukah dalam musim itu aku melayari setiap tubuh pagi yang memisahkan antara aku dan Tuhan
sebuah jarak kematian dalam sepekat ini, selain waktu laksana roda pedati
merebut kehendak dari jaman, tentang kelamin menusuk matahari
- aku mayat dengan ayat-ayat yang gagal
Persetubuhan tak lagi kudus, sebab jarit pisaunya memaksa subuh membelah kemurtadan
Seperti sejengkal sajak selalu menyisakan sebuah nyanyian tanpa notasi
lalu dengan telinga kudengar suara ibu umpama rintik hujan yang hadir dikepalaku
mengirimkan matahari, serupa bola mata ikan, untuk memilih sebuah cuaca
atau mengirimkan kutuknya sebab airmata dengan linang ruhnya tertahan dikeningku
sebuah surat terpenggal buat Tuhan, dan asal penciptaan
Siapakah pagi yang mengiringku menyembah kelamin
seperti cintaku pada pemujaan tanpa keinginan
menghujamkan tombak menembus garba yang ambruk sekarat dan mati seperti seorang kelaparan
menuju langit dalam kengangaan sebuah jarak peniadaan diri.
Aby Santika
Semarang,
07 Mei 2012.
untuk mendekap sejuta peleburan diri yang pecah lalu dosa di koyak memeta
seperti jibril tentang sayapnya terjatuh rapuh penuh ketidak berdayaan
Mungkin di atas kubah kita menenggak kepastian dengan kepala melayang
partitur mengeja nada-nada langit berterbangan
semacam gemerincing doa dengan pusaran sekeras gita seorang perindu menuntaskan gelisah
: dan pagi telah kembali diam
di belenggu sebuah angan, riuh angin menggugur daun-daun yang di tabur didadaku
tapi keresahanku menjelma sayap malaikat, dan sekendi udara, atau harus kutuntaskan kemabukan?
Ataukah dalam musim itu aku melayari setiap tubuh pagi yang memisahkan antara aku dan Tuhan
sebuah jarak kematian dalam sepekat ini, selain waktu laksana roda pedati
merebut kehendak dari jaman, tentang kelamin menusuk matahari
- aku mayat dengan ayat-ayat yang gagal
Persetubuhan tak lagi kudus, sebab jarit pisaunya memaksa subuh membelah kemurtadan
Seperti sejengkal sajak selalu menyisakan sebuah nyanyian tanpa notasi
lalu dengan telinga kudengar suara ibu umpama rintik hujan yang hadir dikepalaku
mengirimkan matahari, serupa bola mata ikan, untuk memilih sebuah cuaca
atau mengirimkan kutuknya sebab airmata dengan linang ruhnya tertahan dikeningku
sebuah surat terpenggal buat Tuhan, dan asal penciptaan
Siapakah pagi yang mengiringku menyembah kelamin
seperti cintaku pada pemujaan tanpa keinginan
menghujamkan tombak menembus garba yang ambruk sekarat dan mati seperti seorang kelaparan
menuju langit dalam kengangaan sebuah jarak peniadaan diri.
Aby Santika
Semarang,
07 Mei 2012.
BUKAN KETIADAAN YANG TIADA
: Sajak pengantar peristirahatan Heru Emka
Tiada duka, ketika tanah tak lagi berkalang nyawa
ibarat benih yang mulai tegak ke langit luas
bertambah beban hidup daun-daun berjatuh lambat laun
kita hanya menyaksikan perjalanan, tiada berguguran
Ada sebagian orang yang pergi dengan berbekal sesal
lalu yang lain mengantar doa-doa ikhlas di sepanjang sujud
namun percayalah, kita lahir ke dunia dengan tangis
kemudian tanah menampung jasad hidup menuju kejernihan telaga Sorga
Tanamlah keikhlasan, lalu Tuhan menuai taburan segala amalan
pada puisi-puisi yang runcing telah tergali lubang terang
kalimat menerjemah ayat memberkati kebaikan manusia
Ini bukan kehilangan, barangkali wujud kasat bermandi airmata
atau tirakat terbenam jiwa-jiwa belasungkawa
dari ujung belahan lain turut bermuram duka
sebab kita sering lupa, bahwasannya dunia hanya sekedip mata
Dari awal kembali ke awal mula penciptaan
: tiga riwayat penuh adalah kepastian
Terlahir dari tanah yang suci
dipenghidupan menjejak tanah pencarian
berujung terbaring di antara dinding tanah kemuliaan
Berlarilah orang-orang yang berbahagia
adalah sorga Tuhan menjadi awal permulaan keabadian
- bukan ketiadaan yang tiada
Aby Santika
Yogyakarta,
02 Mei 2012.
Tiada duka, ketika tanah tak lagi berkalang nyawa
ibarat benih yang mulai tegak ke langit luas
bertambah beban hidup daun-daun berjatuh lambat laun
kita hanya menyaksikan perjalanan, tiada berguguran
Ada sebagian orang yang pergi dengan berbekal sesal
lalu yang lain mengantar doa-doa ikhlas di sepanjang sujud
namun percayalah, kita lahir ke dunia dengan tangis
kemudian tanah menampung jasad hidup menuju kejernihan telaga Sorga
Tanamlah keikhlasan, lalu Tuhan menuai taburan segala amalan
pada puisi-puisi yang runcing telah tergali lubang terang
kalimat menerjemah ayat memberkati kebaikan manusia
Ini bukan kehilangan, barangkali wujud kasat bermandi airmata
atau tirakat terbenam jiwa-jiwa belasungkawa
dari ujung belahan lain turut bermuram duka
sebab kita sering lupa, bahwasannya dunia hanya sekedip mata
Dari awal kembali ke awal mula penciptaan
: tiga riwayat penuh adalah kepastian
Terlahir dari tanah yang suci
dipenghidupan menjejak tanah pencarian
berujung terbaring di antara dinding tanah kemuliaan
Berlarilah orang-orang yang berbahagia
adalah sorga Tuhan menjadi awal permulaan keabadian
- bukan ketiadaan yang tiada
Aby Santika
Yogyakarta,
02 Mei 2012.
STASIUN TUGU SORE HARI
Di perjalanan, kuhidupkan kembali keluh nafas panjang
peron menerjemahkan lalu lalang angin ke setiap orang
bersama bunyi lokomotif dengan segenap cermin hati
setelah lama merasakan sakit akibat perpisahan tak sampai kepayang
Ya, sore ini, ayat-ayat matahari menari-nari di atas lembaran awan
biarkanlah semua ini menghanyutkan segenap kerinduanku
dengan pesona tamborin irama tua dan syair-syair membuka tirai-tirai penghalang
yang bersemayam dalam rindu yang merana di jantung kota Yogyakarta
Duhai adinda, nafas panjang yang pernah membuncah
tak kunjung mati meski telah berkalang tanah berjarak ribuan mil
stasiun tua menyenandungkan segala tembang yang mengasihi sepanjang masa
dan ia adalah mata yang amat indah dengan segala keindahan
Mbok-mbok pemanggul bakul menangis tersedu sedan,
menyaksikan cinta yang tak sampai seperti mawar yang dilumat kasar
ya, aku hanya berharap bisa menangkap sinar dari tangis
dan doa-doa yang berbunyi dari mereka di sepanjang gerbong keabadian
Agar akalku bangun dari korban api merindu dendam
lidah dan kaki berjejak meninggalkan stasiun yang kian malam
bersama bunyi ceracau setiap orang-orang yang kutemui diperjalananku
kelak, semua rahasia kehidupan akan jelas nan terang di hadapanmu Adinda.
Aby Santika
Yogyakarta
01 Mei 2012.
peron menerjemahkan lalu lalang angin ke setiap orang
bersama bunyi lokomotif dengan segenap cermin hati
setelah lama merasakan sakit akibat perpisahan tak sampai kepayang
Ya, sore ini, ayat-ayat matahari menari-nari di atas lembaran awan
biarkanlah semua ini menghanyutkan segenap kerinduanku
dengan pesona tamborin irama tua dan syair-syair membuka tirai-tirai penghalang
yang bersemayam dalam rindu yang merana di jantung kota Yogyakarta
Duhai adinda, nafas panjang yang pernah membuncah
tak kunjung mati meski telah berkalang tanah berjarak ribuan mil
stasiun tua menyenandungkan segala tembang yang mengasihi sepanjang masa
dan ia adalah mata yang amat indah dengan segala keindahan
Mbok-mbok pemanggul bakul menangis tersedu sedan,
menyaksikan cinta yang tak sampai seperti mawar yang dilumat kasar
ya, aku hanya berharap bisa menangkap sinar dari tangis
dan doa-doa yang berbunyi dari mereka di sepanjang gerbong keabadian
Agar akalku bangun dari korban api merindu dendam
lidah dan kaki berjejak meninggalkan stasiun yang kian malam
bersama bunyi ceracau setiap orang-orang yang kutemui diperjalananku
kelak, semua rahasia kehidupan akan jelas nan terang di hadapanmu Adinda.
Aby Santika
Yogyakarta
01 Mei 2012.
EPILOG MENJELANG PAGI
Aku benar-benar mabuk oleh anggur perindu dari mimpi-mimpi malam
keagungan yang tampak kepermukaan adalah esensi sejati yang membuka mata,
bukan cawan-cawan yang berkilauan lalu berpaling memantulkan sinar
setelah embun bersimpuh di sekitar wajah matahari yang memikat segala bentuk dan bau keharuman
Pada hijaunya reranting, kicauan merdu burung mengatur keharmonisan nyanyian,
tak usah menghiraukan gema yang mencipta kesucian yang berkelok-kelok
di antara duri mawar yang merekah dengan tali-tali cahaya keelokan matahari
sebab sesungguhnya Tuhan telah menguji hati pagi dengan sentuhan kemuliaan dan keluhuran
Duhai khayalan yang luas, pandanglah alam di balik kabut tebal
kemudian bukalah penutup mata hati yang menyelipkan kesedihan
di balik airmata akan terlihat mengkilat seluruh permohonan doa
dari kegelapan dan mimpi-mimpi, tinggallah perjalanan yang tertawa kegirangan
Di sini, kehormatan malam mengangkat selendang suteranya
lantas memainkan tari-tarian yang sensual
harum bir dan khamer senantiasa bergoyang ikhlas menerima takdir
sementara ruhku seolah-olah berada di alam mimpi jasad yang muram
Kembalilah aku dalam kiblatmu duhai Allah
menjelang pagi yang hanya di damba dengan rintihan setiap ridho
seolah menjelma burung bul-bul kecil terpesona hakikat kilauan matahari
sambil tersenyum bangga memakai sorban putih di atas cahaya cucu Adam dan Hawa
Lihatlah pagi ini embun menimpa jejak-jekak mendung
dan aku melihat matahari terbit setiap hari dari masa lampau
tapi orang-orang tak pernah sepenuhnya menambatkan butir-butir airmata menghadapi kehilangan
barangkali pertaruhanku terakhir untuk bernapas dan menyebut Gusti Allah
Aby Santika
Bandung,
24 April 2012.
keagungan yang tampak kepermukaan adalah esensi sejati yang membuka mata,
bukan cawan-cawan yang berkilauan lalu berpaling memantulkan sinar
setelah embun bersimpuh di sekitar wajah matahari yang memikat segala bentuk dan bau keharuman
Pada hijaunya reranting, kicauan merdu burung mengatur keharmonisan nyanyian,
tak usah menghiraukan gema yang mencipta kesucian yang berkelok-kelok
di antara duri mawar yang merekah dengan tali-tali cahaya keelokan matahari
sebab sesungguhnya Tuhan telah menguji hati pagi dengan sentuhan kemuliaan dan keluhuran
Duhai khayalan yang luas, pandanglah alam di balik kabut tebal
kemudian bukalah penutup mata hati yang menyelipkan kesedihan
di balik airmata akan terlihat mengkilat seluruh permohonan doa
dari kegelapan dan mimpi-mimpi, tinggallah perjalanan yang tertawa kegirangan
Di sini, kehormatan malam mengangkat selendang suteranya
lantas memainkan tari-tarian yang sensual
harum bir dan khamer senantiasa bergoyang ikhlas menerima takdir
sementara ruhku seolah-olah berada di alam mimpi jasad yang muram
Kembalilah aku dalam kiblatmu duhai Allah
menjelang pagi yang hanya di damba dengan rintihan setiap ridho
seolah menjelma burung bul-bul kecil terpesona hakikat kilauan matahari
sambil tersenyum bangga memakai sorban putih di atas cahaya cucu Adam dan Hawa
Lihatlah pagi ini embun menimpa jejak-jekak mendung
dan aku melihat matahari terbit setiap hari dari masa lampau
tapi orang-orang tak pernah sepenuhnya menambatkan butir-butir airmata menghadapi kehilangan
barangkali pertaruhanku terakhir untuk bernapas dan menyebut Gusti Allah
Aby Santika
Bandung,
24 April 2012.
AMSAL SEBUAH KETULUSAN
Nda, jika waktuku adalah api,
mereka tiada akan tahu kepedihan kayu yang meranggas
dan selalu adil terhadap nasib malam yang gigil
Engkau lahir dari waktu yang melayang-layang
lalu kugapai tanpa sia-sia penuh ketulusan
dan ada yang berkata:
" Tuhan tidaklah akan menangis, sebab kehidupan penuh cinta "
Di atas bumi berarti sebuah petunjuk,
dan aku akan berbaring di bawah senyummu
sambil mengucapkan doaku di dalam impian
Nda, tanganku yang rapuh melambai-lambai dimatamu
bagai dahan pohonan tampak basah waktu hujan
karena airmata turun dalam sajak-sajakku yang mendung
Bukankah matahari sudah asyik memandangi petir?
lalu tersedialah kehidupan yang hijau dikelilingi pohon bertirai tangan-tangan kita
Dan, jika ketulusan adalah waktuku, nda!
aku akan berlutut menanti kenari-kenari menaiki matahari
kerna di sana ada sorga yang menggeliat indah
berhamburan di tiap napas yang kau hembuskan
Di dalam cinta muncullah kasih-kasih Tuhan
Di antara Tuhan terselip wahyu untuk kita
dan itu adalah:
"kau harus segera tidur, dan esok akan bermunculan ketulusan diwajahmu, ketulusan yang berasal dari waktuku"
Aby Santika
Bandung,
19 April 2012.
mereka tiada akan tahu kepedihan kayu yang meranggas
dan selalu adil terhadap nasib malam yang gigil
Engkau lahir dari waktu yang melayang-layang
lalu kugapai tanpa sia-sia penuh ketulusan
dan ada yang berkata:
" Tuhan tidaklah akan menangis, sebab kehidupan penuh cinta "
Di atas bumi berarti sebuah petunjuk,
dan aku akan berbaring di bawah senyummu
sambil mengucapkan doaku di dalam impian
Nda, tanganku yang rapuh melambai-lambai dimatamu
bagai dahan pohonan tampak basah waktu hujan
karena airmata turun dalam sajak-sajakku yang mendung
Bukankah matahari sudah asyik memandangi petir?
lalu tersedialah kehidupan yang hijau dikelilingi pohon bertirai tangan-tangan kita
Dan, jika ketulusan adalah waktuku, nda!
aku akan berlutut menanti kenari-kenari menaiki matahari
kerna di sana ada sorga yang menggeliat indah
berhamburan di tiap napas yang kau hembuskan
Di dalam cinta muncullah kasih-kasih Tuhan
Di antara Tuhan terselip wahyu untuk kita
dan itu adalah:
"kau harus segera tidur, dan esok akan bermunculan ketulusan diwajahmu, ketulusan yang berasal dari waktuku"
Aby Santika
Bandung,
19 April 2012.
SAJAK SETANGKAI LILI
Rupanya kekasih berasal, tumbuh di padang sepi sendiri
memutihkan bulan perak pada fijar tanah pasir
pelita mewangi jalanan waktu dibadannya bagai angin sejuk setangkai lili temali, jari menari pada gairah semesta
Senyum sepi terbaring memeluk bakung-bakung liar
karangan suka dan duka melupakan rindu sesaat
antara wajah kekasih, kuusap setangkai warna tanpa bahasa
kadang-kadang sendiri di sepanjang jalan bernyanyi dengan belukar
Menangis tersedu
melihat tanah di sekitar terkalahkan
bunga lili di dahan benalu dengan akrab menempuh kekosongan
burung-burung menjinakkan daun tentang harapan kasih sayang
karna terharu semata oleh wangi
Jika mungkinkah matahari menunggu di hawa dingin,
akankah waktu rebah di taman yang terjalin usia?
berayun menebar wasiat keyakinan begitu jujur
pada tangkai yang sering hilang menghindari kelam
Ialah lili, meneladan hidup sepenuh cinta
mempertahankan hak setangkai menurut bisikkan mendekat
lemah laun bermohon suara syair berpijak erat
Bilakah engkau lepaskan sangka dari rupanya
angan layangkan bahagia melambai perlahan
kelak, bingkai hati pada setangkai lili mengikat hidup
atas rangkaian alam yang tak terbatas menuju hidup abadi
Aby Santika
Bandung,
16 April 2012.
memutihkan bulan perak pada fijar tanah pasir
pelita mewangi jalanan waktu dibadannya bagai angin sejuk setangkai lili temali, jari menari pada gairah semesta
Senyum sepi terbaring memeluk bakung-bakung liar
karangan suka dan duka melupakan rindu sesaat
antara wajah kekasih, kuusap setangkai warna tanpa bahasa
kadang-kadang sendiri di sepanjang jalan bernyanyi dengan belukar
Menangis tersedu
melihat tanah di sekitar terkalahkan
bunga lili di dahan benalu dengan akrab menempuh kekosongan
burung-burung menjinakkan daun tentang harapan kasih sayang
karna terharu semata oleh wangi
Jika mungkinkah matahari menunggu di hawa dingin,
akankah waktu rebah di taman yang terjalin usia?
berayun menebar wasiat keyakinan begitu jujur
pada tangkai yang sering hilang menghindari kelam
Ialah lili, meneladan hidup sepenuh cinta
mempertahankan hak setangkai menurut bisikkan mendekat
lemah laun bermohon suara syair berpijak erat
Bilakah engkau lepaskan sangka dari rupanya
angan layangkan bahagia melambai perlahan
kelak, bingkai hati pada setangkai lili mengikat hidup
atas rangkaian alam yang tak terbatas menuju hidup abadi
Aby Santika
Bandung,
16 April 2012.
MENUNGGU TUHAN DENGAN DO'A
Di penyaksianku segalanya bermula, doa-doa berdenging memohon
berhembus dingin di sebarang suara-suara tercekat kesepianku
antara batas: ketika napas merengkah kuingat amsal serupa mi'raj kisah manusia dengan penciptaan suci
gemuruh ruh ditiupkan Tuhan beserta takdir yang dipasangkan tanpa jubah
memisahkan antara nasib yang bergurat pada daun-daun yang disirami dengan jarak yang tak terhingga
Lalu harapan mulai tumbuh, dan ayat-ayat tersaji pada ruang yang mulai kerontang
mentasbihkan Tuhan dari satu kasih yang bertolak kepastian impian di telapak tangan
sampai rerambut kusam diperaduan atau raib di teluk mengembalikan lupa pada doa didermakan
lalu menunggu
: sebuah rindu mengirimkan wujud dalam pencerahan
tentang batas keyakinan hati, seperti kecintaan terhadap Tuhan dalam tubuh yang renta
Tapi segala doa seperti sajak yang singkat
O Tuhan adalah raja kudus di perjamuan keniscayaan
Di kubah-kubah tua lafad mengantarkan sebuah cahaya kesucian
Hingga mempertemukan nasib dari jejak terakhir segala arah
sorak sorai, di tiap ayun kukandung doa pada kelahiran masing-masing perantara sabda yang datang dan pergi
merajut gerak-gerak doa yang tak kembali dari asal mula manusia dengan Tuhan
sebab, aku telah mulai penyaksian dengan tangis dan derap suara menderu,
tidak hanya membaptis diri dengan sepotong kelamin yang telah terkoyak, melarungkan kepongahan manusiaku
Maka hanya tulisan dengan rasa yang mengekal, keyakinan doa seperti menunggu wujud Tuhan
: kunfayakun !
Aby Santika
Bandung,
16 April 2012.
berhembus dingin di sebarang suara-suara tercekat kesepianku
antara batas: ketika napas merengkah kuingat amsal serupa mi'raj kisah manusia dengan penciptaan suci
gemuruh ruh ditiupkan Tuhan beserta takdir yang dipasangkan tanpa jubah
memisahkan antara nasib yang bergurat pada daun-daun yang disirami dengan jarak yang tak terhingga
Lalu harapan mulai tumbuh, dan ayat-ayat tersaji pada ruang yang mulai kerontang
mentasbihkan Tuhan dari satu kasih yang bertolak kepastian impian di telapak tangan
sampai rerambut kusam diperaduan atau raib di teluk mengembalikan lupa pada doa didermakan
lalu menunggu
: sebuah rindu mengirimkan wujud dalam pencerahan
tentang batas keyakinan hati, seperti kecintaan terhadap Tuhan dalam tubuh yang renta
Tapi segala doa seperti sajak yang singkat
O Tuhan adalah raja kudus di perjamuan keniscayaan
Di kubah-kubah tua lafad mengantarkan sebuah cahaya kesucian
Hingga mempertemukan nasib dari jejak terakhir segala arah
sorak sorai, di tiap ayun kukandung doa pada kelahiran masing-masing perantara sabda yang datang dan pergi
merajut gerak-gerak doa yang tak kembali dari asal mula manusia dengan Tuhan
sebab, aku telah mulai penyaksian dengan tangis dan derap suara menderu,
tidak hanya membaptis diri dengan sepotong kelamin yang telah terkoyak, melarungkan kepongahan manusiaku
Maka hanya tulisan dengan rasa yang mengekal, keyakinan doa seperti menunggu wujud Tuhan
: kunfayakun !
Aby Santika
Bandung,
16 April 2012.
GERBONG TERAKHIR
Mungkin hidup mengirimkan jembatannya kepada tubuhku
rel-rel dengan temali atau kuda-kuda dengan cambuk dan roda melingkar
ketika perhentian tumbuh seperti rumpun yang belukar, tersaji demi kelahiran,kehidupan dan kematianku
berjuntaian memamerkan impian dan sejarah dengan kesombongan
suara-suara berdesing mengulum udara di setiap gemeretak waktu
namun ia tetap gemuruh dalam menistakan kehendakmu dan menancap
setiap tubuhku
Kucobai jalanku memperkosa seperti kereta merayap
merobek setiap garba tempat segala kosong membentur kesucian yang masih buta,
padahal perhentianku menjelma jalan utama menuju Sorga dan separuh neraka
sebab ketika kutemui izrail dengan ketelanjangan dan tubuh penuh luka seperti penantian tanah
terhadap daun-daun gugur dari segala puting musim
Gerbong-gerbong seperti jaman yang merindukan wahyu, tapi bukan wahyu untukku
Aku berlari: kurebut waktu seperti kemarau dari atas bumi
Dan langit menyaksikan kekalahanku, kekalahan adam yang memulai dosa anak cucunya
membebalkan keabadian di tiap stasiun yang menjadi perhentian terakhirku
yang menyusuri goa gelap dan dingin seperti mula kelahiranku dari bukit-bukit dan darah yang menganak sungai di antara kutubkutub manusia
Ruhku tengkurap, taring-taringku menampar tarian kereta di setiap stasiun
Di sana, kutasbihkan diri dan menyampaikan berita terakhir, lalu segala menjadi asing,
Sepanjang hidup yang kupuja datang demikian sederhana
Gerbong yang rapuh, semakin sarat ketika segala menjadi pasti
Kulabuh kekekalan yang tersisa, lalu kulaknati kemanusiaanku yang pernah berdosa
sebab, stasiun terakhir adalah tempat menyerahkan diri kepada sang kala
seribu tulisan takdir berubah seperti putaran-putaran roda kereta
Aku gugur, kusimpan farji seperti tubuhku di perut bumi, ketika suara menjadi bisu dalam kematianku
aku akan datang menghadap Tuhan dengan semua ketelanjanganku,
Sebab akulah Musafir!
Aby Santika
Bandung,
06 April 2012.
rel-rel dengan temali atau kuda-kuda dengan cambuk dan roda melingkar
ketika perhentian tumbuh seperti rumpun yang belukar, tersaji demi kelahiran,kehidupan dan kematianku
berjuntaian memamerkan impian dan sejarah dengan kesombongan
suara-suara berdesing mengulum udara di setiap gemeretak waktu
namun ia tetap gemuruh dalam menistakan kehendakmu dan menancap
setiap tubuhku
Kucobai jalanku memperkosa seperti kereta merayap
merobek setiap garba tempat segala kosong membentur kesucian yang masih buta,
padahal perhentianku menjelma jalan utama menuju Sorga dan separuh neraka
sebab ketika kutemui izrail dengan ketelanjangan dan tubuh penuh luka seperti penantian tanah
terhadap daun-daun gugur dari segala puting musim
Gerbong-gerbong seperti jaman yang merindukan wahyu, tapi bukan wahyu untukku
Aku berlari: kurebut waktu seperti kemarau dari atas bumi
Dan langit menyaksikan kekalahanku, kekalahan adam yang memulai dosa anak cucunya
membebalkan keabadian di tiap stasiun yang menjadi perhentian terakhirku
yang menyusuri goa gelap dan dingin seperti mula kelahiranku dari bukit-bukit dan darah yang menganak sungai di antara kutubkutub manusia
Ruhku tengkurap, taring-taringku menampar tarian kereta di setiap stasiun
Di sana, kutasbihkan diri dan menyampaikan berita terakhir, lalu segala menjadi asing,
Sepanjang hidup yang kupuja datang demikian sederhana
Gerbong yang rapuh, semakin sarat ketika segala menjadi pasti
Kulabuh kekekalan yang tersisa, lalu kulaknati kemanusiaanku yang pernah berdosa
sebab, stasiun terakhir adalah tempat menyerahkan diri kepada sang kala
seribu tulisan takdir berubah seperti putaran-putaran roda kereta
Aku gugur, kusimpan farji seperti tubuhku di perut bumi, ketika suara menjadi bisu dalam kematianku
aku akan datang menghadap Tuhan dengan semua ketelanjanganku,
Sebab akulah Musafir!
Aby Santika
Bandung,
06 April 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)