Untuk melupakan kesadaran didadanya
tengadahlah ditengah senyum seluas semesta
sambil memeluk senjata oleh airmata
Dengan membawa sekumpul nyawa
tengadahlah ditengah senyum seluas semesta
sambil memeluk senjata oleh airmata
Dengan membawa sekumpul nyawa
dunia menangkap luka-luka yang nampak tua
seketika muda hilang tak kenal perang
Terhadap rompak yang kurus lincah
siapakah kau membelit waktu penuh api
lengannya menutup sebuah dendam yang mendidih
Kita adalah tanah pasir
Kita adalah air alam
Kita adalah hutan Tuhan
Ibu pertiwi membesarkan kita dengan girang
di bumi kosong dalam pangkuan tangan berdaki
menyandang matahari menghadap musim gugur
Simpanlah rintih diatas gemilang penuh cinta
karena yang sekarang bukan jalan-jalan berdendang mayat
menyelubungi bangkai tak bertuan
Kita sering mengutuki suara-suara yang mengepal dusta
meledak mesiu pada alam tempat berlindung
kemudian berkisah pada anak cucu sebelum mati
Untuk mendapatkan harapan sebelum malam
mengapa harus tumpah bertubi salah
biarkan dekap hati berdendang mesra.
seketika muda hilang tak kenal perang
Terhadap rompak yang kurus lincah
siapakah kau membelit waktu penuh api
lengannya menutup sebuah dendam yang mendidih
Kita adalah tanah pasir
Kita adalah air alam
Kita adalah hutan Tuhan
Ibu pertiwi membesarkan kita dengan girang
di bumi kosong dalam pangkuan tangan berdaki
menyandang matahari menghadap musim gugur
Simpanlah rintih diatas gemilang penuh cinta
karena yang sekarang bukan jalan-jalan berdendang mayat
menyelubungi bangkai tak bertuan
Kita sering mengutuki suara-suara yang mengepal dusta
meledak mesiu pada alam tempat berlindung
kemudian berkisah pada anak cucu sebelum mati
Untuk mendapatkan harapan sebelum malam
mengapa harus tumpah bertubi salah
biarkan dekap hati berdendang mesra.
Aby Santika
Bandung,
29 Desember 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar