Jumat, 01 Februari 2013

CATATAN NGANGKANG



/1/
Aku tak bisa memunguti lembar-lembar hasratku
kubayangkan niskala bugil masih meritus di rahim malam
menggambar liang goa: karena menara lebih magis menghunus
dari muasal linggar kering dengan ombak pertaruhan
saat pilihan melampau suara hujan yang lembab dan licin

Desirku yang berderit dari sela-sela dipan di peram gelap
kandil damar dimakamkan rindu tanpa karma
mengambang serupa senggama dicercapi sepi

/2/
Kueja suwung atas ritualku yang buta serupa tembang
karena dada dilapisi dengan gelar mimpi-mimpi susut yang beringsut
adakah kelamin berpelesir dari penjuru mata angin?

Seperti meriam: gairahku gemetar, menyambar di ubun-ubun
- atau lesatan anak panah membidik burung-burung hingga menggelepar

/3/
Aku terlelap hingga ikatan-ikatan rusukku lepas khianat
kecerlangan mentalkin mi'rahku hingga meledak; dari ketelanjangan jasad
di selangkang kukhayalkan padang sorga luas
atau neraka hanguskan batu syahwat dibebunyian doa
: busurku berdarah, terpanah muncrat melebihi nanah!

 
 
Aby Santika
 
Bandung,
1 Februari 2013.

DI TEPI TAKDIR

Ada kejenuhan dari layar-layar yang berkibar di garis rautmu
Di laut taksa: kesendirianku berupa kenangan dipagari riak-riak gelombang
Apa yang terjanji? Selain matahari yang bertasbih dikeremajaan waktu

Di seberang mata, masih bisa kudengar desir menjauh dikeremangan ruh
Payudaramu tak berkibar menitipkan keberadaanku yang koma
Kesia-siaan ini kian bersenggama tanpa peraduan
: adakah kau tau hikayat adam-eva, melenggam perumpamaan kita berdua?

Meski aku didera angin, mimpi akanmu terlalu mahal dirabai
Menisbatkanmu bak lara yang merangsumkan benih onani
Dari bebayang sangsai yang muncrat di urat-urat kayu
Sampai ketika sajakku yang mulai tumbuh dari rambutmu luruh
- ke tubuh, ke lenguh

Ah, mata mungilmu masih hingar utuh berlari dari nyeri ke nyeri
Mengundang para fakir mabuk kepayang dari perburuanya
Di bilik, di serambi kejenuhan bersandar pada air mataku

Aamiinilah rindumu, aamiinilah mimpiku, aamiinilah luka takdir kita pada satu kepercayaan
:"kita pasti bisa bersabar pada ingkar"




Aby Santika

Bandung,
26 Januari 2013
.

01 JANUARI



Jelas Januari tidak seperti nyeri yang membinasakan diri
Atau Desember yang hampir merampas tembang hujan digemuruh musim
Dimana nafas, merayap hingga ludah merah rengkah

Ia datang bersiul, membawa buluh perindu
Saat dahaga terlalu mahal dari batu yang mencair
Ia hadir merangsumkan kehendak mimpi azali

Januari: masihkah duri bersembunyi di perdu lili
Memberikan jemari yang bergetar hingga ujung bibir
Karena aku berdiam di sana, sebagai pesakitan

Aku tahu awal pengharapan selalu diratapkan oleh kata-kata
Tanpa jubah, hingga sajadah segala jalan tak pernah sangsai
Pada mimpi-mimpi yang telah luntur notasinya

Tapi, aku ingin berkisah padamu tentang awal januari
Untuk melesakkan saddhu jiwaku yang selalu basah oleh air mata
Bahwa: selalu ada rindu yang mengapung untukmu di muaranya.




Aby Santika

Bandung,
01 Januari 2013

TITIMANGSA; YA MARHABAN


 : menjelang hari kelahiran kekasih

Kemudian kepastian seperti amnesia dierami perhitungan
cermin diri, sebagai kelahiran yang paling sempurna diikatkan tubuh umpama Maryam menitahkan Al-masih membuhulkan persetubuhan alam

Separuh tahun meleburkan dunia, dari awal ke awal
nyanyian sunyi tak terpahami, pun tak ada keajaiban karena doa mengakrabi usia tak kenal angka, dan segala yang telah terpenggal tak bisa diretas kecuali takdir kepada sang kala ribuan lilin peringatan berpinak dari rahimnya

Titimangsa kelahiran tercipta dari kelesik kelembutan kasih
benih begitu sumir menyimpan putik janin suci di awal zaman
kembang api dan nyanyian-nyanyian kudus menempelkan pahala dan awal dosa di lembar dakwaan : kau berguling dengan beribu-ribu malaikat meniupkan riuh doa menuju hadirmu

Sementara kugelombangkan hijrah di lain waktu
berpelesir tanpa kata-kata api: seperti pembakaran Sinta atau Ibrahim barangkali, hanya peringatan paling keparat terlontar
sebab pula bukan pinangku ditasbihkan dengan air mata kesedihan
hanya melangkah, saat ingatan meliarkan pertaruhan
- untuk doa dan pujimu di titimangsa: ya marhaban!




Aby Santika

Bandung,
31 Desember 2012

SEKERAT SABDA



Silahkan pulang! O kekasih yang jatuh di awal zaman
kesangsianku mendurhakai sabda yang membuat dada tersalib
segala perburuan hanyalah perjamuan di alir jejakku ketika air mata menjadi pakir kita bersua; aku pun memeluk mimpi yang kau titipkan

Zaman yang pernah membuat juga kita terjerembab, lalu terasing
meski aku harus merunut bebayang lanun di antara orgasme harapan yang menujumu apa yang bisa aku timba dari sekerat sabdamu ketika kau berhenti mengaji hidup sebagai ilham?
- meski di sebuah pintu aku bersujud menyembah kikir yang bersalam kepadamu

"letakkan tangismu," katamu.
"sungai-sungai bebulir air mata memberi api terhadap arus yang kau kabarkan..."
: kita adalah Khidir penguasa lautan, menghunus umpatan dengan tombak!

O sang kekasih, aku membaca berjuta sabda yang tergurat di daun pelawa silahkan kau pulang menuju hal ihwal sebuah kiblat yang batunya kita pahat kita kembali mengembara rindu sebagai pelancongan pada satu takdir
dan menjadikan ritmis waktu sebagai tempat berkhidmat agar kita saling mengingat

Karena di seberang, kisah yang mengunci membuatku bagai tugu
tetali tubuhku berkumpar seperti ular yang paling berbisa
sungguhkah aku harus berdiam menyalibkan: alif dengan abjad?
kau tersenyum dalam kesedihan di sekerat sabda yang melayang
dan aku meski sang Khidir penguasa lautan
: aku terbakar!




Aby Santika

Bandung,
27 Desember 2012.