Buat kami, mati berharta tiada menurut kesadaran
budak bukan karangan dicucuran negeri suara mayat
apabila badanku ditanai menikam alun
sampaikan berhak dihembus riuh memetik kemerdekaan
Di situlah selalu harapan di beli penawar cinta
tiada akan benderang tumbuh luka negeri yang dulu
sejak penggalian tanah di ladang sendiri
bertemu ranjang mempersilahkan bakti pejuang
Dari gerak meneladan tiap perbuatan cinta
hingga memandang kesadaran hati dengan genap bahagia
sahaja menemui wajahmu, wahai saudara
membalas jasa lantaran kaum kita banyak bicara
Betapa aku yang bukan sekedar berkata
sedang kira cerita mendongengkan sebelum malam
tetapi semua hidup hendak amalkan
lagi sebelum, akan jadinya negeri tentu tak betah lagi
Sebagai hasil lahir penuh kasih di dunia
kami mendengar bisikkan Tuhan sebelum datang
kepercayaan tercapai ajal semangat segala api
lalu mataku menderu negeri teduh sebelum mati
Jemputlah pulang di nadi sebangsa merah
hanyalah berpandangan darahnya beku ditubuh
dunia yang nampak hujan setan-setan berbaju besi
ridho matiku telanjang luka sama saja
Seperti hatinya berpelukan jemari hyang surgawi
terhadap pelor yang bermukim disenyuman yang tiada mati
haripun sempurna gemilang dengan kehormatan
pandanglah malam sebelum menutup mata.
Aby Santika
Bandung,
29 januari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar