Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Minggu, 26 Mei 2013
RITMIS MALAM
Kau tahu ketika malam tercipta dari sebuah luka, sepasang rindu seperti kisah perulangan
sambil menanting angin ku baca kembali rasa sakit yang memagut mata
meski tak ada mimpi yang harus di temali; ah, tanpa mimpi kita tak berjarak dari celah
Di silam kita tercampak percuma, merangkum harapan yang hanya bunyi dari seribu batu
diam berarti kekosongan yang meritmis
siapapun tahu malam itu aku selalu mengigau namamu
"karena di malam itu aku bisa bersembunyi dari sesatnya rindu"
Jika matamu menjelma sejuta panah, dengan busurnya kupersilahkan kau bidik rembulan
tersenyum begitu sinis menyaksikan adegan-adegan kejam yang menyiksa kita
dan jika bibirmu merafal mantra, undanglah aku yang fakir untuk bertamu di hatimu agar tuntas segala petaka
Meski ada yang terpenggal dari sepetak rahasia yang kita biarkan tilasnya menuliskan sunyi
aku pun tak henti menangkap sisa rindu menjadi uap-uap menuju embun
sebab kita adalah Nuh yang memanggul derita Kan'an dengan ikhlas
seperti keikhlasan kita memanggul beban rindu yang kian tenggelam menuju subuh.
Aby Santika
Bandung,
19 Mei 2013.
DI SELATAN KOTA
Sebuah rindu terseret ke linangmu, lalu sunyi tak berhenti di kedalaman kalam
Dan nganga bak muson berlalu lalang beterbangan di kotamu merampok sekuntum malam yang diam
Kau menjelma paceklik dengan ruap merih tak terandai, di selatan kotamu
: aku menyembah rindu yang pernah kita jadikan tempat berhikmat, menghatam mimpi di lubuk hening
Dan malam kembara kau seakan berpindah dari ruang ke ruang
Aku menyaksikan dirimu membelah, melepas segala batas yang segera tumpas
Ketika air mataku menghajar sebuah kiblat kesedihan yang dalam
" aku merindukanmu di atas segala bahasa yang tak terpahami"
O adinda, kau adalah lesit yang menghisap darah dari nyawaku
Aku meregang saat cinta lebih mengekal dari keabadian fana;
tolong pilihlah kematianku di sebuah pertemuan kelak
Atau menunggu sekarat di sepertiga malam dalam kesia-siaan
Meski masih bisa kudengar sendawamu yang sundih melanggengkan kesetiaan Eva
Sungguh, kau akan tahu di balik isak yang menyesak kerinduan, bercucuran getir air harap di sebagian kota yang renta,
--menanti kekosongan di simpang waktu.
Aby Santika
Jakarta,
22 April 2013.
SURAT PENUTUP
: Adinda, sebuah waktu
Parak ajal, kutemukan nyeri bersulih kata-kata
seperih sajakku diingatan, dikenangankan seperti Shinta juga Dedes
ia terlahir dari tangan-tangan trah kesucian, lalu waktu mencatatnya lewat taklimat yang terpinggirkan
meski dirahimmu kelak waktu lain tercipta
bahasa apa yang harus kuterjemahkan dari rahasiamu!
- dan segala tulisan mengekal menjelma batu
Mungkin rindu dengan mata pedangnya telah mencipta merih
mengundur arah jarum jam selama berabad-abad menitiskan paceklik
atau metamorfosa bunga dan mengundang burung-burung untuk mematuknya
namun yang kuingat hanya lesungmu yang tersamar di renggang jemariku
Di penghujung, kita tak sempat menghitung seberapa cemas itu akan datang
semuanya membelah jiwaku melebihi batas-batas kata
; Jika pelarunganku selamat,
-- kau akan tahu betapa telah kulaknati kelelakianku dengan kesedihan dan umpatan-umpatan
Aku tak akan berhenti di bait ini, meski kepastian bukanlah Isa yang diteteskan keperawanan
Adinda: kita bermimpi dilahirkan dan dibuang
mengaji rindu bersama, berdzikir pilu bersama, terlentang mengilhami sunyi
dan duka terpatri adalah bahasa sederhana yang pernah kita tulis di atas lontar
Karena harapan hanya lanun yang tertinggal dikerongkongan
akupun berdoa dengan tengadah dan menutup mata
lalu semuanya menjadi sebuah titik tersendiri yang kekal
Ah, semoga tulisan ini tidak akan pernah terselesaikan
- kau tidurlah dengan lelap!
Aby Santika
Bandung
03 Maret 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)