Jumat, 21 September 2012

TARIAN KABUT

Ihwal perjamuan hanyalah sekat kepercayaan embun pada timba usia
aku berharap matamu mendekap sekujur kabut yang menggurat menemukan riak
seperti kelepak camar tak henti saling mengerling mengatupkan pagi yang terjaga

Lalu pada cawan yang kesekian, kita memanjat berahi yang mengutip satu awalan
- beterbangan ritmis sendawa angin ketika gemulai tarian sorongkan mimpi
dingin kembali t...
umpah saling berganti, dari dedaun yang mulai mengering
meski sebuah kisah berkelit tak kunjung kekal

Tarian dipinggulmu terus bergerak melampaui pukau kabut di gantungan musim
di tumpuk penantian serupa menghidupi masa lalu dalam pelukan embun
:tandus
seiring takdir berdegup riuh menentang gamelan tak bertuah

Ikutlah lebur melepas tawa yang terpahat sebelum maghrib
agar kian mengerti tentang kesakitan dan khianat matahari mengenang pagi
serta setiap dahagamu melingkarkan karma semua indera yang mulai lelah
kemudian kita terus melangkah dan bernyanyi bersama

Berabad, aku masih mengenalmu menyebutku kekasih
karena kabut yang terjelma, tidak menjadi raksa
erotis yang kita ikrarkan menyembul menzinahi semesta
lalu gairah mengguyur memberi kehidupan pada setiap pagi
: tarian kabut, ingatkah?

Bandung,
21 September 2012.

PERTANYAAN



1/
Di penghujung telapak, isyarat awamku melabuh di bibir yang terperanai
menderas tuah bagai buliran gerimis ketika aku meletakkan wajah penuh onak serta berjuta sujud yang di catat dengan lesatan udara
: tidakkah hening yang kita sembah, tak pernah kehilangan?
sebagaimana nafas mengatupkan mantra yang dilisankan ke dalam liang batu dari ruang ke ruang

2/
Aku lihat seluruh hidup dice...
drai pertanyaan, kecuali lahir selain dikiblatkan suarasuara sungsang
sekantung kekariban terpasang sebagai madah mendahului fajar kembali mendambai malam
sebentuk jarak yang menyuguhkan sesaji:
perihal matahari meski ia susut dan menjadi bayi yang dihumbalangkan makna sebagai manusia
: aku berjingkat-jingkat setelah mengecup bumi

3/
Kemana bapakku yang sedari pagi turun ke huma? di tanahnya aku membaca namamu
sekerat pesan yang tumbuh dari dunia yang renta, tempat aku selalu pulang dari pelancongan
aku memeluk kakinya, kaki yang berdaki
mencatat di antara riak yang membuat aku terjatuh, dulu...
"berbaliklah lurus keriuhmu" ucapmu,
"aku ingin melihat ka'bah yang kau pahat dari keyakinanmu"

4/
Aku masih bermimpi, kita bercakap menggenapi pertanyaan di satu arah
Ah, terlalu gelap! Meski pengakuan berkalikali menebal kepala dan berhenti di pengap kematian
bukan untuk mati di gelap dampar dengan mimpi tercela di ujung sekarat
-suaranya yang memagut seperti sebuah kesetiaan mencabuli sosokku
aku masih bermimpi!

5/
Siapapun bisa melihat kebisuan di dasar sepi, ia tertata seperti titiktitik menimbun waktu
akupun tetap sabar merasakan fijar dari sabda yang jatuh pada janji
apalagi lembarlembar jejak seperti aliran yang muncrat oleh hentakkan tongkat Musa: sebuah harapan
: ah pertanyaanku hanya bunyi oleh sebab tak tersentuh ajakan kudus

6/
O bebayang yang menyembunyikan rahasia!
Aku hanya terdakwa yang menebak segala nasib
O kubah yang membuat awamku kian tergeletar!
seberapakah pertanyaanku yang kau ulir menjadi tasbih?

Aby Santika
Bandung,
19 September 2012.

Jumat, 07 September 2012

RITMIS GELAS YANG BERADU



Di gigir, pagi tak pernah mereguk sebulir kabut yang masygul 
meski dingin diam-diam memberi pesan di sela lidah, mulut dan hasrat yang utuh
sembari membidik kelelakianku, aku mencatat sepasang lingkar berceruk dari arus gelas yang beradu
sebuah lagu mendedah ingatan-ingatan keperawanan yang berlintasan membisikkan kesangsian

"Di serambi melekat sebagai saksi"

Entah, saat segala aliran dinistakan ritmis yang berbaris
: O aku koma! tak kenal bunyi yang terwarta serupa gerimis
wangi kopi, pucuk daun hijau terkungkung luruh dibutakan gemuruh
kita diam tercampak sebagai muasal pada buhul yang mati

Duh, kuingat ibu berbicara dalam tatap melebihi mata; 
-saat kau dihantarkan timang, pada tembang terpahat napas
umpama gelas-gelas yang beradu, hanya kilasan sampai suara pecah!
dan tak ada doa menawarkan dahaga dengan bercakap hingga embun berloncatan menuju jaman yang hampir padam



Aby santika

Bandung,
05 September 2012.

CORETAN DI TEMBOK BELAKANG



1/
Ada yang menggodai tempat aku bersender menunggu kau berpulang,
dindingdinding panjang di sekujur pundak tertulis pesan paling jalang dari buah dadamu 
mengendap seluruh subuh, sedang para lelakon hidup menghanyutkan kecupan sampai matahari tenggelam
ah, seperti sungai nuh berdarah-darah di atas kanvas buta,
-mengabadikan duka!

2/
Bergegas coretan perlahan memelan jantungjantung di balik ruang kosong dan reot
kaki bertemu kaki, lalu kisah porak poranda dengan pecahan mata batu begitu saja
" anginangin menuliskan ode yang melambai tanpa pesan"

3/
:hei, hunuskan aku sebilah jenawi berayun kepala! "teriakku di arah belakang"
kemudian tertegun pohonpohon yang kauagungkan seperti rebah di jalan Ilahi
: akupun kembali beralih mencari batas hitam-putih yang berterbangan

4/
Belukar juga mulai terbakar meski ada api yang membahasakan gigil ke ruas napas
kita berhayat dengan penuh gairah, sebab rindu begitu sengak menjadi rumus yang berputar 180 derajat
di sini, coretan berganti-ganti dengan angka, berabad-abad dan jelma doa dengan sujud mendengus 
mata bersua menghitung keropok takdir nun jauh dan terbata-bata.

5/
Jika kau akan sampai sebelum keesaan menjebol tembok berlubang; menghambur sajak dirambati mimpi sengau
- kita tak ada janji tuk berlama-lama, di pangkuan selangkang
dan tak ada jejak coretan pada tanah yang masih terpeta dengan gemuruh
: hati, alangkah kita tak berjarak dari tubuh kita

 


Aby Santika

Bandung, 
28 Agustus 2012.

PERJALANAN SEMENTARA



Ibu dan bapak; sejak bersua nanda malu bicara, tak ada bakti sedari kandung
di dalam menuju hidup segala bahagia meneladan wujudmu
- menjalani gemetar dalam angin terberai pecah, duapuluh empat tahun !

Siapa menundung jika lapar begitu jujur terlampau ?
nyiur doa dan panggul di jadikan permai merdu siang dan malam
memperpanjang nyawa sejakkan kecil lagu di dendang tanda nan terang

Bersalin usia kuminta restu meninggalkan rahimmu, ibu !
Menjejakkan kesehajaan dari panggulmu, bapak !
menjadi musafir lagi, memerah nasib sebentar saja

Lepaskan tangan meninggi rupa, menaruh doa
lambai baktiku kelak perlahan mematah iba menjadi bahagia;
- sungkumkan sujud ikhlas memeluk hati
Ibu dan bapak, ananda minta gemerlap sebelum pintu tertutup rapat.



Aby santika

Bandung,
25 Agustus 2012

SELENGGANG GURAT ANGSOKA



Ada berapa angin yang menerpa jarak?
jemputlah seutas dingin, sebelum denyutnya melompat di jalan simpang tersedu
mengalun tembangtembang kesuburan dari pagarnya angsoka yang telah lalu
dan bahkan sepasang kursikursi bagai kotak kebimbangan menggemakan gurat gemetar

Kepada esok, segala letak begitu rompak
- berapakah jarak mulut dan napas dari titian akar?

Aku masih menghitung selenggang demi selenggang hikayat sembarang waktu
lalu menjaganya seperti anakanak yang meniupkan doa pada wajah ibu
lemah laun bingkaian bunga bersisir rindu

Sebab engkaulah jari seamsal lilin menyusuri hembusan angin
jika berkisah terjulur semusim saja
biar dunia kita kelak berpinang yang selenggang gurat angsoka.


Aby Santika

Bandung,
11 Agustus 2012.