Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Kamis, 29 Maret 2012
BANCI ( Haiku)
Napsu diangkat
Bunyi suara kaleng
Kelamin samarsamar
Kemaluan dan otak
gantung bersekat
Popularitas
Banci bernyanyi
Banci umbar celoteh
Namanya banci
Aby Santika
Bandung,
27 Maret 2012.
Bunyi suara kaleng
Kelamin samarsamar
Kemaluan dan otak
gantung bersekat
Popularitas
Banci bernyanyi
Banci umbar celoteh
Namanya banci
Aby Santika
Bandung,
27 Maret 2012.
MENGINTIP MATAHARI DI TANAH ABANG
Matahari seumpama kerinduan atau kekhawatiran
mendesak hidup dengan kayuhan doa yang layak
ia merangkak memandu suara kaki pedagang, tangan pembeli, bahu kuli mengangkut mimpi
daki malam tergayut sisa, harapan-harapan enggan terseret waktu
Orang yang datang berulang di kios kosong menunggu rindu
matahari mulai berdandan di antara gedung bercermin
menghadap timur kekasih menyongsong udara menampung dingin rindu dan cinta
namun terkadang langkahku selalu sepi dan sendiri
Di jalan yang penuh lampu dipantulkan kaca yang besar
wajah kuli sejak pertama meredakan saling tak tahu
wangi parfum yang datang bercampur anyir sampah
aku melihat langit adalah rintihan doa rindu-rindu untuk bibir terbuka
Abang-abang tua renta berhenti langkah yang lamban
memulai hari bukan berlari, pelan-pelan mencari matahari di jalanan kota
matahari untuk mencari rindu bertubi-tubi ketika shubuh
rindu ibu dalam pangkuan hangat, rindu kekasih belum bertemu
Matahari tidak akan terbit dari ujung rambutmu
sebab tembok-tembok tebal terus menghimpit tanah kelahiranmu
satu-satunya pandangan mengintip di atas sepasang mata yang datang
memberi harapan pipi yang merah terselip di Tanah Abang
Tapi gerimis menggores mata yang terpajang di pelelangan
rindu yang piatu seperti gelandangan tak ada ibu
barangkali di antara mereka matanya di pukul-pukul harapan kosong
matahari kosong, mengintip lesung senyum yang kosong
Aku kian tak mampu menyembunyikan sepi
suara mesin dan klakson-klakson adalah kenyataan
di Tanah Abang orang-orang masih berlalu-lalang
dan matahari adalah kekhawatiran, bukan kerinduan.
Aby Santika
Jakarta,
26 Maret 2012.
mendesak hidup dengan kayuhan doa yang layak
ia merangkak memandu suara kaki pedagang, tangan pembeli, bahu kuli mengangkut mimpi
daki malam tergayut sisa, harapan-harapan enggan terseret waktu
Orang yang datang berulang di kios kosong menunggu rindu
matahari mulai berdandan di antara gedung bercermin
menghadap timur kekasih menyongsong udara menampung dingin rindu dan cinta
namun terkadang langkahku selalu sepi dan sendiri
Di jalan yang penuh lampu dipantulkan kaca yang besar
wajah kuli sejak pertama meredakan saling tak tahu
wangi parfum yang datang bercampur anyir sampah
aku melihat langit adalah rintihan doa rindu-rindu untuk bibir terbuka
Abang-abang tua renta berhenti langkah yang lamban
memulai hari bukan berlari, pelan-pelan mencari matahari di jalanan kota
matahari untuk mencari rindu bertubi-tubi ketika shubuh
rindu ibu dalam pangkuan hangat, rindu kekasih belum bertemu
Matahari tidak akan terbit dari ujung rambutmu
sebab tembok-tembok tebal terus menghimpit tanah kelahiranmu
satu-satunya pandangan mengintip di atas sepasang mata yang datang
memberi harapan pipi yang merah terselip di Tanah Abang
Tapi gerimis menggores mata yang terpajang di pelelangan
rindu yang piatu seperti gelandangan tak ada ibu
barangkali di antara mereka matanya di pukul-pukul harapan kosong
matahari kosong, mengintip lesung senyum yang kosong
Aku kian tak mampu menyembunyikan sepi
suara mesin dan klakson-klakson adalah kenyataan
di Tanah Abang orang-orang masih berlalu-lalang
dan matahari adalah kekhawatiran, bukan kerinduan.
Aby Santika
Jakarta,
26 Maret 2012.
TANAH ABANG ( Haiku)
1.
Lalu lalang pemulung
Pembeli linglung
Pedagang buntung
2.
Barang di lelang
Asik menawar harga
Perut lapar tak sadar
3.
Sedari shubuh
Keringat jatuh gugur
Di pasar Abang
4.
Kuli memanggul
Karung ladang sarapan
Bahu membiru
5.
Di pasar Tanah Abang
Mencari uang
Sorepun pulang
Aby Santika
Jakarta,
26 Maret 2012.
Lalu lalang pemulung
Pembeli linglung
Pedagang buntung
2.
Barang di lelang
Asik menawar harga
Perut lapar tak sadar
3.
Sedari shubuh
Keringat jatuh gugur
Di pasar Abang
4.
Kuli memanggul
Karung ladang sarapan
Bahu membiru
5.
Di pasar Tanah Abang
Mencari uang
Sorepun pulang
Aby Santika
Jakarta,
26 Maret 2012.
COKELAT KOPI
Hanyalah warna lebur berpercikan menumpah dingin
mengolah kesederhanaan yang di bawa diam-diam sewaktu angin
di puncak batang keringat bersimbah banyak beragam biji kopi
tempat tumbuh penawar lupa tanah di bukit coklat tetap tegak
Cokelat kopi, barangkali dengan mengerti di angkat sepi
warisan bukan sekedar tulisan di atas lidah dan gigi
tersenyum harum mematah masa yang tak terbatas kurungan
di petik jari buah biji hitam tampak coklat setelah dicuci
Amboi, hangat seteguk senantiasa bergoncang hati
terus terjaga supaya kebersamaan terpusat pada rindu
coklat kopi menarikan irama magis suara tangis di musim semi
wangi aroma semesta memegang gelas kaca di sela jemari
Dua kekasih menancap benih pantang dermakan gerimis
melepas lelah lapar dan dingin berjatuhan rindu tumbuh coklat dan kopi
umpama derik dedaun bergesek mengalahkan sunyi
siapa jadinya menjanjikan kekasih bila satu hari tak mendapat hati
Tidakkah tahu, di kebun rumah mimpi tinggal tampak putih?
dulu pekat kopi mengikuti serupa kaki anak bungsu kegirangan
kilauan coklat mendapatkan bukit sebagian asing berlawanan
di saat-saat tangis menghancur tanah pasir melebur
Amboi, satu teguk gelas coklat kopi bisikkan suatu kisah
tuan dan puan mengungsi di hati memandangi hari
hangat terwujud redup dingin dan kebasahan terbang lari
di rumputan rindang kebersamaan dinyanyikan irama kurus
Cokelat kopi, mengintip pasangan bertahan di kursi
bagi waktu yang hampir berhenti menikmati secangkir lagi
tak ada bahasa rindu yang bisa di baca saat lagumu membawa mekar
bunga-bunga harapan selalu tumbuh menjadi hutan ketika setia sehangat coklat kopi.
Aby Santika
Bandung,
22 Maret 2012.
mengolah kesederhanaan yang di bawa diam-diam sewaktu angin
di puncak batang keringat bersimbah banyak beragam biji kopi
tempat tumbuh penawar lupa tanah di bukit coklat tetap tegak
Cokelat kopi, barangkali dengan mengerti di angkat sepi
warisan bukan sekedar tulisan di atas lidah dan gigi
tersenyum harum mematah masa yang tak terbatas kurungan
di petik jari buah biji hitam tampak coklat setelah dicuci
Amboi, hangat seteguk senantiasa bergoncang hati
terus terjaga supaya kebersamaan terpusat pada rindu
coklat kopi menarikan irama magis suara tangis di musim semi
wangi aroma semesta memegang gelas kaca di sela jemari
Dua kekasih menancap benih pantang dermakan gerimis
melepas lelah lapar dan dingin berjatuhan rindu tumbuh coklat dan kopi
umpama derik dedaun bergesek mengalahkan sunyi
siapa jadinya menjanjikan kekasih bila satu hari tak mendapat hati
Tidakkah tahu, di kebun rumah mimpi tinggal tampak putih?
dulu pekat kopi mengikuti serupa kaki anak bungsu kegirangan
kilauan coklat mendapatkan bukit sebagian asing berlawanan
di saat-saat tangis menghancur tanah pasir melebur
Amboi, satu teguk gelas coklat kopi bisikkan suatu kisah
tuan dan puan mengungsi di hati memandangi hari
hangat terwujud redup dingin dan kebasahan terbang lari
di rumputan rindang kebersamaan dinyanyikan irama kurus
Cokelat kopi, mengintip pasangan bertahan di kursi
bagi waktu yang hampir berhenti menikmati secangkir lagi
tak ada bahasa rindu yang bisa di baca saat lagumu membawa mekar
bunga-bunga harapan selalu tumbuh menjadi hutan ketika setia sehangat coklat kopi.
Aby Santika
Bandung,
22 Maret 2012.
LUKISAN KUDUS
Murni pudar peristiwa menggores skala cinta
liukkan semedi menyatu kudus terkumpul rona lara
aku memajang kebenaran ketika jalannya menemukan cinta
di atas kanvas puan menyanyi lepas sejauh kekasih
Lihatlah, kuil di sepanjang tubuhmu bersih bunga rindang
bagai pujian gamang menyandang lukisan kepercayaan
menjalin rangkaian pewangi disimpul gemerisik igauan
sang Hyang mengirim sejuta warna melewati bayang tentang cerita silam
Puan ! Kau jumpaikah lukisan kudus dari daun nipah?
karna malam menjinakkan gambar-gambar yang lembab
aku melekatkan kepedihan antara belukar air matanya
sujudku bagai tembang kuas di lautan wajah luka
Tapi letak bayangmu memenuhi rongga paru
melewatkan waktu yang porak poranda terjatuh menjalar
mempertahankan perbuatan rindu seharum badan kerontang
ribuan centi garis menjelma selembar raut diliputi tenang
Puan ! Meluapkah segala terang menjadi mentari atau rembulan?
lukisan kudus, engkaulah bidadari semesta yang jelita
kerinduanku menyelinap antara kumpulan dosa-dosa
ketika bersuara gemetar urat-urat pecah putus asa
Sementara senyum lebih akrab bersembunyi kelemahan
menataplah dinding-dinding kepadaku penuh isak
kehidupanku melayang menyuarakan lukisan berkalang doa
berkali Tuhan mengikat hati dengan dzikir meraja nasib
Lalu kujumpai senyum yang sabar dan lembut membawa tentram
lukisan kudus terpajang kepercayaan cinta dan Tuhan
dengan wajah kekasih mencuri dosa dipengampunan
menghadap barat meski jauh di antara pandang.
Aby Santika
Bandung,
17 Maret 2012.
liukkan semedi menyatu kudus terkumpul rona lara
aku memajang kebenaran ketika jalannya menemukan cinta
di atas kanvas puan menyanyi lepas sejauh kekasih
Lihatlah, kuil di sepanjang tubuhmu bersih bunga rindang
bagai pujian gamang menyandang lukisan kepercayaan
menjalin rangkaian pewangi disimpul gemerisik igauan
sang Hyang mengirim sejuta warna melewati bayang tentang cerita silam
Puan ! Kau jumpaikah lukisan kudus dari daun nipah?
karna malam menjinakkan gambar-gambar yang lembab
aku melekatkan kepedihan antara belukar air matanya
sujudku bagai tembang kuas di lautan wajah luka
Tapi letak bayangmu memenuhi rongga paru
melewatkan waktu yang porak poranda terjatuh menjalar
mempertahankan perbuatan rindu seharum badan kerontang
ribuan centi garis menjelma selembar raut diliputi tenang
Puan ! Meluapkah segala terang menjadi mentari atau rembulan?
lukisan kudus, engkaulah bidadari semesta yang jelita
kerinduanku menyelinap antara kumpulan dosa-dosa
ketika bersuara gemetar urat-urat pecah putus asa
Sementara senyum lebih akrab bersembunyi kelemahan
menataplah dinding-dinding kepadaku penuh isak
kehidupanku melayang menyuarakan lukisan berkalang doa
berkali Tuhan mengikat hati dengan dzikir meraja nasib
Lalu kujumpai senyum yang sabar dan lembut membawa tentram
lukisan kudus terpajang kepercayaan cinta dan Tuhan
dengan wajah kekasih mencuri dosa dipengampunan
menghadap barat meski jauh di antara pandang.
Aby Santika
Bandung,
17 Maret 2012.
MATA
Mata bagai mata-mata sukar di duga
Mata kepercayaan bagi orang, serta dalam diri
Mata-mata sejak mula penuh cinta airmata
Mata telanjang membuka pintu impian maupun derita
apabila datang dengan wajah yang tak bisa di baca
mata makna bahasa rindu bersama kekasih
mata air melambai soneta bersuara sepi
Mata kaki pergi mengaisi tanah bukan oleh duka
karena kita saling memandang setajam mata pisau
berayun menjamah rambut di tepi lantai yang menuang sejuk
Mata kembali bicara jalinan tangis
sepasang kesedihan bernyanyi lebih akrab
mata tertawa bertepuk dada menentang pulang
Mata-mata luntur gerimis sejuta sajak di atas kepala
berpura-pura merendah hampa di negeri yang tua
kekasih menutup mata sebuah luka kelak akan saling bercerita
serta wajah memandang belibis berenang di tepi airmata
Mata waktu mata yang hampa
mengintip mencuri pandang penuh dosa
Mata liar di antara hujan dan badai
hilang terbawa kenangan yang hampir koma
Mata sajak bersimpuh seribu napas kuangkat putus asa
Mata bermunculan riuh tertawa
Mata menenggelam berlutut mengucap doa
Mata-mata menggapai mimpi ketika angin tertidur.
Aby Santika
Bandung,
17 Maret 2012.
Mata kepercayaan bagi orang, serta dalam diri
Mata-mata sejak mula penuh cinta airmata
Mata telanjang membuka pintu impian maupun derita
apabila datang dengan wajah yang tak bisa di baca
mata makna bahasa rindu bersama kekasih
mata air melambai soneta bersuara sepi
Mata kaki pergi mengaisi tanah bukan oleh duka
karena kita saling memandang setajam mata pisau
berayun menjamah rambut di tepi lantai yang menuang sejuk
Mata kembali bicara jalinan tangis
sepasang kesedihan bernyanyi lebih akrab
mata tertawa bertepuk dada menentang pulang
Mata-mata luntur gerimis sejuta sajak di atas kepala
berpura-pura merendah hampa di negeri yang tua
kekasih menutup mata sebuah luka kelak akan saling bercerita
serta wajah memandang belibis berenang di tepi airmata
Mata waktu mata yang hampa
mengintip mencuri pandang penuh dosa
Mata liar di antara hujan dan badai
hilang terbawa kenangan yang hampir koma
Mata sajak bersimpuh seribu napas kuangkat putus asa
Mata bermunculan riuh tertawa
Mata menenggelam berlutut mengucap doa
Mata-mata menggapai mimpi ketika angin tertidur.
Aby Santika
Bandung,
17 Maret 2012.
HOTEL SIDODADI, CIREBON
Kepada jalanan di sana dada bundar menggelar tikar
di samping orang-orang serba tenang berziarah damai
tak ada mimpi, sebab kamar kita di sewa berdua bergoyangan
di mana gerang matahari di muka kaca selintas saja
Apa kabar angin yang sampai temukan jiwa anyir?
engkau gerangan berhadapan wanita manis wajahnya
dalam dosa tampak orang-orang berlalu lalang pada kaca
sukar diduga aku uraikan kelelakian berhawa jati dari gunung agung
Urat-urat melewati sepasang mata keindahan
sampai memandang ibadat di arus yang segera rubuh
terbaring telanjang menggapai dengan malu
genting yang lembab bagai menahan sedihnya hidup yang liar
O Tuhan, aku memang disulam tindakan yang sia-sia
mujahid menyusuri pintu wali yang dikenangkan
berpuluh nasib menangis tersedu dengan maut
sebagian beriak di bibir kelu gemetar putus asa
Sedangkan berulang kali aku gila hidup di jalanan
melewatkan waktu-waktu yang lengang di sepanjang kamar
dadanya yang bundar mempersilahkan di balut jari lebar
di tempat ini bergulat kunikmati keringat di medan laga
Saat-saat tak berdaya perlahan kuredakan tarian kenari
sampai memasuki rahasia menyandang kehormatan manusia
dengan tirai sejengkal air anyir jadi tak berdaya
teguran suara Tuhan bercampur Whisky dan Arak kaleng
Tapi aku tahu Tuhan sangatlah baik dan pengasih
kumenangisi kesucian bersama malam yang beranjak sepi
kamar menampakkan bayangan pintu yang terbuka
aku tidak menunggu renta melunak hati tanpa telanjang lagi.
Aby Santika
CIREBON,
12 JUlI 2009.
di samping orang-orang serba tenang berziarah damai
tak ada mimpi, sebab kamar kita di sewa berdua bergoyangan
di mana gerang matahari di muka kaca selintas saja
Apa kabar angin yang sampai temukan jiwa anyir?
engkau gerangan berhadapan wanita manis wajahnya
dalam dosa tampak orang-orang berlalu lalang pada kaca
sukar diduga aku uraikan kelelakian berhawa jati dari gunung agung
Urat-urat melewati sepasang mata keindahan
sampai memandang ibadat di arus yang segera rubuh
terbaring telanjang menggapai dengan malu
genting yang lembab bagai menahan sedihnya hidup yang liar
O Tuhan, aku memang disulam tindakan yang sia-sia
mujahid menyusuri pintu wali yang dikenangkan
berpuluh nasib menangis tersedu dengan maut
sebagian beriak di bibir kelu gemetar putus asa
Sedangkan berulang kali aku gila hidup di jalanan
melewatkan waktu-waktu yang lengang di sepanjang kamar
dadanya yang bundar mempersilahkan di balut jari lebar
di tempat ini bergulat kunikmati keringat di medan laga
Saat-saat tak berdaya perlahan kuredakan tarian kenari
sampai memasuki rahasia menyandang kehormatan manusia
dengan tirai sejengkal air anyir jadi tak berdaya
teguran suara Tuhan bercampur Whisky dan Arak kaleng
Tapi aku tahu Tuhan sangatlah baik dan pengasih
kumenangisi kesucian bersama malam yang beranjak sepi
kamar menampakkan bayangan pintu yang terbuka
aku tidak menunggu renta melunak hati tanpa telanjang lagi.
Aby Santika
CIREBON,
12 JUlI 2009.
KOPI PAHIT
: Ngopi bareng Abah Yoyok
Di malam-malam yang pahit
Jari-jari rusuh mengintip di antara gelas
Suguhan bibir menguntit kepulan asap kopi pahit
Bibir diseling lingkaran berciuman
Seiring kencan malam pertama yang riang
Kopi pahit, berpuluh teman bukan soal kesepian
Mereguk cinta sodara tua
Memerahkah lidah menjadi goyah dan bongkok
Duhai, abah yang nampak pada kaca?
Kopi pahit menjahit gundah
Perbincangan larut menjemput akrab di teko tembikar
Tidak ada wanita cantik di sini berdada lebar terbuka
Dengan tenang kita akan terus menenggak kopi
Semua terasa tentram penuh ampas-ampas pahit.
Aby Santika
Bandung,
13 Maret 2012
Di malam-malam yang pahit
Jari-jari rusuh mengintip di antara gelas
Suguhan bibir menguntit kepulan asap kopi pahit
Bibir diseling lingkaran berciuman
Seiring kencan malam pertama yang riang
Kopi pahit, berpuluh teman bukan soal kesepian
Mereguk cinta sodara tua
Memerahkah lidah menjadi goyah dan bongkok
Duhai, abah yang nampak pada kaca?
Kopi pahit menjahit gundah
Perbincangan larut menjemput akrab di teko tembikar
Tidak ada wanita cantik di sini berdada lebar terbuka
Dengan tenang kita akan terus menenggak kopi
Semua terasa tentram penuh ampas-ampas pahit.
Aby Santika
Bandung,
13 Maret 2012
MALAM INI, AIR MATA JATUH DI IBU KOTA
Malam ini, tak dapat kuhitung bimbang terbawa pulang
berbekal ringkih nada-nada lengang di bahu ibu kota
tahan sepotong lapar dan dingin tanpa pegangan
rindu kecil ketika burung melepas tangis di rumput dingin
Restu ibarat doa berayun dari seberang jaraknya
kotapun merelakan air mata menjadi amalan tiap laku
sepi bercahaya lampu rentang ke dalam tubuhku
sampaikan harapan hilang dari apa yang ku pandang
Inilah aku, tumbuh luka yang ranum lupa di hitung ulang
jalanan panjang berkabung sebelah barat tertidur
perlahan kota pergi tanpa pamit tiada terasa
airmata adalah pesan rindu, entah pada siapa berhenti
Malam ini, aku terbang sebelum jiwa mencapai maut
menyatukan hujan di atas kelopak ibu kota kehidupan
bersalin hasrat melepas air mata sebatang kara
menangisku entah kenapa menepi ke segala sendi
Hembusan nafas di pilin-pilin bersama Tuhan selalu ada
bukan sekedar malam yang terlewat tak bermuka
menantang air mata agar tak menepi di ujung jalan pulang
ketika kota terasa samar memukul jantung begitu saja
Subuh segera mengendapkan butir-butir embun rindu
lalu diam menjadi serpihan di berai kaki melompat lelap
agar terusir bunga-bunga wanginya memilah air mata
yang tak hendak lagi menampung malam basah di pundakku
Malam ini, air mata jatuh di ibu kota
menunggumu menjelma nyawaku di tubuhmu
menjadi penghantar lelap nyanyian membuai mimpi
menyambut pulang menuju kota kembang.
Aby Santika
"Tengah malam"
Antara Jakarta-Bandung,
11 Maret 2012
berbekal ringkih nada-nada lengang di bahu ibu kota
tahan sepotong lapar dan dingin tanpa pegangan
rindu kecil ketika burung melepas tangis di rumput dingin
Restu ibarat doa berayun dari seberang jaraknya
kotapun merelakan air mata menjadi amalan tiap laku
sepi bercahaya lampu rentang ke dalam tubuhku
sampaikan harapan hilang dari apa yang ku pandang
Inilah aku, tumbuh luka yang ranum lupa di hitung ulang
jalanan panjang berkabung sebelah barat tertidur
perlahan kota pergi tanpa pamit tiada terasa
airmata adalah pesan rindu, entah pada siapa berhenti
Malam ini, aku terbang sebelum jiwa mencapai maut
menyatukan hujan di atas kelopak ibu kota kehidupan
bersalin hasrat melepas air mata sebatang kara
menangisku entah kenapa menepi ke segala sendi
Hembusan nafas di pilin-pilin bersama Tuhan selalu ada
bukan sekedar malam yang terlewat tak bermuka
menantang air mata agar tak menepi di ujung jalan pulang
ketika kota terasa samar memukul jantung begitu saja
Subuh segera mengendapkan butir-butir embun rindu
lalu diam menjadi serpihan di berai kaki melompat lelap
agar terusir bunga-bunga wanginya memilah air mata
yang tak hendak lagi menampung malam basah di pundakku
Malam ini, air mata jatuh di ibu kota
menunggumu menjelma nyawaku di tubuhmu
menjadi penghantar lelap nyanyian membuai mimpi
menyambut pulang menuju kota kembang.
Aby Santika
"Tengah malam"
Antara Jakarta-Bandung,
11 Maret 2012
SAMBAL TERASI
: Untuk Abah Yoyok
Belanja rawit di pasar pagi
Udang alit harum terasi
Di bawa pulang penuh keriangan
Entah, dimana cobek bersembunyi
Di laci-laci menghilang dari kemarin
Pepes sekedar makanan basi
O, rawit dan terasi
Beradu lebur tanpa api
sebab bukan makanan siap saji
O, rawit dan terasi
Tomat penikmat garam sepasi
Di tambah ikan asin di tindih
Sambal terasi secuil nasi
Pedas meniup keringat nikmat
Di santap tak di sisakan lagi.
Aby Santika
Bandung,
08 Maret 2012
Belanja rawit di pasar pagi
Udang alit harum terasi
Di bawa pulang penuh keriangan
Entah, dimana cobek bersembunyi
Di laci-laci menghilang dari kemarin
Pepes sekedar makanan basi
O, rawit dan terasi
Beradu lebur tanpa api
sebab bukan makanan siap saji
O, rawit dan terasi
Tomat penikmat garam sepasi
Di tambah ikan asin di tindih
Sambal terasi secuil nasi
Pedas meniup keringat nikmat
Di santap tak di sisakan lagi.
Aby Santika
Bandung,
08 Maret 2012
BANDUNG MASIH HUJAN
Inikah Bandung yang menyimpan wajah pribumi
berduyun-duyun kuamati orang bermil-mil menyentuh tanahnya
meminta sesuatu ketika hujan senantiasa tak henti-henti
terus berjalan dipenuhi kesejukan tak berbatas
Cahaya Matahari mengintip setiba air tersenyum harum
rimbun lampu kota di muka gapura terlupa terang
sebab cuaca merangkai hujan bersama fajar coklat
mematah hasratan kerja menanti diamnya mengalir
Aku masih berkaca membaca jendela yang basah
melantunkan puisi, menangisi kota yang dingin tak bercelana
rimbun pohon dan ilalang di tempuh banyak orang
tanah yang terbuka tak seperti kembang peneduh dahulu
Aku ingin pulang menyebrang jalanan yang berlubang
menaruh cempaka ditepian lekaslah harapan ada
di tengah manusia melambai rindukan kota
melampau redupnya wajah Bandung ketika hujan
Saat ini langit sebelah timur masih terdiam duka
meski ada segelintir riak di tempat aku terjaga
bila orang-orang berdendang karena sebagian bahagia
ketika langit menjatuhkan airnya untuk kita, bumi
Bilakah Bandung tabah di atas luka dan dosa manusia
hinggap sedari cerita Sangkuriang dan bunda kandung
jernih rahasia gunung-gunung membendung bagai keringat di daun kering
kota mimpinya terpelihara dari binasa amuk badai
Kota hujan menggigilkan rumah-rumah satu persatu
sebab hujan, seperti kelenjar penis di tarik lawan jenis
membuat Bandung nelangsa bersama kesedihan
ketika hujan hembusan dingin tak jua reda.
Aby Santika
Bandung,
08 Maret 2012.
berduyun-duyun kuamati orang bermil-mil menyentuh tanahnya
meminta sesuatu ketika hujan senantiasa tak henti-henti
terus berjalan dipenuhi kesejukan tak berbatas
Cahaya Matahari mengintip setiba air tersenyum harum
rimbun lampu kota di muka gapura terlupa terang
sebab cuaca merangkai hujan bersama fajar coklat
mematah hasratan kerja menanti diamnya mengalir
Aku masih berkaca membaca jendela yang basah
melantunkan puisi, menangisi kota yang dingin tak bercelana
rimbun pohon dan ilalang di tempuh banyak orang
tanah yang terbuka tak seperti kembang peneduh dahulu
Aku ingin pulang menyebrang jalanan yang berlubang
menaruh cempaka ditepian lekaslah harapan ada
di tengah manusia melambai rindukan kota
melampau redupnya wajah Bandung ketika hujan
Saat ini langit sebelah timur masih terdiam duka
meski ada segelintir riak di tempat aku terjaga
bila orang-orang berdendang karena sebagian bahagia
ketika langit menjatuhkan airnya untuk kita, bumi
Bilakah Bandung tabah di atas luka dan dosa manusia
hinggap sedari cerita Sangkuriang dan bunda kandung
jernih rahasia gunung-gunung membendung bagai keringat di daun kering
kota mimpinya terpelihara dari binasa amuk badai
Kota hujan menggigilkan rumah-rumah satu persatu
sebab hujan, seperti kelenjar penis di tarik lawan jenis
membuat Bandung nelangsa bersama kesedihan
ketika hujan hembusan dingin tak jua reda.
Aby Santika
Bandung,
08 Maret 2012.
KEPADA SRI, KUKASIHI PAGI
Kalau sempat kukasihi engkau di pagi hari
yang tampak terbuka bila matahari lemah pudar
menjanjikan bahagia di rumput semesta kita
dan berbunga seperti Sri, di negeri hitam putih
Masuklah ke rumahku sebagian air mata
bilamana engkau tak tahu untuk siapa cinta di bawa
linang embun juga suara pagi membagikan dingin
alun tembang lembut mendayu tiada terikat
Kudengar setiap kali engkau merayu pasir merah
di atas tubuhmu kuambil seutas rindu bermukim
seperti rangkaian jantung sendiri yang jatuh
umpama Sri, mengirimkan hangat di buaian tubuh
Lonceng waktumu menjemput tarian ritual
sejenak hanya suara menyimpan kekesalan
lalu kulepas jika engkau benar-benar lupa wangi melati
yang bersenandung di dalam air mata bergenang
Jika sempat melipat rembulan di bentang wajahmu
berjatuhan tangisan doa memanggil rindu setiap pagi
menunggu kasih andai tak sempat kembali
layaknya Sri, lenyap terbang lalu pergi
Engkau Sri, berjalan halus menoleh gelisah
anak yang tidak lahir dari rahim langit terbelah
hanyalah selembar sujud di simpan menampung cahaya rupa
kepada pagi aku mengucap harap secara kodrat
Ketika berhenti permainan waktu semesta kita
hanya bertanda pagipun menjadi musim berdiri sunyi
jika sempat kukasihi engkau yang berlari merantau fana
seperti Sri, yang bernyanyi menjelang pulang.
Aby Santika
Bandung,
07 Maret 2012.
yang tampak terbuka bila matahari lemah pudar
menjanjikan bahagia di rumput semesta kita
dan berbunga seperti Sri, di negeri hitam putih
Masuklah ke rumahku sebagian air mata
bilamana engkau tak tahu untuk siapa cinta di bawa
linang embun juga suara pagi membagikan dingin
alun tembang lembut mendayu tiada terikat
Kudengar setiap kali engkau merayu pasir merah
di atas tubuhmu kuambil seutas rindu bermukim
seperti rangkaian jantung sendiri yang jatuh
umpama Sri, mengirimkan hangat di buaian tubuh
Lonceng waktumu menjemput tarian ritual
sejenak hanya suara menyimpan kekesalan
lalu kulepas jika engkau benar-benar lupa wangi melati
yang bersenandung di dalam air mata bergenang
Jika sempat melipat rembulan di bentang wajahmu
berjatuhan tangisan doa memanggil rindu setiap pagi
menunggu kasih andai tak sempat kembali
layaknya Sri, lenyap terbang lalu pergi
Engkau Sri, berjalan halus menoleh gelisah
anak yang tidak lahir dari rahim langit terbelah
hanyalah selembar sujud di simpan menampung cahaya rupa
kepada pagi aku mengucap harap secara kodrat
Ketika berhenti permainan waktu semesta kita
hanya bertanda pagipun menjadi musim berdiri sunyi
jika sempat kukasihi engkau yang berlari merantau fana
seperti Sri, yang bernyanyi menjelang pulang.
Aby Santika
Bandung,
07 Maret 2012.
HUKUM SINGKONG
Tiap musim kami bersama-sama bercocok tanam saja
sebelum terjungkal tumbuh benih membusuk bangkai
masih berhujan separuh hidup tandus di tanah landai
kami sudah mengeluh hingga setengah abad usia yang sia-sia
O, alam ditandai kayu-kayu batang singkong setiap hari
membuat lapar di timbun meradang renta
andaikata yang tersisa buat sarapan pagi
tinggal tubuh menunggu hukum tepekur hanyalah nyawa
O, negeri di tanah terbenam tak berdaya apa-apa
setelah hanyalah menggali hukum di lubang bumi tinggal mati
seusai kemarau memberi penindasan berkali-kali
akar batang kayu di makan nasib yang malang
Ingat bilamana keadilan terlantar di alas kaki
di pucuk-pucuk para "babi hutan" mengintai mata
menawar hukum mengunyah daun singkong kering
di tengah manusia menangisi hidup tersia-sia
O, kalian yang mengira kami tersenyum membalas jasa
pikiran kidal menjadi kehormatan yang rekayasa
tanaman kami tumbuh dipagari nasib sengsara
betapa kami hidup di tanah antah berantah menanti mati
O, kami malu yang hidup di tanah katulistiwa
sebatang kayu singkong menyelip di antara hukum terinjak rela
membuat kami lapar hampir terasa saling terbiasa akrab
memukul tanah bergelimang harta, sekedar memakan sisa sampah
Hanya Tuhan yang tahu peluh keringat tertambat
jatuhnya keadilan di ladang tertanam kemanusiaan
hingga kami tidak diperebutkan kepentingan
makan singkong hingga malam bersuka hati.
Aby Santika
Bandung,
05 Maret 2012.
sebelum terjungkal tumbuh benih membusuk bangkai
masih berhujan separuh hidup tandus di tanah landai
kami sudah mengeluh hingga setengah abad usia yang sia-sia
O, alam ditandai kayu-kayu batang singkong setiap hari
membuat lapar di timbun meradang renta
andaikata yang tersisa buat sarapan pagi
tinggal tubuh menunggu hukum tepekur hanyalah nyawa
O, negeri di tanah terbenam tak berdaya apa-apa
setelah hanyalah menggali hukum di lubang bumi tinggal mati
seusai kemarau memberi penindasan berkali-kali
akar batang kayu di makan nasib yang malang
Ingat bilamana keadilan terlantar di alas kaki
di pucuk-pucuk para "babi hutan" mengintai mata
menawar hukum mengunyah daun singkong kering
di tengah manusia menangisi hidup tersia-sia
O, kalian yang mengira kami tersenyum membalas jasa
pikiran kidal menjadi kehormatan yang rekayasa
tanaman kami tumbuh dipagari nasib sengsara
betapa kami hidup di tanah antah berantah menanti mati
O, kami malu yang hidup di tanah katulistiwa
sebatang kayu singkong menyelip di antara hukum terinjak rela
membuat kami lapar hampir terasa saling terbiasa akrab
memukul tanah bergelimang harta, sekedar memakan sisa sampah
Hanya Tuhan yang tahu peluh keringat tertambat
jatuhnya keadilan di ladang tertanam kemanusiaan
hingga kami tidak diperebutkan kepentingan
makan singkong hingga malam bersuka hati.
Aby Santika
Bandung,
05 Maret 2012.
JAKARTA, SEBELUM HUJAN
Angin lembut demikian asyik memandang mendung
meneladannya kehidupan bersembunyi di ujung dahaga
saling cerita meneteskan rindu jika musimmu nanti tiba
kota yang menumpah bersama airmata gelisah
Sudah cukup lama aku memilih hening yang jatuh
padahal orang-orang di sana saling tengadah ke udara
aku menyimpan cinta yang di tanam benih dari jiwa
orang-orang meminta agar hujan tak menghambur pudar
Berjalan sendiri baringkan badan di tembok rumah gedongan
kota-kota gemuruh di buat resah semakin nyata
hasrat menemui wajah sahaja berjajar rapat seketika
seperti ruang kosong tulisan rindu kudus
Ah, orkes jalanan membuai nafas terlunta lunglai
bersama berlagu kemudian parau suara mencatat sajak luka-luka
melihat langit legam mengusap mata silih berganti terseret hanyut
harapan-harapan enggan menggapai angin sejuk
Di Jakarta badai yang tersisa selalu penuh dera
padahal selangkah kaki jauh menghadap kekasih
pedih jalanan di kotamu gelisah menjanjikan hujan
segala-galanya lenyap sebelum hatiku kebasahan
Haripun berangkat kelabu penuh lekat
aku menempuh kehormatan yang diulurkan rindu ranum
dalam rahasia mendung sekali waktu mengungkap
rindu menggoresnya di debu kota Jakarta
Sebelum hujan orang-orang pamit pulang berpelukan
aku tak menutup impian bertemu di perempatan jalan
berpeluh turut mengikut angin berhembus lalai
ketika menyambut beranjak dari kotanya.
Aby Santika
Jakarta,
05 Februari 2012.
meneladannya kehidupan bersembunyi di ujung dahaga
saling cerita meneteskan rindu jika musimmu nanti tiba
kota yang menumpah bersama airmata gelisah
Sudah cukup lama aku memilih hening yang jatuh
padahal orang-orang di sana saling tengadah ke udara
aku menyimpan cinta yang di tanam benih dari jiwa
orang-orang meminta agar hujan tak menghambur pudar
Berjalan sendiri baringkan badan di tembok rumah gedongan
kota-kota gemuruh di buat resah semakin nyata
hasrat menemui wajah sahaja berjajar rapat seketika
seperti ruang kosong tulisan rindu kudus
Ah, orkes jalanan membuai nafas terlunta lunglai
bersama berlagu kemudian parau suara mencatat sajak luka-luka
melihat langit legam mengusap mata silih berganti terseret hanyut
harapan-harapan enggan menggapai angin sejuk
Di Jakarta badai yang tersisa selalu penuh dera
padahal selangkah kaki jauh menghadap kekasih
pedih jalanan di kotamu gelisah menjanjikan hujan
segala-galanya lenyap sebelum hatiku kebasahan
Haripun berangkat kelabu penuh lekat
aku menempuh kehormatan yang diulurkan rindu ranum
dalam rahasia mendung sekali waktu mengungkap
rindu menggoresnya di debu kota Jakarta
Sebelum hujan orang-orang pamit pulang berpelukan
aku tak menutup impian bertemu di perempatan jalan
berpeluh turut mengikut angin berhembus lalai
ketika menyambut beranjak dari kotanya.
Aby Santika
Jakarta,
05 Februari 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)