Rabu, 28 Agustus 2013

LANTAK



/1/
Pengembaraanku selalu batu, dari lontar yang pernah ku sajakkan " aku
terjungkal " -- turunlah O Muhammad, menggiring sorga
tapi di awal masehi angin memiuh bak siul burung-burung
tak terdengar suara tasbihmu; dari mata, tangan bahkan ujung kemaluan
ringkih hanya daun-daun yang gugur mengaji tanah

/2/
Kenapa bibirmu seperti retak?
sebuah sapa menjadi lantak dan papa oleh air mata, dari dangau di tepian rambutmu
ada jarak merembeskan gelisahku dengan jejak-jejak asing
yang sewaktu-waktu bisa cacat oleh kemarau

/3/
Firdaus juga Sa'ir masih terbenam dalam sihir-sihir penglihatan
ataukah telaga-telaga tempat mengintip sepetak dada
kecuali Tuhan selalu mengalirkan Kautsar hingga terpangkas seluruh dahaga
O Allah, bahkan jeritku masih merasuk ke dalam mimpi-mimpi birahinya
; berbahagialah sorga yang lantak, berbahagialah!

Bandung,
28 Agustus 2013.

Selasa, 06 Agustus 2013

LELAKI YANG BERMATA API



Seperti yang telah kau kenal diriku
lelaki yang berangkat dari penyangkalan agung
lelaki yang lupa kapan dan dimana waktu pulang
setiap langkah telah terlaknati sebagai kenabianku
; aku melilitkan pandangan seperti ular bermata api

Biar segala karma seperti kesucian yang lantak
sebab selalu ada luka untuk menguji
seribu mata akan menyaksikan jasadku ditepikan lahat
ketika segala kenyerian masih berkutat pada rimba kekosongan

Namun, aku telah bersekutu dengan tubuhku
kehendak terlalu lemah seperti biji pelir yang terkulai
memuncratkan birahi ke puncak api
hingga duri tak akan bersimbah darah
sebab diriku adalah api! pada setiap bola mataku adalah bara melebihi neraka!
" Aku akan tetap hidup dari setiap penyangkalan; jiancuk !!"

 


Aby Santika

Blitar,
07 Agustus 2013.

TITIK 24


Jika ada sembahyang yang mencahar di titik ini
hanya sundih saat kau undur dari pelupukku
sedang kesaksianku serupa jarum jam yang palung
dihantarkan timang, pada tembang di relung paling silam
hingga gelap dipahami bak resah yang paling ganas

Di titik ini, kuhitung segala dusta yang mengekal
seperti sapuan mata, kita akan melihatnya terapung
di ambang keesaan sepi

Mimikmu masih sealir air yang tak lagi memberi batas
untuk menunggu cipratan yang memberi dingin
ah, akupun diam-diam mendinginkan waktu
doa kurapatkan bagai kedap ketulusan hingga ada yang meledak;
di antara belikat malam

Mungkin di keesokan hari
garis-garis rahasia akan terpahami pada titik ini
hingga jibril menangis dalam setiap sujudku
saat mabuk suntuk karena persetubuhan dengan tuhan dijadikan umpan
- kita telah diasingkan, sebab kita bukan tuan atas hidup ini

Maka aku akan berjalan hingga putaran ke dua puluh empat
dan jangan pernah kau bertanya;
" sebab kita tidak akan pernah berhenti pada titik yang sama "
 


Aby Santika

Blitar,
03 Agustus 2013.