Cerite dari Tugu Tani :
--------------------------------------------------------------------------------------
Tanah yang tak hendak lagi menampung
kepala menoleh-noleh tingkah beralun itu
dikaki bumi surya berpisah keseribu rupa
berjalan sendiri dalam pecah gemetar tubuh kaku
Engkaukah menyusuri rangkaian tentang mimpi ?
dan betapa lunak irama-irama kebangkitan abadi
napas-napas teduh dan nikmat tersusun silih berganti
setelah kau menyerah kepada Mati
Inikah mati, menggali gunung-gunung dibumi
ketika menunggu wasiat bertanda Ilahi
menghitung jujur dan sejuta kezaliman seluruh usia
lalu sayap burung-burung murai rebah dimatahari
Jalannya sendiri diliku fana sejenak bernyanyi
kesempatan tak bisa bicara beramai-ramai
bila hanyut pedoman pembawa arah
untuk dicari sekuat mendapatkan kebulatan cinta
Tanah merah menjanjikan doa-doa
mengapa dirasa gelisah yang takut mati ?
tiap musim kita hidup cuma melepas pergi
dermakan kesadaran tempat kita terbujur
Inikah mati, melepas burung-burung yang terbang
menyambut ketenangan dinegeri baka
kemudian tangis menyusui kecintaan doa
tiada kuasa airmata subur memegang tangannya
Nanti diseberang waktu orang-orang mewaris benih
menutup matanya kelopak-kelopak kemboja
membasuh tanggul tercuci penuh kasih
dan kita pernah saling tahu, esok terlupa derita ini.
( Puisi berjudul :
" INIKAH MATI "
Disebelah barat ada yang mati,Disebelah timur ada yang menangis
,Kemarin ada yang mati,Mungkin esok bertambah lagi,
Kita hanya menunggu giliran tiba,Maka tak perlu takut atau disesali )
Aby Santika
BANDUNG,
23 Januari 2012.
Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Sabtu, 28 Januari 2012
TERBUNUH NAFSU BIRAHI
Betapa sedang kedekatmu kutahan nafsu
tapi lupa antara malu putusan hati tertambat lapar
seperti menanti runtuhan langit daripada diri
dengan menjalang dadaku melepas rebana berlonjak riang
Makian terjalin menimbulkan kecewa
airmata dijalin menunggu gadis menuang kuncup dosa
tapi memeluk laut semua luka-luka terbuka
mengutuki putusan orang-orang telanjang meminta airnya
Kita tidak akan tahu pagi yang merah
bila disatu malam tanggul terbedah
baunya terseret dilincah ritual keruh
tumpah bangkai-bangkai hidup diranjang berdandan wangi
Tidakkah sebagian umur menggali bukit-bukit
aku pernah asing mendapatkan jasad sepenuh kurus
mengungkung jalanan jauh menghadap kehormatan
susah payah memutihkan kembang rampe tanah pasir
Mendera segenap ciuman mesra sejak mula
terlampau gairah dari pintu merangkak meminta
keringat basah memburu tubuh daging betina
dan wajahmu bulat bagai telur bermain dirumput paling gelap
Sebelum kau melompat ditiup angin
sekali perangaiku disebarang waktu
terhitung syarat dengan mengerti tiap laku
hingga disambut hayat mengadu amalan bakti
Jangan mendalam binasa menjadi abu
sebar jadikan nafsu menempis terbang diluar teori
memberi kesadaran setenang hujan
setelah terhenti saatpun sampai bermakna.
( Puisi berjudul :
" TERBUNUH NAFSU BIRAHI "
Sekilas kisah yang memang sudah tak asing disekitaran kita,
Cinta mendominasi nafsu,
Semua bukan lagi tabu ketika kebiasaan itu sudah mendarah )
Aby Santika
BANDUNG,
22 Jauari 2012
tapi lupa antara malu putusan hati tertambat lapar
seperti menanti runtuhan langit daripada diri
dengan menjalang dadaku melepas rebana berlonjak riang
Makian terjalin menimbulkan kecewa
airmata dijalin menunggu gadis menuang kuncup dosa
tapi memeluk laut semua luka-luka terbuka
mengutuki putusan orang-orang telanjang meminta airnya
Kita tidak akan tahu pagi yang merah
bila disatu malam tanggul terbedah
baunya terseret dilincah ritual keruh
tumpah bangkai-bangkai hidup diranjang berdandan wangi
Tidakkah sebagian umur menggali bukit-bukit
aku pernah asing mendapatkan jasad sepenuh kurus
mengungkung jalanan jauh menghadap kehormatan
susah payah memutihkan kembang rampe tanah pasir
Mendera segenap ciuman mesra sejak mula
terlampau gairah dari pintu merangkak meminta
keringat basah memburu tubuh daging betina
dan wajahmu bulat bagai telur bermain dirumput paling gelap
Sebelum kau melompat ditiup angin
sekali perangaiku disebarang waktu
terhitung syarat dengan mengerti tiap laku
hingga disambut hayat mengadu amalan bakti
Jangan mendalam binasa menjadi abu
sebar jadikan nafsu menempis terbang diluar teori
memberi kesadaran setenang hujan
setelah terhenti saatpun sampai bermakna.
( Puisi berjudul :
" TERBUNUH NAFSU BIRAHI "
Sekilas kisah yang memang sudah tak asing disekitaran kita,
Cinta mendominasi nafsu,
Semua bukan lagi tabu ketika kebiasaan itu sudah mendarah )
Aby Santika
BANDUNG,
22 Jauari 2012
BAHASA MOYANG
Bertanah ibu tergantung dikanan dan kiri
nan lahir sambungan nyawa sebangsa moyang
sertakan dendang memuji berkalang merdu
sibuyung lupa menyambung bahasa menjadi padu
Bukannya sebagai bayang segala kata
bernafas kecil selagi sedarah pernah
menulis kosong tempat dunia menampung kudus
nasib bangsa dipikul petang terasa berat
Senang bersuka cita banyaknya ragam elok selalu
penawar berai berkatan segala gerak
bahasa moyang gubahan teladan seluruh dunia
buat kami lelap didendang bahagia sedang
Konon lidah jauh menjunjung tempat muasal
menaruh benih tak sampai semai dituah rupanya
handai taolan tentulah nestapa tiada berkata
menggaris terbang bahasa melampaui melayu sayang
Aku menjadi malu mendongeng nanti
bicara cedera mulutnya dibendung tawa
pada anak cucu tidak kususul bakti amalkan Nusa
sengsara hidup nenek tua moyangnya mati
Jangan kemari peradaban berlengan asing
menyanyikan zaman memandang deru yang masih muda
bacalah adat-adat dikitab usang berayah
punah warisan
Nanti kehormatan dari ibu bukanlah laknat
menyusui bahasa lahir jangan mengemis tangis
maka tumbuhlah bangsa ditanah gembur
kecintaan berbahasa nenek moyang berdiri tegak.
( Puisi berjudul :
" BAHASA MOYANG "
Bentuk keprihatinan terhadap banyaknya orang-orang terutama generasi muda,
Yang tidak lagi menjunjung bahasa asalnya,
Baik bahasa daerah,
Maupun berbahasa Nasional yang baik dan benar,
Tentu dengan seiring berkembangnya zaman
Dan kemajuan peradaban yang turut dipengaruhi dunia luar ).
Aby Santika
BANDUNG,
18 Januari 2012
nan lahir sambungan nyawa sebangsa moyang
sertakan dendang memuji berkalang merdu
sibuyung lupa menyambung bahasa menjadi padu
Bukannya sebagai bayang segala kata
bernafas kecil selagi sedarah pernah
menulis kosong tempat dunia menampung kudus
nasib bangsa dipikul petang terasa berat
Senang bersuka cita banyaknya ragam elok selalu
penawar berai berkatan segala gerak
bahasa moyang gubahan teladan seluruh dunia
buat kami lelap didendang bahagia sedang
Konon lidah jauh menjunjung tempat muasal
menaruh benih tak sampai semai dituah rupanya
handai taolan tentulah nestapa tiada berkata
menggaris terbang bahasa melampaui melayu sayang
Aku menjadi malu mendongeng nanti
bicara cedera mulutnya dibendung tawa
pada anak cucu tidak kususul bakti amalkan Nusa
sengsara hidup nenek tua moyangnya mati
Jangan kemari peradaban berlengan asing
menyanyikan zaman memandang deru yang masih muda
bacalah adat-adat dikitab usang berayah
punah warisan
Nanti kehormatan dari ibu bukanlah laknat
menyusui bahasa lahir jangan mengemis tangis
maka tumbuhlah bangsa ditanah gembur
kecintaan berbahasa nenek moyang berdiri tegak.
( Puisi berjudul :
" BAHASA MOYANG "
Bentuk keprihatinan terhadap banyaknya orang-orang terutama generasi muda,
Yang tidak lagi menjunjung bahasa asalnya,
Baik bahasa daerah,
Maupun berbahasa Nasional yang baik dan benar,
Tentu dengan seiring berkembangnya zaman
Dan kemajuan peradaban yang turut dipengaruhi dunia luar ).
Aby Santika
BANDUNG,
18 Januari 2012
Senin, 16 Januari 2012
DIANTARA NYANYIAN RINDU
Sejakkan dulu permai cinta berlagu merdu
rangkaian nada-nada tiada terkurang menurut rindu
didalam kalbu bersendi madahan irama sampaikan waktu
daku lemah sebab terikat gubahan merayu
Setelah bayangan berkilau senja
bisikkan diantara pilihan daku
dimana segala damai gerang bersuka ?
seperti nuri meminta selintas suara bahagia
Dicari segala cintamu senantiasa
berduyun-duyun sinar keluar dari mata
engkau peminta kemerlap gulita
rupanya jauh tempat badan melahirkan kita
Pada jendela kembang seroja berpaut
kutangisi dalam mematah harum
biarkan aneka rindu melampau tersia-sia
sampai kasih dan sayang tersenyum diair mengalir rela
Berdiri daku bila bulan tertidur diranjang cintaku
riuh lagu mencium tempat teduh yang tumbuh
disini rindu meresap tipis ingatan
sedang lukisan wangi bunga merona simpul pikiran
Membawa serentak syarat segala tanda
bersisir tiap laku semua akan bertemu
Digenap pembawa wajahmu terpelihara
meneladan nyata lantaran malu berjumpa
Kutahan harap mendalam kemudian hari
boleh kecewa sumbang senandung bergenang
karena pelukkan kupinta benih disemai
andai menunggu suaramu lenyap nyanyian rinduku.
( Puisi berjudul :
" DIANTARA NYANYIAN RINDU "
Rindu selalu menjadi sahabat karib disetiap hari, ketika kuciptakan nada-nada tentang tempat kita yang dilahirkan jauh bertempat,
Lalu suara rinduku bersenandung diantara pagi,siang,senja dan juga malammu ).
Aby Santika II
BANDUNG,
16 Januari 2012.
rangkaian nada-nada tiada terkurang menurut rindu
didalam kalbu bersendi madahan irama sampaikan waktu
daku lemah sebab terikat gubahan merayu
Setelah bayangan berkilau senja
bisikkan diantara pilihan daku
dimana segala damai gerang bersuka ?
seperti nuri meminta selintas suara bahagia
Dicari segala cintamu senantiasa
berduyun-duyun sinar keluar dari mata
engkau peminta kemerlap gulita
rupanya jauh tempat badan melahirkan kita
Pada jendela kembang seroja berpaut
kutangisi dalam mematah harum
biarkan aneka rindu melampau tersia-sia
sampai kasih dan sayang tersenyum diair mengalir rela
Berdiri daku bila bulan tertidur diranjang cintaku
riuh lagu mencium tempat teduh yang tumbuh
disini rindu meresap tipis ingatan
sedang lukisan wangi bunga merona simpul pikiran
Membawa serentak syarat segala tanda
bersisir tiap laku semua akan bertemu
Digenap pembawa wajahmu terpelihara
meneladan nyata lantaran malu berjumpa
Kutahan harap mendalam kemudian hari
boleh kecewa sumbang senandung bergenang
karena pelukkan kupinta benih disemai
andai menunggu suaramu lenyap nyanyian rinduku.
( Puisi berjudul :
" DIANTARA NYANYIAN RINDU "
Rindu selalu menjadi sahabat karib disetiap hari, ketika kuciptakan nada-nada tentang tempat kita yang dilahirkan jauh bertempat,
Lalu suara rinduku bersenandung diantara pagi,siang,senja dan juga malammu ).
Aby Santika II
BANDUNG,
16 Januari 2012.
NASIHAT IBU TERHADAP ANAKNYA
Bu, nanda bermandi dendam bilakah dera menghimpit
ditunaikan tirakat bila susah dicucurkan badan
bagaimana boleh dikuburkah menuju kalbu ?
Ratap membobos jengkal suara lembutnya :
Benamlah nyawa sedanan lusuhmu
selagi lemah menikam lenyap bunga bersuka cita
Bu, bilamana nanda melayar selaut bencipun gaduh
sebab bukan berhak riuh diumbar sukar menjemputkah
hilang susah setiap sa'at ?
Menangis matanya disimbur rusuh
menyala durja bermegah layu
airmata rawan menghilang mimpi menurut citanya
Nak, mengenang langit sebentar saja musnah
bahagia perlahan makin muram dari tanah
sebagai bentuk bayang hidup bukankah harus
kembali menunduk ?
Dan seperti mengasihi bumi senantiasa selama-lamanya
bergoncang hikmat bukan isinya dibuang
pastilah sukmamu mengendap kaku ?
Nak, keluarlah dengan pilihan cintamu
selintas mata air mengalir tidak mengganggu tanah
pun berduyun langit menunjuk arah muara yang dicari
Maka, dimana jiwa sejuk meminta rupanya
berwujudlah tenang sejelma mata air
Disana ibu menaruh tangan memeluk ananda.
( Puisi berjudul :
" NASIHAT IBU TERHADAP ANAKNYA "
Tidak dipungkiri,bahwa didunia ini, doa ibulah yang akan menyelamatkan anak dari kesesatan,
Ditelapaknyalah syurga terletak, maka bersyukurlah ketika nasihat-nasihat baik selalu dituturkan pada kita,
Terimakasih bu, )
Aby Santika II
BANDUNG,
13 JANUARI 2012
ditunaikan tirakat bila susah dicucurkan badan
bagaimana boleh dikuburkah menuju kalbu ?
Ratap membobos jengkal suara lembutnya :
Benamlah nyawa sedanan lusuhmu
selagi lemah menikam lenyap bunga bersuka cita
Bu, bilamana nanda melayar selaut bencipun gaduh
sebab bukan berhak riuh diumbar sukar menjemputkah
hilang susah setiap sa'at ?
Menangis matanya disimbur rusuh
menyala durja bermegah layu
airmata rawan menghilang mimpi menurut citanya
Nak, mengenang langit sebentar saja musnah
bahagia perlahan makin muram dari tanah
sebagai bentuk bayang hidup bukankah harus
kembali menunduk ?
Dan seperti mengasihi bumi senantiasa selama-lamanya
bergoncang hikmat bukan isinya dibuang
pastilah sukmamu mengendap kaku ?
Nak, keluarlah dengan pilihan cintamu
selintas mata air mengalir tidak mengganggu tanah
pun berduyun langit menunjuk arah muara yang dicari
Maka, dimana jiwa sejuk meminta rupanya
berwujudlah tenang sejelma mata air
Disana ibu menaruh tangan memeluk ananda.
( Puisi berjudul :
" NASIHAT IBU TERHADAP ANAKNYA "
Tidak dipungkiri,bahwa didunia ini, doa ibulah yang akan menyelamatkan anak dari kesesatan,
Ditelapaknyalah syurga terletak, maka bersyukurlah ketika nasihat-nasihat baik selalu dituturkan pada kita,
Terimakasih bu, )
Aby Santika II
BANDUNG,
13 JANUARI 2012
DIPAGIMU RINDU TERLUKA
Semenjak pagi dingin melayap kehormatan kata
pembawa ajaran hidup hingga jauh diatas gunung
segala tindak menemui tempat tertambat alpa
Bukankah pandangan dilepas rela ?
sebab kedekatanmu alangkah singkat
melupakanku tiada merasakan kemalangan
Dari hadapan engkau takut kenal bahagia
mengejar musimmu lenyap satu-satu
cuaca terangmu dipagari tangis yang berbatas
Sering saya mendengar kurus suaramu disebelah barat
setelah perlahan pagi mimpi menghilang
mempermainkan angin memberai mata
Dimana menaruh rindu setia dijendela
duduk pada subuh memeluk hembusan
kembang haruman lili
kupanggil luka tumbuh sebelum fajar sebelah timur
Enggan disimpang pisah berbelah
dibuai kembali hanyalah sendiri
langit tak hendak lagi mencari tubuhmu
Aku dan engkau adalah pagi yang kemilau
berdua terbang embunmu tempat berlindung
menyanyikan puja-puji mulia menerangi gigil
yang paling gelap
Segala-galanya senyum mengepung sepi
bawa aku kembali sebelum hujan mesra bersuara
hidup berkata sebuah rindu menderu senja.
( Puisi berjudul :
" DIPAGIMU RINDU TERLUKA "
Kadang rindu merupakan satu keutuhan dalam cinta, lalu cemburu merupakan bumbu paling gurih.
Namun luka adalah pelajaran hidup dalam mencerna rindu dan cemburu agar tetap berada pada jalurnya yang lurus ).
Aby Santika
BANDUNG,
12 JANUARI 2012
pembawa ajaran hidup hingga jauh diatas gunung
segala tindak menemui tempat tertambat alpa
Bukankah pandangan dilepas rela ?
sebab kedekatanmu alangkah singkat
melupakanku tiada merasakan kemalangan
Dari hadapan engkau takut kenal bahagia
mengejar musimmu lenyap satu-satu
cuaca terangmu dipagari tangis yang berbatas
Sering saya mendengar kurus suaramu disebelah barat
setelah perlahan pagi mimpi menghilang
mempermainkan angin memberai mata
Dimana menaruh rindu setia dijendela
duduk pada subuh memeluk hembusan
kembang haruman lili
kupanggil luka tumbuh sebelum fajar sebelah timur
Enggan disimpang pisah berbelah
dibuai kembali hanyalah sendiri
langit tak hendak lagi mencari tubuhmu
Aku dan engkau adalah pagi yang kemilau
berdua terbang embunmu tempat berlindung
menyanyikan puja-puji mulia menerangi gigil
yang paling gelap
Segala-galanya senyum mengepung sepi
bawa aku kembali sebelum hujan mesra bersuara
hidup berkata sebuah rindu menderu senja.
( Puisi berjudul :
" DIPAGIMU RINDU TERLUKA "
Kadang rindu merupakan satu keutuhan dalam cinta, lalu cemburu merupakan bumbu paling gurih.
Namun luka adalah pelajaran hidup dalam mencerna rindu dan cemburu agar tetap berada pada jalurnya yang lurus ).
Aby Santika
BANDUNG,
12 JANUARI 2012
SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG
Seperti suara dijalan-jalan lengang
halte-halte berbangku kosong sudah lama memaki waktu
adalah perang meriam suara jantungku
sepulang sesak dihentam tutur pulangmu
Punggungmu berbahasa luka setidaknya sebagian tawa
ketenangan mengukur rindu sedari selesai kubingkiskan utuh
dijalan gerimis terbenam sedu paruh kepulanganmu
Soal ikhlas mencernapun rela tak sampai
gemetar suara sunyi segalanya beradat pula ditanganmu
merenda malam-malam dibenang sesak terbelit
Dua puluh empat jam
Seumur tubuh adalah keberuntungan ketika sapa
berisi denting-denting suara sorga,
rebah bukan lelah keluar tiada sungguh
Matamu sebesar sorot titik kalam runcing
menggubah sinis tipis menyungging
dalam seperempat malam setebal kisi-kisi
dibalik senyum tersendiri
Dialek sungguh menyembunyi bebal dada
ruah menumpah seluas mata air bermuara rasa
setidaknya sebagian hidup menyeluruh
kekurangan diri.
Jika suaramu berpulang mencari damai
batas Sorga menabur kasturi dijalan kita
kemudian diujung musim yang berputar
aku merebah diri disampingmu
Doa-doa bermukim dilepas rambutmu
sepanjang raya berjalan bersama
seperti suara dijalan-jalan yang lengang.
( Puisi berjudul :
" SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG "
Untukmu yang pulang mencari damai,
Aku hanya akan terus berjalan diantara jalan-jalanmu yang kosong "tangisku" tetap bersuara ).
Aby Santika
BANDUNG,
11 JANUARI 2012
halte-halte berbangku kosong sudah lama memaki waktu
adalah perang meriam suara jantungku
sepulang sesak dihentam tutur pulangmu
Punggungmu berbahasa luka setidaknya sebagian tawa
ketenangan mengukur rindu sedari selesai kubingkiskan utuh
dijalan gerimis terbenam sedu paruh kepulanganmu
Soal ikhlas mencernapun rela tak sampai
gemetar suara sunyi segalanya beradat pula ditanganmu
merenda malam-malam dibenang sesak terbelit
Dua puluh empat jam
Seumur tubuh adalah keberuntungan ketika sapa
berisi denting-denting suara sorga,
rebah bukan lelah keluar tiada sungguh
Matamu sebesar sorot titik kalam runcing
menggubah sinis tipis menyungging
dalam seperempat malam setebal kisi-kisi
dibalik senyum tersendiri
Dialek sungguh menyembunyi bebal dada
ruah menumpah seluas mata air bermuara rasa
setidaknya sebagian hidup menyeluruh
kekurangan diri.
Jika suaramu berpulang mencari damai
batas Sorga menabur kasturi dijalan kita
kemudian diujung musim yang berputar
aku merebah diri disampingmu
Doa-doa bermukim dilepas rambutmu
sepanjang raya berjalan bersama
seperti suara dijalan-jalan yang lengang.
( Puisi berjudul :
" SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG "
Untukmu yang pulang mencari damai,
Aku hanya akan terus berjalan diantara jalan-jalanmu yang kosong "tangisku" tetap bersuara ).
Aby Santika
BANDUNG,
11 JANUARI 2012
PERJALANAN PEREMPUAN DAN AKU
Ketika kebenaran berwasiat pada ketidak pastian
akankah seratus juta kezaliman kau tumbangkan
menunggu kesempatan memilih keyakinan
menghitung dua ratus empat puluh langkah tanpa makna
menyampaikan jujur dari sayap langit
saatpun berdiri menyalami alam raya
Duhai perempuan rantau
menemukan fana berdiam sejenak
menjelang nasib bersua dalam kelengangan
Duhai perempuan berliku sunyi
betapa kelelakian merasuk jauh kau curi
mengantar kehausan akanmu berebut seluruh jalan Sorga
Pada hidup aku tak tahu bahagia sembunyi
hanya bertanda lemparkan daku tersedu
menyandang waktu tentang lapar seperti dinding matahari
Dia segala adat berbentuk panas semesta hati
menghargai kaki-kaki kecil dimusim beku
terbakar hangat telapak hingga keatas muka
Dia cinta menemukan sendiri
bukan hak yang diberhakan saudara tiri
yang memaksa buru-buru mengibar suara sumbang
O, kekalahan rindu menekan pulang
menyongsong kenikmatan memanggil aku
sebagian dulu berlarian riang
O, tidurlah diranah landai kebulatan hati
bagaimanapun pinang menguning janur dipagi
demikian jalan membelit tulang airmata bahagia.
( Puisi berjudul :
" PERJALANAN PEREMPUAN DAN AKU "
Ini secuil cerita tentang asmara dihamparan malam.
Haru,bahagia,gairah,romantisme dan keyakinan dalam kisah yang berwasiat pada hati ).
Aby Santika II
BANDUNG,
11 JANUARI 2012
akankah seratus juta kezaliman kau tumbangkan
menunggu kesempatan memilih keyakinan
menghitung dua ratus empat puluh langkah tanpa makna
menyampaikan jujur dari sayap langit
saatpun berdiri menyalami alam raya
Duhai perempuan rantau
menemukan fana berdiam sejenak
menjelang nasib bersua dalam kelengangan
Duhai perempuan berliku sunyi
betapa kelelakian merasuk jauh kau curi
mengantar kehausan akanmu berebut seluruh jalan Sorga
Pada hidup aku tak tahu bahagia sembunyi
hanya bertanda lemparkan daku tersedu
menyandang waktu tentang lapar seperti dinding matahari
Dia segala adat berbentuk panas semesta hati
menghargai kaki-kaki kecil dimusim beku
terbakar hangat telapak hingga keatas muka
Dia cinta menemukan sendiri
bukan hak yang diberhakan saudara tiri
yang memaksa buru-buru mengibar suara sumbang
O, kekalahan rindu menekan pulang
menyongsong kenikmatan memanggil aku
sebagian dulu berlarian riang
O, tidurlah diranah landai kebulatan hati
bagaimanapun pinang menguning janur dipagi
demikian jalan membelit tulang airmata bahagia.
( Puisi berjudul :
" PERJALANAN PEREMPUAN DAN AKU "
Ini secuil cerita tentang asmara dihamparan malam.
Haru,bahagia,gairah,romantisme dan keyakinan dalam kisah yang berwasiat pada hati ).
Aby Santika II
BANDUNG,
11 JANUARI 2012
Jumat, 06 Januari 2012
SAJAK CINTA MULIA
Sungguh melemah daku berpijak
ratapan sampaikan susah mendekat
bilakah cinta bertabur gaduh membenam nyawa
Menangis setelah mengikat sangka
senantiasa kemerlap layangkan nestapa
apalah daya perlahan lekas meninggi diatas lupa
Duduk daku hadapi hasrat yang tak nyata
sahaja hidup bukan sekedar bicara
Jika dilihat semua maka akan sengsara
Antara jalan pulang tiadalah singkat
sedang cinta dilambung kau tuhankan
mabuk mendalam rupanya terlambat kembali
Inikah berahi tumbuh datang menipu
menunggu teduh didanau berbatu
lenyap tubuhku menumpah gelisah
Biar merayu timbul pitam diperkosa api
daripada bercinta berhias seluruh sunyi
menjadi dosa menghamba berdegup-degup darah
Daku terberai resah dikala sendiri
hanyalah rambut menyambut waktu
putih bermukim dibuai usia berpisah
Jikalah tanya daku bawa berjalan
kuambil sesal cinta yang nampak mulia
bersisir berahi setelah lahir berganti.
Aby Santika
Bandung,
06 Januari 2012
ratapan sampaikan susah mendekat
bilakah cinta bertabur gaduh membenam nyawa
Menangis setelah mengikat sangka
senantiasa kemerlap layangkan nestapa
apalah daya perlahan lekas meninggi diatas lupa
Duduk daku hadapi hasrat yang tak nyata
sahaja hidup bukan sekedar bicara
Jika dilihat semua maka akan sengsara
Antara jalan pulang tiadalah singkat
sedang cinta dilambung kau tuhankan
mabuk mendalam rupanya terlambat kembali
Inikah berahi tumbuh datang menipu
menunggu teduh didanau berbatu
lenyap tubuhku menumpah gelisah
Biar merayu timbul pitam diperkosa api
daripada bercinta berhias seluruh sunyi
menjadi dosa menghamba berdegup-degup darah
Daku terberai resah dikala sendiri
hanyalah rambut menyambut waktu
putih bermukim dibuai usia berpisah
Jikalah tanya daku bawa berjalan
kuambil sesal cinta yang nampak mulia
bersisir berahi setelah lahir berganti.
Aby Santika
Bandung,
06 Januari 2012
Selasa, 03 Januari 2012
TERSIMPAN DOA DIANTARA NAFASMU
Bersetubuh rasa diantara kesaksian nafasmu
seluruhnyalah senda menghabis cara
pada pejalan yang pura-pura diam
Lalu kita mencoba menemukan rajutan rindu
seluruhnyalah senda menghabis cara
pada pejalan yang pura-pura diam
Lalu kita mencoba menemukan rajutan rindu
perlahan melingkar cantik sembari sujud
sebab,Tuhan bukan alasan untuk kita bisu
Jika daku mengisak harap
diketurunanmu doa merahim
beserta tiri adalah luka terbalut
Lepaskan pandang sekecil lilin
dituang ayat demi ayat mujarab
namun,Tuhan tiada sebab kita bergantung
Gadis manja digaris jalan hidup
kunjungilah daku dipembaring sepi
setidaknya liar kau tukar antara suaramu
Besok kita berdagang lagi satu pelajaran
sehari saja menjala airmata
sebab,Tuhan bukan alasan untuk kita bisu
Jika daku mengisak harap
diketurunanmu doa merahim
beserta tiri adalah luka terbalut
Lepaskan pandang sekecil lilin
dituang ayat demi ayat mujarab
namun,Tuhan tiada sebab kita bergantung
Gadis manja digaris jalan hidup
kunjungilah daku dipembaring sepi
setidaknya liar kau tukar antara suaramu
Besok kita berdagang lagi satu pelajaran
sehari saja menjala airmata
berbaju ratap habis terjual
Kau yang pernah menaruh ingatan
tentang ikhlas selaut hati
lalu,Tuhan adalah penyaksi doa dari ujung jari
tentang ikhlas selaut hati
lalu,Tuhan adalah penyaksi doa dari ujung jari
Aby Santika
Bandung,
04 Januari 2012
Senin, 02 Januari 2012
SENYUM TERAKHIR
Betapa sebagian impian melinang diluar mulia
lalu kenyataan menyerah ditempat membilang adil
aku hanya menunggu langit dimalammu sayang
Juga matahari menangisi perut-perut yang lapar
lalu kenyataan menyerah ditempat membilang adil
aku hanya menunggu langit dimalammu sayang
Juga matahari menangisi perut-perut yang lapar
atau berlagu sepi yang sakit
sesudah air mencuci kisah yang letaknya tak ku izinkan
Ada anak-anak dingin yang merintik masuk disaku-saku bajumu
lalu separuh baya menapaki panasnya dibuaian gelisah
aku sekedar tidur dihangat dadamu kasih
Terbeku jatuh sebelum pulang sendiri
mengirimkan sedekah darah diantara tubuh yang mati
kemudian melepas jantung meruntuhkan sendu itu
Didalam hidup tiadalah tentu berlama-lama
bila berpaling kembalilah bukan apa-apa
karna kita tidak akan merasai hidup yang malang sedari lahir
Kalian yang memberikan bahagia dipangkuan bunda
dibawah lonceng beralun angin
menjemput satu persatu tangis diputih wajahku
sesudah air mencuci kisah yang letaknya tak ku izinkan
Ada anak-anak dingin yang merintik masuk disaku-saku bajumu
lalu separuh baya menapaki panasnya dibuaian gelisah
aku sekedar tidur dihangat dadamu kasih
Terbeku jatuh sebelum pulang sendiri
mengirimkan sedekah darah diantara tubuh yang mati
kemudian melepas jantung meruntuhkan sendu itu
Didalam hidup tiadalah tentu berlama-lama
bila berpaling kembalilah bukan apa-apa
karna kita tidak akan merasai hidup yang malang sedari lahir
Kalian yang memberikan bahagia dipangkuan bunda
dibawah lonceng beralun angin
menjemput satu persatu tangis diputih wajahku
Berbahagialah menghadapi dunia ditengah pengembara
sambil menebah nasib bersorak sorai
aku hanya tersenyum sendiri diantara ketiadaan.
sambil menebah nasib bersorak sorai
aku hanya tersenyum sendiri diantara ketiadaan.
Aby Santika
Bandung,
02 Januari 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)