Sabtu, 28 Januari 2012

INIKAH MATI

Cerite dari Tugu Tani :
--------------------------------------------------------------------------------------


Tanah yang tak hendak lagi menampung
kepala menoleh-noleh tingkah beralun itu
dikaki bumi surya berpisah keseribu rupa
berjalan sendiri dalam pecah gemetar tubuh kaku

Engkaukah menyusuri rangkaian tentang mimpi ?
dan betapa lunak irama-irama kebangkitan abadi
napas-napas teduh dan nikmat tersusun silih berganti
setelah kau menyerah kepada Mati 

Inikah mati, menggali gunung-gunung dibumi
ketika menunggu wasiat bertanda Ilahi
menghitung jujur dan sejuta kezaliman seluruh usia
lalu sayap burung-burung murai rebah dimatahari

Jalannya sendiri diliku fana sejenak bernyanyi
kesempatan tak bisa bicara beramai-ramai
bila hanyut pedoman pembawa arah
untuk dicari sekuat mendapatkan kebulatan cinta

Tanah merah menjanjikan doa-doa
mengapa dirasa gelisah yang takut mati ?
tiap musim kita hidup cuma melepas pergi
dermakan kesadaran tempat kita terbujur

Inikah mati, melepas burung-burung yang terbang
menyambut ketenangan dinegeri baka
kemudian tangis menyusui kecintaan doa
tiada kuasa airmata subur memegang tangannya

Nanti diseberang waktu orang-orang mewaris benih
menutup matanya kelopak-kelopak kemboja
membasuh tanggul tercuci penuh kasih
dan kita pernah saling tahu, esok terlupa derita ini.



( Puisi berjudul :

" INIKAH MATI "

Disebelah barat ada yang mati,Disebelah timur ada yang menangis
,Kemarin ada yang mati,Mungkin esok bertambah lagi,
Kita hanya menunggu giliran tiba,Maka tak perlu takut atau disesali )


 Aby Santika

BANDUNG,
23 Januari 2012.

TERBUNUH NAFSU BIRAHI

Betapa sedang kedekatmu kutahan nafsu
tapi lupa antara malu putusan hati tertambat lapar
seperti menanti runtuhan langit daripada diri
dengan menjalang dadaku melepas rebana berlonjak riang

Makian terjalin menimbulkan kecewa

airmata dijalin menunggu gadis menuang kuncup dosa
tapi memeluk laut semua luka-luka terbuka

mengutuki putusan orang-orang telanjang meminta airnya

Kita tidak akan tahu pagi yang merah
bila disatu malam tanggul terbedah
baunya terseret dilincah ritual keruh
tumpah bangkai-bangkai hidup diranjang berdandan wangi

Tidakkah sebagian umur menggali bukit-bukit
aku pernah asing mendapatkan jasad sepenuh kurus
mengungkung jalanan jauh menghadap kehormatan
susah payah memutihkan kembang rampe tanah pasir

Mendera segenap ciuman mesra sejak mula
terlampau gairah dari pintu merangkak meminta
keringat basah memburu tubuh daging betina
dan wajahmu bulat bagai telur bermain dirumput paling gelap

Sebelum kau melompat ditiup angin
sekali perangaiku disebarang waktu
terhitung syarat dengan mengerti tiap laku
hingga disambut hayat mengadu amalan bakti

Jangan mendalam binasa menjadi abu
sebar jadikan nafsu menempis terbang diluar teori
memberi kesadaran setenang hujan
setelah terhenti saatpun sampai bermakna.

 

( Puisi berjudul :

" TERBUNUH NAFSU BIRAHI "

Sekilas kisah yang memang sudah tak asing disekitaran kita,
Cinta mendominasi nafsu,
Semua bukan lagi tabu ketika kebiasaan itu sudah mendarah )



Aby Santika

BANDUNG,
22 Jauari 2012 

BAHASA MOYANG

Bertanah ibu tergantung dikanan dan kiri
nan lahir sambungan nyawa sebangsa moyang
sertakan dendang memuji berkalang merdu
sibuyung lupa menyambung bahasa menjadi padu

Bukannya sebagai bayang segala kata

bernafas kecil selagi sedarah pernah
menulis kosong tempat dunia menampung kudus
nasib bangsa dipikul petang terasa berat



Senang bersuka cita banyaknya ragam elok selalu
penawar berai berkatan segala gerak
bahasa moyang gubahan teladan seluruh dunia
buat kami lelap didendang bahagia sedang

Konon lidah jauh menjunjung tempat muasal
menaruh benih tak sampai semai dituah rupanya
handai taolan tentulah nestapa tiada berkata
menggaris terbang bahasa melampaui melayu sayang

Aku menjadi malu mendongeng nanti
bicara cedera mulutnya dibendung tawa
pada anak cucu tidak kususul bakti amalkan Nusa
sengsara hidup nenek tua moyangnya mati

Jangan kemari peradaban berlengan asing
menyanyikan zaman memandang deru yang masih muda
bacalah adat-adat dikitab usang berayah
punah warisan

Nanti kehormatan dari ibu bukanlah laknat
menyusui bahasa lahir jangan mengemis tangis
maka tumbuhlah bangsa ditanah gembur
kecintaan berbahasa nenek moyang berdiri tegak.

 

( Puisi berjudul :

" BAHASA MOYANG "

Bentuk keprihatinan terhadap banyaknya orang-orang terutama generasi muda,
Yang tidak lagi menjunjung bahasa asalnya,
Baik bahasa daerah,
Maupun berbahasa Nasional yang baik dan benar,
Tentu dengan seiring berkembangnya zaman
Dan kemajuan peradaban yang turut dipengaruhi dunia luar ).



Aby Santika

BANDUNG,
18 Januari 2012

Senin, 16 Januari 2012

DIANTARA NYANYIAN RINDU

Sejakkan dulu permai cinta berlagu merdu
rangkaian nada-nada tiada terkurang menurut rindu
didalam kalbu bersendi madahan irama sampaikan waktu
daku lemah sebab terikat gubahan merayu

Setelah bayangan berkilau senja

bisikkan diantara pilihan daku
dimana segala damai gerang bersuka ?
seperti nuri meminta selintas suara bahagia
 
Dicari segala cintamu senantiasa
berduyun-duyun sinar keluar dari mata
engkau peminta kemerlap gulita
rupanya jauh tempat badan melahirkan kita

Pada jendela kembang seroja berpaut
kutangisi dalam mematah harum
biarkan aneka rindu melampau tersia-sia
sampai kasih dan sayang tersenyum diair mengalir rela

Berdiri daku bila bulan tertidur diranjang cintaku
riuh lagu mencium tempat teduh yang tumbuh
disini rindu meresap tipis ingatan
sedang lukisan wangi bunga merona simpul pikiran

Membawa serentak syarat segala tanda
bersisir tiap laku semua akan bertemu
Digenap pembawa wajahmu terpelihara
meneladan nyata lantaran malu berjumpa

Kutahan harap mendalam kemudian hari
boleh kecewa sumbang senandung bergenang
karena pelukkan kupinta benih disemai
andai menunggu suaramu lenyap nyanyian rinduku.


 


( Puisi berjudul :

" DIANTARA NYANYIAN RINDU "

Rindu selalu menjadi sahabat karib disetiap hari, ketika kuciptakan nada-nada tentang tempat kita yang dilahirkan jauh bertempat,
Lalu suara rinduku bersenandung diantara pagi,siang,senja dan juga malammu ).

Aby Santika II


BANDUNG,
16 Januari 2012.

NASIHAT IBU TERHADAP ANAKNYA

Bu, nanda bermandi dendam bilakah dera menghimpit
ditunaikan tirakat bila susah dicucurkan badan
bagaimana boleh dikuburkah menuju kalbu ?

Ratap membobos jengkal suara lembutnya :

Benamlah nyawa sedanan lusuhmu
selagi lemah menikam lenyap bunga bersuka cita

Bu, bilamana nanda melayar selaut bencipun gaduh

sebab bukan berhak riuh diumbar sukar
menjemputkah
hilang susah setiap sa'at ?

Menangis matanya disimbur rusuh
menyala durja bermegah layu
airmata rawan menghilang mimpi menurut citanya

Nak, mengenang langit sebentar saja musnah
bahagia perlahan makin muram dari tanah
sebagai bentuk bayang hidup bukankah harus

kembali menunduk ?

Dan seperti mengasihi bumi senantiasa selama-lamanya
bergoncang hikmat bukan isinya dibuang
pastilah sukmamu mengendap kaku ?

Nak, keluarlah dengan pilihan cintamu
selintas mata air mengalir tidak mengganggu tanah
pun berduyun langit menunjuk arah muara yang dicari

Maka, dimana jiwa sejuk meminta rupanya
berwujudlah tenang sejelma mata air
Disana ibu menaruh tangan memeluk ananda.

 


( Puisi berjudul :
" NASIHAT IBU TERHADAP ANAKNYA "

Tidak dipungkiri,bahwa didunia ini, doa ibulah yang akan menyelamatkan anak dari kesesatan,
Ditelapaknyalah syurga terletak, maka bersyukurlah ketika nasihat-nasihat baik selalu dituturkan pada kita,
Terimakasih bu, )



Aby Santika II

BANDUNG,
13 JANUARI 2012

DIPAGIMU RINDU TERLUKA

Semenjak pagi dingin melayap kehormatan kata
pembawa ajaran hidup hingga jauh diatas gunung
segala tindak menemui tempat tertambat alpa

Bukankah pandangan dilepas rela ?

sebab kedekatanmu alangkah singkat
melupakanku tiada merasakan kemalangan

Dari hadapan engkau takut kenal bahagia

mengejar musimmu lenyap satu-satu
 
cuaca terangmu dipagari tangis yang berbatas

Sering saya mendengar kurus suaramu disebelah barat
setelah perlahan pagi mimpi menghilang
mempermainkan angin memberai mata

Dimana menaruh rindu setia dijendela
duduk pada subuh memeluk hembusan

kembang haruman lili
kupanggil luka tumbuh sebelum fajar sebelah timur

Enggan disimpang pisah berbelah
dibuai kembali hanyalah sendiri
langit tak hendak lagi mencari tubuhmu

Aku dan engkau adalah pagi yang kemilau
berdua terbang embunmu tempat berlindung
menyanyikan puja-puji mulia menerangi gigil

yang paling gelap

Segala-galanya senyum mengepung sepi
bawa aku kembali sebelum hujan mesra bersuara
hidup berkata sebuah rindu menderu senja.

 


( Puisi berjudul :

" DIPAGIMU RINDU TERLUKA "

Kadang rindu merupakan satu keutuhan dalam cinta, lalu cemburu merupakan bumbu paling gurih.
Namun luka adalah pelajaran hidup dalam mencerna rindu dan cemburu agar tetap berada pada jalurnya yang lurus ).



Aby Santika 

BANDUNG,
12 JANUARI 2012

SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG

Seperti suara dijalan-jalan lengang
halte-halte berbangku kosong sudah lama memaki waktu
adalah perang meriam suara jantungku

sepulang sesak dihentam tutur pulangmu

Punggungmu berbahasa luka setidaknya sebagian tawa

ketenangan mengukur rindu sedari selesai kubingkiskan utuh
dijalan gerimis terbenam sedu paruh kepulanganmu

Soal ikhlas mencernapun rela tak sampai

gemetar suara sunyi segalanya bera
dat pula ditanganmu
merenda malam-malam dibenang sesak terbelit

Dua puluh empat jam
Seumur tubuh adalah keberuntungan ketika sapa

berisi denting-denting suara sorga,
rebah bukan lelah keluar tiada sungguh

Matamu sebesar sorot titik kalam runcing
menggubah sinis tipis menyungging
dalam seperempat malam setebal kisi-kisi 

dibalik senyum tersendiri

Dialek sungguh menyembunyi bebal dada
ruah menumpah seluas mata air bermuara rasa
setidaknya sebagian hidup menyeluruh

kekurangan diri.

Jika suaramu berpulang mencari damai
batas Sorga menabur kasturi dijalan kita
kemudian diujung musim yang berputar

aku merebah diri disampingmu

Doa-doa bermukim dilepas rambutmu
sepanjang raya berjalan bersama
seperti suara dijalan-jalan yang lengang.


 


( Puisi berjudul :

" SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG "

Untukmu yang pulang mencari damai,
Aku hanya akan terus berjalan diantara jalan-jalanmu yang kosong "tangisku" tetap bersuara ).



Aby Santika

BANDUNG,
11 JANUARI 2012

PERJALANAN PEREMPUAN DAN AKU

Ketika kebenaran berwasiat pada ketidak pastian
akankah seratus juta kezaliman kau tumbangkan
menunggu kesempatan memilih keyakinan

menghitung dua ratus empat puluh langkah tanpa makna

menyampaikan jujur dari sayap langit
saatpun berdiri menyalami alam raya

Duhai perempuan rantau

menemukan fana berdiam sejenak
menjelang nasib bersua dalam kelengangan

Duhai perempuan berliku sunyi

betapa kelelakian merasuk jauh kau curi
mengantar kehausan akanmu berebut seluruh jalan Sorga

Pada hidup aku tak tahu bahagia sembunyi

hanya bertanda lemparkan daku tersedu
menyandang waktu tentang lapar seperti dinding matahari

Dia segala adat berbentuk panas semesta hati

menghargai kaki-kaki kecil dimusim beku
terbakar hangat telapak hingga keatas muka

Dia cinta menemukan sendiri

bukan hak yang diberhakan saudara tiri
yang memaksa buru-buru mengibar suara sumbang

O, kekalahan rindu menekan pulang

menyongsong kenikmatan memanggil aku
sebagian dulu berlarian riang

O, tidurlah diranah landai kebulatan hati

bagaimanapun pinang menguning janur dipagi
demikian jalan membelit tulang airmata bahagia.



( Puisi berjudul :
" PERJALANAN PEREMPUAN DAN AKU "

Ini secuil cerita tentang asmara dihamparan malam.

Haru,bahagia,gairah,romantisme dan keyakinan dalam kisah yang berwasiat pada hati ).






Aby Santika II


BANDUNG,
11 JANUARI 2012

Jumat, 06 Januari 2012

SAJAK CINTA MULIA

Sungguh melemah daku berpijak
ratapan sampaikan susah mendekat
bilakah cinta bertabur gaduh membenam nyawa

Menangis setelah mengikat sangka

senantiasa kemerlap layangkan nestapa
apalah daya perlahan lekas meninggi diatas lupa

Duduk daku hadapi hasrat yang tak nyata

sahaja hidup bukan sekedar bicara

Jika dilihat semua maka akan sengsara

Antara jalan pulang tiadalah singkat
sedang cinta dilambung kau tuhankan
mabuk mendalam rupanya terlambat kembali

Inikah berahi tumbuh datang menipu
menunggu teduh didanau berbatu
lenyap tubuhku menumpah gelisah

Biar merayu timbul pitam diperkosa api
daripada bercinta berhias seluruh sunyi
menjadi dosa menghamba berdegup-degup darah

Daku terberai resah dikala sendiri
hanyalah rambut menyambut waktu
putih bermukim dibuai usia berpisah

Jikalah tanya daku bawa berjalan
kuambil sesal cinta yang nampak mulia
bersisir berahi setelah lahir berganti.



Aby Santika

Bandung,
06 Januari 2012 

Selasa, 03 Januari 2012

TERSIMPAN DOA DIANTARA NAFASMU


Bersetubuh rasa diantara kesaksian nafasmu
seluruhnyalah senda menghabis cara
pada pejalan yang pura-pura diam

Lalu kita mencoba menemukan rajutan rindu
perlahan melingkar cantik sembari sujud
sebab,Tuhan bukan alasan untuk kita bisu

Jika daku mengisak harap
diketurunanmu doa merahim
beserta tiri adalah luka terbalut

Lepaskan pandang sekecil lilin
dituang ayat demi ayat mujarab
namun,Tuhan tiada sebab kita bergantung

Gadis manja digaris jalan hidup
kunjungilah daku dipembaring sepi
setidaknya liar kau tukar antara suaramu

Besok kita berdagang lagi satu pelajaran
sehari saja menjala airmata
berbaju ratap habis terjual
Kau yang pernah menaruh ingatan
tentang ikhlas selaut hati
lalu,Tuhan adalah penyaksi doa dari ujung jari


Aby Santika

Bandung,
04 Januari 2012


Senin, 02 Januari 2012

SENYUM TERAKHIR


Betapa sebagian impian melinang diluar mulia
lalu kenyataan menyerah ditempat membilang adil
aku hanya menunggu langit dimalammu sayang

Juga matahari menangisi perut-perut yang lapar
atau berlagu sepi yang sakit
sesudah air mencuci kisah yang letaknya tak ku izinkan

Ada anak-anak dingin yang merintik masuk disaku-saku bajumu
lalu separuh baya menapaki panasnya dibuaian gelisah
aku sekedar tidur dihangat dadamu kasih

Terbeku jatuh sebelum pulang sendiri
mengirimkan sedekah darah diantara tubuh yang mati
kemudian melepas jantung meruntuhkan sendu itu

Didalam hidup tiadalah tentu berlama-lama
bila berpaling kembalilah bukan apa-apa
karna kita tidak akan merasai hidup yang malang sedari lahir

Kalian yang memberikan bahagia dipangkuan bunda
dibawah lonceng beralun angin
menjemput satu persatu tangis diputih wajahku
 
Berbahagialah menghadapi dunia ditengah pengembara
sambil menebah nasib bersorak sorai
aku hanya tersenyum sendiri diantara ketiadaan.

Aby Santika

Bandung,
02 Januari 2012.