Sabtu, 25 Februari 2012

KERINGAT MALAM JUMAT

Dalam mencari gelombang yang utuh setelah berbelah
denyut jantungmu menjalang dalam satu daging telanjang
menguntit di tengah derap sebuah lubang yang mesra
membawa semua suara badai yang turun bilamana hujan datang

Tetapi daku kebasahan sayang, oleh derunya serangan silang

bau anyir berpancaran di tiap ayunan menungging
malam menggertak terbuka jendela beranak pinak
gairah meminta punah sebelum di tawar keringat
menyelubungi gugusan dari bukit ke bukit di bawah nyiur lusuh

Dan melayang terbenam sambil melepaskan sutera
menyelami peradaban yang di jaga kuda-kuda berbaring mulus
belum lagi lincah tarian menahan tumpah kebasahan
tentang puncak di tepi berlarian nafas-nafas tersenggal nikmat

Akh, tidakkah kau menekan menghadap berulang
kemana kekalahan yang terangkut terus menerus
lelehan keringat menunggumu melepas sendiri
kukuasai secuil ranum hakikat kebingalan malam

Biarlah beberapa ikat nikmat di arak-arak secara kodrat
tidak akankah rambut-rambut terjalin menunggu disejahterakan
larut malam, sejenak semua mengambang dalam angan
kelengangan bagi perempuan semakin berlubang seluruh usang

Akh, warna malam tak lagi menemukan rantaunya
ketika burung-burung merobek bukit rumah matahari
bergesekkan dalam kebisuan di sela jemari kita
merayapi di dadamu melaju perahu melayar mengelilingi sepi

Dalam wajahmu mengerti badan tiada berdaya
bunga-bunga tulip berguguran meminta senyuman basah
di pucuk-pucuk lubang membeku berhimpit-himpitan
dekapan malam bersama cinta berlagu gembira.


 



Aby Santika

Bandung,
24 Februari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar