Senin, 28 November 2011

BANJIR LIMA TAHUNAN

Siapa yang tak tahu janji hujan yang turun lima tahun sekali
Banjir Saweran receh berpesta kaum atas juga kasta prostitutes

Kami yang kerja upah berhitung nyawa-nyawa
Setidaknya tidak punah dibawah telapak kaki berhamba
Hujan menumbang pohon itu sudah biasa
Walau keramat sesaji tempat berteduh penghuni berilmu tinggi

Untuk rakyat banjir lima tahunan adalah tempat rekreasi
berenang keliling kota sebesar kali

Kami memilih teduh dengan senang hati
walau tangan-tangannya menunggu mati

Para elit gesit seketika berebut tawaran payung bercangkang lebar
Birokrat blingsatan karena celana mulai kedodoran

Setidaknya pilihan bukan hujan yang turun lima tahun sekali
Walau terasa dampak banjir seluruh janji
tapi kami belum mati

Aby Santika II

YOGYAKARTA
261111

Minggu, 20 November 2011

SETEDUH ADINDA

Seteduh kelopak,
Gerimis itu adalah kembang secantik sutera
Bening laut menitis airmata

Jemari manis adalah tangkai berkaca berkurun diri
Wanita mendatangkan bulan juga merangka bumi

Pada suara pelepas dahaga
Puitis asmaradana mendamai sebuah nama
yang hadir dalam tiada

Adinda
Kita bicara tentang sebuah jasad
 menghilang dipuncak damai

Menanti teduh dihujung buana
Tiada pamitan pepohonan rindu tumbuh
 membunuh sepi

Gerimis itu cantik berlari mengejar rerama
Hingga terjaga sebelum meledak krakatau
 menghujan teduh kembang ilalang

Lalu akupun terlepas diruang sepi
Rambutmu sebahu jatuh ke ulu rindu

Adinda
Jika mencipta kehampaan sia-sia
Tolong ambil inginku untuk mengisi ada
Sebelum kembali menutup mata
fikirku berkhayal ribuan tahun lagi

Dimana musim menghilang dalam teduh pelukan
menuju rindu serupa haruman Syurga



Aby Santika II

Yogyakarta
20 November 2011

Sabtu, 19 November 2011

KEMBANG MENALI RINDU

Masih berbaris buntu rindu kabur
Terjemah suara membuat janji

Diam-diam pula Puan berbagi
Lalu ajari perlahan puji mantera bersesaji

Duhai kembang yang tercuri
Ompong wangimu tiada bergigi

Esok tikung berdiri kaku
Aku berpuan derita berpunya

Seusai wudhu berairmata
Sujudmu juga tiada berdua

Sementara pagi-pagi aku menarik bisu
Dalam jelma abu telanjang berbidang dada

Duhai kembang bernama dua
Sembunyikah ketiak kasturi ?

Sedang kaki berbadai api
Namun rindu kabur terikat tali mati



Aby Santika II

Bandung
30 September 2011

SAJAK PAGI BUTA

Sampai pagi ini,aku membuta waktu
Berembun paras berganjil cacat

Sejak burit merangkak perlahan
Menandu waktu dengkur membagi

Dilengkung belah kumal rambutmu berkaca
Setangkai dada berlaut bunting membocah

Tidurlah dalam mimpi yang terjaga
Juga malam meronda rindu

Sampai selaut tumpahkah terkepung?
Buta merayap hasrat-hasrat

Ketika pagi menyuapi perut busungnya
Setitik lampion perlahan berjerawat redup

Sepagi limbung berkuda perawan
Pun akar berbaju lipat melurus kaku



Aby Santika II

Bandung
03 Oktober 2011

BALADA MALAM BERPUISI

Berdaun pintu telinga ilalang
Juga kumur kemboja semalam tawa
Sunyi jendela berkabung renda
Dalam kabutkah sajak tertawan

Ketika patahan bait terselip lelap
Roboh pula topangan airmata bertopan
Menyisir tegak rambut-rambut malam

Padahal semenjak Isya tubuhku lelah berpuisi
Tentang bunting rindu, juga pancuran yang sekolam
tangis dihalaman kepalamu

Lantunku memerdu kelana lampu-lampu kota
Yang mulai kuhitung nyawanya sesenja tadi
Diatas cumbu trotoar berpunggung renta
Juga besi-besi bising bermukim

Malamku ,masih berkalimat :
Dada berbadai kembung, untuk kau suapi busung
rindu yang memasung tulang-tulang rusuk
untuk kelak ku sematkan padamu



Aby Santika II

Bandung
05 Oktober 2011

RINDU TERSEKAT GEDUNG BERTINGKAT

Dik,
Jejakaku bertanggung di aspal-aspal utara lingkar lima
bersama mungil letih tangan mengapit tembakau sisa
menyaksikan senyum semu,penawar dahaga rindu

Dik,
Seribu laut jua airmata tertahan disela gedung bertingkat
yang juga lima
membelakangi sampah-sampah mengotori trotoar Bapak
Jendral Gatot Soebroto

Aku terjenguk rindu yang terkatup dinding pembelah suara
menggema sunyi bersampan oleng

Perawankah kau diranjang waktu ?

Dik,
Diam-diam tanganku melingkar pepohon rimbun
latah jua ukiran sungai membatang tandu
Diam berpikir mata air dikau meronce ujung minggu

Dik,
Ku benamkan mabuk senja sesaat hilang gila
Kembang aroma bulan bermadu tuba
tetap tuturku mengigau gelap dibatas payung
Lingkar lima cerita terpisah angin



Aby Santika II

Bandung
05 Oktober 2011

DUDUKLAH DIANTARA PAHA, DIK

Duduk dipangkuanku malam lincah berjilbab
ketika ku sampaikan kabar senja sebutir pasir
suci bertaruh telanjang

Bukankah pernah kuluruhkan wanginya diantara
urat-urat penangkal raut
hingga merah berwarna sembunyi

Sampai Isya berbaring dipundak,
tak kutemui salammu yang sempat bersuara
itu

Dik,
Dengarkah ruah bisik yang melirih rembulan?
Bahkan gemetar tungkai mengetuk ronda
yang mengepung tidurmu

Duduklah diantara dua paha berbangku
tak berpunggung,
Sesampai Shubuh menepi sauhnya kedermaga
sunyi fajar



Aby Santika II

Surabaya
13 Oktober 2011

KANVAS BERJARAK RINDU

Masih segaris tumbuh rindu yang tertahan
dalam biduk karam diselat mata antara ada

Sempat hilang kemarin yang mati suri
juga ucap latah mimpi dipembaringan usang

Ku tuliskan Qalam diatas kanvas-kanvas berjarak
pesan kata dari rangkaian Mozaik kenangan seruas telapak kaki

Duhai,
perempuan sayang selayang pandang
Nelayan pantai menggunduli lautmu yang berkisah asin airmata

Sebab,
Rindu berjembatan benua-benua kayu
sebagai jejak matahari yang kupanah panasnya sebara kasihku



Aby Santika II

Bandung
21 Oktober 2011

SAJAK BERONANI BASAH

Beramai-ramai bersajak basah
ketika bahasa terikat jeda perut buncit

Sedang kekasih menahan bencana
antara kata mengambang airmata

Seusai senja berumah beton
ku ceritakan riwayat sepenggal tuan-tuan

Lantas
puisi berwajah garis bengkok
meraut tubuh dekil bait merambut kusut

Telah selesai beronanikah abjad-abjad perindu semu ?

Ketika kukejar syurga meninggi dari mulutmu
sajakku setonggak telapak sketsa kaki telanjang




Aby Santika II

Bandung
23 Oktober 2011

MAAF,AKU SEMPAT LUPA

Aku berteduh diatap kembar
seingat hujan menanam benih badai

Ketika kemarin lupaku sempat mengentah
padahal setengah abad lebih serupa sama juangmu dimata

Maaf
aku menali tanggungan takdir
yang berwujud rindu selepas pagi

Sementara padamu kubaringkan mimpi
bermasturbasi diatas ranjang-ranjang tanpa punggung

Kelak
padamu jua malam membunting badai-badai yang kucipta
sampai uban berkarib diputaran kepala




Aby Santika II

Bandung
24 Oktober 2011

SEMENJAK MALAM

Sejak bulan menterjemah bahasamu,
aku tahu kepingan mozaik tersusun di nasib kesemutan arah

Sedang,
Pergumulanmu nampak meruncing malam
meninggalkan dada usang seteduh sandarmu

Anak-anak tiri melangit janji
serupa rahim ibu membumi kata

Sebatang terikkah ?
Kira airmata mengguyur setumpuk gurun perawan silam

Maaf, setiba rapat sauhmu tak nampak tepi
Sementara pesisir sunyi berangin janggal

Semenjak malam mendendam arak limbung
Aku sadar gontaiku melayar menuju bahasa-bahasa
yang sering kau isyaratkan
dalam diammu




Aby Santika II

Bandung
28 Oktober 2011

DILEMA WAKTU

Waktu yang akan mengadiliku ?
entahlah,,
nampak sesak menunggu bebasmu
disangkar ilmu

Setidaknya ramah kabar menuai
ejekan angin kembara
beradu dadu di meja mahsyar
bertemu muka teduh sekasih lalu

Entahlah
sewaktu lagu berayat rancu
dadaku berburu rambut lurusmu
menghiba robek purnama angkuh

Dalam belai puisi-puisi syahwat
bertebing curam
Lalu, waktu yang akan mengadiliku?
Kamu?

Akh .. entahlah
Biar ragamu dinanti singgasana
pangeran waktumu
dua hitungan memadu manis

Namun aku
mengadili waktu
Untukmu




Aby Santika II

Bandung
28 Oktober 2011

PEREMPUAN KUTANG BERAKAR

Untuk engkau perempuan
berkutang akar
setumpuk mabuk membelai
kemalu rindu

Sepi membukam malam
serambut bahu
Beranak utuh ditugu seribu
lantai berbaju

Seterang remangkah laron
memaruh waktu?
meski telanjang dada
memacu nafsu sehulu

Menancap madu perjaka
murung
Aku terdiam layu segelas
kopi mengguyur

Untuk engkau perempuan
diam membiru
anganmu meng_aku akan
bisu menandu waktu




Aby Santika II

Yogyakarta
30 Oktober 2011

SENIN

Senin,
Menjalin kelamin secermin angin
Seperti rupa tumpukan kaku rindu menjiarahi

Ku cumbuikah sebaris tarian gubuk berkayu
Menyaring merdu ejakulasi pagi riuh menderu

Dua fosil berhari sewindu purba
Juga arah Tuhan melangkah sama

Senin
Akh.. Serupa tulang-tulang mengabu
Dalam dahulu merecah padamu



Aby Santika II

Bandung
31 Oktober 2011

KISAH SEWINDU RINDU

Kita berkisah, meriwayat musim yang berkemas air hujan
Diantara badai menggelandang ingin yang merapat

Sehitung jeda prosa umpama ribu kata
Juga setuak lingkar cengkrama senja

Tidak !!
Kisah asin telah kusepuh dilangit yang gila
Sementara sisa-sisa hujan terdengar memelas iba

Aku sewindu tunggu

Sebab
Doa-doa tak sedengar awan-awan menguning
Tersaji kisah menzaman abad, di setangkai purba kembangmu



Aby Santika II

Bandung
01 November 2011

KEKASIH SETUBUH RINDU

Kesumat tawa menggelitik malam
Duhai kekasih bertungku setegak koma

Pada setiap lingkup melintas bara kecilmu membuah diri
Tatkala janin langit merindu tumbuh

Bertebing kembar pula jalan separuh buta
Membuncit setengah tua

Biarkan aku pulas merangkul kasur-kasur berdaun bolong
Sampai purnama setengah berdialek kata

Menyeru koma-koma
atas nama aku majnun setubuh rindu



Aby Santika II

Bandung
02 November 2011

DINDA

Dinda,
Tubuh itu melempar tuah tersampul
hati tuan sejengkal riwayat biru bersurat

Tuntaskanlah buncit-buncit mengiba
Sejengkal mata cinta bermata rimbun

Tertidurkah pulau-pulau lapuk membujuk
Sebaris usai berkarat sketsa pena

Mungkin,
Kesadaran ibarat bunyi air
Menuntun biduk yang tertahan goyah

Dinda,
Layang-layang mengukir rahim
langit tiri
Selepas kenang, hati kembali

Walau berkas titik mengkerut
cerita singgah Sang perjaka
Kelak, nirwana memangku
dibulatan buah dadamu



Aby Santika II

Bandung
03 November 2011

PRAHARA NISAN AIRMATA

Melipat jemari langit seusai telapak menjinak
Secangkir kayuh bertenun robek laut rindu

Karena ketika harap bergembala sahara
Wajah serupa menyapa irama bertangan halus

Kemarin angin-angin sempat kugiring membadai ragu
Sebab aku perantara birahi hati

Namun,
menggenggam pula pesona Tuhan
Sedangkan dinding Ka'bah menguras doa-doa

Tak ada sebab ?

Rusuk-rusukku hampir tercuri airmata
Dalam sesal tiada hilang berguna

Sementara penopang kabut bertulang kau semat
Atas Nisan yang kau jelma semegah Bahtera kita bersama



Aby Santika II

Bandung
04 November 2011

MATILAH KAU JALANGKU

Sedekat matakah kita
meninggalkan kepala yang berambut tua ?

Sementara kaki belum beranjak
dari bentang tanggalannya

Engkau
Lambai jalang pemutar pikir
Telah kau asinkan mata air yang
ditimba dari sumur tanpa hak

Sebelum ku tembak mati jantungmu menggantung ditapal
kuda telanjang

Akulah Tuan fakir penggugat
kursi bercelana dua

Untukmu
Ku tanam diam dari peluru
berbenih kata

Juga sorot berlaras tanpa kaca
mata

Engkau...
MATILAH ....



Aby Santika II

Bandung
05 November 2011

DIK, RINDU UNTUK BAHAGIAMU


Ini sebab pagi limbung melucut kerut
Rindu biru dalam mantera tak bersyarat haru

Dik,
serupa layang alamat airmata hinggap bergaris
Aku mengalun bait-bait seirama doa

Jika mendung memanah matahari
pasti dengkur setengah basah bunga sesaji

Dik,
hilang sekutu kawan kala beradu
Aku petunjuk harimu untuk bertemu bahagia
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
07 November 2011

UNTUK PEREMPUAN


Diamlah kelu meluruh ludah
Dibaris-baris cabang alkisah
Juga mata hati menyungging resah

Kepada perempuan
...
Bukankah jaga tak bermalam penuh ?
Semasa waktu buntu mengelabui takdir

Aku bertandu di tanya membatu
Tanggung diri sepantas bait runtuh

Diamlah tarian canggung berdialek
Aksaraku menuntun tangan Tuhan berkata
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
07 November 2011

KEPADA DEWI


Ketika ufuk menutup, disini malam-malam yang keras
Bersenjata engkau manusia menunggang kerbau

Sebisa tangguh meronda bilik semuda dahulu
Gembala pesona bermuka janggal
...
Telah kupegang pagi,
diseperempat tersisa
Syiar berpondasi teladan sebagai penjejak

Terbunuhkah riwayat semasa malam
Gigil sedanau dalam meriak ?

Kepada dewi

Takdir merantau diam,
Ikat berbantal rindu tak sempat mimpi bermadu janji

Ibarat kisah musafir, menggembala kaki
Sesampai hati meminang esok yang mulai berkeringat
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
08 November 2011

LEBURLAH BINASAKU


Ketika tebal sekilat jangkau
Bernyanyilah dalam alur sumbang

Seikat hati bersapa wajah
Lalu tembang Asmaradana melembah tebing retak cermin

Ini bukan amnesia kilas warta bahasa
Aku berbangga setara kata jatuh setubuh

Masih menangis topeng pembangkang takdir
Aku lacur malam dipaha basahnya

Seketika
Elok berparas dengki
Leburlah binasaku


Aby Santika II

Bandung
09 November 2011

BAPAK, BINTANGMU MIRING TERGUSUR


Bapak...
Sejajar miring bintangmu dipundak tua
Wibawa semata dahaga, lepas senjata masa menzaman

Setengah jidat tangan bersambut santun
...
Kepada siapakah ?

Besi modernitas tuntas membaca
aspal-aspal keringat darahmu mengukir

Engkaukah yang menyembah ?

Bapak...
Sempat lupa cucumu membingkai
Tegar pelor membebas negeri

Dijalanan hirau tegakmu pincang berdiri
Sementara lahan sempit tergusur iri

Maaf,
aku sempat lupa Bapak.
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
10 November 2011

SASTRA WIBAWA DININGRAT


Tajamnya sebaris bara memukim
Kata berbait tertinggal lama

Setelah ku huni gudang-gudang bermulut gelap
Juga tiang-tiang tertidur menali tingkah

Engkau Rajawali bersayap puisi
Telah kukabarkan mati
kepada pulau-pulau berkanvas sunyi

Bahwa aku jelma Sastra wibawa diningrat
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
10 November 2011

WANITA BERALIS BULUDRU

 
Masih harus kusaksikan ceruk bening yang mengalir dimatamu
Sebab itulah purnama berjelaga pada kepulan asap malam yang sering kau hidangkan

Untuk kali ini tetap kusebut kau wanita beralis buludru
Hingga tiap helai rambutmu adalah doa yang menjaga
...
Terlalu rawat sakitku memilah puting senyummu
Antara lisan yang kelu terselip nama disaku hijaumu abjad awalanku

Bertulang rapuh patahan kabut wajahmu
Menafsir airmata berbutir telaga
Seketika ku layarkan kapalku dipesisir cintamu
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
10 November 2011

CAMAR SENJA MELAYANG JANJI


Senja memagut camar bertandang rindu
Melukis daun berurat kemalu tubuhmu

Hilang sepanjang terang sayap berisyarat
Antara kasih berjarak hati sedanau tuba
...
Kesederhanaan jatuh mematuh
Sebandang harap sempat karam direngkuh waktu

Duhai
Kemuning berparuh tajam
Menarilah diatas ubun-ubun langitku

Ukir prasasti purba kalahari sahaja
Sejak persandingan memadu biduk berbadai

Untuk camar melayang semata wayang
Menuju pintu seribu janji tentangmu
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
11 November 2011

SAJAK FIGURAN


sajak dangkal tak bermuara
dingin tanpa angin
diam tanpa langkah

Tanpa gerak bukan berarti sembunyi
... Peduli lantang, aku yang berjalan

Maka,
biarkan aku tertawa
melihat figuran turut peran

Apa mungkin kiblat ingin kau pangku ditangan pula

Singgasana opera umpama cicak bertelinga lebar

Akh..
Miris bahakku tak tertahan
lugumu berlagak pengadil dunia
 
 
 
Aby Santika II
 
Surabaya
11 November 2011 

TENTANG NAMA


Tentang nama sekail embun
Tersimpan sesak memarau dada

Teriak lelaki berkabung pasung
Aku menjala ranum pagi merindu
...
Sewaktu paling bicara menahan
Bait menjeda harum tertulis rahasiamu

Solek cermin wajah turut menggambar
Hati membola hitam mata berjendela

Sebaris musim janggal bergerimis
Tentang nama langit memahat takdir
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
12 November 2011

SEBELUM MATI


Sebelum nanti tenggelam hilang
kenang aku berupa mayat berbaring tanah

Menghamba laut dulu kapal-kapal
Menggarami meditasi pesisir terkepal
...
Uratmu jalang menembus kulit
Cukup halus bernada sanggah menjepit

Aku berbicara dasar kasta
Otakmu berjaga mata iri berani

Beronanikah pemikiran tua segaris dahi
Sampai mati tulang berulang berserak retak
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
12 N0vember 2011

DOA KEMBANG TIDUR


Ini hari kita
Yang membagi pagi dalam bilah-bilah partiture mimpi

Bernada malam ibarat kembung membusung kosong
Sedang doa meluncur mengisi perut berurat rindu
...
Engkau kembang rayap melata
Meng_ingin genggam mekar sehabis senja

Sementara tidur dada adalah ranjang berpunggung
Ketika hari melipat windu memusim

Aku lelaki kah dengkur merayu tulus
Sebab tombakmu membidik hati
yang memahat pusaran asma-asma mu
 
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
14 November 2011
 

AKSARA TUHAN MEMBERKAT


Bersolek genit aksara tampan dimuka kembar
Koloni puan puteri bergaun remang mengantri cemas

Tajuk lihai ramuan abjad tersaji
Keramat faham duga purbasangka sebatas kira
...
Menggernyit dahi wajah berkerut heran
Menghitung sisa amunisi lepas kiri sasaran

Jika puan mencium tanah
Wangi pula bait sedari dulu ku tanam

Sambil berkhayalkah jua cukong juling mengintip
Gundukan pasir kilau keringat aksara menjalin

Terlalu tampan, bukan Tuhan salah menggurat
Sejak bidadari mengakar turut, hanya Tuhan memberkat
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
14 november 2011

BINAR REDUP MATAMU


Kemarin, lembaran langit seperti bangkai yang bisu dalam tanya hidup
Aku tahu tak sebagian sakit bersampan diujung jari

Kita pernah belajar mengecap asin laut

... : Setidaknya sunyi berkunjung sewaktu bulat purnama merecah
Juga secercah tapak nafas memfosil karat wajahmu

Aku menyulam cahaya lampu-lampu yang meredup lesu kemarin

Sebelum menepi jawab, kita serupa diam dalam sejumput ruang berdinding sakit

; Kita simpan tanya tentang membelah sayap angin yang hendak merangkul aku dan kamu
pun laron-laron yang menjemput binar diantara bola matamu

Kita menunggang sekat kelamin diantara celana matahari
sebelum Isya pamit mendengkur
Tubuhku mendekap disamping patahan doa latah
Antara kemarin merunduk tiba, sebelum mati
 
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
15 November 2011

TENTANG LANGIT


Aku menyaksikan langit melatah ucap
Dalam nafasnya menghela keringat semenjak terik

Bukan pula malam karib menyembunyi paras
Pun gamelan sayub dengan mata paling sayu, diammu seumpama nyanyian sunyi

Kita terjebak di dalam pertanyaan sama

:Kembung rembulan bersanding perut malam yang lapar ?

Jika sudah sampai doa terkabul kelak
Langit menjelma Musyafir yang mencari sinar rembulan
Sejak kau sembunyi dikedua bulat matamu
 
 
 
Aby Santika II
 
Bandung
17 November 2011

RINDU DI ATAS TROTOAR


Mencumbu kulit trotoar sekitar
Jalan pentas megah pengamen jalanan
Sehabis shubuh irama memanja telinga

Berjalan diatas khayal wanita malam yang tertinggal
Seumpama mutiara kenang dibalik perjuang

Sabarlah dik,
Lelakimu bersenandung kepung telinga
Juga tali pengikat antara kota tua erat rapat

Jika tiba ujungnya,
kelak pinang bukan kenang yang lekang
trotoar lusuh berhias kembang

Orkes jalanan mengiring setiba buta
juga gelap puisi adalah mantera bersesaji nyata



Aby Santika II

Jogjakarta
18 November 2011

Jumat, 18 November 2011

SAJAK RINDU

Rindu bersayap kelelawar
liar dan tajam ketika memangsa
Dibunting malam tanpa rekayasa
serta balada laron hinggap memanja

O, Tuhan
Akulah pemuda berpacar remang
hingga rindu memadu ubun-ubun langit
tanpa kelelawar
karena rindu adalah kelelawar

Cakar-cakar kesakitan menahan
berontak pisau kata berupa jelma
umpama senjata
dalam rindu tersembunyi cabik
didalam diri

O, Tuhan
Belum berparas nasib buta
karena wanita terpejam wajah gembira
Sedang, dalam mimpi tidurku
adalah sorga
sebab kelelawar bersangkar rindu
terbang diujung jari

Lelaki garang bertekuk lutut
meletak hormat
diatas tanah berkafan abu
Tangan-tangan tengadah harap
rindu berarwah
datang seribu kembar tak sama

O, Tuhan
Pengantinku bergaun biru
kelelawar tewas rindu berpadu
Diatas kota beribu tugu emas
rindu menjelma sabar menunggu




Aby Santika II

Yogyakarta
18 November 2011

Kamis, 17 November 2011

SUMPAHKU DAHULU

Sumpahku tersimpan bahasa melayu
Berbangsa serumpun kembang-kembang layu

Terpisah bangga atas Tanah Air dahulu
Menjelma gagah Jendral berpeluru

Udzur waktu menimpa hulu
Atau Orok-orok baru terlahir tanpa kemalu?

Banggaku tertumpuk sumpah
Seisi sampah bangkai manusia dimanis bibir sang Tuan tanah

Wahai pemuda yang terlunta masa
Juga pemudi yang terbeli mimpi

Telah sampai timurkah matahari tenggelam ?
Sehingga sumpah hilang janji dahulu




Aby Santika II

YOGYAKARTA,
28 OKTOBER 2011

BIJI MATAMU BERJALAN BUNTU

Ketika langkah mesra menjerit antara mata,
bahasa meludah tuak atas lidah kesemutan
menjengkal pundak-pundak malam tuba
membisikkah kretek pada telinga tuli ?

Sebab ujung memabukan pelipis matamu
serta nyanyian orasi berkaca diri
renta merawan hisap candu kaki besi berlari
bertepi tiada, garis sebidang rata angin

Gembala tak beradu tuah hasrat
yang mati terbunuh daki musafir ketika menyusuri
parit-parit seterang purnama melingkar

Jari matamu sebundar labirin jarum waktu
berbisik rindu
juga debu menyesat gontai malamku sebuta
dermaga tanpa bahasa
aku masih berjarak limbung, menemu sosok
matahari dikedua biji matamu



Aby Santika II
YOGYAKARTA-SURABAYA
15 OKTOBER 2011

SERIBU HARI

Seribu riak tawa gedung berlantai kembar
serupa berhala sembah lalu lalang bergilir
Ketika seribu mata beradu pandang jalang
berpura-pura surga berdiri menantang dada

Aku diam membuta kata
Sedahaga seribu matahari keringat tajam
Seribu langkah kaki menapak kepala
Tetap,
Seribu detik tak terlihat seribu senyummu
yang mengguyur terik bernada sumbang

Di seribu nafas sembunyimu menganak tiri
tatkala berpunggung patah arang
Aku tuli mengunci dengar
Pada Tuhan seribu doa bermantera
menafsir langit dan pohon yang tertidur

Terselip di sakumu kah ayat yang tak sempat
ku eja terabasnya ?
Sedekat jelagamu terjaga kapal tiba

Seribu hari, diantara gedung renta
Aku memaku kaki


Aby Santika II

07 OKTOBER 2011