Perempuan langsing
mengipas
pesona gemulai tari kunang- kunang
Kau hadir memendam seribu umpat yang menggemuruh luka
Aku melihat keriput
menghitung usia
pada muka sebendang rindu
Padamu terlakar sekolam airmata
persis bintang bertandang segaris keluhan
Wajah itu...
mulai menggerimis basah coretan rindu
selaut resah berkunjung dibatas usia
dibalik senyum mulus
menakar luka
kau sembunyi pandang terpalit di dada
Aku mencoba melihat bintang berkelamin
betina
Menjadi nenek yang gemar bercerita kepada anak cucunya
Merajut jubah rembulan dikursi goyang berkacamata
Wajah itu...
Perempuan langsing diantara kunang-kunang
mengipas berkulit tua
Wajah itu...
Bintang yang melipat usia disenja hari berdada
tanpa rindu luka yang
merumpun kepala
Aby Santika II
BANDUNG,
12 SEPTEMBER 2011
Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Kamis, 15 September 2011
SABDA PAGI
Inikah tempat sabda sewaktu kita
Pagi alang-alang dibalik risau gunung menjulang
Dalam hulu bertalu ditandang matahari
Padahal rindu masih belum tertidur dibantal mimpi
Wahai wanita pagi berjubah putih
Gigil embun meretas bulat dimatamu
Ketika malam gerhana meretak dada
Bayangmu menggelayut rimbun
membunting pagi
Diamlah tatkala rapuh pagi bertulang tua
Dan patahan airmata bersabda rindu yang cedera
Aku mengenalmu, sebanyak jumlah kerutan di dahimu
Dilengkung cinta kau tatap rabun hadirku
Aby Santika II
BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011
Pagi alang-alang dibalik risau gunung menjulang
Dalam hulu bertalu ditandang matahari
Padahal rindu masih belum tertidur dibantal mimpi
Wahai wanita pagi berjubah putih
Gigil embun meretas bulat dimatamu
Ketika malam gerhana meretak dada
Bayangmu menggelayut rimbun
membunting pagi
Diamlah tatkala rapuh pagi bertulang tua
Dan patahan airmata bersabda rindu yang cedera
Aku mengenalmu, sebanyak jumlah kerutan di dahimu
Dilengkung cinta kau tatap rabun hadirku
Aby Santika II
BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011
11 SEPTEMBER
Kesedihanmu sedekat mukim neraka
Satu dasawarsa tewas aqidah terbakar fitnah
Adidaya mengabar perang ditelinga dunia
Seperti menepuk lalat diujung tahi
Oh tuhan
Istana Sulaiman semegah maksiat
Anak-anak kelaparan dari perut
yang terisi geranat
Lalu beling-beling menancap
liar dijidat renta
Serdadu berlaras pelor tembaga
mengatasnama kemanusiaan
Kemanusiaan milik siapa ?
Pertanyaan tersamar dentum
ledak dikepala
Oh tuhan
Nerakakah dunia membabibuta ?
Sementara jerit iba menjangkau langit
Aby Santika II
BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011
Satu dasawarsa tewas aqidah terbakar fitnah
Adidaya mengabar perang ditelinga dunia
Seperti menepuk lalat diujung tahi
Oh tuhan
Istana Sulaiman semegah maksiat
Anak-anak kelaparan dari perut
yang terisi geranat
Lalu beling-beling menancap
liar dijidat renta
Serdadu berlaras pelor tembaga
mengatasnama kemanusiaan
Kemanusiaan milik siapa ?
Pertanyaan tersamar dentum
ledak dikepala
Oh tuhan
Nerakakah dunia membabibuta ?
Sementara jerit iba menjangkau langit
Aby Santika II
BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011
DERMAGA AIRMATA
Masih terdengar cerita riak buih yang melayar
Pada asin kisah rindu kita menjamu dahaga
Engkaukah yang melambai elok
dirimbun pohon kelapa
Lalu bermesra belai sejuk angin
pantai selatan ?
Ombak berkejaran badai
Bersama luluh istana pasir cinta kita
Di tepi pantai sepi biru merayu
Dermaga menjaga hati dibelah
laut tercumbu perahu kayu
Sementara episode berjalan terjal
Karang bertunas gagal diatas tugu yang terkikis gagah
Untukmu kugenggam lautan
lalu
kusimpan asin airnya kedalam airmataku
Aby Santika II
PANGANDARAN,
10 SEPTEMBER 2011
Pada asin kisah rindu kita menjamu dahaga
Engkaukah yang melambai elok
dirimbun pohon kelapa
Lalu bermesra belai sejuk angin
pantai selatan ?
Ombak berkejaran badai
Bersama luluh istana pasir cinta kita
Di tepi pantai sepi biru merayu
Dermaga menjaga hati dibelah
laut tercumbu perahu kayu
Sementara episode berjalan terjal
Karang bertunas gagal diatas tugu yang terkikis gagah
Untukmu kugenggam lautan
lalu
kusimpan asin airnya kedalam airmataku
Aby Santika II
PANGANDARAN,
10 SEPTEMBER 2011
ROMANSA RINDU
Diamlah antara kaki-kaki telanjang
Maka elegi tak seucap buntu teka- teki silang
Sebelum selesai menyisir kusut bulu-bulu anu
Ada rindu diantara temali rajut kusamnya
Dikiblat tak seputar mata sujud berdahaga
Juga perahu Nuh kembali meraja derita
Penantian sebatang kisah romansa pecah
Titisan bait Shakespeare meruah
linang serpih rindu
Terkadang sepi mataku kau tepuk
Lalu nampak garis sendu
memeluk bulat rindu
Aby Santika II
BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011
Maka elegi tak seucap buntu teka- teki silang
Sebelum selesai menyisir kusut bulu-bulu anu
Ada rindu diantara temali rajut kusamnya
Dikiblat tak seputar mata sujud berdahaga
Juga perahu Nuh kembali meraja derita
Penantian sebatang kisah romansa pecah
Titisan bait Shakespeare meruah
linang serpih rindu
Terkadang sepi mataku kau tepuk
Lalu nampak garis sendu
memeluk bulat rindu
Aby Santika II
BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011
UNTUK ENGKAU
Telah ku tinggalkan engkau langit yang murung
Serta kejaran awan ria menunjuk lipatan khatulistiwa
Untuk engkau , aku tiada
Mati diujung tiba segaris mata kaki
Lihatlah berontak angin tak bercelana
Dikolong langit yang mulai berkerut tua
Sewaktu kupeluk matahari
Senyum liarmu menjelma kawan
dipulau berambut ikal
Diantar lengkung kembu pipi langit
Bumi berputar terbalik arah
Juga redup matahari sebaris
lampion tanpa warna
Untuk engkau , Aku tiada tiba sejengkal dada
Aby Santika II
BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011
Serta kejaran awan ria menunjuk lipatan khatulistiwa
Untuk engkau , aku tiada
Mati diujung tiba segaris mata kaki
Lihatlah berontak angin tak bercelana
Dikolong langit yang mulai berkerut tua
Sewaktu kupeluk matahari
Senyum liarmu menjelma kawan
dipulau berambut ikal
Diantar lengkung kembu pipi langit
Bumi berputar terbalik arah
Juga redup matahari sebaris
lampion tanpa warna
Untuk engkau , Aku tiada tiba sejengkal dada
Aby Santika II
BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011
JUARA LOMBA
Negeri kita penyandang gelar
Juara lomba lupa nomor satu
Dari juara renang dikolam lumpur lafindo
Hingga Opera teater dalam lakon
"Gayus menonton tenis"
Memang hebat Birokrat
pemerkosa
Menjadi penonton lomba di gedung DPR umpama ditiket VIP
Ongkang kaki berlagak Amnesia
Dengan mulut bau comberan tertawa-tawa
Mereka mengakak hingga membenturkan jidat
Berharap hilang ingatan ketika
ditanya pura-pura gila
Negeri kita memang pengagu lagu Band Kuburan
Hingga senang bernyanyi degan judul " lupa- lupa ingat"
Aby Santika II
JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011
Juara lomba lupa nomor satu
Dari juara renang dikolam lumpur lafindo
Hingga Opera teater dalam lakon
"Gayus menonton tenis"
Memang hebat Birokrat
pemerkosa
Menjadi penonton lomba di gedung DPR umpama ditiket VIP
Ongkang kaki berlagak Amnesia
Dengan mulut bau comberan tertawa-tawa
Mereka mengakak hingga membenturkan jidat
Berharap hilang ingatan ketika
ditanya pura-pura gila
Negeri kita memang pengagu lagu Band Kuburan
Hingga senang bernyanyi degan judul " lupa- lupa ingat"
Aby Santika II
JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011
MENGEJA KUSAM AIRMATA
Kali pagi airmata bertulang patah
Sebatang tangis menceruk dahaga
Ketika menyarapani perut rindu yang kembung
Diantara tikung ludah menelan sesak
Paras pagi memulas bedak
Memikat rindu yang terbuang waktu
Sementara tetesan airmata berpola garis
Memenjara harap semalam limbung
Bukankah alunan suara bermata
tiga?
Dengung rindu tak samar
bersuara?
Namun mengeja kusam airmata
Serupa hilang tumpah pagi merindu buta
Duhai
Cemara jalanan rantingmu penunjuk
Ketika airmata bersendawa sumbang
Aby Santika II
JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011
Sebatang tangis menceruk dahaga
Ketika menyarapani perut rindu yang kembung
Diantara tikung ludah menelan sesak
Paras pagi memulas bedak
Memikat rindu yang terbuang waktu
Sementara tetesan airmata berpola garis
Memenjara harap semalam limbung
Bukankah alunan suara bermata
tiga?
Dengung rindu tak samar
bersuara?
Namun mengeja kusam airmata
Serupa hilang tumpah pagi merindu buta
Duhai
Cemara jalanan rantingmu penunjuk
Ketika airmata bersendawa sumbang
Aby Santika II
JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011
IBA BUMI PERTIWI
Langit adalah puja-puji
dalam doa ibu pertiwi
meneduh bumi dinegeri tua
Aku menatap pada batas ujung jari
Nampak tangis langit meruas jatuh
Demi ibu pertiwi beruban salju
Keriputmu melipat kening
Kian undak beban dipundak
Masih linangkah pertiwi hati ?
Aku dengar hilang langit bermantera
Kosong negeri bertulang renta
Semasa muda tinggal cerita
Langitku
Bumiku
Negeriku
Ditelan bulat polusi merecah
Langit hitam, Ibu pertiwi berparas dekil
Langit adalah puja-puji
dalam Iba Pertiwi mati
Aby Santika II
YOGYAKARTA,
06 SEPTEMBER 2011
dalam doa ibu pertiwi
meneduh bumi dinegeri tua
Aku menatap pada batas ujung jari
Nampak tangis langit meruas jatuh
Demi ibu pertiwi beruban salju
Keriputmu melipat kening
Kian undak beban dipundak
Masih linangkah pertiwi hati ?
Aku dengar hilang langit bermantera
Kosong negeri bertulang renta
Semasa muda tinggal cerita
Langitku
Bumiku
Negeriku
Ditelan bulat polusi merecah
Langit hitam, Ibu pertiwi berparas dekil
Langit adalah puja-puji
dalam Iba Pertiwi mati
Aby Santika II
YOGYAKARTA,
06 SEPTEMBER 2011
MENANGISLAH TUHAN, DIUJUNG TANGAN BESI
Menangislah Tuhan dalam airmata pasi
Ketika lapar bertangan besi dari
buyung pengais mimpi
Malam campakan sengat
Keringat tenggelam samudera sampah
Tangan besi harap teliti
sebab Tuhan tidak mati
Mencari beras menambal hari
Menangislah Tuhan jatuh deras kebumi
Perut buyung melangit mendung
hingga larut malam tersulam
Kejaran nyawa memancuh waktu
Busung menggunung dakian sampah
Tangan besi memilah sebutir nasi diatas tanah
Menangislah buyung dalam
wujud tangis Tuhan
sebab Tuhan tidak mati
Aby Santika II
YOGYAKARTA,
05 SEPTEMBER 2011
Ketika lapar bertangan besi dari
buyung pengais mimpi
Malam campakan sengat
Keringat tenggelam samudera sampah
Tangan besi harap teliti
sebab Tuhan tidak mati
Mencari beras menambal hari
Menangislah Tuhan jatuh deras kebumi
Perut buyung melangit mendung
hingga larut malam tersulam
Kejaran nyawa memancuh waktu
Busung menggunung dakian sampah
Tangan besi memilah sebutir nasi diatas tanah
Menangislah buyung dalam
wujud tangis Tuhan
sebab Tuhan tidak mati
Aby Santika II
YOGYAKARTA,
05 SEPTEMBER 2011
PERAWAN RINDU DIUJUNG ABU
Kuperawani pagi tusuk sebatang rokok
Mengendus telanjang abu merecah
Gigil sempat meniduri mimpi
dalam rindu sekuntum kembang
seroja
Duhai pagi berbadan dua
betapa lincah asap beterbangan
Hingga seroja berbuah rindu
Lalu bening menyiram mimpi
Merindangkah dalam ingatan ?
Gerhana bermukim disebulat mataku ?
Semata batang lenyap
bersetubuh
Sebab ingat tumpul terlewat abad
Perawan pagi terbaring lesu
membunting mimpi di ujung waktu
Aby Santika II
BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011
Mengendus telanjang abu merecah
Gigil sempat meniduri mimpi
dalam rindu sekuntum kembang
seroja
Duhai pagi berbadan dua
betapa lincah asap beterbangan
Hingga seroja berbuah rindu
Lalu bening menyiram mimpi
Merindangkah dalam ingatan ?
Gerhana bermukim disebulat mataku ?
Semata batang lenyap
bersetubuh
Sebab ingat tumpul terlewat abad
Perawan pagi terbaring lesu
membunting mimpi di ujung waktu
Aby Santika II
BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011
SESAL MENJALANG
Duhai perempuan jalang
akulah tanduk pengadu senggal
Di kaki-kaki asing bertapak gelang menusuk hitam ilalang nikmat
Masihkah tercekal melekat
melucut sebab liar beranak
Dari bawah terasah jasa mengabul birahi memuntah larva
Kerdip menggelitik bahak yang bungkam
sebatang kara jalang terpajang
Hilang jua pandang bercadar
tertatah sadar setengah sama
Duhai perempuan jalang yang juling
sebelah tangkup basah meletih
Akulah zaman pengadu nasib
dalam sesalmu ikut terjaga
Aby Santika II
BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011
akulah tanduk pengadu senggal
Di kaki-kaki asing bertapak gelang menusuk hitam ilalang nikmat
Masihkah tercekal melekat
melucut sebab liar beranak
Dari bawah terasah jasa mengabul birahi memuntah larva
Kerdip menggelitik bahak yang bungkam
sebatang kara jalang terpajang
Hilang jua pandang bercadar
tertatah sadar setengah sama
Duhai perempuan jalang yang juling
sebelah tangkup basah meletih
Akulah zaman pengadu nasib
dalam sesalmu ikut terjaga
Aby Santika II
BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011
KOTA BERDEBU RINDU
Aku terjilat debu antara aspal berbuah dungu
Kotamu memahat bodoh rindu dalam rimbun merahim pilu
Setara sunyi entah berbunyi
Di ujung kembali mendung kian nyeri
Sesadar samar pula rajam terlewati
Semacam duka bersuka rasa
Aku berdebu latah sebab dungu menjatah
Sebaris rindu menggerhana kuncup seperempat malam
Engkau meng_ibu timang harap
Setangkap jatuh injak menjungkir
Sembah titah lentang asmara
Kau samarata kota cacatku dalam sempurna
Aby Santika II
BANDUNG,
03 SEPTEMBER 2011
Kotamu memahat bodoh rindu dalam rimbun merahim pilu
Setara sunyi entah berbunyi
Di ujung kembali mendung kian nyeri
Sesadar samar pula rajam terlewati
Semacam duka bersuka rasa
Aku berdebu latah sebab dungu menjatah
Sebaris rindu menggerhana kuncup seperempat malam
Engkau meng_ibu timang harap
Setangkap jatuh injak menjungkir
Sembah titah lentang asmara
Kau samarata kota cacatku dalam sempurna
Aby Santika II
BANDUNG,
03 SEPTEMBER 2011
Jumat, 02 September 2011
KEMBANG LILI PENGABAR RINDU
Retak senja terbaring pada rindu licin
sejak kemarau bermukim didahaga punggungmu
Mengingat musim-musim perawan
kusenggamai seusai hijab fajar terdengar
Lalu
tak terlihat lagi pangkalan lenganmu
yang menari luka sebab rindu itu
Tercurikah kembang lili yang
menggantung
ketika jujur menjelma malam
Tanggalkan cacat juling pandangmu
pada larik-larik mengkitab pujimu
Pada retak senja terhukum waktu
pada sayub pengabar hadirmu
Aby Santika II
BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011
sejak kemarau bermukim didahaga punggungmu
Mengingat musim-musim perawan
kusenggamai seusai hijab fajar terdengar
Lalu
tak terlihat lagi pangkalan lenganmu
yang menari luka sebab rindu itu
Tercurikah kembang lili yang
menggantung
ketika jujur menjelma malam
Tanggalkan cacat juling pandangmu
pada larik-larik mengkitab pujimu
Pada retak senja terhukum waktu
pada sayub pengabar hadirmu
Aby Santika II
BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011
BERSETUBUH PESONA (NYAI)
Kali lentik sebentuk matahari
hijrah ribuan Mil membentur siang
Tetap sama , dalam bundar birahi
Selubang malu anjing bernaluri
Pesonamu Nyi
Meniduri terik di kolam ranjang berakar
Aku gali kedalamanmu
menempuh batas dinding
pemecah langit
Kali ini , aroma pemikat melucut
getar
Pesonamu Nyi
bundar merayap hasrat-hasrat
Perhelatan bertapal curam
Nafas liar berkuda cepat
Akh...
Anjing-anjingmu Nyi,
Menunggang utuh ditikam lidah
Kendati tergerai ikal tawamu
menali sejuk sperma wangi
Aby Santika II
BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011
hijrah ribuan Mil membentur siang
Tetap sama , dalam bundar birahi
Selubang malu anjing bernaluri
Pesonamu Nyi
Meniduri terik di kolam ranjang berakar
Aku gali kedalamanmu
menempuh batas dinding
pemecah langit
Kali ini , aroma pemikat melucut
getar
Pesonamu Nyi
bundar merayap hasrat-hasrat
Perhelatan bertapal curam
Nafas liar berkuda cepat
Akh...
Anjing-anjingmu Nyi,
Menunggang utuh ditikam lidah
Kendati tergerai ikal tawamu
menali sejuk sperma wangi
Aby Santika II
BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011
UNTUK GERIMIS, DIK !
Aku nampak sejengkal gerimis
sembunyi tubuh berteduh badai
Untukmu,dik !
Ada sepenggal doa yang sempat
ku titipkan
pada ceruk airmata yang berpuisi
Kemudian nafas tertanam di
kedalamannya
antara harap tertidur pulas
Sepagi bercerita,dik !
Tentang riuh berkawan kuyup
juga gerimis bernyanyi manis
Dalam puja-puji yang membahana
serta merta doa berwujud anak badai
Ku giring ekor riuh
untuk kau tangkap ikhlas yang
seruas jemari
Antara tengadah doa harapan pagi
untukmu gerimis yang bersembunyi
Aby Santika II
BANDUNG,
1 SEPTEMBER 2011
sembunyi tubuh berteduh badai
Untukmu,dik !
Ada sepenggal doa yang sempat
ku titipkan
pada ceruk airmata yang berpuisi
Kemudian nafas tertanam di
kedalamannya
antara harap tertidur pulas
Sepagi bercerita,dik !
Tentang riuh berkawan kuyup
juga gerimis bernyanyi manis
Dalam puja-puji yang membahana
serta merta doa berwujud anak badai
Ku giring ekor riuh
untuk kau tangkap ikhlas yang
seruas jemari
Antara tengadah doa harapan pagi
untukmu gerimis yang bersembunyi
Aby Santika II
BANDUNG,
1 SEPTEMBER 2011
UJUNG TAKBIR
Sepi takbir , meraja semalam
kepada hari nakal membuang maaf
tiada
tiada
Usailah airmata ?
Sebelas tetap mendosa bangga
Suara-suara itu terkepung lelah
Meraja semalam , bertahta semata
tiada
tiada
Untuk takbir simpanlah suaranya
atau parau pesta penyembah Syetan
Sepi memunguti ikhlas tersisa di
hidang Opor habis
dan habis Ikhlas pula
mengunyah rata
Sebelas
Sepuluh
dan mundur
Kepada hari menanti yang tak
sama tiba takbir suara itu
Menanti di ujung Sujudmu
Aby Santika II
BANDUNG,
31 AGUSTUS 2011
kepada hari nakal membuang maaf
tiada
tiada
Usailah airmata ?
Sebelas tetap mendosa bangga
Suara-suara itu terkepung lelah
Meraja semalam , bertahta semata
tiada
tiada
Untuk takbir simpanlah suaranya
atau parau pesta penyembah Syetan
Sepi memunguti ikhlas tersisa di
hidang Opor habis
dan habis Ikhlas pula
mengunyah rata
Sebelas
Sepuluh
dan mundur
Kepada hari menanti yang tak
sama tiba takbir suara itu
Menanti di ujung Sujudmu
Aby Santika II
BANDUNG,
31 AGUSTUS 2011
GEMA TAKBIR
Pada Gema yang meletak
sunyi bergumam sempurna
Masihkah ?
Gelombang semacam penegas lantang diri
Juga jarak hitung dalam tepi genap
Lalu,
Masih Kau selipkan dilipatan
sakumu Takbir dulu ?
Barangkali tertinggal di meja akadmu ?
Pada Gema yang menanjak
nafas terbunuh seperempat
dengarkah ?
Sayub adalah bentuk hilang
perlahan :
Memutar,
Membalik
lalu memutar
dan membalik lagi
Tak henti otakku menceramahi hati
Antara logika dikepala Imajisme
Pada Gema yang merombak
Hati menata Ikhlas
Maaf,
Aby Santika II
BANDUNG,
30 AGUSTUS 2011
sunyi bergumam sempurna
Masihkah ?
Gelombang semacam penegas lantang diri
Juga jarak hitung dalam tepi genap
Lalu,
Masih Kau selipkan dilipatan
sakumu Takbir dulu ?
Barangkali tertinggal di meja akadmu ?
Pada Gema yang menanjak
nafas terbunuh seperempat
dengarkah ?
Sayub adalah bentuk hilang
perlahan :
Memutar,
Membalik
lalu memutar
dan membalik lagi
Tak henti otakku menceramahi hati
Antara logika dikepala Imajisme
Pada Gema yang merombak
Hati menata Ikhlas
Maaf,
Aby Santika II
BANDUNG,
30 AGUSTUS 2011
MALAM GERIMIS
Dan malam kuhabiskan sebagian
merajut gerimis
Lalu kau adalah bening yang
terlukis tipis dibaris lengkung antaranya
Duhai sabit bergaun lilit duri melati
cahayamu tersisa semenjak
purnama kemarin
Meski gulat gerimis masih ku
pintal , namun remangmu adalah
wajah sempurna ditikam hujan
Telah ku ikat pula liar bocah langit
dengan ampas kopi dan pecahan asap menawan
Masih untukmu
Aby Santika II
BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011
merajut gerimis
Lalu kau adalah bening yang
terlukis tipis dibaris lengkung antaranya
Duhai sabit bergaun lilit duri melati
cahayamu tersisa semenjak
purnama kemarin
Meski gulat gerimis masih ku
pintal , namun remangmu adalah
wajah sempurna ditikam hujan
Telah ku ikat pula liar bocah langit
dengan ampas kopi dan pecahan asap menawan
Masih untukmu
Aby Santika II
BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011
KISAH DERMAGA PILU
Aku lihat tangis menggantung
dimatamu
Secepat aku layar diantara
airmata hangatmu
Karena perahu tertidur, kayuh
mengantri jenuh
Ketika ku ukur luas isakmu
menyamudera dalam palung
Masihkah ku benturkan simpatik
pada dinding telaga ?
Sedang diperjumpaan lampau
Riak Amuba berteriak iba
Pada burit akanku, kau diam
menahan deru
Sebab solekmu tenggelam
dijangkar rindu
Telah lama ku sebut kau Tugu berkarang
Semacam Tangis terkikis habis
diam-diam
Aby Santika II
BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011
dimatamu
Secepat aku layar diantara
airmata hangatmu
Karena perahu tertidur, kayuh
mengantri jenuh
Ketika ku ukur luas isakmu
menyamudera dalam palung
Masihkah ku benturkan simpatik
pada dinding telaga ?
Sedang diperjumpaan lampau
Riak Amuba berteriak iba
Pada burit akanku, kau diam
menahan deru
Sebab solekmu tenggelam
dijangkar rindu
Telah lama ku sebut kau Tugu berkarang
Semacam Tangis terkikis habis
diam-diam
Aby Santika II
BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011
MATA-MATA
Di mata-mata, tatap malu bertalu- talu
aku dan rindu beradu Dadu
Mengundi hati setinggi candi
waktu berpacu mencari satu
Detik jam semakin malas berlari
bersandar punggung didinding tua
Berat ,
Suara lonceng pengingat separuh baya
Sementara Mata-mata menjangkau ingin
mengendap harap
Aku kendali bercermin diri
Mata menjuling menggiring diri
Tatap-tatap sebelah mata
pacu melamban beruban putih
Tatap mata-mata di ratap rintih
Dan aku hilang dicuri rindu
Aby Santika II
BANDUNG,
28 AGUSTUS 2011
aku dan rindu beradu Dadu
Mengundi hati setinggi candi
waktu berpacu mencari satu
Detik jam semakin malas berlari
bersandar punggung didinding tua
Berat ,
Suara lonceng pengingat separuh baya
Sementara Mata-mata menjangkau ingin
mengendap harap
Aku kendali bercermin diri
Mata menjuling menggiring diri
Tatap-tatap sebelah mata
pacu melamban beruban putih
Tatap mata-mata di ratap rintih
Dan aku hilang dicuri rindu
Aby Santika II
BANDUNG,
28 AGUSTUS 2011
SENJA DIATAS KACA
Entah itu engkau yang berjalan
diantara tikung tajam, juga
gedung berkaki lima
Jendela kaca bercerita dari atas,
pesona belah rambut
yang tertangkap mata
Ini sebab tiada diri berpagut
meski gerimis mulai
menyelundup
Lalu juga
sepasang Merpati berlari-lari
mengabar janji engkau sekilas mati
Dan kemudian senja seperti diam
menahan laju, atau engkau yang
menghenti kaki
Entah muram menyinggung
langkahmu
Disebelah tikung berdiri bisu
Juga janji sepasang merpati
tak tepat hati
Aby Santika II
BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011
diantara tikung tajam, juga
gedung berkaki lima
Jendela kaca bercerita dari atas,
pesona belah rambut
yang tertangkap mata
Ini sebab tiada diri berpagut
meski gerimis mulai
menyelundup
Lalu juga
sepasang Merpati berlari-lari
mengabar janji engkau sekilas mati
Dan kemudian senja seperti diam
menahan laju, atau engkau yang
menghenti kaki
Entah muram menyinggung
langkahmu
Disebelah tikung berdiri bisu
Juga janji sepasang merpati
tak tepat hati
Aby Santika II
BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011
DILEMA SEBATANG TIANG
Malam telah meninggalkan engkau
duhai sebatang tiang lampu redup
Ketika matahari menggosok gigi
bersalin dari kamar
bergaun putih garis renda terang
Tiangmu sebatang kara diantara
lalu lalang pejalan kaki
Padahal
malam menumpu pada engkau
Malam telah berlalu jauh
duhai sahabat gelap
tiang penunjuk terang
Diantara bola-bola lampu
bergumul ngengat penyembah cahaya
Namun pagi melemah tubuhmu
yang tinggal sekarat dilahap bundar matahari
Malam telah meninggalkan
engkau tiang bertubuh kurus
Aby Santika II
BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011
duhai sebatang tiang lampu redup
Ketika matahari menggosok gigi
bersalin dari kamar
bergaun putih garis renda terang
Tiangmu sebatang kara diantara
lalu lalang pejalan kaki
Padahal
malam menumpu pada engkau
Malam telah berlalu jauh
duhai sahabat gelap
tiang penunjuk terang
Diantara bola-bola lampu
bergumul ngengat penyembah cahaya
Namun pagi melemah tubuhmu
yang tinggal sekarat dilahap bundar matahari
Malam telah meninggalkan
engkau tiang bertubuh kurus
Aby Santika II
BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011
MEMBISIK LUKA
Engkau membisik angin dimuka
berabad-abad meninjau luka
melanda
Jauh berkaki cepat selangkah
Aku memandang waktu tak berpawang
Hilanglah pesona yang berkawan
pada rajutan menali pangkal sejak inginku
Tak lama nyanyian angin
mengalun limbung
terbunuh penghulu di sumpah janji semati
Berkali menemu ikatmu
membelakang
menyungging sinis bertajuk manis
Engkau penawar kemegahan
bertatap sebelah dunia sebentuk juling
Bisikmu keramat bersesaji
kemilau tahta bumi syurgawi
Aby Santika II
BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011
berabad-abad meninjau luka
melanda
Jauh berkaki cepat selangkah
Aku memandang waktu tak berpawang
Hilanglah pesona yang berkawan
pada rajutan menali pangkal sejak inginku
Tak lama nyanyian angin
mengalun limbung
terbunuh penghulu di sumpah janji semati
Berkali menemu ikatmu
membelakang
menyungging sinis bertajuk manis
Engkau penawar kemegahan
bertatap sebelah dunia sebentuk juling
Bisikmu keramat bersesaji
kemilau tahta bumi syurgawi
Aby Santika II
BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011
PERJUMPAAN
Diantara lengkung perjumpaan dahulu
terdapat senyum yang
menghutan
Sisa-sisa cemara dan belukar
Dia hujan
yang menyusup diantara ranjang
juga tiang-tiang cacat bertubuh beku
Sementara tawa adalah anak kecil
mengeja afjad rindu yang mulai alpa
Senyum itu berwujud tegas
melarang Merpati menyerbu
rindu mendendam
Perjumpaan ranum setangkai
Mawar berduri racun
Dibawah cekung perpisahan airmata
tersimpan pesona membekas dada
Antara bocah sungai meluap ruah
rindu mimpi untukmu
Aby Santika II
BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011
terdapat senyum yang
menghutan
Sisa-sisa cemara dan belukar
Dia hujan
yang menyusup diantara ranjang
juga tiang-tiang cacat bertubuh beku
Sementara tawa adalah anak kecil
mengeja afjad rindu yang mulai alpa
Senyum itu berwujud tegas
melarang Merpati menyerbu
rindu mendendam
Perjumpaan ranum setangkai
Mawar berduri racun
Dibawah cekung perpisahan airmata
tersimpan pesona membekas dada
Antara bocah sungai meluap ruah
rindu mimpi untukmu
Aby Santika II
BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011
SIMPONI RINDU
Aku dengar bunyi-bunyi itu ,
Randu tertidur di kabut tepi tebing
Bermimpi rindu-rindu yang cedera
berbunyi gema pulas di atas kapas
Kau demikian tidur dihelai tipis
Hembus menebus janji membatu
kerikil
Aku lihat puja-puji itu
Anggrek mengembang layang-
layang
Andai menyerupa rindu yang terbang
menangkap bulan berseteru pilu
Semacam nyeri menyesak
ku saji kau rindu setugu bisu
Adalah kenang rapat terkunci
menggenang gerimis airmata membumi
Aby Santika II
BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011
Randu tertidur di kabut tepi tebing
Bermimpi rindu-rindu yang cedera
berbunyi gema pulas di atas kapas
Kau demikian tidur dihelai tipis
Hembus menebus janji membatu
kerikil
Aku lihat puja-puji itu
Anggrek mengembang layang-
layang
Andai menyerupa rindu yang terbang
menangkap bulan berseteru pilu
Semacam nyeri menyesak
ku saji kau rindu setugu bisu
Adalah kenang rapat terkunci
menggenang gerimis airmata membumi
Aby Santika II
BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011
SEPANJANG MALAM
Sepanjang malam ronda
terkepung dingin
Sebab kengerian menggubah
Angin adalah belalai gajah tua,
melilit kulit bergigi ompong
Terbersit lintas ingatan
tak logis aku tawan mesranya
cumbuan purnama
pada Klitoris selangkang kolong
langit
Sepanjang malam mimpi berbunga
yang sempat mendengkur aku
ceritakan
Airmata ini adalah gerimis rindu
Semacam kembang-kembang sepatu
menari ketuk nada berirama sumbang
Aby Santika II
BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011
terkepung dingin
Sebab kengerian menggubah
Angin adalah belalai gajah tua,
melilit kulit bergigi ompong
Terbersit lintas ingatan
tak logis aku tawan mesranya
cumbuan purnama
pada Klitoris selangkang kolong
langit
Sepanjang malam mimpi berbunga
yang sempat mendengkur aku
ceritakan
Airmata ini adalah gerimis rindu
Semacam kembang-kembang sepatu
menari ketuk nada berirama sumbang
Aby Santika II
BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011
Langganan:
Postingan (Atom)