Kamis, 15 September 2011

WAJAH TUA, BINTANG BERKELAMIN BETINA

Perempuan langsing
mengipas
pesona gemulai tari kunang- kunang
Kau hadir memendam seribu umpat yang menggemuruh luka

Aku melihat keriput
menghitung usia
pada muka sebendang rindu

Padamu terlakar sekolam airmata
persis bintang bertandang segaris keluhan

Wajah itu...
mulai menggerimis basah coretan rindu
selaut resah berkunjung dibatas usia

dibalik senyum mulus
menakar luka
kau sembunyi pandang terpalit di dada

Aku mencoba melihat bintang berkelamin
betina
Menjadi nenek yang gemar bercerita kepada anak cucunya
Merajut jubah rembulan dikursi goyang berkacamata

Wajah itu...
Perempuan langsing diantara kunang-kunang
mengipas berkulit tua

Wajah itu...
Bintang yang melipat usia disenja hari berdada
tanpa rindu luka yang
merumpun kepala




Aby Santika II

BANDUNG,
12 SEPTEMBER 2011

SABDA PAGI

Inikah tempat sabda sewaktu kita
Pagi alang-alang dibalik risau gunung menjulang

Dalam hulu bertalu ditandang matahari
Padahal rindu masih belum tertidur dibantal mimpi

Wahai wanita pagi berjubah putih
Gigil embun meretas bulat dimatamu

Ketika malam gerhana meretak dada
Bayangmu menggelayut rimbun
membunting pagi

Diamlah tatkala rapuh pagi bertulang tua
Dan patahan airmata bersabda rindu yang cedera

Aku mengenalmu, sebanyak jumlah kerutan di dahimu
Dilengkung cinta kau tatap rabun hadirku



Aby Santika II

BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011

11 SEPTEMBER

Kesedihanmu sedekat mukim neraka
Satu dasawarsa tewas aqidah terbakar fitnah

Adidaya mengabar perang ditelinga dunia
Seperti menepuk lalat diujung tahi

Oh tuhan
Istana Sulaiman semegah maksiat
Anak-anak kelaparan dari perut
yang terisi geranat

Lalu beling-beling menancap
liar dijidat renta
Serdadu berlaras pelor tembaga
mengatasnama kemanusiaan

Kemanusiaan milik siapa ?

Pertanyaan tersamar dentum
ledak dikepala

Oh tuhan
Nerakakah dunia membabibuta ?
Sementara jerit iba menjangkau langit



Aby Santika II

BANDUNG,
11 SEPTEMBER 2011

DERMAGA AIRMATA

Masih terdengar cerita riak buih yang melayar
Pada asin kisah rindu kita menjamu dahaga

Engkaukah yang melambai elok
dirimbun pohon kelapa
Lalu bermesra belai sejuk angin
pantai selatan ?

Ombak berkejaran badai
Bersama luluh istana pasir cinta kita

Di tepi pantai sepi biru merayu
Dermaga menjaga hati dibelah
laut tercumbu perahu kayu

Sementara episode berjalan terjal
Karang bertunas gagal diatas tugu yang terkikis gagah

Untukmu kugenggam lautan
lalu
kusimpan asin airnya kedalam airmataku


Aby Santika II

PANGANDARAN,
10 SEPTEMBER 2011

ROMANSA RINDU

Diamlah antara kaki-kaki telanjang
Maka elegi tak seucap buntu teka- teki silang

Sebelum selesai menyisir kusut bulu-bulu anu
Ada rindu diantara temali rajut kusamnya

Dikiblat tak seputar mata sujud berdahaga
Juga perahu Nuh kembali meraja derita

Penantian sebatang kisah romansa pecah
Titisan bait Shakespeare meruah
linang serpih rindu

Terkadang sepi mataku kau tepuk
Lalu nampak garis sendu
memeluk bulat rindu



Aby Santika II

BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011

UNTUK ENGKAU

Telah ku tinggalkan engkau langit yang murung
Serta kejaran awan ria menunjuk lipatan khatulistiwa

Untuk engkau , aku tiada
Mati diujung tiba segaris mata kaki

Lihatlah berontak angin tak bercelana
Dikolong langit yang mulai berkerut tua

Sewaktu kupeluk matahari
Senyum liarmu menjelma kawan
dipulau berambut ikal

Diantar lengkung kembu pipi langit
Bumi berputar terbalik arah

Juga redup matahari sebaris
lampion tanpa warna
Untuk engkau , Aku tiada tiba sejengkal dada



Aby Santika II

BANDUNG,
08 SEPTEMBER 2011

JUARA LOMBA

Negeri kita penyandang gelar
Juara lomba lupa nomor satu

Dari juara renang dikolam lumpur lafindo
Hingga Opera teater dalam lakon
"Gayus menonton tenis"

Memang hebat Birokrat
pemerkosa
Menjadi penonton lomba di gedung DPR umpama ditiket VIP

Ongkang kaki berlagak Amnesia
Dengan mulut bau comberan tertawa-tawa

Mereka mengakak hingga membenturkan jidat
Berharap hilang ingatan ketika
ditanya pura-pura gila

Negeri kita memang pengagu lagu Band Kuburan
Hingga senang bernyanyi degan judul " lupa- lupa ingat"



Aby Santika II

JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011

MENGEJA KUSAM AIRMATA

Kali pagi airmata bertulang patah
Sebatang tangis menceruk dahaga

Ketika menyarapani perut rindu yang kembung
Diantara tikung ludah menelan sesak

Paras pagi memulas bedak
Memikat rindu yang terbuang waktu

Sementara tetesan airmata berpola garis
Memenjara harap semalam limbung

Bukankah alunan suara bermata
tiga?

Dengung rindu tak samar
bersuara?

Namun mengeja kusam airmata
Serupa hilang tumpah pagi merindu buta

Duhai
Cemara jalanan rantingmu penunjuk
Ketika airmata bersendawa sumbang



Aby Santika II

JAKARTA,
07 SEPTEMBER 2011

IBA BUMI PERTIWI

Langit adalah puja-puji
dalam doa ibu pertiwi
meneduh bumi dinegeri tua

Aku menatap pada batas ujung jari
Nampak tangis langit meruas jatuh

Demi ibu pertiwi beruban salju
Keriputmu melipat kening

Kian undak beban dipundak
Masih linangkah pertiwi hati ?

Aku dengar hilang langit bermantera
Kosong negeri bertulang renta
Semasa muda tinggal cerita

Langitku
Bumiku
Negeriku

Ditelan bulat polusi merecah
Langit hitam, Ibu pertiwi berparas dekil

Langit adalah puja-puji
dalam Iba Pertiwi mati



Aby Santika II

YOGYAKARTA,
06 SEPTEMBER 2011

MENANGISLAH TUHAN, DIUJUNG TANGAN BESI

Menangislah Tuhan dalam airmata pasi
Ketika lapar bertangan besi dari
buyung pengais mimpi

Malam campakan sengat
Keringat tenggelam samudera sampah

Tangan besi harap teliti
sebab Tuhan tidak mati
Mencari beras menambal hari

Menangislah Tuhan jatuh deras kebumi
Perut buyung melangit mendung
hingga larut malam tersulam

Kejaran nyawa memancuh waktu
Busung menggunung dakian sampah

Tangan besi memilah sebutir nasi diatas tanah

Menangislah buyung dalam
wujud tangis Tuhan
sebab Tuhan tidak mati



Aby Santika II

YOGYAKARTA,
05 SEPTEMBER 2011

PERAWAN RINDU DIUJUNG ABU

Kuperawani pagi tusuk sebatang rokok
Mengendus telanjang abu merecah

Gigil sempat meniduri mimpi
dalam rindu sekuntum kembang
seroja

Duhai pagi berbadan dua
betapa lincah asap beterbangan

Hingga seroja berbuah rindu
Lalu bening menyiram mimpi

Merindangkah dalam ingatan ?
Gerhana bermukim disebulat mataku ?

Semata batang lenyap
bersetubuh
Sebab ingat tumpul terlewat abad

Perawan pagi terbaring lesu
membunting mimpi di ujung waktu



Aby Santika II

BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011

SESAL MENJALANG

Duhai perempuan jalang
akulah tanduk pengadu senggal
Di kaki-kaki asing bertapak gelang menusuk hitam ilalang nikmat

Masihkah tercekal melekat
melucut sebab liar beranak
Dari bawah terasah jasa mengabul birahi memuntah larva

Kerdip menggelitik bahak yang bungkam
sebatang kara jalang terpajang
Hilang jua pandang bercadar
tertatah sadar setengah sama

Duhai perempuan jalang yang juling
sebelah tangkup basah meletih
Akulah zaman pengadu nasib
dalam sesalmu ikut terjaga



Aby Santika II

BANDUNG,
04 SEPTEMBER 2011

KOTA BERDEBU RINDU

Aku terjilat debu antara aspal berbuah dungu
Kotamu memahat bodoh rindu dalam rimbun merahim pilu

Setara sunyi entah berbunyi
Di ujung kembali mendung kian nyeri

Sesadar samar pula rajam terlewati
Semacam duka bersuka rasa

Aku berdebu latah sebab dungu menjatah
Sebaris rindu menggerhana kuncup seperempat malam

Engkau meng_ibu timang harap
Setangkap jatuh injak menjungkir

Sembah titah lentang asmara
Kau samarata kota cacatku dalam sempurna



Aby Santika II

BANDUNG,
03 SEPTEMBER 2011

Jumat, 02 September 2011

KEMBANG LILI PENGABAR RINDU

Retak senja terbaring pada rindu licin
sejak kemarau bermukim didahaga punggungmu

Mengingat musim-musim perawan
kusenggamai seusai hijab fajar terdengar

Lalu
tak terlihat lagi pangkalan lenganmu
yang menari luka sebab rindu itu

Tercurikah kembang lili yang
menggantung
ketika jujur menjelma malam

Tanggalkan cacat juling pandangmu
pada larik-larik mengkitab pujimu

Pada retak senja terhukum waktu
pada sayub pengabar hadirmu



Aby Santika II

BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011

BERSETUBUH PESONA (NYAI)

Kali lentik sebentuk matahari
hijrah ribuan Mil membentur siang

Tetap sama , dalam bundar birahi
Selubang malu anjing bernaluri

Pesonamu Nyi
Meniduri terik di kolam ranjang berakar

Aku gali kedalamanmu
menempuh batas dinding
pemecah langit

Kali ini , aroma pemikat melucut
getar

Pesonamu Nyi
bundar merayap hasrat-hasrat

Perhelatan bertapal curam
Nafas liar berkuda cepat

Akh...
Anjing-anjingmu Nyi,
Menunggang utuh ditikam lidah

Kendati tergerai ikal tawamu
menali sejuk sperma wangi



Aby Santika II

BANDUNG,
02 SEPTEMBER 2011

UNTUK GERIMIS, DIK !

Aku nampak sejengkal gerimis
sembunyi tubuh berteduh badai

Untukmu,dik !
Ada sepenggal doa yang sempat
ku titipkan
pada ceruk airmata yang berpuisi

Kemudian nafas tertanam di
kedalamannya
antara harap tertidur pulas

Sepagi bercerita,dik !
Tentang riuh berkawan kuyup
juga gerimis bernyanyi manis

Dalam puja-puji yang membahana
serta merta doa berwujud anak badai

Ku giring ekor riuh
untuk kau tangkap ikhlas yang
seruas jemari

Antara tengadah doa harapan pagi
untukmu gerimis yang bersembunyi



Aby Santika II

BANDUNG,
1 SEPTEMBER 2011

UJUNG TAKBIR

Sepi takbir , meraja semalam
kepada hari nakal membuang maaf

tiada
tiada

Usailah airmata ?
Sebelas tetap mendosa bangga

Suara-suara itu terkepung lelah
Meraja semalam , bertahta semata

tiada
tiada

Untuk takbir simpanlah suaranya
atau parau pesta penyembah Syetan

Sepi memunguti ikhlas tersisa di
hidang Opor habis
dan habis Ikhlas pula
mengunyah rata

Sebelas
Sepuluh
dan mundur

Kepada hari menanti yang tak
sama tiba takbir suara itu
Menanti di ujung Sujudmu



Aby Santika II

BANDUNG,
31 AGUSTUS 2011

GEMA TAKBIR

Pada Gema yang meletak
sunyi bergumam sempurna
Masihkah ?

Gelombang semacam penegas lantang diri
Juga jarak hitung dalam tepi genap

Lalu,
Masih Kau selipkan dilipatan
sakumu Takbir dulu ?

Barangkali tertinggal di meja akadmu ?

Pada Gema yang menanjak
nafas terbunuh seperempat
dengarkah ?

Sayub adalah bentuk hilang
perlahan :

Memutar,
Membalik
lalu memutar
dan membalik lagi

Tak henti otakku menceramahi hati
Antara logika dikepala Imajisme

Pada Gema yang merombak
Hati menata Ikhlas
Maaf,



Aby Santika II

BANDUNG,
30 AGUSTUS 2011

MALAM GERIMIS

Dan malam kuhabiskan sebagian
merajut gerimis
Lalu kau adalah bening yang
terlukis tipis dibaris lengkung antaranya

Duhai sabit bergaun lilit duri melati
cahayamu tersisa semenjak
purnama kemarin

Meski gulat gerimis masih ku
pintal , namun remangmu adalah
wajah sempurna ditikam hujan

Telah ku ikat pula liar bocah langit
dengan ampas kopi dan pecahan asap menawan

Masih untukmu



Aby Santika II

BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011

KISAH DERMAGA PILU

Aku lihat tangis menggantung
dimatamu
Secepat aku layar diantara
airmata hangatmu

Karena perahu tertidur, kayuh
mengantri jenuh

Ketika ku ukur luas isakmu
menyamudera dalam palung

Masihkah ku benturkan simpatik
pada dinding telaga ?

Sedang diperjumpaan lampau
Riak Amuba berteriak iba

Pada burit akanku, kau diam
menahan deru
Sebab solekmu tenggelam
dijangkar rindu

Telah lama ku sebut kau Tugu berkarang
Semacam Tangis terkikis habis
diam-diam



Aby Santika II

BANDUNG,
29 AGUSTUS 2011

MATA-MATA

Di mata-mata, tatap malu bertalu- talu
aku dan rindu beradu Dadu

Mengundi hati setinggi candi
waktu berpacu mencari satu

Detik jam semakin malas berlari
bersandar punggung didinding tua

Berat ,
Suara lonceng pengingat separuh baya

Sementara Mata-mata menjangkau ingin
mengendap harap

Aku kendali bercermin diri
Mata menjuling menggiring diri

Tatap-tatap sebelah mata
pacu melamban beruban putih

Tatap mata-mata di ratap rintih
Dan aku hilang dicuri rindu



Aby Santika II

BANDUNG,
28 AGUSTUS 2011

SENJA DIATAS KACA

Entah itu engkau yang berjalan
diantara tikung tajam, juga
gedung berkaki lima

Jendela kaca bercerita dari atas,
pesona belah rambut
yang tertangkap mata

Ini sebab tiada diri berpagut
meski gerimis mulai
menyelundup

Lalu juga
sepasang Merpati berlari-lari
mengabar janji engkau sekilas mati

Dan kemudian senja seperti diam
menahan laju, atau engkau yang
menghenti kaki

Entah muram menyinggung
langkahmu
Disebelah tikung berdiri bisu

Juga janji sepasang merpati
tak tepat hati



Aby Santika II

BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011

DILEMA SEBATANG TIANG

Malam telah meninggalkan engkau
duhai sebatang tiang lampu redup

Ketika matahari menggosok gigi
bersalin dari kamar
bergaun putih garis renda terang

Tiangmu sebatang kara diantara
lalu lalang pejalan kaki

Padahal
malam menumpu pada engkau

Malam telah berlalu jauh
duhai sahabat gelap
tiang penunjuk terang

Diantara bola-bola lampu
bergumul ngengat penyembah cahaya

Namun pagi melemah tubuhmu
yang tinggal sekarat dilahap bundar matahari

Malam telah meninggalkan
engkau tiang bertubuh kurus



Aby Santika II

BANDUNG,
27 AGUSTUS 2011

MEMBISIK LUKA

Engkau membisik angin dimuka
berabad-abad meninjau luka
melanda

Jauh berkaki cepat selangkah
Aku memandang waktu tak berpawang

Hilanglah pesona yang berkawan
pada rajutan menali pangkal sejak inginku

Tak lama nyanyian angin
mengalun limbung
terbunuh penghulu di sumpah janji semati

Berkali menemu ikatmu
membelakang
menyungging sinis bertajuk manis

Engkau penawar kemegahan
bertatap sebelah dunia sebentuk juling

Bisikmu keramat bersesaji
kemilau tahta bumi syurgawi



Aby Santika II

BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011

PERJUMPAAN

Diantara lengkung perjumpaan dahulu
terdapat senyum yang
menghutan

Sisa-sisa cemara dan belukar

Dia hujan
yang menyusup diantara ranjang
juga tiang-tiang cacat bertubuh beku

Sementara tawa adalah anak kecil
mengeja afjad rindu yang mulai alpa

Senyum itu berwujud tegas
melarang Merpati menyerbu
rindu mendendam

Perjumpaan ranum setangkai
Mawar berduri racun

Dibawah cekung perpisahan airmata
tersimpan pesona membekas dada

Antara bocah sungai meluap ruah
rindu mimpi untukmu



Aby Santika II

BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011

SIMPONI RINDU

Aku dengar bunyi-bunyi itu ,
Randu tertidur di kabut tepi tebing

Bermimpi rindu-rindu yang cedera
berbunyi gema pulas di atas kapas

Kau demikian tidur dihelai tipis
Hembus menebus janji membatu
kerikil

Aku lihat puja-puji itu
Anggrek mengembang layang-
layang

Andai menyerupa rindu yang terbang
menangkap bulan berseteru pilu

Semacam nyeri menyesak
ku saji kau rindu setugu bisu

Adalah kenang rapat terkunci
menggenang gerimis airmata membumi



Aby Santika II

BANDUNG,
25 AGUSTUS 2011

SEPANJANG MALAM

Sepanjang malam ronda
terkepung dingin
Sebab kengerian menggubah

Angin adalah belalai gajah tua,
melilit kulit bergigi ompong

Terbersit lintas ingatan
tak logis aku tawan mesranya
cumbuan purnama
pada Klitoris selangkang kolong
langit

Sepanjang malam mimpi berbunga
yang sempat mendengkur aku
ceritakan

Airmata ini adalah gerimis rindu
Semacam kembang-kembang sepatu
menari ketuk nada berirama sumbang



Aby Santika II

BANDUNG,
23 AGUSTUS 2011