Minggu, 05 Agustus 2012

RITUS SEBATANG LISUNG


Aku mencatat sebatang resah yang tumbang dari pelupuk
dan bayangbayang percakapan yang berjela muasalmu
dari seribu batu berbelah dengan sekali tepuk
ketika ritus gemeretak menyentuh langitlangit bersemak belukar
hingga mimpi kelahiran ditarik kembali, ibarat melisankan kutukan
dari bibir bawahmu

Senyampang debu dari selangkangan memukul kayu tanpa ukiran
kecuali sepetak dada kusebut lambang dari jazirah
karena kenikmatan menusuk lubang lisung pertanda waktu
ditabuhnya riwayat kehidupan
-menawarkan dahaga dalam kecipaknya mata air
yang muncrat menghardikkan serabutku

" Tuhan masih mengintip, di antara urat kemaluan "

O, aku tercerabut dari kuntum yang rekah katakata dusta
semisal adam ditundukkan khuldi: mencedrai dari dosa muasal manusia
membelah tanah dengan tongkat kemaluan
Duk !
Duk !
Duk !
bebunyi lisung bermata segitiga !

Sungguhkah telah tergelar pertempuran yang agung?
di kedalaman dunia sendiri, burung hudhud menggambarkan petapeta yang basah
dengan butir bulir putih yang asin, melata di kedua lembah dan tebing
hingga napasku tandus di gigir doadoa malam dari denting daun

Masihkah kau, mengapung mencari batas persujudan musim
atau berbagi segala rahasia yang tersampir dibibirku
O, saat gairah berjamaat dikiblatkan di lorong tubuhmu
aku perlahan sampai pada kabut yang dikacaukan suara kayu yang beralunan
: lisung !

Aby Santika
Bandung,
06 Agustus 2012

Rabu, 01 Agustus 2012

MASMUR DUA BELAS BULAN

Lonceng di tangan bergetar meningkah sonnet
matanya menyusuri hembusan angin selembut sutera
mempermainkan seluruh kelengangan yang bernyanyi sejenak
sejak dua belas bulan diadatkan semakin nyata rinai bergenang

Masmur ruhmu seperti batin meradang gundah
kemudian ada igauan memberi nalar seperti mendekat
dan aku menghentam dada, lalu kulepas doa pada dua belas tepat
siapa hendak bercinta, beriaklah suarasuara membawa pulang

" di dalam sajaksajakku bersuara pula firman Tuhan,
juga segenap usia yang tampak telanjang "

Aku dan engkau telah mengutuki bulan yang bersorak sorai oleh luka
hingga punah gairah memandangi jalanan waktu serupa bayi asyik menyusu
seluruh jasadnya berkilau dari malam ke malam dengan lembut
: jangan lagi kau ceritakan satu kisah
tentang keledaikeledai yang jatuh berjumpalitan

Karena segala impian telah tidur dimatamu sebagai teguran di tengah malam
selain dosa, lain waktu suarasuara berterbangan membuat nasib
dan dua belas bulan: gemetarlah seluruh jantungku
ketika masmur bersuara di atas langit, ku tiup rambutmu !

Aby Santika

Bandung,
01 Agustus 2012.

HIJRAH MENUJU WAKTU

Berawal dari sini,
kesetiaan bermalam beribu windu di garis alismu
menitipkan hidup dalam jarak dan kata
mungkin angin bisa menjauh di luar sangka
namun pinangku diamdiam menumpulkan jarak
meski kau gemetar terperangkap perburuan

Ku cintai kau, meski lenguhku lebih nisbi dari gerak waktu
hingga hijrah menuju sengau rembang usia
kejelitaanmu mengapung amsal buluh perindu bersulur di tubuhku

- dalam hitungan kala, kuhijrahkan waktu bersamamu
dan kurapatkan telunjukku menggambar rautmu

Kurasai gelapku menuruni seluruh cerlang aortamu
mi'rahku tidak seperti kepondang tanpa dedaunan
berkicauan dalam orkestrasi suara awal masehi usia kita
dipenuhi janji, melesungkan heningku
; di jalan ini
kemudian berdiam dipenuhi nasibmu

Ah, bukan kesementaraan saat tubuh rubuh ke muara
bila kita berkisah penziarah yang berjalan serupa melafal alif ba’ ta’
rautmu pernah di utus ke sepotong pencerahan takdir
sampai mengingatkan kerinduan itu menuju satu, atau ketiadaan
lalu hijrahlah pilihan yang melampaui masa
menuju waktumu, masihkah?

Aby Santika

Bandung,

01 Agustus 201
2

CATUR KOTAK

Kuda jalan
Pion jalan

Hitam kotak
Putih kotak

Skak matt !



Aby Santika

Bandung,
31 Juli 2012