Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Jumat, 19 Juli 2013
YAA NOOH !!
Waktu dimulai dari sini
sebuah tafsir yang menekuri kesempurnaan
maujud yang berpinak dari rahim sorga
yang memercik; melebihi api
tangga-tangga kelahiran sebagai saksi
sebuah kala tentang penciptaan sejarah
Biji matamu sedingin muasalku
saat sabit pertama kali menggurat jerit
dari arahku adalah doa-doa khidmat sebagai jelaga
tidakkah ada yang tau di ubun selembar harap
mengalir dari lenguhmu?
Serupa anak-anak yang dikirimkan hujan
gerakmu perlahan mendaras melalui bulu alisku
kutaruhkan hidup diantara lengan pipihmu
sebentuk jabang; menyembur dari rusukku
hikmah melesungkan bebunga
" tapi di mata, kemudian seperti luka "
Anak hujan menghilang, hanya laut yang langut
dengan kesaksian tabu, ia larut bukan atas namaku
sungguh bukan juga atas namamu
sebentang peristiwa terlalu rumpang untuk diabadikan
aku hanya penjiarah, dan engkau yang berangin
tidak mungkin mengingat apa-apa
yang tiba-tiba diam, meski sempat kueja namamu
; yaa nooh !!
Aby Santika
Malang,
16 Juli 2013.
MEMBACA SEPI
Malam yang sundih
seperti sepi yang bersijuntai oleh angin
ia bergerak-gerak di tubuh; membuatku ingin terbaring
menjeritkan tangis lelawa yang membusuk di belik ingatan
sepi tercipta dari luka mengalun, juga marmar darah
-- di kematian embun
Hanya berbagi dengan rintih dalam kemabukan
menuju arah entah, meski aku tahu di sepanjang waktu
rindu selalu menolak untuk di tundukkan
: sampai terdengar ratap, dingin memunajatkan
doa kaum teraniaya
Ah ini sepi!
yang membahasakan malam menjadi ganjil
mampirlah mimpi melalui celah atap rumahku
kita bersorak menghitung kesunyian demi kesunyian
hingga segalanya menjadi hingar keikhlasan
kecuali birahi yang menjejak di selangkang sendiri
Sungguh aku telah dipersilah oleh sunyi
aku membacanya seperti tilas tinta di selembar rahasia
hanya tampak diriku sendiri, aku tak menemukan apapun
meski hati itu diam-diam kusimpan hingga rekah
namun seperti buai mimpi-mimpi; aku masih terdakwa membaca sepi.
Aby Santika
Surabaya
08 Juli 2013.
seperti sepi yang bersijuntai oleh angin
ia bergerak-gerak di tubuh; membuatku ingin terbaring
menjeritkan tangis lelawa yang membusuk di belik ingatan
sepi tercipta dari luka mengalun, juga marmar darah
-- di kematian embun
Hanya berbagi dengan rintih dalam kemabukan
menuju arah entah, meski aku tahu di sepanjang waktu
rindu selalu menolak untuk di tundukkan
: sampai terdengar ratap, dingin memunajatkan
doa kaum teraniaya
Ah ini sepi!
yang membahasakan malam menjadi ganjil
mampirlah mimpi melalui celah atap rumahku
kita bersorak menghitung kesunyian demi kesunyian
hingga segalanya menjadi hingar keikhlasan
kecuali birahi yang menjejak di selangkang sendiri
Sungguh aku telah dipersilah oleh sunyi
aku membacanya seperti tilas tinta di selembar rahasia
hanya tampak diriku sendiri, aku tak menemukan apapun
meski hati itu diam-diam kusimpan hingga rekah
namun seperti buai mimpi-mimpi; aku masih terdakwa membaca sepi.
Aby Santika
Surabaya
08 Juli 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)