Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Kamis, 26 September 2013
ODE BUAT NOOH
Kembali aku maknai diriku sebagai manusia
ketika kau ucapkan salam pertama, salam pada semesta
di taman perdu doaku tak lekang; berhikmat, mencatat pesan
yang tidak bisa dibahasakan dengan kasat mata
sebagaimana titik-titik mimpi diantara ribuan igau
aku merindukanmu,
rindu yang tumbuh seperti ibumu; ia menganyam manik-manik indah
di kedua lenganmu
Aku kembali mengaji dan mengkaji
kutemukan namamu, juga namaku; dalam ayat tak berwujud
dalam nama sebagaimana Adam adalah putera pertama
dari tangan-tangan sorga
Namun kita tak punya pilihan, nak!
meski tulang iga yang lepas tak bisa retas oleh api
kau masih terlalu muda untuk jadi seorang pemburu
atau aku harus sabar melihatmu melangkah menuju fajar
yang merekah
mata mungilmu menawarkan seribu sorga yang murni
dan bening
kecuali jika kesangsianku berkata bahwa tidak ada api
di antara kautsarnya yang bermuara
Adakah kau kelak akan menolak kehendakku?
sebab aku ayahmu, dan biarlah langit mengikrarkannya
di atas rasa sakit, di dalam rindu yang mengheningkan air mata
ihwal yang terbuang akan menemu tempat yang suci
kita tahu,
setiap bahasa yang dirahasiakan selalu ada yang lebih abadi
dari pembangkangan yang di cipta dari penghianatan
Berlarilah nak! bagai rusa di padang buruan
lalu kita akan bernyanyi bersama kelak,
pejamkan matamu
karena kerinduan kita tidak akan dilupakan waktu
Aby Santika
Bandung,
23 September 2013.
Minggu, 22 September 2013
SEAMSAL LILI
Karib yang terlepas; dari pal pal selalu berjanji
menunggu asal dari senja
tak ada halte di kota ini, dan daun-daunpun tak mengembalikan segalanya
tetapi disini ada rambut kita yang terpangkas
dari putik; seamsal lili,
hingga malam dapat di tebak dan aku masih mencintaimu
sampai terlelap
Aby Santika
Bandung,
18 September 2013.
DI DALAM PIGORA
Mendekati dinding-dinding
aku kikis kembali hati kita, yang luka dipenuhi
kenangan-kenangan kekal
-- kehilanganmu,
di dalam kejenuhan sayap-sayapnya adalah dupa
yang mengkhayalkan malam
Sambil menuliskan sajak-sajak
aku berjejak dalam alur tak pasti
sebuah potret masih berdep-depa tercampak
di antara ukiran, rautmu membentuk
keperawanan yang tua renta
Jika engkau bertanya:
"Dalam pergantian malam, Usaikah kau menganyam
tiap bilah rambutku yang kusutmasai?"
gurauanku di secangkir kopi menegurmu:
"engkau bak eva di dalam kaca, seperti resah
sukar dipahami dalam wujudnya!"
yang diandaikan abadi, perlahan hilang
dipenuhi dosa
Kemudian kusisipkan di pojok dinding
rautmu dipantulkan kaca jendela dan tembok porselin
bak penari dikuyupi birahi
Bibirmu berkibar rekah meski di pengap udara
di dalam pigora, luka adalah kesendirianku
sebab tiada pintu yang membuka
tempat menguburkan hati kita
Aby Santika
Bandung,
14 September 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)