Kamis, 04 Agustus 2011

CIUMAN TERAKHIR DAN SETEGUK KOPI

 ( the last kiss with coffe )

Sekiranya malam itu khayalku
membentuk cafein
pada nadi-nadi yang kau kecup
diantara gigilnya rangkul angin
pun sayatan ucap tajam
...membelah rambat tiang lampu
meredup

Aku menerjemah isyarat diantara
tubi bibir tipis menyerbu
tiap kata yang
hendak menawan pola
senyummu yang sederhana
tersaji riwayat penaskahan enam
purnama dalam seteguk kopi
paling manis

Antrian tanya berjemaah
dikertas-kertas pikirku :
tentang kecupan lembut melipat
hasrat
diserambi istana tempat rindu
menganak tiri

Sesekali pada tegukan nya kita
bersilang kata dalam cumbuan
umpama digurun sahara terasing
raga melayang nikmat sajian
terakhirnya

Belaian sansekerta
menelanjang candi pendewaan
cinta tentang Stupa-stupa yang
ku curi suci nya
lalu
ku retak arteri pembungkus
pusaka dengan
seteguk kopi bertubuh amunisi
kata

Ada air mata di ceruk retinamu
mengalir menyambangi parit-
parit sesal
mengalir menuju payau rindu lalu
bermuara pada gamang yang
membentuk Samudera cinta
menjelma diseteguk cangkir kopi
pelepas dahaga
salam terakhir kita

Sekali ku jemput titik gairahnya
dimalam yang sama
tak ada perjumpaan de javu
di beranda serambi yang kosong
itu

Kemudian ku tengok
kembali sapu tangan yang
terselip didompetku
baunya tetap sama
: aroma cafein beradu
bercampur sisa kecup wangimu
yang masih membekas utuh

Dan
tak pernah ku singgah
kembali malamnya yang
mengasing ditrotoar depan
rumahmu

Sebab,
manjanya telah kau Akad dibalik
sumpah tangan pangeran
penikmat sisa rinduku

Kemudian
Kini aku berujar :

Telah kau terima nikahnya Dia
dengan Mas kawin
seteguk kopi sisa Kecupan
hangatku
dibayar Tunai .. !!




Aby Santika II
BANDUNG,04 JULI 2011

1 komentar:

  1. Aku suka kelihaian aby bermain kata di puisi ini.
    Puisi ini seperti secangkir kopi dan seteguk cinta : manis pahit.

    Sedikit catatan soal penulisan 'de javu' mungkin perlu diedit.

    BalasHapus