Jumat, 12 Agustus 2011

SJAK CICAK PEMBIJAK

Dari pagi-pagi ribuan
jejak merendam hari,
akhir seteru hutan menghuni tanah pijak
lalu ,
Cicak-cicak menjadi bangkai ditepukan tangan-tangan pembijak

Lihatlah,
Pada masa sekarat ini
rambu berhala disembah-sembah
kasta aturan didakwa salah

Awam tatapan tak ikut pandang
melongok , terkadang
angguk-angguk mentaat pembijak meski nasib dapur semakin buruk

Kita bertuan,

Sementara tuan-tuan safari tidak merakyat,
Kita menginjak
negeri berkail jala
yang katanya dapat
menghidupi perut

Kemana ?
Cicak-cicak penjilat
mati dijentik jari pembijak

Lantas
Kentut-kentut
beraroma harum di istana indah
yang dibangun dari
bangkai kaum sengsara

Ribuan hari,
Ratusan tahun
pandangan tetap berseteru sama
Hutan menghukum rimba cicak-cicak
pembijak

Sedang Esok
jejak-jejak lengang
tanpa pijak
Mati sekarat ,
di berhala bijak tanpa hak
Antara kecil sama besar
dan besar sama kecil

Samarata
terkubur bersama
airmata tersayat
jerat




Aby Santika II

BANDUNG,
12 AGUSTUS 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar