(I).
Sepertinya aku masih harus
mengatakan
tersimpan sebentuk telaga di
bawah alismu,
Sebab,
ketika kusinggahi ceruk
dan palung nafasmu
kudapati percikan angin lirih
kehangatan mengepul dari gelas
demi gelas
yang senantiasa kau sajikan pada
tiap beranda malam,
Ada bayangan purnama
menggaris derai tawa
ketika dingin kian merawankan
sepi.
Puntung-puntung galau berbaris
rapi dan sebentuk abu
tanpa terbengkalai di asbak
berjelaga
Barangkali,
keikhlasan itulah yang
selalu membimbing
kekagumanku pada sosokmu.
(II).
Untuk kali ini binar malam
merapuh di tonggak sadar
Sedang,
titipan musimmu ku
tanggal ibarat renda
penghias di sebaris untaian
angin,
hingga kebanggaanku
terselesaikan padamu
yang mampu memajang canda
Ketika lusuh melepuh
dalam lipatan saku dan kerah
bajumu,
Sementara yang aku tahu,
kasatku tak berdiri nyata untuk
menemuimu sosokmu,
Namun tak seperti puntung rokok
yang terkuliti
ketika hembus gigil,
Karena bagiku kau adalah alasan
dimana aku masih
terus merangkai bait-bait yang
berkeringat
(III).
Satu lagi kau hujamkan pada
sadarku, atas satu rendah pesona
yang kian mendayuh
langkakahku dikala bimbang
Mengawali
paragraf indah tentangmu,
hingga jeda adalah sebuah sesal
ketika selusur prosa
tentang hadiratmu melantun lirih
di baris setengah malam
Maka,
tolong Kutipkanlah sepasi
dalam puisimu ,
agar kelak ku terabas detailnya,
hingga arahku sempurna
Tepat sejengkal sahajamu !!
Aby Santika II
BANDUNG,
05 MEI 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar