Kamis, 04 Agustus 2011

OPERA CINTA DUNIA MAYA

Menyaksikan pentas kilas tak
senampak
beribu mata sinis curiga bertatap
aktor-aktor amatir berteriak :

"Atas nama Cinta Aku rela Mati"

Sementara Yang lain berak
Diantara kata-katanya
mengangkang tawa

"Akulah
pemenang"

Aku bertanya,
tetapi Rayu bimbang
menenggelam

Susunannya jatuh dibawah
panggung-panggung
berhias Kemunafikan
yang terlepas dari drama
kehidupan yang nyata

Ribuan nafas buntu
menghadapi kisah tanpa pilihan,
tanpa ujung menemu bayang
nyata

Solek peserta berdandan Parfum
wangi-wangi membius,
tanpa sadar lawan dialog
bau apek Karena air kering
Musim kemarau "katanya"

Berpeluh Di tuth-tuth komputer
berburu rindu,

Syahwat ?

Akh.. perlombaan Cinta tak Sejajar
sosok Si Tuan adanya

Aku melihat wanita-wanita Tua,
laki-laki renta,
Bocah-bocah kencur,
mengantri dapat giliran rindu
tersalur

Dan Disamping,
para Bijak berkata :

Bermalas-malaslah
ketika wajah bercumbu Monitor
tak sesuai kurikulum kehidupan
yang semestinya

Jidat-jidat memelas memikir kata
Puisi-puisi andalan jurus
ampuh untuk menaklukan

Sementara tagihan-tagihan
biaya listrik,
TELKOM,
atau pulsa-pulsa semakin
menghimpit
ketidakadilan disamping hasil
semai Cinta
yang didapat

Dan
Ribuan kepala-kepala
termangu
Di Kuasa dunia Modernisasi yang
melilit
leher akal Logika

Opera cinta Didunia maya
pamplet-pamplet terpajang
berharap satu dua mangsa
terpikat

Inilah sajak Cermin kisah
Aku, Kamu, dan Mereka

Terpisah dari derita nyata
terlupa sesaat,
Tanpa terpikir
Tentang masalah kehidupan yang
siap menjelajah di alam nyata




Aby Santika II
BANDUNG,11 JULI 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar