Menyaksikan pentas kilas tak
senampak
beribu mata sinis curiga bertatap
aktor-aktor amatir berteriak :
"Atas nama Cinta Aku rela Mati"
Sementara Yang lain berak
Diantara kata-katanya
mengangkang tawa
"Akulah
pemenang"
Aku bertanya,
tetapi Rayu bimbang
menenggelam
Susunannya jatuh dibawah
panggung-panggung
berhias Kemunafikan
yang terlepas dari drama
kehidupan yang nyata
Ribuan nafas buntu
menghadapi kisah tanpa pilihan,
tanpa ujung menemu bayang
nyata
Solek peserta berdandan Parfum
wangi-wangi membius,
tanpa sadar lawan dialog
bau apek Karena air kering
Musim kemarau "katanya"
Berpeluh Di tuth-tuth komputer
berburu rindu,
Syahwat ?
Akh.. perlombaan Cinta tak Sejajar
sosok Si Tuan adanya
Aku melihat wanita-wanita Tua,
laki-laki renta,
Bocah-bocah kencur,
mengantri dapat giliran rindu
tersalur
Dan Disamping,
para Bijak berkata :
Bermalas-malaslah
ketika wajah bercumbu Monitor
tak sesuai kurikulum kehidupan
yang semestinya
Jidat-jidat memelas memikir kata
Puisi-puisi andalan jurus
ampuh untuk menaklukan
Sementara tagihan-tagihan
biaya listrik,
TELKOM,
atau pulsa-pulsa semakin
menghimpit
ketidakadilan disamping hasil
semai Cinta
yang didapat
Dan
Ribuan kepala-kepala
termangu
Di Kuasa dunia Modernisasi yang
melilit
leher akal Logika
Opera cinta Didunia maya
pamplet-pamplet terpajang
berharap satu dua mangsa
terpikat
Inilah sajak Cermin kisah
Aku, Kamu, dan Mereka
Terpisah dari derita nyata
terlupa sesaat,
Tanpa terpikir
Tentang masalah kehidupan yang
siap menjelajah di alam nyata
Aby Santika II
BANDUNG,11 JULI 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar