Belum selesaikah kita
menelanjangi senja
pada kulit langit bersama
patahan tulang angin?
Sedang
Serupa kupu-kupu bercermin
pada retak mata air,
disini kita menali
waktu-waktu gusar
diantara malam
Penopangmu
roboh , dalam setia
menjubahi sesal
padahal celah telah
menjenguk sepi kita
di tiap waktunya
Akh..
Entahlah..
Terlanjur ku lacuri ingkarnya
pada jarak
setubuh waktu purba
Lalu,
Akankah kita melepas
senyum-senyum itu ,
di penghujung isak tangis kita ?
Aby Santika II
BANDUNG,
20 AGUSTUS 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar