Mandalawangi,
Angkuh membujuk diantara tiang
penyangga langit
seketika lirih memelas pada sapa
raut pucat
selayak Elang menukik diantara
gagah bebatuan
jejak halaman pertama terkucil
diselusur dakian goyah
cerita berawal pada kisah yang
telah punah
bukan prosa yang bersetubuh
dengan imaji
namun,
sekedar mengeja celah rindu
yang terselip di kaki
Mandalawangi
Ada airmata iba pada tulang-
tulang ranting cemara patah
membentuk tinta dari pena alam
yang menggores naskah
tanpa jeda,
ketika paragraf terhenti dalam
bait mati
cengkrama bayu senyap
disaat
penopang rotan
ketika lelahmu bersandar roboh
di sekejap hela
rindu tertinggal
ketika pinus menghunus janji
tercatat di kain langit
Giri Mandalawangi
Adalah
bersaksi
tentang asmara yang terhakimi
takdir
Aby Santika II
BANDUNG, 11 JUNI 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar