Jumat, 07 September 2012

RITMIS GELAS YANG BERADU



Di gigir, pagi tak pernah mereguk sebulir kabut yang masygul 
meski dingin diam-diam memberi pesan di sela lidah, mulut dan hasrat yang utuh
sembari membidik kelelakianku, aku mencatat sepasang lingkar berceruk dari arus gelas yang beradu
sebuah lagu mendedah ingatan-ingatan keperawanan yang berlintasan membisikkan kesangsian

"Di serambi melekat sebagai saksi"

Entah, saat segala aliran dinistakan ritmis yang berbaris
: O aku koma! tak kenal bunyi yang terwarta serupa gerimis
wangi kopi, pucuk daun hijau terkungkung luruh dibutakan gemuruh
kita diam tercampak sebagai muasal pada buhul yang mati

Duh, kuingat ibu berbicara dalam tatap melebihi mata; 
-saat kau dihantarkan timang, pada tembang terpahat napas
umpama gelas-gelas yang beradu, hanya kilasan sampai suara pecah!
dan tak ada doa menawarkan dahaga dengan bercakap hingga embun berloncatan menuju jaman yang hampir padam



Aby santika

Bandung,
05 September 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar