Puisi-puisi dalam antologi ini adalah proses kreatif yang terkumpul dari hati yang dituangkan dalam tulisan bergaya pengucapan orisinal.Saya mencoba menjelajahi konvesi puitika yang ada beserta ideologisnya: mulai dari romantisme,ekpresionisme,imajisme,surealisme,hingga realisme kritis. Akhirnya saya ucapkan selamat membaca,semoga anda mendapat inspirasi baru.Hanya kepada Allah saya pasrahkan segala akhir karya yang sederhana ini,semoga bermanfaat dan bisa menambah variasi dalam berkarya.
Jumat, 07 September 2012
RITMIS GELAS YANG BERADU
Di gigir, pagi tak pernah mereguk sebulir kabut yang masygul
meski dingin diam-diam memberi pesan di sela lidah, mulut dan hasrat yang utuh
sembari membidik kelelakianku, aku mencatat sepasang lingkar berceruk dari arus gelas yang beradu
sebuah lagu mendedah ingatan-ingatan keperawanan yang berlintasan membisikkan kesangsian
"Di serambi melekat sebagai saksi"
Entah, saat segala aliran dinistakan ritmis yang berbaris
: O aku koma! tak kenal bunyi yang terwarta serupa gerimis
wangi kopi, pucuk daun hijau terkungkung luruh dibutakan gemuruh
kita diam tercampak sebagai muasal pada buhul yang mati
Duh, kuingat ibu berbicara dalam tatap melebihi mata;
-saat kau dihantarkan timang, pada tembang terpahat napas
umpama gelas-gelas yang beradu, hanya kilasan sampai suara pecah!
dan tak ada doa menawarkan dahaga dengan bercakap hingga embun berloncatan menuju jaman yang hampir padam
Aby santika
Bandung,
05 September 2012.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar