Apabila pagi telah lenyap, tak bisa kuhitung akasia yang bertebaran di rambutmu
Segala kenangan telah tersenyum mengubah arah jarum arloji menjadi dingin
Simpanlah, aku mengejar waktu mencuri usia
Di pundakmu aku hanya mengintip jam yang kosong
Lalu menitipkan bayang-bayang yang tersedu kepada api
Adinda
Berpuluh senyap mencatat tak berkesudah
Meski lewat sepi, aku berkendara dengan angin menabrak perih yang landai
Rumah jati kusembunyikan dari pagar yang tua
Aku ingin tidur bersama ibu, sebab ia mengerti bahasa rindu
Terbaring telanjang di ranjang putih yang membuka dosa
Sejenak bisa bercakap ketika angin berhenti dinyanyikan pepohonan
; hablur di udara tanpa suara
Adinda
Ada yang jatuh dari daun jendela mata kita
Mungkin air atau sehelai pikiran yang gugur oleh penyesalan
Sungguhkah ia lewat tanpa permisi, agar wajah tak kehilangan sepi
Tak ada lagi pilihan kecuali kesedihan akan berpulang
Dan tentang dongeng yang pernah tergelar di antara kata-kata
Seringkali aku payah bersembunyi dari jalanan yang bengkalai
- itu tidak perlu, aku tahu betapa cinta untukmu terasa tentram.
Meski lewat sepi, aku berkendara dengan angin menabrak perih yang landai
Rumah jati kusembunyikan dari pagar yang tua
Aku ingin tidur bersama ibu, sebab ia mengerti bahasa rindu
Terbaring telanjang di ranjang putih yang membuka dosa
Sejenak bisa bercakap ketika angin berhenti dinyanyikan pepohonan
; hablur di udara tanpa suara
Adinda
Ada yang jatuh dari daun jendela mata kita
Mungkin air atau sehelai pikiran yang gugur oleh penyesalan
Sungguhkah ia lewat tanpa permisi, agar wajah tak kehilangan sepi
Tak ada lagi pilihan kecuali kesedihan akan berpulang
Dan tentang dongeng yang pernah tergelar di antara kata-kata
Seringkali aku payah bersembunyi dari jalanan yang bengkalai
- itu tidak perlu, aku tahu betapa cinta untukmu terasa tentram.
Aby santika
BANDUNG,
17 Oktober 2012
17 Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar