Suaramu mengingatkan aku pada kepulan cerutu daun nipah
Hingga berisik di dahan-dahan sejalur belibis yang berenang dimatamu
Hisapan yang mengandung segalah harapan dan doa leluhur
Pada mata yang akan ditiduri sebelum ajalnya
Berpuluh burung mengelu-elukan pandangan kita
Tak
ada pemberontakan dari belakang
Tak ada wajah-wajah yang luka
Tak ada pohon yang kabur dari akarnya
Diam diam aku mulai memperhatikan wajahnya yang absurd
Yang mulai ramah bercakap pada keheningan
dan suara yang menguap menuntut keadilan di bawah napasku
Perlahan mereda cerita yang rengkah
Kau rapuh meremas jengkal demi jengkal tanah, yang lumutnya pernah menjadi kepedihanmu
di antara gelaran tikar dan secangkir kopi pahit, serta serakan kretek-kretek yang belum terhabiskan
Kita berhadapan dengan waktu dan dada sedikit terguncang
Pada musim gugur yang pernah beku,
serta angin tua renta yang memantulkan kaca-kaca di bola matamu
Hingga waktu sore yang makin lenyap bersama rambut rambut pun kian kusut
Ku mengingat kau di tiap cerutu yang mengabu,
Tak ada wajah-wajah yang luka
Tak ada pohon yang kabur dari akarnya
Diam diam aku mulai memperhatikan wajahnya yang absurd
Yang mulai ramah bercakap pada keheningan
dan suara yang menguap menuntut keadilan di bawah napasku
Perlahan mereda cerita yang rengkah
Kau rapuh meremas jengkal demi jengkal tanah, yang lumutnya pernah menjadi kepedihanmu
di antara gelaran tikar dan secangkir kopi pahit, serta serakan kretek-kretek yang belum terhabiskan
Kita berhadapan dengan waktu dan dada sedikit terguncang
Pada musim gugur yang pernah beku,
serta angin tua renta yang memantulkan kaca-kaca di bola matamu
Hingga waktu sore yang makin lenyap bersama rambut rambut pun kian kusut
Ku mengingat kau di tiap cerutu yang mengabu,
di sana aku
lihat kau masih tertidur nyenyak di kasur beludru
Kau masih terkacau dalam wangi kemboja,
bahkan setelah dentuman perang kembali menggoncang bumi tercinta
kau masih betah bercakap di dalam ingatanku?
Kau masih terkacau dalam wangi kemboja,
bahkan setelah dentuman perang kembali menggoncang bumi tercinta
kau masih betah bercakap di dalam ingatanku?
Aby Santika
Bandung,
02 Oktober 2012.
02 Oktober 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar