Kau layarkan kapal saat Nuh menusukkan doa selekas kilat tanpa suara dan terpaan kita mencelat, meski denyut berkali-kali serupa api
ah, disebalik arus risau, meski kayuh begitu sungsang kapal menghujam pada laut dan denah
: sepanjang Nuh mengulir tasbih di bilik surga
duduklah di pangku buritan! kita asyik melubangi langit.
/2/
Aku ingin kau memandangku dengan gairah bak
seorang pelaut
bersekutu dengan ombak, untuk melarung benih kerinduan juga tarian-tarian camar
sungguh, kita umpama nabi sekaligus iblis di lebur gelombang, lalu menjelma sepasang kekasih
pejamkan matamu! kau pasti akan mendengar umpatan-umpatan yang membahana
Lalu tangis terkadang kita ikrarkan untuk mengerti rasa sakit
seperti kelezatan, kita butuh duri untuk menguji.
/3/
Nuh, serupa pencarian! karena kapal tak mungkin berhenti di titik ini
sampai cinta bertalkin: tentang onak yang terdampar dari abad-abad silam
dari taman-taman surga kecipaknya menuangkan kemabukan baka
-- kau bukan kiasan dari laut yang menekuri kesempurnaan, adinda!
meski mihrabku mencatat waktu yang lain, namun guratan di lengan pipihmu melahirkan kesucianku.
/4/
Kemudian aku lingkarkan jangkar di ujung tanjung, ku selami matamu yang disangga laut
dengan syair, pasir dan nyanyian sebagai awan yang jatuh dari kepalaku
dengan kapal yang kunjung mengangkat sauh, kau tahu? kaki ku pun harus antri mengendap untuk berlabuh
Aku pun bertanya: sungguhkah sabda yang dilontarkan Nuh abadi dalam dongeng?
Adinda, ketika kita terbangun dari telentang, kita akan bernyanyi bersama, melayari semesta hingga kiamat.
bersekutu dengan ombak, untuk melarung benih kerinduan juga tarian-tarian camar
sungguh, kita umpama nabi sekaligus iblis di lebur gelombang, lalu menjelma sepasang kekasih
pejamkan matamu! kau pasti akan mendengar umpatan-umpatan yang membahana
Lalu tangis terkadang kita ikrarkan untuk mengerti rasa sakit
seperti kelezatan, kita butuh duri untuk menguji.
/3/
Nuh, serupa pencarian! karena kapal tak mungkin berhenti di titik ini
sampai cinta bertalkin: tentang onak yang terdampar dari abad-abad silam
dari taman-taman surga kecipaknya menuangkan kemabukan baka
-- kau bukan kiasan dari laut yang menekuri kesempurnaan, adinda!
meski mihrabku mencatat waktu yang lain, namun guratan di lengan pipihmu melahirkan kesucianku.
/4/
Kemudian aku lingkarkan jangkar di ujung tanjung, ku selami matamu yang disangga laut
dengan syair, pasir dan nyanyian sebagai awan yang jatuh dari kepalaku
dengan kapal yang kunjung mengangkat sauh, kau tahu? kaki ku pun harus antri mengendap untuk berlabuh
Aku pun bertanya: sungguhkah sabda yang dilontarkan Nuh abadi dalam dongeng?
Adinda, ketika kita terbangun dari telentang, kita akan bernyanyi bersama, melayari semesta hingga kiamat.
Aby Santika
Bandung,
14 November 2012
14 November 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar