Engkau belumlah selesai di gelambir waktu
Segalanya merapalkan di setapak shubuh serupa embun
Tentang rindu angin yang ditidurkan dari bebayang hujan yang gerimis
Memberi ritmis pada napasmu hingga aku tersedak melantakkan sulur-sulur tak bermula
Aku tuntas memakamkan takdir sesuai perhitungan sepanjang hayat
Meski rusuk kian rumpang berjatuhan, dan jiwa terbelah membuka sengkaru...
t
rindu yang luka
Kau ilhamku disilamkan sunyi, demikian detak berpunya hak
- lalu maujudku berkiblat menujumu dalam keremangan
O engkau yang memahat dinding tanpa angin
Mungkin kepulanganmu dari gelombang, menderaskan takdir separuh nyawa
Pada selembar daun lontar sajak membungkus air mata
: hidup, nasib dan takdir meletakkan kegelisahan yang telah silam
Masihkah kau kenal apa yang tertinggal?
Sungguh, engkau masih desah yang setia mengaji rindu
Mungkin tak ada petunjuk dari berangkatmu, hanya jejak sengkarut rindu
Dan mimikmu masih tembang yang mengambang dalam derak ingatan
Sembari perlahan mengikat kesangsian yang tak kumengerti
O rindu yang luka oleh jejalan mimpi
Kueja seluruh arus yang tertahan retak antara kelengangan yang nisbi
Seperti tubir waktu, memberi jarak pal-pal senja yang melenting
Kelak kita digenapi melebihi rahasia kesementaraanku
Kau ilhamku disilamkan sunyi, demikian detak berpunya hak
- lalu maujudku berkiblat menujumu dalam keremangan
O engkau yang memahat dinding tanpa angin
Mungkin kepulanganmu dari gelombang, menderaskan takdir separuh nyawa
Pada selembar daun lontar sajak membungkus air mata
: hidup, nasib dan takdir meletakkan kegelisahan yang telah silam
Masihkah kau kenal apa yang tertinggal?
Sungguh, engkau masih desah yang setia mengaji rindu
Mungkin tak ada petunjuk dari berangkatmu, hanya jejak sengkarut rindu
Dan mimikmu masih tembang yang mengambang dalam derak ingatan
Sembari perlahan mengikat kesangsian yang tak kumengerti
O rindu yang luka oleh jejalan mimpi
Kueja seluruh arus yang tertahan retak antara kelengangan yang nisbi
Seperti tubir waktu, memberi jarak pal-pal senja yang melenting
Kelak kita digenapi melebihi rahasia kesementaraanku
Aby Santika
PURWAKARTA,
13 Oktober 2012.
13 Oktober 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar