Kamis, 08 November 2012

LELAKI DAN ARLOJI TUA


Semalam, jarum arloji itu masih berputar melingkari sunyi yang menyelinap
Lalu seorang lelaki memberi tangan pada porosnya dengan tafsir angka-angka bergerak seakan mati, berlepasan, merajah telapaknya
"Tidakkah kau lihat waktu yang menjelma batu" gumamnya sembari menangisi sudut-sudut malam yang kalah
Diambilnya arloji yang berumur tua itu ketika dunia digeser oleh kata-kata

Lalu dia mengejar kekosongan dalam kordinatnya, arloji bertali kulit seperti terompah yang dijepit
Sebelum kembali disematkan belati dipinggangnya, dengan kesakitan melubangi liang waktu
Seperti seorang bapak yang menggali huma dengan cangkul agar kian gembur ditanami kehidupan, disirami keringat dan ludah.
- di sebutnya waktu ketiadaan, yang tertinggal pada kenestapaan cinta.

Setelah berpulang dengan keperihan dosa, dan matahari membuktikan pajar
Ia lepas arloji dengan hambar yang tergelar, dilafalnya satu-satu, detik demi detiknya
Dalam sebuah semedi yang belum selesai, didapati waktu berhenti berputar melepas nyawa arlojinya.

 
Aby santika
 
Bandung,
19 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar