Kamis, 12 Juli 2012

KIDUNG BULAN DI PESISIR RANJANG



Mampirlah ke ranjangku bulan di seberang, tempat muara segala tubuh membenih patah
ketika nafas mendengus malam pun hangus, sepanjang peta asmara langit bersujud menjaga rindu
dendang janji di temali
bersua mata pisau meminang, pelunasan malam berarus gelombang ke hatimu

Kau pun naik, mendesau di udara;
"Kakanda !" Di ujung lidah kau bangun kota-kota sorga
"Marilah adinda, curilah persinggahanku yang sempat kau hitung !"

Kini jangkar malam serupa pejalan merajut puja, dan cahaya yang kemilau seperti setapak rumus memutar ubun-ubun
ranjang demikian tegap tak bisa bicara, kerinduan kini sudah berjaga dengan degup melagu dipersunting langit

O bulan kian berhumbalang di pesisir ranjang !
kisah yang tertuang adalah selambang tatapan di ujung zaman
dengan sabda menancap di tubuhmu, menyepuh serak kasidah sumbang !

Lalu, kusebut namamu mengemas waktu, dengan berlepasan cuaca gigil
-kau tubuhku dalam kubah telanjang, aku hatimu berpelepah lobang goa !
Dan kita tetap memaknai akan selembar angin ke sahwat suci
meski ada gerak liar mengakrabi malam
seperti nyanyian pengantin atau igauan mimpi bebal dengan rayuan yang landai
sejauh menafsir bahasa diseberang, nun jauh bergerak terbata-bata
"adinda, suaraku sirna di keningmu !"





Aby Santika

BANDUNG,

12 Juli 2012
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar