Di laut itu
Seperti musim yang memancag sauh-sauh
Aku mengguratkan wajah bapak menusukkan kaki sampai berpercikan
Menjelujurkan keringat yang masih kuminum di samping terali penghidupan
Napasnya begitu sumir, melingkar jala terpasang di paru
Kembali di belah laut, mendamba mantra-mantra yang beriak
Meski kulit kembali tergambar selusin harapan yang kian melepuh
Di laut itu
Dermaga menawarkan hingar hingga lenguh
Kapal pun perlahan merapat langsir kelewat batas
Ku lihat angin di ujung ombak bercakap kosong untuk di bawa pulang
Alangkah langut matahari dengan jarak kaki terhuyung
Dan pasir pantai memeluk serupa kutuk di rautmu yang tua
Meski kau masih laut dengan sejuta kerahasiaan tak terbilang
Di laut itu
Katup-katup waktu jelas membekas
Kecuali badai sekedar singgah mengirim doa yang terdampar
Aby Santika
JEPARA,
03 November 2011.
03 November 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar