Jumat, 30 November 2012

MENCARI TUHAN DI MATAMU

Matamu dengan ronce setangkai lili adalah khuldi terjatuh dari batang doa
aku melihat Adam mencari kuntum rekah agar ia sampai padamu
Adinda: aku masih belasungkawa dari asali di keesaan mimpi
saat Firda'us diasingkan angin, kecuali ketelanjangan
- dari perjumpaan di balik bukit gerimis yang lebih magis

Saat air mata pertama kali mengukir suara hujan
adalah dzikir panjang

meski sangsai berebut kekosongan
: Adam-Hawa, juga Qais dan Laila
mendalihkan perbedaan sahwat di gunduk hikayat
dan tuhan begitu sederhana mengepul di untai tasbih

Meski tatapanmu masih wahyu tak dikenal atas doa yang nisbi
dan tak pernah bersua di perjamuan kudus yang tertirah
namun, apa kau tahu apa artinya berkehendak?
- kun faayakun! maka jadilah!
kecuali kesaksianmu kabur ke pembaringan

Tubuhku masih beterbangan di kedua matamu serupa buroq
menghardik oleh hembus dari kelebat yang disucikan
lalu aku bersyahadat menentramkan lumut yang bergelambir di matamu
-- seperti tongkat Musa yang memancarkan zam-zam
Adinda: aku masih mencari tuhan di kedua bola matamu.

 
 
 
Aby Santika
 
Bandung,
26 November 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar