Minggu, 26 Mei 2013

DI SELATAN KOTA



Sebuah rindu terseret ke linangmu, lalu sunyi tak berhenti di kedalaman kalam
Dan nganga bak muson berlalu lalang beterbangan di kotamu merampok sekuntum malam yang diam
Kau menjelma paceklik dengan ruap merih tak terandai, di selat
an kotamu
: aku menyembah rindu yang pernah kita jadikan tempat berhikmat, menghatam mimpi di lubuk hening

Dan malam kembara kau seakan berpindah dari ruang ke ruang
Aku menyaksikan dirimu membelah, melepas segala batas yang segera tumpas
Ketika air mataku menghajar sebuah kiblat kesedihan yang dalam
" aku merindukanmu di atas segala bahasa yang tak terpahami"

O adinda, kau adalah lesit yang menghisap darah dari nyawaku
Aku meregang saat cinta lebih mengekal dari keabadian fana;

tolong pilihlah kematianku di sebuah pertemuan kelak
Atau menunggu sekarat di sepertiga malam dalam kesia-siaan

Meski masih bisa kudengar sendawamu yang sundih melanggengkan kesetiaan Eva
Sungguh, kau akan tahu di balik isak yang menyesak kerinduan, bercucuran getir air harap di sebagian kota yang renta,

 --menanti kekosongan di simpang waktu.




Aby Santika

Jakarta,
22 April 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar