Jumat, 19 Juli 2013

MEMBACA SEPI

Malam yang sundih
seperti sepi yang bersijuntai oleh angin
ia bergerak-gerak di tubuh; membuatku ingin terbaring
menjeritkan tangis lelawa yang membusuk di belik ingatan
sepi tercipta dari luka mengalun, juga marmar darah
-- di kematian embun

Hanya berbagi dengan rintih dalam kemabukan
menuju arah entah, meski aku tahu di sepanjang waktu
rindu selalu menolak untuk di tundukkan
: sampai terdengar ratap, dingin memunajatkan
doa kaum teraniaya

Ah ini sepi!
yang membahasakan malam menjadi ganjil
mampirlah mimpi melalui celah atap rumahku
kita bersorak menghitung kesunyian demi kesunyian
hingga segalanya menjadi hingar keikhlasan
kecuali birahi yang menjejak di selangkang sendiri

Sungguh aku telah dipersilah oleh sunyi
aku membacanya seperti tilas tinta di selembar rahasia
hanya tampak diriku sendiri, aku tak menemukan apapun
meski hati itu diam-diam kusimpan hingga rekah
namun seperti buai mimpi-mimpi; aku masih terdakwa membaca sepi.

 


Aby Santika

Surabaya
08 Juli 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar