/1/
Aku tak bisa memunguti lembar-lembar hasratku
kubayangkan niskala bugil masih meritus di rahim malam
menggambar liang goa: karena menara lebih magis menghunus
dari muasal linggar kering dengan ombak pertaruhan
saat pilihan melampau suara hujan yang lembab dan licin
Desirku yang berderit dari sela-sela dipan di peram gelap
kandil damar dimakamkan rindu tanpa karma
mengambang serupa senggama dicercapi sepi
/2/
Kueja suwung atas ritualku yang buta serupa tembang
karena dada dilapisi dengan gelar mimpi-mimpi susut yang beringsut
adakah kelamin berpelesir dari penjuru mata angin?
Seperti meriam: gairahku gemetar, menyambar di ubun-ubun
- atau lesatan anak panah membidik burung-burung hingga menggelepar
/3/
Aku terlelap hingga ikatan-ikatan rusukku lepas khianat
kecerlangan mentalkin mi'rahku hingga meledak; dari ketelanjangan jasad
di selangkang kukhayalkan padang sorga luas
atau neraka hanguskan batu syahwat dibebunyian doa
: busurku berdarah, terpanah muncrat melebihi nanah!
Aby Santika
Bandung,
1 Februari 2013.
1 Februari 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar